Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertandingan yang Dinantikan
Lapangan utama Akademi Arclight kembali dipenuhi sorakan setelah pertandingan tim Ren berakhir. Banyak siswa mulai membicarakan kemenangan mereka. Beberapa bahkan mulai menyebut nama Ren sebagai salah satu kandidat kuat untuk mencapai final turnamen tahun ini.
Ren sendiri duduk di bangku batu di pinggir arena sambil mengatur napasnya. Walaupun pertarungan tadi tidak terlalu lama, ia tetap merasakan sisa energi aneh di tubuhnya. Kekuatan itu semakin sering muncul, dan setiap kali muncul rasanya semakin kuat.
Mira berdiri di depannya sambil masih penuh semangat.
“Aku bilang juga kita pasti menang,” katanya dengan senyum lebar.
Ren tertawa kecil. “Pertarungannya bahkan belum terlalu serius.”
Mira menyeringai. “Justru itu yang menyenangkan.”
Di sisi lain, Aria duduk dengan tenang sambil memegang sebuah botol kecil berisi cairan hijau.
“Minumlah ini,” katanya lembut sambil memberikannya pada Ren.
Ren mengambil botol itu. “Apa ini?”
“Ramuan pemulih energi ringan,” jawab Aria.
Ren meminumnya tanpa ragu. Cairan itu terasa sedikit pahit, tetapi hangat ketika melewati tenggorokannya. Beberapa detik kemudian tubuhnya terasa jauh lebih ringan.
“Terima kasih,” katanya.
Aria tersenyum kecil. “Sama-sama.”
Namun suasana santai mereka tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba suara Gareth kembali menggema di seluruh lapangan.
“PERTANDINGAN BERIKUTNYA!”
Kerumunan siswa kembali memperhatikan arena.
Papan kristal besar menyala lagi, menampilkan dua tim yang akan bertarung berikutnya.
Tim pertama:
Lilia Frost
Nyra Noctis
Selene Virel
Tim kedua:
Tiga siswa elit dari kelas tingkat atas.
Mira langsung berdiri.
“Ini dia.”
Ren juga menatap papan kristal dengan serius.
Pertandingan ini jelas akan sangat berbeda dari yang tadi.
Di arena, Lilia berjalan masuk terlebih dahulu dengan langkah tenang. Rambut peraknya bergerak lembut tertiup angin. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi aura sihir dingin di sekelilingnya terasa sangat kuat.
Beberapa detik kemudian Nyra masuk dari sisi lain dengan senyum santai.
“Akhirnya kita satu tim,” katanya sambil melihat Lilia.
Lilia menjawab datar, “Aku tidak pernah mengatakan aku senang.”
Nyra tertawa kecil.
Tak lama kemudian, Selene muncul.
Ketika gadis itu melangkah masuk ke arena, suasana di sekitar langsung berubah sedikit lebih sunyi. Banyak siswa yang masih merasa tidak nyaman dengan aura misteriusnya.
Selene berhenti di tengah arena dan melihat sekeliling.
Matanya akhirnya menemukan Ren di kerumunan.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Ren langsung menghela napas kecil.
“Kenapa aku merasa pertandingan ini akan jadi masalah…”
Mira menyeringai.
“Karena memang akan.”
Di arena, tiga lawan mereka sudah bersiap. Ketiganya adalah siswa senior yang terkenal kuat.
Salah satu dari mereka berbicara dengan nada percaya diri.
“Menarik. Tim kalian cukup terkenal hari ini.”
Nyra mengangkat bahu santai.
“Kami juga baru kenal.”
Gareth berdiri di pinggir arena.
“Siap?”
Kedua tim mengambil posisi.
Lilia berdiri di depan.
Nyra di sisi kiri.
Selene sedikit di belakang.
Gareth mengangkat tangannya.
“PERTANDINGAN DIMULAI!”
Begitu kata itu diucapkan, pertarungan langsung meledak.
Salah satu siswa senior langsung menyerang dengan sihir tanah.
“Stone Spear!”
Beberapa tombak batu besar melesat menuju tim Lilia.
Namun Lilia bahkan tidak bergerak.
Ia hanya mengangkat tangannya.
“Ice Wall.”
Dinding es besar muncul seketika dan menghancurkan semua tombak batu itu.
Penonton langsung bersorak kagum.
“Cepat sekali!”
Nyra tertawa kecil.
“Tidak buruk, putri es.”
Lilia tidak menjawab.
Sebaliknya ia langsung membalas.
“Ice Rain.”
Ratusan jarum es turun dari udara menuju lawan mereka.
Para siswa senior melompat menghindar.
Namun Nyra sudah bergerak.
“Shadow Bind.”
Bayangan di tanah tiba-tiba bergerak seperti hidup dan mengikat salah satu lawan mereka.
“APA—?!” teriak siswa itu sebelum ia jatuh ke tanah.
Penonton kembali bersorak.
Namun lawan yang tersisa tidak tinggal diam.
Salah satu dari mereka mengangkat tangannya tinggi.
“Lightning Storm!”
Petir besar turun dari langit arena.
Ledakan cahaya menyilaukan memenuhi seluruh arena.
Banyak siswa langsung mundur beberapa langkah.
Namun ketika cahaya itu menghilang…
Selene masih berdiri di tempat yang sama.
Tanpa luka sedikit pun.
Matanya bersinar merah samar.
Ia perlahan mengangkat tangannya.
Energi gelap mulai berkumpul di sekelilingnya.
Nyra melihat itu dan tertawa kecil.
“Akhirnya kamu bergerak.”
Selene tidak menjawab.
Ia hanya berbisik pelan.
“Void Pulse.”
Gelombang energi hitam menyebar dari tubuhnya seperti badai.
BOOOOM.
Seluruh arena bergetar.
Dua lawan yang tersisa langsung terpental keluar arena tanpa sempat menyerang lagi.
Keheningan total memenuhi lapangan.
Beberapa detik kemudian, Gareth mengangkat tangannya.
“PERTANDINGAN SELESAI!”
Kerumunan langsung gempar.
“Itu terlalu cepat!”
“Apa sihir itu?!”
Ren yang menonton dari pinggir arena hanya bisa menghela napas.
“Sekarang aku mengerti kenapa semua orang takut pada Selene.”
Mira mengangguk setuju.
“Dia benar-benar monster.”
Di arena, Nyra menepuk tangan dengan santai.
“Pertandingan yang cepat.”
Lilia menatap Selene dengan tatapan tajam.
“Energi itu bukan sihir biasa.”
Selene hanya tersenyum tipis.
Kemudian ia menoleh ke arah penonton.
Tatapannya langsung menemukan Ren lagi.
Beberapa detik mereka saling menatap dari kejauhan.
Selene akhirnya berkata pelan, cukup keras untuk didengar oleh timnya.
“Sepertinya kita akan bertemu mereka di babak berikutnya.”
Nyra menyeringai lebar.
“Tim Ren?”
Lilia menatap ke arah Ren juga.
“Kalau itu terjadi…”
Ia berhenti sejenak.
“…pertandingan itu tidak akan mudah.”
Ren berdiri diam sambil melihat arena.
Ia tahu satu hal pasti sekarang.
Cepat atau lambat…
Ia harus bertarung melawan Selene.