Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 18
Point of View Josep
Aku tidak pernah menyangka bahwa di sekolah tempat aku mengajar ini menyimpan banyak rahasia yang tidak aku ketahui. Aku duduk di kursi tunggu tepat di depan kamar Mila. Aku termenung sejenak. Tak lama kemudian aku melihat seorang pria berlari cemas dengan pria lain di belakangnya.
"Dimana anakku Josep?!"
Nadanya tampak marah. Bahkan dia sekarang hanya memanggilku dengan nama saja.
"Dia di dalam dan masih belum sadarkan diri."
"Tenanglah Natan."
Ucap pria yang datang bersamanya.
Ayah Mila lalu masuk ke ruangan tempat Mila di rawat. Lelaki di sebelahnya mengeluarkan ponselnya.
"Pindahkan pasien unit B11 ke kamar A1."
"Bukankah itu kamar VVIP?"
Lalu beberapa menit kemudian beberapa perawat datang memindahkan Mila. Setelah itu beberapa dokter ternama juga datang memeriksa keadaan Mila.
"Niel, bukankah ini berlebihan?"
"Sudah, kau diam saja. Aku ingin memastikan dia benar-benar baik-baik saja."
Aku hanya bisa melihat hal yang terjadi di hadapanku itu dan duduk tenang di kursi tunggu di depan kamar A1 itu. Rasanya canggung untuk memulai percakapan di antara mereka berdua. Mereka masuk kembali kekamar itu setelah dokter memeriksanya.
Tak lama kemudian seorang wanita datang dengan terburu-buru.
"Natan dan Niel di dalam?"
"Y-ya."
Lalu ia juga ikut masuk ke kamar itu.
Tak lama setelah itu orang tua Jina bersama sekretarisnya datang kemari.
"Gadis itu..."
Sepertinya ia menanyakan Mila.
"Di dalam masih ada orang tuanya dan juga kerabatnya."
Pria yang terlihat berusia 40 tahunan itu ikut duduk bersamaku di kursi tunggu. Dia tampak seperti sangat putus asa. Entah apa yang ingin ia bicarakan dengan Mila sampai orang penting ini ikut menunggu bersamaku.
Tak lama kemudian pria yang datang bersama ayahnya Mila itu keluar bersama wanita yang baru saja masuk dan menariknya ke pojok ruangan. Entah apa yang sedang ia bicarakan dengan wajah yang serius.
Kemudian Niel dan wanita itu masuk kembali kekamar Mila setelah menyelesaikan percakapan mereka. Selang beberapa menit mereka berdua keluar lagi dari ruangan itu lalu menghampiriku.
"Mila sudah sadar. Aku berterimakasih padamu karena sudah menjaga gadis itu. Aku ada keperluan. Ini kartu namaku. Jika ayahnya Mila tidak bisa di hubungi saat Mila dalam masalah, kamu bisa menghubungi nomor ini."
Pria itu menyerahkan kartu namanya. Aku sedikit terkejut saat membaca apa yang tertulis di kartu itu. Pria itu ternyata orang terkaya ke 1 di negara P ini. Kemudian wanita itu juga memberikan kartu namanya.
"Jika mereka tidak bisa di hubungi, kau dapat menghubungi aku juga."
Aku mengangguk.
Mereka berdua pun pergi dari hadapanku melewati Direktur Jang yang hendak memberi salam namun di abaikannya begitu saja. Hanya orang terkaya senegara P yang mampu memperlakukan Direktur Jang seburuk itu. Namun Direktur Jang nampak tidak marah sama sekali. Dia cukup tahu diri.
Beberapa menit kemudian ayah Mila keluar dari kamar itu.
"Direktur Jang, kau bisa masuk kedalam."
Ucap ayahnya Mila.
Dengan terburu-buru Direktur Jang masuk. Lalu Natan memperhatikanku dengan seksama dari ujung kaki hingga kepala.
