Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
"Huft..."
Helaan napas lega lolos dari bibir Andre, diikuti senyum kepuasan yang tertahan. Ini adalah kali pertama ia merasakan lonjakan kebanggaan setelah menginterogasi tersangka. Meski semua itu masih di bawah arahan dan skenario Rafan, Andre tak sabar menunggu kesempatan kedua untuk melakukannya dengan caranya sendiri.
"Aku sudah melakukan semua perintah Komisaris Rafan. Semoga membuahkan hasil," gumamnya. "Lebih baik sekarang aku---"
Brak!
Suara dobrakan pintu yang keras membuat para petugas tersentak. Semua mata tertuju pada sosok pria tinggi berkulit sawo matang dengan rambut ikal yang mengenakan seragam kepolisian lengkap. Amarah terpancar jelas dari tatapannya yang tajam, sementara rahangnya mengatup kuat hingga otot-otot di wajahnya menegang. Ia melangkah lebar dengan kepalan tangan yang siap menghantam apa saja.
"Itu Pak Gema. Tumben sekali dia datang ke sini," bisik seorang petugas sembari menyenggol lengan Andre.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami---"
"Di mana komisaris baru itu?!" potong Gema kasar, suaranya menggelegar penuh intimidasi.
Andre menoleh ke samping, mencari bantuan lewat tatapan mata karena ia sendiri tak yakin di mana posisi Rafan saat ini. "Komisaris Rafan... beliau pasti masih di ruangannya, Pak," jawab Andre akhirnya dengan nada tegas yang dipaksakan.
"Tunjukkan jalannya!"
Andre mengangguk patuh, memimpin jalan menuju ruang kerja Rafan. Isi kepalanya dipenuhi kecemasan. Apa Komisaris Rafan melakukan kesalahan? Pak Gema sudah lama tidak ikut campur dalam kasus, tapi kenapa tiba-tiba...
"Apa kaki panjangmu tidak bisa berjalan lebih cepat?" bentak Gema, menghancurkan lamunan Andre.
"Maaf, Pak. Sebentar lagi sampai," sahut Andre sembari menundukkan kepala.
Di dalam ruangannya, Rafan sedang asyik memilah lembar demi lembar biodata di atas meja. Ia menatap sebuah foto barang bukti dengan dahi berkerut.
"Seharusnya ini memang senjata yang sama," gumamnya. "Tapi kenapa tidak ada noda darah? Jika pelaku sempat menghapusnya, kenapa dia membiarkan bukti ini ditemukan? Rasanya... bukti ini sengaja ditinggalkan hanya untuk mempermainkanku."
Tok. Tok. Tok.
Rafan menoleh dan mendapati Andre berdiri di ambang pintu. "Selamat siang, Pak Rafan. Ada---"
"Jadi, kamu komisaris baru itu?" Gema menyela sembari mendorong bahu Andre agar menyingkir.
Ia melangkah masuk dengan sorot mata penuh kebencian. "Aku paham kamu petugas baru yang tidak tahu aturan main di sini. Tapi setidaknya gunakan otak mudamu untuk bertanya sebelum bertindak!" Gema berbalik menunjuk Andre. "Dan kamu! Seharusnya kamu jelaskan aturan kerja di sini!"
Rafan mengernyitkan alis, wajahnya tetap tenang meski suasananya memanas. "Apa yang telah saya perbuat hingga Anda terlihat begitu murka?"
"Siapa yang mengizinkanmu mengeluarkan selebaran DPO?!"
"Saya sendiri," sahut Rafan datar, tanpa secuil pun rasa takut meski ia sedang berhadapan dengan perwira berpangkat lebih tinggi.
Gema mendengus remeh. "Bagus. Kamu berusaha bersikap semena-mena? Pantas saja ayahmu tidak pernah puas dengan pencapaian putranya."
"Terserah Anda ingin berkomentar apa. Yang jelas, tidak ada aturan yang melarang penerbitan DPO tersebut."
"Dengar, kamu adalah putra temanku, jadi aku akan bertindak lembut. Hentikan penyebaran itu sekarang juga!" tegas Gema penuh penekanan.
"Boleh saya tahu alasannya?"
"Ada orang-orang yang tidak boleh kita sentuh! Itu saja yang perlu kamu tahu," bisik Gema, memajukan wajahnya ke arah Rafan dengan nada mengancam. "Jika dalam satu jam kamu tidak mencabut edaran itu... bisa saja ayahmu yang akan menjadi target mereka berikutnya."
