Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Bayang Bayang di Puncak Menara
Pusat kendali Wijaya Holdings adalah sebuah menara kaca setinggi lima puluh lantai yang menembus awan, berdiri kokoh di jantung kawasan bisnis Jakarta seperti sebuah menhir hitam yang sombong. Di puncaknya, lantai empat puluh sembilan, para direktur biasanya menghabiskan waktu mereka untuk merancang nasib ribuan orang dengan satu ketukan pena di atas kontrak.
Malam ini, gedung itu tampak tenang. Namun, bagi Arga, suasananya terasa seperti sarang lebah yang terusik.
Setelah meninggalkan kapal pesiar yang nyaris hancur di tengah laut, Arga dan Rio menggunakan helikopter pribadi milik keluarga Hardianto untuk melesat menuju atap gedung tersebut. Rio masih tampak gemetar, matanya terus mencuri pandang ke arah Arga yang duduk diam dengan tatapan kosong—sebuah tatapan yang membuat siapa pun merasa kerdil.
"Jika kita tertangkap, aku akan mengklaim ini sebagai misi penyelamatan," gumam Rio, suaranya parau karena sisa ketakutan di atas kapal.
"Diam," potong Arga singkat. Suaranya dingin, seolah-olah emosi manusia telah lama menguap dari tubuhnya.
Begitu helikopter mendarat di helipad, Arga turun lebih dulu. Angin kencang di ketinggian gedung itu mengibaskan jubah jasnya. Tanpa menunggu Rio, ia melangkah menuju pintu masuk atap gedung. Dua penjaga bersenjata lengkap menyilangkan senapan mereka, menghalangi jalan.
"Ini area terlarang. Anda tidak punya izin—"
Bugh!
Arga bahkan tidak berhenti melangkah. Dengan satu gerakan tangan yang secepat kilat, ia menghantam pangkal leher kedua pria itu. Mereka jatuh tak sadarkan diri sebelum sempat melepaskan pengaman senjata. Arga tidak membunuh mereka; ia hanya menekan titik saraf yang membuat mereka tertidur lelap selama dua jam.
“Penyelinapan yang membosankan,” suara Macan Kencana mendengkur di batinnya. “Kenapa tidak kau patahkan saja tulang leher mereka? Itu jauh lebih efisien.”
Karena mereka hanya pion, bukan pemain, batin Arga menjawab.
Ia memindai panel sidik jari di pintu masuk. Mustika di dadanya berdenyut, menyalurkan arus listrik halus yang mampu menipu sistem keamanan biometrik tersebut. Lampu indikator yang tadi merah, perlahan berubah menjadi hijau. Klik. Pintu terbuka.
Di dalam, lorong lantai empat puluh sembilan tampak seperti museum yang dingin. Karya seni mahal tergantung di dinding, namun tidak ada satu pun orang yang berjaga. Inilah yang membuat Arga waspada. Pengkhianat yang sedang mereka cari tahu bahwa sistem keamanan luar telah dilumpuhkan.
"Mereka tahu kita datang," bisik Rio yang mengikuti dari belakang dengan pistol yang masih ia genggam erat.
Arga berhenti di depan pintu utama ruang rapat direksi. Ia bisa menciumnya—bau amis yang khas, bau logam dan ketakutan yang bercampur dengan parfum mahal. Bau yang sama dengan yang ia cium di pelabuhan. Pengkhianat itu ada di balik pintu ini.
Arga menendang pintu kayu ek itu hingga terlepas dari engselnya.
Di dalam ruangan, meja rapat panjang yang terbuat dari marmer hitam dikelilingi oleh lima orang pria berjas rapi. Salah satunya, pria dengan rambut beruban yang duduk di kursi utama, menoleh dengan tenang. Dia adalah Paman Tiri Clarissa, Hendra Wijaya kedua—orang yang selama ini dianggap sebagai penasihat paling setia.
"Arga Satria," ucap pria itu tenang, sambil menyesap wine dari gelas kristalnya. "Rio Hardianto. Selamat datang di akhir dari permainan kecil kalian."
"Siapa yang bekerja sama denganmu untuk mendanai Taring Hitam?" tanya Arga, suaranya menggema di ruangan yang luas itu.
