NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Cucu Bu Minah?

Penjual gorengan mulai curiga. "Bagaimana Non Ziva tahu?"

Zivanna membuka bibirnya tapi tidak keluar suara. Bingung bagaimana mau menjawabnya.

"Kemarin juga tahu bibi berasal dari desa Suka Sari padahal bibi belum cerita dari mana asal bibi. Tahu darimana?"

"Aku punya indera keenam, Bi," kata Zivanna. Jawaban itu rasanya cukup masuk akal.

"Benarkah?"

"Anggap saja begitu." Bibi gorengan manggut-manggut. Rasa curiganya hilang seketika.

Anita berdiri mematung memperhatikan anaknya berinteraksi dengan seorang penjual gorengan layaknya bertemu dengan sahabat lama.

"Ini mamaku, Bi." Zivanna memperkenalkan Anita pada penjual gorengan yang kini sudah resmi menjadi temannya.

Penjual gorengan tersenyum kaku sambil mengangguk sungkan. Bahkan mengulurkan tangannya untuk bersalaman saja rasanya tidak ada keberanian, sangat tidak percaya diri. Perempuan di hadapannya ini begitu cantik dan kulitnya putih mulus seperti porselen.

Jika Zivanna seperti barbie berambut hitam, maka mamanya seperti seorang dewi yang turun dari kayangan lalu kehilangan selendangnya.

Seketika bibi gorengan bertanya-tanya, seperti apa rupa papanya Zivanna jika istrinya secantik ini dan anaknya se-barbie ini.

"Maaf ya, kalau anak saya kurang sopan. Manggil nama orang seenaknya," kata Anita sambil tersenyum canggung. Dia mendengar sendiri Zivanna setengah berteriak memanggil perempuan itu dengan sebutan "bibi gorengan". Sangat tidak sopan.

Astaga.... Ternyata sangat ramah. Aku pikir bakalan sombong seperti orang-orang kaya di kecamatan ini, batin penjual gorengan tidak percaya.

"Iya, tidak apa-apa. Non Ziva baik, kok." Penjual gorengan sedikit lebih santai setelah mengetahui ibunya Zivanna tidak seperti yang dia pikirkan sebelumnya.

"Ma, itu ada kursi kosong. Mama duduk di sana saja. Kalau di sini nanti matahari naik mama bisa kepanasan." Zivanna menunjuk kursi kosong yang baru saja ditinggal penghuninya.

Anita menoleh lalu mengangguk. "Mama tunggu di sana, ya?" katanya lalu pergi.

Zivanna duduk di emperan bersama penjual gorengan. Tadi dia sengaja mengusir mamanya agar dia bebas bertanya kepada bibi gorengan.

"Bi, kalau rumah yang ditempati Ayu itu, rumahnya Ayu atau rumah ibu tirinya?" Zivanna mulai interogasinya. Dia teringat di mimpinya Ayu disuruh menandatangani sebuah kertas. Apakah itu terkait surat rumah itu, perebutan warisan atau semacamnya.

"Setahu bibi sih, itu rumah peninggalan bapaknya Ayu."

"Rumah itu peninggalan bapaknya Ayu. Artinya setelah bapaknya Ayu meninggal rumah itu menjadi milik Ayu. Karena Ayu tidak memiliki saudara lain, secara otomatis ketika Ayu meninggal rumah rumah itu menjadi milik ibu tirinya. Benar kan, Bi?"

"Mungkin." Bibi gorengan mengangguk tidak yakin.

Lantas kertas yang ditandatangani Ayu ketika dia di rumah sakit itu kertas apa?

"Sebenarnya Ayu sakit apa? Kenapa bisa meninggal?" Zivanna melanjutkan interogasinya.

"Katanya sih, sakit tipes. Tapi bibi tidak percaya. Kalau cuma sakit tipes kenapa harus di bawa ke rumah sakit umum pusat? Kenapa tidak di rumah sakit daerah saja? Tidak ada yang tahu sebenarnya bagaimana."

Sesal begitu terasa sampai sekarang. Dia dan penjual es dawet adalah satu-satunya teman Ayu. Meskipun terpaut usia yang cukup jauh, mereka selalu bersama mendengarkan keluh kesah satu dan lainnya. Sungguh disesalkan ketika gadis itu akhirnya tiada mereka tidak sempat menemuinya.

"Berapa lama ayu sakit?"

"Sekitar dua mingguan. Sejak kejadian pesanan palsu itu Ayu jadi sering murung dan sakit-sakitan. Minggu pertama sakit di rawat di rumah sakit daerah. Minggu kedua dia baru di rujuk ke rumah sakit pusat.

