Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.
Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.
Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.
Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18. keputusan Rafael
Bella mengetuk-ngetukkan kakinya dengan gelisah sambil sesekali melirik jam di dinding kamarnya.
Pukul delapan tepat. Rafael seharusnya sudah tiba. Ia mungkin akan muncul kapan saja, pria itu memang selalu datang di saat yang paling tidak terduga. Namun bukan hanya Rafael yang belum muncul. Pengacaranya juga belum datang.
Keinginan Bella untuk membuat malam ini berjalan sempurna perlahan berubah menjadi tekanan. Setiap keterlambatan selalu membuat segalanya terasa terburu-buru, dan itulah hal yang paling ingin ia hindari. Ia sudah terlalu tergesa-gesa dalam keputusannya untuk hamil, dan kini ia terjebak dalam kekacauan rumit bersama Rafael.
Demi menciptakan suasana yang lebih formal namun tetap nyaman, Bella telah memindahkan beberapa perabot. Ruangan itu kini tampak lebih lapang dan siap menjadi tempat negosiasi.
Bel pintu tiba-tiba berbunyi, memutus lamunannya.
Bella segera bergegas ke arah pintu, suara sepatu haknya beradu dengan lantai. Ia telah berganti pakaian, mengenakan gaun kasual bermotif bunga yang terlihat sederhana namun rapi.
Penantian akhirnya berakhir. Ia telah menyiapkan argumennya dengan matang, menyusunnya berlapis-lapis di kepalanya. Kali ini, ia yakin akan menang. Tak disangka, pengalaman di klub debat dulu akhirnya benar-benar berguna.
Saat pintu dibuka, Bella mendapati Rafael berdiri dengan sikap santai, mengenakan tuksedo, kedua tangannya terselip di saku. Kepercayaan diri terpancar jelas dari dirinya. Ia memiliki bakat alami untuk membuat penampilan seksi tampak kasual seolah itu adalah kodratnya sejak lahir. Sayang sekali, kelebihan itu dibarengi dengan sifat yang sangat menyebalkan.
Senyum khas langsung terukir di wajah Rafael begitu pintu terbuka. Bella sengaja menghindari kontak mata, pandangannya justru beralih ke pria yang berdiri di belakangnya.
Pria itu kemungkinan besar adalah pengacara Rafael. Ia mengenakan setelan jas hitam yang serasi, berkacamata besar, dan membawa tas kerja terselip rapi di bawah lengannya. Penampilannya tak kalah gagah, memancarkan kesan profesional dan terukur.
“Silakan masuk,” ujar Bella sambil melangkah ke samping, memberi jalan.
Rafael masuk lebih dulu, diikuti pengacaranya.
Bella menutup pintu di belakang mereka, lalu mempersilakan keduanya menuju ruang tamu. Di atas meja, ia telah menyiapkan empat botol air mineral kemasan yang dibelinya dari toko terdekat.
Beberapa menit kemudian, bel pintu berbunyi lagi.
Bella membuka pintu dan mendapati Bastian berdiri di sana sambil terengah-engah.
Berbeda dengan Rafael dan pengacaranya, Bastian mengenakan celana jins biru dengan blazer di atas kemeja sederhana. Sebuah tas kerja berisi tumpukan dokumen yang tampak tidak tertata rapi disampirkannya di bahu.
“Maaf saya terlambat,” ucapnya singkat sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Dengan kehadiran Bastian, pertemuan itu akhirnya bisa dimulai.
Rafael dan pengacaranya duduk berhadapan dengan Bastian dan Bella, membentuk dua kubu yang saling menatap penuh kehati-hatian.
“Kami ingin menyelesaikan pertemuan ini secepat dan semulus mungkin,” ujar pengacara Rafael membuka pembicaraan. “Akan lebih baik jika semua pihak bersikap adil agar diskusi ini tidak berlarut-larut.”
Bella merasakan kegelisahan menyelinap ke dadanya. Ia sempat khawatir pengacara Rafael akan dengan mudah mendominasi pertemuan ini. Dengan kekayaan dan pengaruh yang dimiliki Rafael, jelas ia selalu dikelilingi oleh yang terbaik.
“Aku sudah membicarakan hal ini sebelumnya dengan Bella,” kata Rafael tenang, meski jelas terlihat ia menahan diri. “Aku ingin dia berhenti bekerja demi kesejahteraan anakku.”
