Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19- CKOD 19
"Tuan, aku juga tidak bisa mengatakan tuan harus tenang. Mereka memang keterlaluan. Tapi rencana tuan sudah berjalan separuhnya. Seseorang juga sudah melihat keberadaan Miranda. Mereka sedang berusaha membujuknya bekerja sama! Tuan Aswandi, kita juga sudah menemukan bukti kalau dia menikah lagi. Itu akan jadi hal bagus untuk mengalihkan perhatiannya selama kita mengobrak-abrik perusahan. Jika tuan menghabisi mereka dengan mudah, bagaimana rasa sakit selama satu tahun yang nona Bella rasakan ini bisa terbalaskan?"
Aditya membuat Bagas menatapnya dengan sangat tajam. Asisten pribadinya itu benar. Meski dadanya membara sekarang, penuh dengan rasa marah karena apa yang telah dilakukan keluarga Alexander pada Bella. Kematian memang terlalu mudah bagi mereka.
"Kamu benar!"
Aditya dengan mata merah berkaca-kaca itu mengangguk. Dia juga tumbuh bersama dengan Bagas dan Bella sejak kecil. Dia juga marah mendengar semua yang Rara ceritakan padanya, semua informasi dari bibi Okta. Dia juga tak akan membiarkan keluarga itu tenang.
"Lanjutkan saja rencananya!"
"Baik tuan, setelah aku membawa Miranda. Aku akan segera mengajukan permohonan supaya kasus satu tahun lalu itu di buka kembali!"
Bagas mengangguk. Meski tangannya masih terkepal sangat kuat.
'Leo, aku benar-benar akan menghabisimu dengan tanganku sendiri. Kamu yang meminta adikku sambil berlutut waktu itu. Tapi kamu memperlakukannya dengan begitu kejam. Brengsekk! Aku benar-benar akan menghabisimu dengan tanganku sendiri!' pekik Bagas dalam hatinya.
Tapi tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat dari luar. Bagas segera kembali berbaring, dan Aditya bersembunyi di belakang pintu.
Oscar yang tak ingin mengulang kelalaian penjaga. Datang sekitar jam 1 malam ke rumah sakit. Suasana rumah sakit sudah sepi. Pandangan Oscar tertuju pada koridor dimana bangsal 298 berada.
"Penjaga itu, dia tidak ada di sana..."
Langkah Oscar semakin cepat, karena dia gudang melihat siapapun di depan pintu bangsal.
"Tuan, selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?"
Perawat Mega berdiri satu meter di samping pintu bangsal 298. Dia tersenyum dan berusaha untuk bersikap sangat biasa.
"Dimana penjaga yang biasa berjaga di depan bangsal?" tanya Oscar dengan tatapan tegas.
"Oh, barusan dia ke toilet. Dia bilang saya harus berjaga disini selama dia ke toilet!" kata perawat Mega berbohong.
Oscar cukup lega. Ternyata petugas itu memang menjalankan tugasnya dengan baik. Ketika dia ke toilet, dia masih meminta perawat menjaga di pintu.
"Bagaimana kondisi pasien di dalam?" tanya Oscar lagi.
"Masih belum ada kemajuan, tuan. Masih koma"
"Aku mau lihat!"
"Silahkan tuan! tapi lampunya sudah dimatikan, apa mau saya hidupkan?" tanya perawat Mega.
"Tidak usah, buka pintunya saja!" kata Oscar.
Perawat Mega membuka pintu dengan hati-hati. Setelah itu dia berdiri tepat di depan daun pintu yang masuk ke dalam itu. Tepat dimana di belakangnya, sedang berdiri Aditya.
Oscar melihat ke arah Bagas. Benar-benar tidak ada gerakan sama sekali.
"Katakan pada petugas itu, untuk jangan lalai!"
"Baik tuan!" sahut perawat Mega cepat.
Oscar segera pergi dari tempat itu. Karena dia masih punya banyak pekerjaan.
Setelah melihat Oscar masuk ke dalam lift. Perawat Mega segera membuka pintu lagi.
"Tuan..."
"Sepertinya tidak bisa memberi petugas itu obat tidur terus. Oscar akan curiga!"
"Tuan, apa tuan punya kenalan dokter. Salah satu dokter sedang cuti menikah. Mungkin kalau ada..."