Rafan terdiam sejenak, menekan pangkal hidungnya yang berdenyut. Ia mendengus kesal, mencoba meredam emosi yang memuncak. Dia datang tiba-tiba hanya untuk mengancamku menggunakan nama Ayah?
"Segera cabut edarannya, Andre!" perintah Gema sebelum melenggang pergi.
"Pak... bagaimana ini?" Andre menatap Rafan cemas.
"Biarkan saja," tegas Rafan sembari menghela napas panjang. "Jangan hiraukan peringatan itu. Aku ingin tahu siapa 'dalang' yang tidak boleh disentuh itu. Lagipula, aku tidak akan merasa lemah jika mereka menyerang keluarga palsu itu."
Rafan kembali fokus. "Sekarang katakan, apa hasil interogasimu?"
"Para pelayan mengaku bahwa sebelum kejadian, satpam membelikan makan malam yang dipanaskan oleh pembantu wanita. Lalu, pelayan termuda menyebutkan bahwa beberapa tahun lalu ada seorang gadis---putri dari pembantu itu,yang meninggal secara misterius di rumah korban."
"Sudah kamu selidiki?"
"Sedang dalam proses, Pak."
"Bagus. Dari kelima pelayan, hanya wanita itu yang paling mungkin menjadi komplotan pembunuh."
Markas Organisasi
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki yang beradu dengan lantai marmer memecah keheningan lorong panjang yang lembap. Aroma kayu tua menyengat, menusuk indra penciuman Myra saat ia melewati jalanan yang menyimpan ribuan kenangan masa kecilnya.
"Apa Ayah mengatakan sesuatu?" tanya Myra, melirik Sukma yang berjalan di sampingnya.
"Tidak. Beliau hanya ingin bertemu denganmu."
Di ujung lorong, dua pria berbadan tegap dengan setelan formal membuka pintu besar untuk mereka. Myra disambut oleh pemandangan bar mewah dengan jejeran botol minuman mahal. Seorang bartender wanita berseragam minim menyapa dengan senyum ramah yang terlatih.
Pandangan Myra tertuju pada pria paruh baya yang sedang menyesap cerutu cokelat di sudut ruangan.
"Apa kamu baik-baik saja? Sukma bilang ada polisi yang datang ke tempatmu," ujar pria itu sembari mengembuskan asap pekat dari mulutnya.
"Aku tidak apa-apa. Bukan masalah besar," gumam Myra sembari meraih sebutir jeruk dari piring hidangan.
Pria itu, Amran, tersenyum lebar. "Memang bukan gayamu untuk membuatku khawatir." Ia memberi isyarat pada pengawalnya. Sebuah map transparan diletakkan di hadapan Myra. Di dalamnya terdapat sebuah kunci apartemen dan secarik kertas ungu bermotif bunga.
"Apa ini?" tanya Myra penasaran.
"Kunci apartemen yang akan kamu tinggali mulai lusa. Dan surat itu..." Amran mengangkat alis. "Dia sudah berjanji akan kembali sebelum hari ulang tahunmu."
Mata Myra membulat. "Yosep? Dia mau pulang?"
"Tentu saja. Bukankah sejak kecil kalian selalu bertukar pesan seperti itu?"
Myra tersenyum cerah, menatap kertas ungu yang terasa begitu kontras di ruangan gelap tersebut. Ia mengusap tulisan latin yang rapi di atasnya, tinta merah yang memanjakan mata. Meski belum membaca sepatah kata pun, lengkungan manis sudah terbit di bibirnya.
"Oh ya, Myra," celetuk Amran sembari menyesap kopinya.
"Hm?" Myra menyahut tanpa menoleh, masih asyik dengan surat di tangannya.
"Setelah hari ulang tahunmu, aku akan meresmikan pertunangan kalian."
Dep.
Senyum di wajah Myra lenyap seketika. Dadanya terasa sesak oleh rasa asing yang mendadak menyerang. Ia tahu penyatuan ini penting demi kekuatan organisasi, pernikahan politik untuk mencegah pengkhianatan. Namun, di lubuk hati terkecilnya, rasa itu sudah lama padam.
"Kenapa kamu terlihat murung? Apa karena kepulangan Yosep?" tanya Sukma saat mereka sudah meninggalkan ruangan Amran menuju markas bawah tanah.
"Tidak. Tentu saja aku senang, aku merindukannya," sanggah Myra cepat.
"Lalu, apa kamu senang akan bertunangan dengannya?"
Myra menekuk bibirnya, raut bimbangnya tak bisa disembunyikan. "Entahlah. Sudah lama kami tidak bertemu. Bagaimana kalau dia berubah menjadi pria yang menyebalkan?"