Bella hendak menanggapi, tetapi Bastian lebih dulu angkat bicara.
“Permintaan itu cukup tidak adil bagi klien saya,” ujar Bastian lugas. “Ia sepenuhnya bergantung pada penghasilan dari kafe miliknya. Jika kafe itu ditutup, bahkan hanya selama sembilan bulan, kerugiannya tidak hanya soal uang, tetapi juga kehilangan pelanggan dan reputasi. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya.”
Pengacara Rafael mendengarkan dengan saksama.
“Saya memahami kekhawatiran tersebut,” balasnya. “Karena itu, klien saya bersedia menanggung biaya untuk mempekerjakan seorang profesional guna mengelola bisnis tersebut selama lima belas bulan ke depan. Kepemilikan usaha tetap berada di tangan klien Anda.”
Rafael menimpali, “Selain itu, bangunan tempat kafe tersebut akan dibangun atas namanya, dan akan dialihkan secara resmi setelah bayi itu lahir.”
Bastian menoleh ke arah Bella. “Bagaimana menurutmu?”
Bella terdiam sejenak. Tawaran itu terdengar adil, bahkan lebih dari yang ia perkirakan. Ia tahu betul, ini adalah kompromi terbaik yang bisa ia dapatkan dari Rafael. Lima belas bulan tanpa harus memikirkan pekerjaan memberinya ruang untuk bernapas, sekaligus kesempatan menyusun kembali hidupnya.
“Aku setuju,” kata Bella akhirnya dengan tegas. “Tapi dengan satu syarat. Aku ingin bisa memantau kinerja orang yang mengelola kafe itu. Aku menuntut laporan bulanan agar tahu semuanya berjalan dengan baik.”
Rafael menatapnya lama, sorot matanya tajam seperti sedang menimbang tantangan yang baru saja diajukan. Ia tetap diam, mempertimbangkan keputusannya dengan serius.
Tiba-tiba Bella merasa suhu di ruangan itu meningkat. Ia meraih salah satu botol air, membukanya, lalu meneguk isinya perlahan untuk menenangkan diri. Setelah itu, botol itu ia letakkan kembali di atas meja.
“Baiklah,” ujar Rafael akhirnya setelah beberapa saat berpikir.
Pengacaranya langsung mencatat sesuatu di laptop, jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik. Situasinya terasa seperti sebuah kemajuan kecil.
“Klien saya ingin terlibat sebanyak mungkin selama masa kehamilan,” kata pengacara Rafael dengan profesional.
Bella hendak menanggapi, namun kata-katanya sempat tertahan. “Soal itu…” ucapnya ragu sejenak sebelum melanjutkan, “saya butuh ruang. Kehadirannya yang terlalu sering justru membuat saya stres. Bahkan, saya sempat dirawat di rumah sakit karenanya.”
Mungkin pernyataan terakhirnya terdengar berlebihan, tetapi Bella rela mengatakan apa pun selama Rafael berhenti menekan dirinya. Lagi pula, itu bukan kebohongan.
Rafael menatapnya dengan ekspresi tidak setuju. “Dia juga anak saya,” balasnya tegas.
“Apakah kau benar-benar ingin bayi ini lahir?” Bella membalas dengan dingin dan mengancam.
Ucapan itu langsung membuat Rafael terdiam.
“Saya hanya ingin dia menghormati privasi saya dan berhenti mencampuri kehidupan pribadi saya,” lanjut Bella tanpa ragu. Jika ia tidak berdiri tegak membela dirinya sendiri, tak seorang pun akan menganggapnya serius.
Rafael menghela napas panjang, jelas terlihat berat baginya. Ia bukan tipe pria yang terbiasa menerima penolakan.
“Baiklah,” katanya akhirnya, meski terdengar enggan. “Tapi saya ingin hadir di setiap kunjungan dokter dan diberi tahu jika terjadi sesuatu.”
Bella mengangguk singkat. “Itu bisa diterima.”
“Aku juga ingin mengecek keadaanmu,” tambah Rafael.
Bella langsung merasa tidak nyaman. Setiap kali Rafael ‘mengecek’ keadaannya, yang ada justru tekanan baru.
“Hanya dua kali sebulan,” katanya Bella berusaha tetap rasional.
Rafael sempat membuka mulut untuk membantah, namun kemudian mengurungkannya kembali. Ia tahu, itu batas terbaik yang bisa ia dapatkan.