Mata Zivanna terasa panas. Teringat di dalam mimpinya Ayu di rumah sakit Ayu sendirian dan terlihat begitu menderita. Jadi selama dua minggu itu dia sendirian? Tidak ada seorangpun yang menjenguk? Tidak ada yang menemani??? Zivanna hampir terbawa emosi. Bagaimana bisa ada manusia tidak berperasaan seperti itu?

"Apa Non Ziva bisa melihat Ayu lewat mata batin Non Ziva? Apa karena itu Non Ziva penasaran sama Ayu?"

"Eh???" Zivanna tidak jadi menangis begitu mendengar pertanyaan bibi gorengan. Tadi dia mengaku memiliki indera keenam. Bukan salah bibi gorengan jika berpikir demikian.

Zivanna akhirnya mengangguk. "Tolong jangan bilang siapa-siapa ya, Bi."

Penjual gorengan mengangguk, tidak mengerti kalau dibohongi. Zivanna juga tidak berniat bohong. Dia hanya... tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Dagangan bibi gorengan sudah habis. Dia sudah membersihkan keranjang dan bersiap-siap pulang. "Hari ini dagangan bibi sengaja bibi kurangi, makanya jam segini sudah habis," terangnya.

"Bibi mau pulang sekarang?" Zivanna sedikit kecewa. Tidak ada bibi es dawet dan sekarang bibi gorengan juga mau pulang.

"Kalau Non Ziva ada waktu, kapan-kapan main ke rumah bibi. Tahu kan rumah bibi?"

Zivanna mengangguk. "Yang di depannya ada selokan, kan? Samping rumahnya ada pohon durian yang tinggi besar."

Bibi gorengan hampir menjengit ngeri ketika mendengar jawaban Zivanna yang benar adanya. Tetapi kemudian dia ingat gadis itu memiliki indera keenam, lalu dia tidak jadi merasa ngeri. "Iya, besok main saja ke sana."

Penjual gorengan itu pamit kepada Zivanna. Tidak lupa mengangguk hormat kepada Anita yang duduk dengan anggun di kursi tunggu bersama pasien yang sedang mengantri lainnya.

Zivanna menghampiri mamanya setelah kepergian teman barunya. "Jam berapa, Ma?" tanyanya.

Anita melirik jam tangannya. "Jam setengah sebelas," jawabnya sambil menghembuskan nafas. Sejujurnya dia sendiri sudah bosan menunggu selama itu. Tetapi demi Zivanna dia bertahan di sana.

"Kita pulang saja, Ma. Tidak usah periksa. Aku nggak apa-apa," kata Zivanna dengan malas.

"Tinggal setengah jam lagi, Zi. Tahan sebentar. Sayang sudah menunggu lama kalau akhirnya pulang. Sama seperti kamu, sayang sudah pacaran lama tapi ditinggal tunangan."

Zivanna mendengus kesal. Tidak mamanya tidak papanya, semuanya suka menguji kesabarannya. "Kalau mama masih mau di sini ya sudah, nanti mama saja yang periksa," sungutnya.

Di tengah perdebatan ibu dan anak ini terdengar suara panggilan untuk nomor dua puluh delapan.

"Nah... Giliran kamu sekarang. Yuk, masuk." Anita segera bangkit dari duduknya. "Ayo, Zi! Cepetan, kasihan yang masih mengantri kalau kamu kelamaan," tegur Anita yang melihat Zivanna malas-malasan tidak bergerak.

Akhirnya Zivanna bangkit lalu mengikuti mamanya memasuki ruangan dengan tulisan "poli umum" di pintunya.

Zivanna tidak begitu ingat ruangan itu karena kemarin dia pingsan ketika baru beberapa langkah masuk.

Seorang dokter duduk di belakang meja, terlihat tengah sibuk menulis. Zivanna dan Anita duduk di kursi di depan meja dokter itu.

Alvaro mengangkat kepalanya lalu melihat Zivanna. "Cucu Bu Minah?!" ucapnya dengan nada antara terkejut dan heran.

Suci yang tengah membereskan jarum suntik bekas dan hendak memasukkannya ke safety box khusus bersama jarum-jarum bekas lainnya langsung menoleh. Dia memindai dua orang cantik luar biasa di hadapan dokter pujaannya. Rasa iri dengki langsung memenuhi hatinya. "Dia lagi!!!" gumamnya diiringi dengusan yang hampir tak terlihat.

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!