Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perceraian
Hari itu juga, dengan langkah yang dipaksakan untuk tetap tegak, Aiza menuruni tangga menuju ruang kerja Dirgantara.
Aiza mengetuk pintu perlahan. Saat masuk, ia mendapati Dirgantara sedang duduk termenung menatap jendela.
“Assalamualaikum, Pa…”
Dirgantara menoleh, matanya yang biasa tegas kini tampak lelah. "Waalaikumsalam, Aiza? Kemarilah, Nak. Papa minta maaf atas semua kegaduhan di bawah tadi. Papa tahu hatimu pasti hancur.”
Aiza berlutut di dekat kursi mertuanya, sebuah gestur penghormatan terakhir. "Pa, Aiza datang untuk menyampaikan sesuatu. Aiza... Aiza mohon, izinkan Aiza pergi. Aiza ingin bercerai dari Mas Arjuna."
Deg
Dirgantara mematung. Wajahnya pucat seketika, ia seolah baru saja dihantam kenyataan yang paling ia takuti. Selain itu, soal kehamilan Briana, ia tidak yakin. Dia merasa ada yang tidak beres dengan wanita itu.
"Tidak, Aiza. Jangan bicara begitu. Papa tidak mau melepasmu. Kamu adalah menantu terbaik, kamu yang menjaga kehormatan keluarga ini. Soal Briana... Papa akan urus, Papa akan pastikan dia pergi.”
"Tapi ada nyawa di rahimnya, Pa," potong Aiza dengan isak tangis yang mulai pecah. "Aiza ndak mungkin membangun kebahagiaan di atas kehancuran masa depan seorang anak. Mas Arjuna juga sudah setuju, dia sudah melepaskan Aiza. Aiza mohon, Pa... jangan ikat Aiza di rumah yang sudah tidak menganggap Aiza ada. Aiza ingin pulang, Pa. Aiza ingin menjemput sisa harga diri Aiza yang masih ada.”
Dirgantara memegang bahu Aiza, tangannya gemetar. "Siapa yang akan menjaga keluarga ini jika kamu pergi, Nak? Arjuna itu bodoh, dia butuh wanita seperti kamu."
Aiza menggeleng pelan, ia mencium punggung tangan mertuanya dengan penuh kasih. "Mas Arjuna sudah memilih pilihannya, Pa. Dan pilihannya bukan Aiza. Jika Papa benar-benar sayang pada Aiza, izinkan Aiza menyelamatkan hati Aiza sendiri. Biarkan Aiza pergi dengan cara yang baik."
Melihat kesungguhan dan penderitaan di mata Aiza, pertahanan Dirgantara runtuh. Ia menutup matanya, membiarkan setetes air mata jatuh. Ia merasa gagal menjadi mertua yang baik.
Dengan berat hati, ia mengangguk pelan. Sebuah anggukan yang menjadi tanda bahwa pernikahan Aiza dan Arjuna benar-benar telah berada di ujung tanduk.
***
Pagi itu, udara terasa sangat dingin bagi Aiza. Ia mengenakan gamis berwarna abu-abu gelap dengan khimar senada, memberikan kesan tenang namun tak tergoyahkan. Di tangannya, ia mendekap tas kecil berisi dokumen.
Hari ini, adalah hari yang menegangkan bagi Aiza, namun mungkin hari yang melegakan baik Arjuna dan selingkuhannya.
Hari ini di mana keputusan besar akan diambil, hari yang menentukan nasib rumah tangganya yang sudah diujung tanduk ___perceraian.
Arjuna datang dengan mobil mewahnya, namun ia tidak sendirian. Briana duduk di kursi depan, sengaja memamerkan posisinya sebagai pemenang.
"Cepat masuk. Jangan buat kami terlambat," perintah Arjuna dingin saat Aiza mendekati mobil.
"Aku naik taksi saja, Mas. Kita sudah bukan searah lagi," jawab Aiza tenang, tanpa menatap mata Arjuna. Ia memilih pergi sendiri, menjaga jarak dari aroma pengkhianatan yang memenuhi mobil itu.
