NovelToon NovelToon
Limerence

Limerence

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?

Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.

Jadi, siapa yang harus dipilihnya?

Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?

Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.

Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...

hihi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sultan Aria

Saat aku masuk lift, Pak Aria juga ikut masuk.

"Six..." sapanya.

"Pak Aria." Balasku.

"Saya mau bicara."

Wah, cepat juga.

Aku memencet tombol lantai 30.

"Di sana saja yah pak." sahutku. Ia tidak menjawabku dan hanya bersandar ke dinding lift sambil menatap lantai.

Loteng tempat aku biasa merokok jarang ada orang. Tempatnya luas dengan lantai marmer abu-abu dan dinding putih pada setengah bagian bangunan. Setelah itu loss tanpa ada perabotan apapun. Sepertinya dirancang untuk tempat pertemuan outdoor suatu saat nanti.

Aku duduk di salah satu bingkai jendela, spot favoritku yang biasa jadi tempat merenungku.

Setelah menyulut sebatang lagi, aku menawari Aria. Ia menyambut tanganku dan kami berbagi api.

Aku tahu dia ada di sana saat itu. Menguping pembicaraan aku dan Samantha, dia tepat berada di belakang Samantha, dengan suit yang berbeda dengan yang tadi pagi ia pakai, dan duduk memunggungi kami. Tapi aku sangat mengenal postur tubuhnya.

Dan aku sengaja menyulut emosinya dengan kata-kata provokatifku ke Samantha.

Untuk apa?

Untuk kesenanganku pastinya.

Dan untuk dunia yang lebih harmonis, mungkin.

"Bagaimana Pak Aria? Samantha harus saya usir atau saya tahan?" itu kalimat pembukaku untuknya.

Dari semua laki-laki di jajaran manajemen, Aria sosok yang paling kalem, menurutku. Seperti kata Samantha, ia tidak pernah memaksa atau menekan berlebihan, mungkin kecuali urusan seksualnya.

"Saya ngga nyangka kamu ada di balik semua ini..."

"Wah, saya jadi dianggap tukang ikut campur urusan orang yah."

Aria menatap diriku dengan pandangan setuju.

"Tapi... apa Bapak pernah melihat sekali saja, wajah para perempuan yang datang untuk mencari-cari kalian? Apa pernah terpikir kalau mereka sanak saudara kita sendiri... ibu, adik, kakak kita, atau... anak perempuan kita nanti... Mengemis cinta sampai teriak-teriak di gedung orang..."

Aria hanya diam

Aku menatapnya. "Jangan kuatir, pak... Saya pilih yang paling menguntungkan perusahaan kita, kok. Dua bulan ini target bapak kan bisa tercapai." aku tersenyum sinis padanya.

Ia menatapku sambil mengerutkan kening.

"Benar untuk itu tujuan kamu?!" tanyanya.

Ketahuan bohong yah aku... Aku sama sekali tidak berniat untuk membantunya atau perusahaan, aku hanya ingin melihat orang yang tidak kusukai merasa kesusahan.

Biar saja lah... Dia sudah bisa membaca maksudku yang sebenarnya, kok.

"Yah... Tapi kata-kata kamu untuk Samantha, sepenuhnya tidak meleset, sih. Terimakasih sudah menjelaskan untuknya." Pak Aria tersenyum. "Saya ngga bisa bayangkan ada berapa ratus wanita yang harus saya jelaskan satu-persatu mengenai addict saya. Capek juga. Jadi lebih baik saya menghindar bertemu, nanti juga mereka mundur sendiri."

Melelahkan juga jadi dirimu yah Pak Aria.

"Untuk Samantha, saya akan ikuti cara kamu. Memang sudah saatnya saya berkomitmen, selain untuk pekerjaan, selain janji saya kepada Pak Baskara. Tapi sekali lagi, waktu yang akan menjawab. Saya tidak akan memaksanya."

Janjinya ke Pak Baskara...

Satu lagi hal yang tidak kuketahui.

"Apa?" tanyaku.

Ia menaikan alisnya. "Apa?" Ia bertanya balik.

"Apa janji kamu ke Pak Baskara? Kamu kenal beliau?!" tanyaku.

Aku merasa waspada. Ada lagi orang yang berjanji pada beliau selain aku, Leon dan Bara. Apa Aria juga memiliki suatu hubungan khusus dengan Pak Baskara? Jasi apa dia juga mengenal Big Boss?