"Dimana gelang giok yang aku berikan?"
"Itu hancur saat aku dan Mila sedang menolong Mark yang kerasukan."
Pria itu pun duduk dan menyuruhku duduk juga di sebelahnya.
"Kau sudah melihatnya bukan? Bagaimana kondisi anakku."
"Ya. Mila sangat istimewa."
"Mau ku hilangkan mata ketigamu?"
Aku tidak tahu ternyata Tuan Natan juga memiliki kemampuan yang sama.
"Ku rasa tidak perlu. Aku ingin melihat apa yang bisa Mila lihat."
Pria itu tertawa kecil.
"Anakku masih umur 16 tahun Josep."
Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataannya itu. Lalu Tuan Natan mengeluarkan sebuah cincin perak.
"Ini pakailah. Aku takut kamu belum terbiasa dengan mata ketigamu. Jika kau melepasnya, kau akan melihat apa yang putriku lihat. Aku hanya bisa mempercayakan putriku padamu di sekolah. Aku harap kamu menjaganya dengan baik di bawah pengawasanmu saat aku tidak bersamanya."
Ucapnya lalu memberikan cincin itu padaku. Aku memakainya kemudian.
"Aku tidak mau masalah ini di perpanjang Josep. Aku tidak ingin anakku terlibat dengan polisi. Mengenai kasus penyuapan yang terbongkar, itu menjadi urusan pihak sekolah dan Direktur Jang sebagai pelaku. Bagaimana dengan anak yang bernama Sela itu?"
"Dia meninggal."
"Lalu keluarganya?"
"Saat polisi menggeledah tempat tinggalnya, mereka menemukan seorang pria tengah di sekap di kamar tanpa busana bersama mayat seorang wanita yang tak lain bibinya Sela. Pria yang di sekap itu sekarang di rawat di rumah sakit ini dengan trauma berat."
Tuan Natan tampak hanya berpura-pura terkejut. Dia seperti sudah mengetahui apa yang terjadi bahkan sebelum aku memberi tahunya. Tiba-tiba Jina datang berlari ke arah kami bersama Mark di belakangnya.
"Ayahku?"
Aku menunjuk pintu kamar Mila. Jina menerobos masuk dan Mark mengikutinya dari belakang. Sontak kami bangun dari duduk kami dan hendak menghampiri mereka. Namun saat melihat pemandangan yang terjadi di depan kami, langkahku terhenti di depan pintu itu. Direktur Jang menangis tersedu-sedu. Aku dan Natan hanya melihat mereka dari kejauhan
"Aku harus pulang Tuan Natan. Aku perlu menyelesaikan beberapa hal mengenai sekolah dengan ayahku. Aku meminta maaf atas apa yang terjadi."
"Tidak apa-apa. Semoga segala urusanmu berjalan dengan lancar."
Aku pergi dari rumah sakit dan bergegas pulang menemui ayahku di rumah. Sesampainya di kediaman, waktu menunjukkan pukul 9 malam. Ayah masih terjaga dan menungguku di ruang tamu. Ku genggam erat dokumen yang ada di tanganku. Aku benar-benar marah.
"Kau gila ayah! Kau... Kau...!!"
Aku melempar dokumen itu ke atas meja.
"Ini mutasi rekeningmu. Di dalamnya tertulis Direktur Jang mengirim sejumlah uang! Apa ini ayah!!!"
Ayahku hanya terdiam merasa bersalah.
"Aku tidak ada pilihan, reputasi sekolah kita..."
"Reputasi apanya!! Kau tau berapa banyak orang yang mati di sekolah selama 2 tahun terakhir?! Pantas kau begitu terburu-buru menyerahkan sekolah itu padaku!!"