___
Suasana ruang sidang terasa sangat sunyi dan sakral. Dirgantara duduk di barisan belakang dengan wajah tertunduk, sementara Agatha duduk di sebelah Briana, terus-menerus mengusap tangan calon menantunya itu seolah sedang menjaga porselen retak.
Hakim memulai persidangan. Saat ditanya mengenai alasan perceraian, Arjuna menjawab dengan sangat lancang.
"Saya sudah tidak ada kecocokan, Pak Hakim. Dan yang terpenting, saya harus bertanggung jawab pada wanita yang sedang mengandung anak saya," ujar Arjuna sambil melirik Briana.
Aiza hanya menunduk. Ia tidak membantah, tidak pula mengemis. Saat gilirannya bicara, ia hanya mengatakan satu kalimat yang membuat seisi ruangan terdiam.
"Saya menerima perceraian ini, Pak Hakim. Saya merelakan suami saya kepada wanita yang menurutnya lebih berharga, dan saya menyerahkan segala urusan yang tidak sanggup saya selesaikan ini kepada Allah Sang Maha Adil.”
Hakim menatap Aiza dengan tatapan simpati yang dalam. Pengabdian Aiza selama ini sebagai istri dikenal sangat baik, namun di pengadilan, hukum seringkali hanya melihat kesepakatan kedua belah pihak.
Tok! Tok! Tok!
Palu diketuk tiga kali. Ikatan suci itu putus.
Arjuna mengembuskan napas lega, ia langsung merangkul bahu Briana.
"Ayo sayang, kita harus segera pulang agar kamu bisa istirahat. Kasihan calon bayi kita mendengar suasana tegang begini," ucapnya dengan nada yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh Aiza.
Aiza menarik napas panjang. Ia merasa beban berton-ton di pundaknya baru saja luruh, meskipun luka di hatinya masih menganga. Ia menyalami Dirgantara dengan takzim—sebuah pamitan yang paling emosional—lalu berjalan keluar gedung pengadilan tanpa menoleh lagi.
Ia tidak tahu bahwa di belakangnya, Briana sedang menatap punggungnya dengan tatapan tajam dan senyum tipis penuh arti.
"Aiza! Tunggu!" teriakan melengking Briana menggema di koridor pengadilan yang mulai sepi.
Aiza berhenti, namun tidak berbalik. Briana berlari kecil mendekatinya dengan wajah yang diselimuti seringai kemenangan yang tersembunyi. Namun, saat Arjuna dan Agatha mulai keluar dari pintu sidang dan melihat ke arah mereka, ekspresi Briana berubah 180 derajat dalam sekejap mata.
"Aiza, tolong... jangan benci aku dan bayiku—”
"Aku tidak membencimu, Briana. Aku sudah melepaskan semuanya," jawab Aiza tenang, tanpa emosi.
Tiba-tiba, Briana menabrakkan bahunya ke arah Aiza, lalu dengan sengaja menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai dengan keras. "AAAKHHH! PERUTKU!”
Briana mengerang kesakitan, tangannya mencengkeram perut. Dengan gerakan yang sudah dipersiapkan sangat matang, ia meremas sebuah kantong kecil berisi cairan merah pekat yang ia sembunyikan di balik gaunnya. Seketika, noda merah mengalir di lantai marmer putih itu.
"Aiza! Apa yang kamu lakukan?!" raung Arjuna yang langsung berlari menghampiri. Ia melihat istrinya yang baru saja diceraikan itu berdiri mematung di dekat Briana yang sedang bersimbah darah.
"Aku... aku tidak melakukan apa-apa, Mas," suara Aiza bergetar. Ia syok melihat darah itu.
Arjuna menatap tajam Aiza, tatapan kebencian yang lebih dalam dari sebelumnya.
"Dasar wanita tidak berguna! Kamu pem*unuh!" tekan Arjuna tajam.
Agatha mendekat pada Aiza, mendorong kasar bahu Aiza hingga membuatnya terhuyung ke belakang.
"PEM*UNUH! Kamu sengaja mendorongnya karena kamu iri kan?!" Agatha berteriak histeris, menunjuk wajah Aiza dengan telunjuk gemetar.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