NovelToon NovelToon
PUNCAK TAHTA CEO MUDA & DETEKTIF R

PUNCAK TAHTA CEO MUDA & DETEKTIF R

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Transmigrasi / Sci-Fi
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.

Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.

Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Dari Alam Kubur

Kediaman utama keluarga Feng malam itu tampak seperti sebuah istana yang sedang berduka—atau setidaknya, begitulah kesan yang ingin ditampilkan dari luar. Lampu-lampu taman yang mewah temaram, dan bendera keluarga berkibar lesu ditiup angin malam yang dingin. Namun, di dalam ruang kerja pribadi sang putra sulung, Feng Yao, suasana justru terasa sangat kontras. Aroma cerutu mahal dan denting gelas kristal berisi wine merah seharga ribuan dolar memenuhi ruangan yang kedap suara itu.

Feng Yao, pria berusia 32 tahun dengan wajah yang sekilas mirip dengan Feng Yan namun memiliki gurat kelicikan di sekitar matanya, menyandarkan punggungnya di kursi kulit buaya. Dia tersenyum puas, menatap layar ponselnya yang menampilkan foto bangkai mobil yang terbakar di Jalur Hijau Sektor 7.

"Akhirnya... pengganggu kecil itu sudah lenyap," gumam Feng Yao dengan nada rendah yang penuh kemenangan. Dia menyesap wine-nya, merasakan sensasi kemenangan yang sudah dia impikan selama bertahun-tahun. "Dunia ini terlalu sempit untuk dua matahari, Yan. Dan akulah satu-satunya yang berhak bersinar di puncak Feng Group."

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu yang sangat tenang dan berirama memecah keheningan ruangan itu. Feng Yao mengerutkan kening. Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Siapa yang berani mengganggu selebrasi pribadinya?

"Masuk!" perintah Feng Yao ketus.

Pintu besar berbahan kayu jati itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit yang entah kenapa terasa sangat memilukan bagi bulu kuduk Feng Yao. Sosok pria tinggi dengan jaket kulit hitam yang tersampir di bahu melangkah masuk dengan gaya yang sangat luwes, hampir seperti melayang di atas karpet Persia yang mahal.

Feng Yao tidak menoleh, dia masih sibuk menuangkan wine ke gelas keduanya. "Bagaimana, Sekretaris Han? Apakah jasadnya sudah dipindahkan ke kamar jenazah pusat? Pastikan tidak ada wartawan yang melihatnya sebelum pengumuman resmi pagi ini."

"Sayangnya, Kakakku tersayang... kamar jenazah itu terlalu dingin dan membosankan untuk orang setampan diriku."

PRANGGG!

Gelas kristal di tangan Feng Yao terlepas, jatuh hancur berkeping-keping di lantai karpet, menyebarkan wine merah yang tampak seperti genangan darah segar. Feng Yao mematung, seluruh tubuhnya gemetar hebat seolah-olah baru saja tersengat listrik bertegangan tinggi. Suara itu... dia sangat mengenali suara bariton yang berat namun kini mengandung nada ejekan yang sangat tajam itu.

Feng Yao memutar kursinya dengan gerakan patah-patah. Matanya hampir keluar dari kelopaknya saat melihat sosok pria yang seharusnya sudah menjadi bangkai gosong, kini berdiri tegak di hadapannya.

"F-F-FENG YAN?! K-KAU?! BAGAIMANA BISA?!" teriak Feng Yao histeris, wajahnya yang tadi merah karena wine kini berubah pucat pasi seperti kertas semen. Dia mundur sampai kursinya menghantam meja kerja dengan keras. "Kau sudah mati! Aku sendiri yang melihat foto kecelakaan itu! Truk itu menghantammu dengan kecepatan penuh!"

Feng Yan tertawa kecil, suara tawa yang merdu namun menyimpan kedinginan dari dasar neraka. Dia berjalan mendekati meja kerja Feng Yao, lalu dengan sangat tidak sopan, dia duduk di atas meja kayu mahal itu, menyilangkan kakinya yang panjang dengan santai.

"Ah, truk itu? Truk itu memang sangat besar, Kak. Tapi sepertinya sopir yang kau sewa kurang profesional. Dia bahkan tidak bisa menghancurkan satu helai pun rambut indahku," ucap Feng Yan sambil merapikan tatanan rambutnya yang justru terlihat semakin berkilau di bawah lampu gantung kristal.

Feng Yan menatap kakaknya dengan mata hitam pekat yang kini berkilat keemasan sesaat—sebuah tatapan predator yang membuat Feng Yao merasa jantungnya seperti diremas oleh tangan raksasa.