"Ini bukan sepenuhnya salahku. Aku hanya perantara. Bahkan murid yang mati itu awalnya hanya menghilang. Aku tidak menutupi kasus itu sama sekali. Aku tidak tahu mereka mati di sekolah. Lagi pula, uang itu bukan sepenuhnya untukku. Aku hanya menjadi perantara orang tua yang anaknya terluka karena anak dari Direktur Jang. Dan orang tua mereka bahkan menerima uang Direktur Jang dengan senang hati. Aku tidak ada hubungannya dengan orang yang mati."
Aku terdiam kesal. Aku pergi meninggalkannya dan masuk ke kamarku untuk menenangkan diri. Karena mata ketigaku tidak di hapus, aku sedikit kaget ketika beberapa sosok menampakkan dirinya dihadapanku saat cincin di jariku aku lepas. Aku memasangnya kembali lalu sosok di hadapanku seketika menghilang.
Pagi pun tiba. Hari itu aku bertekad kuat membersihkan masalah yang ada. Datang ke kantor polisi melakukan wawancara sebagai saksi. Lalu menyerahkan bukti penerimaan suap yang di lakukan Direktur Jang kepada guru-guru yang mengajar di sekolah milikku. Saat keluar dari kantor itu, wartawan telah berkumpul di sana hendak menanyaiku mengenai kasus besar yang terungkap.
"Apa benar murid anda mengikuti sekte sesat?"
"Bagaimana bisa hal itu tidak di ketahui pihak sekolah?"
"Apa benar yang mengungkapkan kasus itu juga murid dari sekolah anda?"
"Tuan Josep, bagaimana mengenai kasus penyuapan itu? Apa benar Direktur Jang terlibat dengan semua ini?"
Kepalaku mulai pusing karena kilatan lampu kamera terus mengarah padaku. Tiba-tiba rombongan mobil mewah datang mengambil alih perhatian wartawan itu.
"Bukan kah itu mobil Direktur Niel?"
"Benarkah? Bukankah ia orang terkaya itu?"
Sosok yang di bicarakan itu keluar dari mobil mewah. Bodyguard yang turun lebih dulu menyambutnya keluar.
"Tuan Josep tidak terlibat dalam kasus ini. Kelalaian yang terjadi di sebabkan oleh pimpinan sekolah sebelumnya."
"Tapi bagaimana pendapat anda dengan kasus yang terbongkar di sekolah Y ini?"
"Berkat Tuan Josep selaku pimpinan baru di sekolah, kasus yang selama 2 tahun ini akhirnya terpecahkan. Karena hal itu, aku akan memberikan santunan sebesar 10 Milyar kepada sekolah Y yang telah berhasil memecahkan kasus ini."
Aku terkejut atas perkataan yang keluar dari mulut orang terkaya senegara P itu. Dia tahu betul bahwa bukan aku yang melakukannya.
Ia menghampiriku lalu mendekatkan wajahnya ketelingaku.
"Jangan biarkan Mila terlibat. Jika kau melakukannya, aku bisa dengan mudah menghancurkan hidupmu menjadi butiran debu. Selama kau menyembunyikan fakta yang terjadi, aku akan membuat nama sekolahmu tetap bersih."
Bisiknya. Kemudian ia mengulurkan tangannya padaku hendak berjabat tangan.
"Selamat Tuan Josep. Kau telah berjasa besar."
Aku menyambut jabatan tangan itu dan tersenyum palsu di depan kamera.
Selang dua hari, uang 10 Milyar itu benar-benar di kirimkan Direktur Niel padaku. Dan selama dua hari penuh namaku terpampang di tv. Banyak sanjungan yang tidak seharusnya aku dapatkan di berikan padaku. Namun ancaman Niel yang tidak aku mengerti membuatku menerima semuanya begitu saja. Banyak pertanyaan muncul di benakku.
"Mengapa Carmila tidak boleh terekspos? Mengapa Carmila bisa berhubungan dengan orang terkaya di negara P?"
Namun tidak ada yang mampu menjawab semua rasa penasaranku itu.