NovelToon NovelToon
Detektif Kacau Balau

Detektif Kacau Balau

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mata-mata/Agen / Persahabatan / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ombak yang Mengamuk

Gemuruh lautan memenuhi telinga ketika kapal ikan milik Pak Yus bergoyang di atas air biru tua Laut Sulawesi. Di atas geladak, sekelompok orang duduk dengan diam, menahan perut dan jantung mereka agar tidak ikut berguncang. Bulan sabit memantulkan cahaya pucat ke permukaan laut, sementara bintang-bintang bertebaran seperti butiran garam. Angin malam meniup rambut dan pakaian, membawa aroma asin dan rumput laut basah. Mereka mengenakan jaket tebal, topi, dan sarung tangan, siap menghadapi arus yang tak terduga. Di tiang kapal, bendera kecil berkibar pelan, menari mengikuti irama ombak.

Bu Rukmini berdiri di haluan, matanya terpejam, tangan terbuka, merasakan energi laut. Ia bergumam dalam bahasa Dayak, menyampaikan doa kepada roh laut. Di sisi lain, Budi mengatur drone mini yang akan diterbangkan begitu kapal target mendekat. Ia memeriksa baterai, memastikan kamera berfungsi. “Kali ini, jangan sampai jatuh,” katanya, menatap perangkat itu dengan wajah serius namun jenaka. Perikus duduk memegang tasbih, bibirnya bergerak dalam doa, sementara kakinya bergetar pelan. Ia membayangkan berbagai skenario: kapal besar muncul seperti monster, tentara keluar dengan senjata, atau kapal oleng karena badai. Namun, ia juga membayangkan wajah-wajah korban yang menunggu keadilan, termasuk Joko, Karin, dan para tahanan lain. Ia menguatkan hati.

Tento berdiri di samping kapten, menatap horizon. Ia melihat bayangan platform minyak jauh di depan, struktur besar setengah tenggelam, lampu-lampu berkedip, pipa-pipa besar menjulang ke langit. Platform itu seperti kota mini di tengah laut, dengan crane dan tangga besi. Menurut informasi Maya, platform ini bukan hanya untuk pengeboran, tetapi juga tempat bongkar muat rahasia. Kapal pengangkut B16 akan menepi di sana, menurunkan kontainer berisi cairan dan manusia ke kapal lain yang datang dari luar negeri. Mereka harus melihat momen itu dan menandai kapal untuk pelacakan atau, jika mungkin, menghentikannya.

“Berapakah jarak kita sekarang?” tanya Tento kepada Bu Rukmini. Wanita itu membuka mata, memandang ke depan, lalu menutup mata lagi. “Sekitar lima kilometer. Kapal besar belum muncul, tapi arus mulai kuat. Sabar.” Suaranya menenangkan. Pak Yus di belakang kemudi mengangguk. “Arus ke timur,” katanya. “Kita harus posisi kanan. Kapal besar akan datang dari utara.”

Mereka menunggu. Waktu seolah berhenti. Mereka merasakan setiap detik berlalu, setiap getaran kapal, setiap embusan angin. Budi mencoba mengalihkan pikiran dengan bercanda, “Kalau ini berhasil, kita harus buka bisnis tur konspirasi. Kita ajak orang memancing dan membongkar rahasia.” Mereka tertawa kecil, tapi di balik tawa itu ada kegugupan. Perikus bergumam, “Kalau tur konspirasi, jangan lupa bawa soto sebagai snack.”

Tiba-tiba, Pak Yus menunjuk ke horizon. “Lihat!” katanya. Di kejauhan, sebuah kapal cargo besar muncul, lampu-lampunya bagaikan deretan bintang. Kapal itu bergerak perlahan tapi pasti, mendekati platform minyak. Suaranya halus, namun getarannya terasa di air. Kapal itu memiliki lambung putih, dengan huruf besar “VITA” di sisinya. Ini kapal mereka. Mereka menahan napas. “Ini dia,” bisik Tento. “Budi, siap.”

Budi menyalakan drone. Lampu merah kecil berkedip. “Aku akan terbangkan sekarang. Doakan aku,” katanya. Ia menekan tombol. Drone mengangkat, suara sayapnya seperti lebah. Angin laut menolak, namun drone stabil. Budi mengendalikan lewat ponsel. Mereka menonton layar kecil yang memperlihatkan pemandangan dari atas: kapal mereka kecil di laut luas, platform minyak menjulang, dan kapal cargo yang mendekat. Budi menerbangkan drone menuju kapal cargo, menjaga jarak agar tak terdeteksi. “Aku akan turunkan di atas kontainer, lalu menempelkan pelacak,” katanya. Drone mendekat ke dek kapal cargo, angin berputar membuatnya goyang. “Hati-hati,” kata Tento.