"Kau... kau hantu! Pergi kau! Jangan ganggu aku!" Feng Yao meraba-raba laci mejanya, mencoba mencari sesuatu—mungkin senjata atau jimat—untuk mengusir sosok di depannya.

Feng Yan membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Feng Yao yang berkeringat dingin. "Hantu? Kakak, apakah hantu bisa menghirup aroma cerutu murahanmu ini? Atau apakah hantu bisa merasakan betapa takutnya detak jantungmu saat ini? Dengar baik-baik... aku kembali bukan untuk menghantuimu. Aku kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, dan mungkin sedikit bermain-main dengan harga dirimu yang rendahan itu."

Chen Lian masuk ke dalam ruangan dengan langkah tegap, berdiri di samping Feng Yan seperti pengawal bayangan yang mematikan. Dia menatap Feng Yao dengan tatapan dingin tanpa emosi sedikit pun.

"Tuan Muda Yao," panggil Chen Lian datar. "Laporan kematian yang Anda tunggu-tunggu tidak akan pernah terbit. Sebaliknya, pagi ini dewan direksi akan menerima laporan bahwa Tuan Muda Feng Yan selamat tanpa luka gores sedikit pun. Tentu saja, ini akan menjadi pukulan telak bagi saham yang sudah Anda coba kumpulkan secara ilegal malam ini, bukan?"

Feng Yao jatuh terduduk di kursinya, lemas tak bertulang. Rencananya yang sempurna, yang sudah dia susun berbulan-bulan, hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan menit. Kehadiran Feng Yan yang sekarang terasa jauh lebih dominan, lebih kuat, dan lebih menakutkan daripada Feng Yan yang dulu dia kenal.

"Siapa... siapa kau sebenarnya?" bisik Feng Yao dengan suara bergetar. "Kau bukan adikku. Feng Yan tidak pernah memiliki mata sepertimu. Dia tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu!"

Feng Yan tersenyum miring, sebuah senyum Rubah yang sangat narsis dan berbahaya. Dia berdiri, merapikan jaket kulit Reyhan yang masih dia kenakan. "Pertanyaan yang bagus. Tapi sayangnya, kau tidak punya cukup kasta untuk mengetahui siapa aku sebenarnya. Cukup panggil aku 'Tuan Muda' mulai sekarang, karena sebentar lagi, kau bahkan tidak akan punya tempat untuk duduk di rumah ini."

Feng Yan berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak sebelum keluar. Dia menoleh ke belakang, menatap Feng Yao yang masih gemetar. "Oh ya, satu hal lagi. Wine yang kau minum tadi... rasanya sangat murah. Besok, aku akan menggantinya dengan darah kesombonganmu. Tidurlah yang nyenyak, Kak. Karena ini adalah malam terakhirmu sebagai penguasa palsu di Feng Group."

Feng Yan melangkah keluar dengan tawa yang bergema di koridor rumah besar itu. Di belakangnya, Reyhan yang sejak tadi menunggu di luar pintu hanya bisa bersandar di tembok sambil memutar bola matanya.

"Bener-bener ya, adegan 'muncul dari kubur' lo itu lebay banget, Yan," gumam Reyhan.

"Lebay? Itu namanya estetika kemenangan, Reyhan," sahut Feng Yan santai. "Sekarang, Lian, siapkan mobil tercepat yang kita punya. Aku ada janji yang lebih penting daripada mengurus pecundang di dalam sana."

"Janji apa, Tuan Muda?" tanya Chen Lian.

Feng Yan teringat wajah sembap Lin Diya di rumah sakit tadi. Dia menyentuh dadanya yang kembali berdenyut aneh. "Urusan dengan Pengacara Mandala itu. Aku ingin tahu, apa dia masih menangisiku atau dia sedang sibuk menyusun pasal hukum untuk menuntutku karena sudah membuatnya ketakutan."

Reyhan mendengus. "Gue rasa dia lagi nyusun rencana buat nendang tulang kering lo kalau lo berani muncul di depan dia lagi."

"Nah, itulah yang menarik," Feng Yan menyeringai. "Aku suka wanita yang galak. Semakin sulit dijinakkan, semakin narsis aku saat berhasil memilikinya."

Malam itu, di bawah sinar rembulan yang mulai memudar, sang Rubah Ekor Sembilan secara resmi memulai permainannya di dunia modern. Dan Feng Yao hanyalah bidak pertama yang dia hancurkan dengan gaya yang paling mematikan: gaya seorang CEO narsis yang baru saja bangkit dari kematian.

1
BlueHeaven
Penyelusup apa ya thor
Diah nation: penyelusup kaya pelakunya (khianat )..kalau penyusup itu mengamati itu perbedaanya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!