Pria itu tersenyum lebar. "Dunia ini tidak dibangun di atas loyalitas, Nak. Ia dibangun di atas kepentingan. Adik iparku, Hendra Wijaya, sudah terlalu tua dan lembek. Dia ingin menjadikan perusahaan ini tempat amal, sementara kita bisa menguasai pasar energi nasional jika kita mau sedikit... bermain kasar."
"Ternyata kau sendiri yang mengkhianati keluargamu," Arga melangkah maju. Mustika di dadanya kini berdenyut begitu keras hingga ia bisa merasakan darahnya sendiri mulai memanas.
"Bukan sekadar mengkhianati," pria itu menjentikkan jarinya.
Tiba-tiba, lantai di sekeliling meja marmer itu terbuka, dan selusin pria bersenjata muncul dari bawah tanah, mengarahkan senjata otomatis ke arah Arga dan Rio.
"Bunuh mereka berdua. Buat terlihat seperti perampokan yang gagal," perintah pria itu.
“Inang! Inilah saatnya! Lepaskan aku, biarkan aku mengamuk di tempat ini!” Macan Kencana meraung dengan intensitas yang luar biasa.
Arga merasa kulitnya mulai terasa perih, pembuluh darah di lengannya menonjol, dan kukunya memanjang dengan tajam. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari dadanya ke seluruh tubuh. Jika ia melepaskan kendali sekarang, seluruh gedung ini akan runtuh bersamanya.
"Rio, tiarap!" teriak Arga.
Arga menerjang. Peluru-peluru berhamburan dari laras senjata para pengawal itu, namun Arga bergerak dengan kecepatan yang memanipulasi ruang. Ia melompat ke atas meja marmer, menggunakan momentum itu untuk menyapu pengawal di sisi kanan. Setiap pukulan yang ia berikan kini membawa kekuatan yang menghancurkan beton.
Ruangan itu berubah menjadi zona perang. Arga seperti badai emas yang menghancurkan apa pun yang disentuhnya. Senjata-senjata otomatis ditekuk, tulang-tulang dipatahkan, dan pria-pria berotot itu terlempar ke dinding seperti boneka kain.
Pria tua di kursi utama mencoba lari ke pintu rahasia di belakang rak buku, namun Arga sudah berada di depannya dalam sekejap mata. Arga mencekik leher pria itu, mengangkatnya hingga kaki pria itu menggantung di udara.
"Di mana kontraknya? Di mana dokumen yang membuktikan keterlibatanmu dengan Taring Hitam?" geram Arga.
Pria itu terbatuk, wajahnya membiru. "Dokumen... dokumen itu... ada di brankas server lantai bawah... tapi kau... kau tidak akan pernah bisa membukanya..."
Arga membanting pria itu ke lantai dengan satu hentakan kuat, membuatnya pingsan seketika. Arga kemudian menoleh ke arah Rio yang masih bersembunyi di balik meja.
"Cari dokumen itu di ruang server lantai bawah. Aku akan menahan mereka di sini," perintah Arga.
Namun, saat Arga mencoba mengatur napasnya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Pikirannya kosong. Ia menatap tangannya yang berlumuran darah, lalu menatap Rio.
"Siapa... siapa kau?" bisik Arga.
Rio tertegun. "Apa maksudmu? Aku Rio! Kita baru saja bekerja sama!"
Arga memegangi kepalanya yang terasa seolah sedang dibelah dengan kampak. Memori tentang Sari, tentang dermaga, bahkan tentang mengapa ia berada di sini, mulai menguap. Yang tersisa hanyalah rasa haus darah yang tak tertahankan. Mustika Macan Kencana telah mengambil kendali lebih banyak dari yang bisa ditoleransi oleh saraf manusia Arga.
Arga menatap Rio dengan mata yang kini tidak lagi cokelat, melainkan emas murni yang berpendar terang di tengah kegelapan ruangan.
"Kau bukan Sari," bisik Arga dengan suara yang sangat berat.
Arga melangkah maju, tangannya perlahan meraih leher Rio. Ia tidak lagi peduli pada siapa pengkhianat itu. Yang ia tahu, ia membutuhkan seseorang untuk melampiaskan energi yang mendidih di dalam jiwanya.