Di layar, mereka melihat kontainer B16, berwarna abu-abu dengan stiker “B16 Batch 20”. Lampu-lampu jalan di dek menerangi. Beberapa pekerja berdiri, mengenakan helm dan rompi. Drone turun pelan, berhenti di atas kontainer. Budi menggunakan lengan kecil robot yang terpasang untuk menempelkan perangkat pelacak magnetik ke sisi kontainer. Tangan kecil bergerak, magnet menempel. “Berhasil!” seru Budi pelan. Tetapi tiba-tiba, angin kencang berhembus, memukul drone. Kamera berguncang, drone oleng. “Wah! Wah!” Budi mengendalikan, tetapi angin sulit. Drone berputar. Seorang pekerja menatap ke atas. “Apa itu?!” teriaknya. Budi panik. Ia mencoba menstabilkan, namun drone terbawa arus angin, menabrak tiang. Mesin berdesing, kemudian mati. Kamera mati.

“Drone-nya jatuh!” seru Budi kecewa. “Tapi pelacak sudah terpasang.” Mereka melihat layar menampilkan titik pelacak yang menempel di kontainer. “Kita bisa melacak kapal meskipun drone hancur,” kata Tento, mencoba menenangkan. Budi menelan kekecewaan. “Maafkan, drone. Kau pahlawan,” katanya sendu. Namun, kapal cargo tak menyadari pelacak. Mereka menurunkan kontainer B16 ke platform. Kontainer dipindahkan ke lift, lalu turun ke deck lain. Mereka menyaksikan, jantung berdebar.

Pak Yus memutar kapal sedikit, agar tidak terlalu dekat. Lampu platform menyorot laut. Mereka menunduk. Mereka mengaktifkan perangkat audio jarak jauh. Suara percakapan pekerja di platform terdengar samar: “Pastikan transportasi ke kapal asing tepat waktu. Singh akan marah jika ada delay.” “Di mana dia sekarang?” “Katanya dia di kapal. Ia mau lihat sendiri.” Mereka merasakan bulu kuduk berdiri. Dr. Singh ada di kapal. Jika mereka menangkapnya, konspirasi bisa terungkap.

Kapal cargo berhenti di samping platform. Lift besar menurunkan tangga, dan seseorang turun: seorang pria berkulit gelap, berjenggot, memakai jas lab putih meski udara lembap. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen India. “We need to hurry. The storm is coming. After this, we will move operations to Manila,” katanya. Mereka merekam via kamera tele. “Itu Singh,” bisik Budi. “Orang yang menampar Widya.” Mereka ingin menangkapnya, namun mereka di kapal kecil. “Kita tidak bisa sekarang. Kita hanya bisa merekam,” kata Tento.

Sementara itu, di rumah makan padang yang kini menjadi markas sementara mereka di Samarinda, Profesor dan Pak Hadi menerima kabar: LPSK berhasil menemui keluarga Widya dan menempatkan mereka di tempat aman. Widya sedang menyusun pernyataan. Ia juga memberi akses akun email Singh. Maya meretas. Ia menemukan pesan yang menunjukkan bahwa B16 akan dibawa ke Manila dan kemudian ke laboratorium rahasia di Filipina untuk pengembangan tahap lanjut, sebelum dilepas ke pasar global. Ada juga bukti pembayaran dari perusahaan farmasi asing. Profesor memegang kepala. “Ini jaringan internasional. Kita butuh Interpol,” katanya. Ia menghubungi organisasi HAM internasional.

Di Bandung, aksi mahasiswa meningkat. Polisi mencoba membubarkan massa dengan water cannon, tetapi para mahasiswa tetap bertahan, bernyanyi di bawah hujan air. Mereka melindungi para pekerja yang keluar dari gedung tua dengan menutupi wajahnya dari kamera, membawa mereka ke mobil LPSK. Indah berdiri di depan barikade, berbicara dengan megafon. “Kami bukan musuh. Kami di sini melindungi teman-teman kami dari eksploitasi. Jangan jadikan kami lawan,” katanya. Rina membagikan roti dan air kepada demonstran. Di rumah sakit, Karin menonton livestream, tersenyum lemah.

Kembali ke laut, jam menunjukkan pukul dua pagi. Kapal cargo selesai menurunkan kontainer. Dr. Singh naik kembali ke kapal, tersenyum kecil. “Everything is on track,” katanya kepada seseorang di ponsel. Kapal cargo mulai bergerak ke selatan, menuju laut lepas. Platform mulai memindahkan kontainer ke kapal lain yang lebih kecil, yang tampak seperti kapal cepat. Ini mungkin kapal penghubung yang akan membawa B16 ke Manila. Mereka harus bertindak. “Kita bisa ikuti kapal kecil,” bisik Pak Yus. “Kapal kita cukup cepat, tapi arus besar di selatan.” Bu Rukmini menutup mata, merasakan angin. “Laut memanggil. Badai kecil akan datang. Kita harus siap,” katanya. Mereka memutuskan mengejar.