“Karena saya merasa disingkirkan dari kehidupannya,” ujar Rafael kemudian, “saya ingin ada perjanjian tertulis bahwa dia tidak akan melakukan apa pun yang membahayakan nyawa anak saya.”
“Saya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang membahayakan bayi saya sendiri,” Bella membalas cepat. Ia tidak tahu apa tujuan sebenarnya dari pernyataan itu. Mungkin Rafael hanya ingin menguji reaksinya atau sekadar menegaskan dominasinya.
“Kalau begitu seharusnya tidak menjadi masalah,” ejek Rafael.
“Kedengarannya adil,” ujar Bastian sambil terus mengetik di laptopnya.
Dalam beberapa kesepakatan lain yang dibahas, mereka mencapai titik temu. Rafael setuju menanggung seluruh biaya rumah sakit, termasuk kebutuhan selama kehamilan bahkan pakaian hamil. Jika Bella tidak keberatan, pria itu juga bersedia menyediakan seorang ahli gizi. Untuk sesaat, semuanya terasa berjalan mulus.
“Aku ingin kau pindah ke tempat lain. Tempat yang lebih aman,” kata Rafael tiba-tiba.
Bella menegang. Tepat ketika ia mengira sisi posesif Rafael telah mereda, sikap itu kembali muncul.
Tidak ada yang salah dengan apartemennya. Sistem keamanannya ketat, setiap orang harus melewati beberapa lapis penjagaan sebelum bisa masuk ke gedung.
“Sepertinya kau mencoba mengendalikanku lagi,” Bella membalas dengan suara meninggi. “Tidak ada yang salah dengan tempat tinggalku.”
“Aku hanya berusaha melindungimu,” jawab Rafael terdengar lebih serius. “Kehamilan ini tidak akan bisa dirahasiakan selamanya. Cepat atau lambat, pasti ada yang membocorkannya. Kau tidak tahu betapa kejamnya pers.”
Bella menahan senyum sinis. Sejauh yang ia tahu, satu-satunya orang yang perlu ia lindungi justru adalah Rafael sendiri.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Terserah kamu saja,” balas Rafael meremehkan.
Keheningan canggung menyelimuti ruangan hingga Bastian berdeham pelan, memecah suasana. “Sekarang kita bahas persoalan yang masih tertunda. Hak asuh anak. Akan lebih baik bagi anak jika kalian sepakat untuk berbagi hak asuh.”
“Saya ingin anak itu tetap bersama saya selama tahun pertama,” sela Bella tanpa ragu.
“Itu tidak masuk akal,” sanggah Rafael, berusaha menahan emosinya.
“Mungkin tidak sepenuhnya demikian,” ujar pengacara Rafael. “Bayi perlu menyusu setiap hari, terutama dalam tiga bulan pertama. Namun, kita bisa menyepakati enam bulan. Setelah itu, anak sudah cukup besar untuk mengonsumsi susu botol.”
Bella mengangguk setuju.
Rafael menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Bagaimana jika ada bagian dari kontrak yang dilanggar? Saya ingin kontrak ini tetap memiliki kekuatan hukum.” kata Bella.
Keheningan panjang menyelimuti ruangan. Kedua pengacara saling bertukar pandang, seakan menimbang konsekuensi. Jelas ada sesuatu yang harus dipastikan sebelum melangkah lebih jauh.
“Taruhannya sangat tinggi dalam kasus ini,” ujar Bastian akhirnya. “Saya menyarankan, apabila salah satu pihak melanggar ketentuan apa pun dalam kontrak, maka hak asuh tunggal akan diberikan kepada pihak lainnya hingga anak tersebut berusia enam tahun.”
Udara di ruangan itu seolah menegang.
Bella tetap diam. Ia tahu dirinya tidak akan kesulitan mematuhi kontrak tersebut. Masalahnya selalu terletak pada Rafael.
“Kalian tetap bisa memperbarui isi kontrak di kemudian hari,” sela pengacara Rafael, berusaha meredakan situasi. “Tentu saja, jika kedua belah pihak sepakat.”
“Apakah aku punya pilihan lain?” tanya Rafael.
“Tidak,” jawab Bella singkat, dengan ketenangan yang menyiratkan kepuasan.
“Kontrak ini hanya akan berlaku jika kalian berdua menyetujuinya,” pengacara Rafael menegaskan kembali.
Keputusan kini sepenuhnya berada di tangan Rafael.