"Ada!" sahut Aditya cepat, "aku akan masukkan dia ke rumah sakit ini besok!"
Perawat Mega mengangguk. Aditya pun pergi dari sana.
Bagas membuka matanya ketika pintu ruangan itu tertutup.
'Bella, sebentar lagi. Sebentar lagi kakak akan menjemputmu!' batin Bagas.
Di kediaman Alexander. Jam satu malam itu, mobil Bagas baru masuk ke pekarangan rumah. Pak Arman bergegas cepat keluar dari dalam mobil. Dia terlihat buru-buru sekali membuka pintu penumpang dimana Leo berada.
"Tuan...."
Leo nyaris terjatuh, untung pak Arman dengan cepat menangkap tubuh Leo.
"Hati-hati...!"
"Bella!" racau Leo memanggil nama Bella.
"Tuan, ini pak Arman! aduhh!" keluh pak Arman yang kepalanya di tepuk-tepuk oleh Leo.
Pak Arman dengan susah payah, membawa Leo masuk ke dalam rumah. Begitu sampai di depan pintu kamar. Pak Arman meninggalkan Leo.
"Nona, nona Bella..."
Bella yang sudah tertidur di sofa, segera bangun. Dengan wajah khas orang mengantuk. Bella berjalan perlahan menghampiri pak Arman dan Leo.
"Mas..."
"Nona Bella, tuan mabukk!"
"Iya pak, pak Arman bisa pulang sekarang!"
"Iya non!"
Bella meraih lengan Leo yang diserahkan pak Arman padanya, lalu menutup pintu.
"Mas, aku bantu ke tempat tidur!"
"Bella, aku marah sekali padamu" racau Leo lagi.
Bella tertunduk, sambil membawa langkah dirinya dan Leo menuju ke tempat tidur.
Dia tidak merespon dengan jawaban atau tatapan.
Brukk
Leo terjatuh, Bella membenarkan bantal untuk suaminya itu. Dan melepaskan dasinya.
Ketika akan beranjak pergi, membawa dasi yang sudah dia lepas. Tangan Leo menarik tangan Bella.
Bella menoleh enggan. Sebenarnya lebih ke takut menatap Leo. Tapi Leo malah menariknya, membuat Bella jatuh di atas Leo.
"Maaf, maafkan aku... aku akan bangun" kata Bella yang takut pada Leo.
"Aku marah padamu, sangat marah! ayah dan ibu ingin aku menikah lagi. Kenapa kamu tidak cemburu? kenapa...."
Ucapan itu perlahan semakin pelan dan terbata. Sementara cengkeraman tangan Leo pada Bella juga melemah. Hingga Bella lihat pria itu memejamkan matanya.
Bella buru-buru bangkit. Dia menjauh dari Leo. Dia terlalu takut. Sampai dia tidak fokus dengan apa yang dikatakan oleh Leo tadi.
Bella terus memandang Leo. Sebenarnya tadi Rara juga mengatakan padanya. Kalau Leo memang dijodohkan oleh orang tuanya. Tapi, bagi Bella. Hal itu bukan sesuatu yang akan membuatnya cemburu.
Bella justru merasa lega. Bukankah setelah Leo menikah lagi. Pria itu akan melepaskannya. Tidak mungkin istri barunya mau berbagi suami. Bella sangat mengharapkan hal itu.
"Kenapa aku harus cemburu, mas? aku malah sangat senang. Dengan begini. Kamu akan melepaskan aku!" gumam Bella pelan.
Bella sungguh merasa rasa cintanya sekarang sudah kalah dengan rasa takut dan sakit hati terhadap Leo. Beberapa hari dia rumah sakit, pernahkah sekali saja Leo menjenguknya? atau Leo berpikir, Bella tidak membawa uang, dan seharusnya dia menjemput Bella dari rumah sakit? sama sekali tidak. Jadi, untuk apa Bella masih menyimpan rasa cinta untuk suami yang bahkan membiarkan istrinya menjadi bulan-bulanan seluruh anggota keluarganya?
Bella kembali ke sofa. Dia bahkan tidak melepaskan sepatu Leo. Hal yang sebelumnya selalu dia lakukan dengan baik. Entah kenapa, rasa cinta itu benar-benar mulai pudar dalam hati Bella.
***
Bersambung...
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