Kapal mereka menambah kecepatan, memotong ombak. Air memercik, membasahi wajah. Motor menderu. Mereka mengikuti lampu kapal kecil di kejauhan. Budi memegang badan kapal, wajahnya pucat. “Aku benci laut, tapi aku suka konspirasi,” katanya, tersenyum kecut. Mereka menempelkan lampu yang redup, menjaga jarak agar tidak terlihat. Perahu mereka bergoyang tajam ketika ombak tinggi datang. Mereka menggenggam erat tiang, kaki mereka menjejak geladak. Perahu melompat, air asin masuk ke mulut, rasanya pahit. Mereka mendengar suara guntur. Langit yang tadinya cerah mulai diwarnai awan gelap.

Pak Yus berteriak, “Badai datang! Awas!” Angin bertiup kencang, menerpa wajah mereka seperti cambuk. Ombak naik setinggi dinding rumah. Kapal kecil yang mereka kejar juga terombang-ambing. Ini berbahaya. Mereka harus memutuskan: terus atau mundur. Budi melihat wajah semua orang, kemudian tertawa lemah. “1% kesempatan,” katanya. “Kita tidak pernah mundur, kan?” Tento mengangguk. “Kita ikuti sejauh mungkin. Kalau terlalu bahaya, kita tempatkan pelacak tambahan.” Ia mengeluarkan pelacak cadangan, memberikannya ke Bu Rukmini. “Jika kita dekat, lempar ini ke kapal,” katanya.

Mereka melawan badai. Kapal mereka naik turun, terkadang seakan akan terbalik. Mereka basah kuyup. Angin menjerit. Wajah-wajah mereka kencang. Perikus memejamkan mata, mengucap doa. Budi memegangi perut, menahan mual. Bu Rukmini memegang palang, menatap ke depan dengan tenang. “Kita mendekat!” teriak Pak Yus. Lampu kapal kecil terlihat lebih jelas. Mereka berada di sisi kapal kecil. Salah satu awak kapal itu memandang ke arah mereka, wajahnya terkejut. Mereka harus cepat.

Dengan satu gerakan, Bu Rukmini melempar pelacak ke sisi kapal kecil. Magnet menempel. Pelacak menyala, mengirim sinyal. Kapal kecil menambah kecepatan, menjauh. Mereka merasa lega. Badai semakin kencang. Pak Yus berteriak, “Kita harus kembali atau kita tenggelam!” Mereka setuju. Mereka membalik kapal, melaju ke arah pantai. Angin di belakang mendorong. Mereka memegang erat. Mereka melihat kilat menyambar laut, terang sekali. Suara petir menghantam.

Setelah beberapa menit, ombak mulai mengecil. Mereka melihat garis pantai. Mereka memacu kapal ke tepian pasir. Mereka turun, berbaring di pasir, tertawa dan menangis. “Kita hidup!” seru Budi, memeluk pasir basah. “Kita hidup!” Mereka tertawa bersama, di tengah malam, di pantai yang sepi. Di atas, badai masih bergerak, tetapi mereka di luar jalur. Mereka berpelukan, merasakan persaudaraan.

Di Samarinda, Profesor menerima sinyal pelacak baru. Titik merah bergerak ke Laut Sulawesi, mengikuti rute kapal. Ia mengirim data ke Interpol dan media. “Kami melacak B16 ke kapal asing,” tulisnya di pesan. Malam itu, berita mendunia: “Aktivis melacak pengiriman B16 ke kapal asing di Laut Sulawesi!” Video badai dan kapal kecil viral di media sosial. Warga mengejek PT. Farma Vita: “Kalian kalah sama bajak laut reog!”

Esoknya, Widya dihubungi LPSK. Ia dijadwalkan memberi pernyataan publik minggu depan. Dr. Singh menghilang; rumor beredar ia melarikan diri ke negara lain. Pemerintah Filipina di bawah tekanan, berjanji memeriksa platform minyak. DPR menunda sidang untuk membahas B16. Media sibuk. Masyarakat bereaksi: sebagian mendukung, sebagian skeptis. Pemerintah mungkin bertindak, atau mungkin tidak. Namun, catatan-catatan mereka kini di tangan banyak orang.

Pak Hadi duduk di samping Joko yang tidur, memegang tangan anaknya. Di luar, anak-anak bermain layang-layang, angin menggerakkan ekor warna-warni. Perikus dan Budi memperbaiki kap mobil, bersiap jika harus mengejar lagi. Mereka bercanda tentang menulis buku, syuting film. Mereka masih merasakan garam di bibir, namun juga kehangatan matahari. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi besok: apakah mereka akan dipanggil polisi, atau dihukum perusahaan, atau dipuji sebagai pahlawan. Tapi mereka tahu satu hal: mereka telah menyalakan api, dan api itu sulit dipadamkan. Seperti arus sungai yang mengalir ke laut, kebenaran terus bergerak, membawa segala hal yang ringan dan berat.

Hari itu berakhir dengan tiga rekam jejak: Widya duduk di rumah persembunyian, menatap berkas-berkas email dan menyiapkan keberanian; Rina berdiri di depan rumah sakit, memeluk Karin yang sudah bisa tersenyum lemah; dan kapal PT. Farma Vita yang membawa B16 terpantau satelit, menuju entah ke mana, dengan pelacak kecil yang bersinar merah. Ombak terus bergulung, membawa cerita mereka ke tantangan berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!