"Jajaran Management Top di setiap Anak Usaha Beaufort, dipilih berdasarkan keterikatan dengan beliau, Six. Termasuk kamu, Leon dan Bara. Kami juga adalah anak-anaknya, memiliki moment sendiri dengan beliau. Tidak asal masuk Beaufort karena kami berpendidikan tinggi, tapi karena kami... kita... mengenal secara khusus Baskara Beaufort. Itu cara beliau mengetahui sifat karyawannya. Bisa dibilang... hm... tes psikotes, namun yang berlangsung selama bertahun-tahun dan sudah pasti, setiap individu dibuat untuk berjanji, untuk berhutang budi..." Jelasnya panjang lebar.

Aku mendengarkannya sambil menunduk menatap lantai. Lalu membuang rokokku dan menginjaknya sampai apinya padam.

Aku merasa kesal.

Ternyata aku bukan yang istimewa.

Selama ini aku percaya diri karena merasa istimewa di mata keluarga itu, keluarga Beaufort. Namun ternyata masih banyak lagi 'anak-anak' yang lain...

"Kamu pernah melihat rupa Big Boss?" tanyaku.

Aria menggeleng. "Belum ada yang pernah melihatnya."

Aku menghela napas.

"Dan... janji kamu?" tanyaku.

Aku berjalan mendekatinya. Aku langsung merasa punya keterikatan special pada Aria. Anak-anak Baskara Beaufort, yang bahkan tidak memiliki hubungan darah demgan beliau. Namun anak kandungnya sendiri malah menghindarinya. Sungguh ironis...

"Saya mengidap addict ini sudah cukup lama, Six. Beruntung saya tidak terkena penyakit berbahaya. Saya berjanji padanya... apabila ada perempuan yang berani tetap mendekat setelah mengetahui kelakuan saya dan menerima saya seutuhnya, saya akan berkomitmen untuk berumah tangga, dengan hanya satu wanita seumur hidup." Kata Aria.

Aku tersenyum.

Itulah Pak Baskara...

"Kalau kamu...? Apa janji kamu?" tanyanya.

Aku memutuskan untuk memberinya hadiah, tapi mungkin setelah menerimanya ia akan galau. Tapi rasa tidak nyamannya akan membuatnya mengerti kesakitan yang dialami para wanita yang ia tinggalkan. Harapanku ia akan lebih bisa memanusiakan wanita.

"Aku berjanji padanya, untuk lebih menikmati hidupku." desisku. "Sebagai ganti tebusannya ke geng, aku harus bekerja di Beaufort. Saat lunas, aku harus menikmati dunia."

Untuk Aria, aku akan menghadiahkan pesonaku.

"Kamu dikeluarkannya dari kehidupan hitam. Aku pernah mendengar hal itu." Kata Aria.

Aku mengangguk mengakuinya.

Aku berdiri dan mendekati Aria, jemariku mengelus kerah suitnya yang lembut dengan bahan eksklusif, lalu naik ke lehernya. Mataku tidak lepas darinya, ia pasti mengenal jenis tatapan yang sedang kulancarkan.

"Pak Aria, Kamu harus lebih berhati-hati..." jemariku perlahan merambat ke bahunya.

Ia tidak bergeming, hanya memperhatikanku. Kuanggap itu persetujuan.

"Kamu sudah bermain-main dengan cinta. Akibatnya sangat fatal. Kamu mengerti benar, bahwa..."

Aku melepas kancing teratas kemejanya. "Wanita... tidak bisa menolak rayuan."

Kancing kedua...

"Kami bisa langsung bertekuk lutut kalau pria sudah berkata-kata..."

kancing ketiga...

"...manis." pandanganku lurus ke matanya yang sayu dan hangat.

Aku bisa melihat ada hasrat yang tertahan, ia belum bisa meraih mimpinya. Sampai mimpi itu menjadi kenyataan, ia akan terus mencari korban.

Aku tebak, mimpinya adalah... aku.

Jemariku menelusup ke dalam kemejanya, bermain dengan lekukan otot perutnya yang menurutku teksturnya cukup indah.

Ia terasa goyah, tangannya meraih pinggulku.

"... Walaupun kami tahu kalau itu hanya omong kosong." Jemariku merambat semakin ke bawah. Terdengar desahannya.

"Tapi..." salah satu jemariku yang kuanggap berkuku paling panjang dan runcing memainkan area tepat diatas ikat pinggangnya.

"Kami akan balas dendam kalau disakiti."

dan aku menghujamkan kukuku ke perutnya.

Ia tersentak menahan sakit. dan Dia tampak terperangah.

"Six..."

"Sshh..." aku menempelkan telunjukku di bibirnya. "Kalau kamu jadi kepikiran, cuma dengan ini saja, jadi beneran kamu cowok payah...."

Ia merapatkan bibirnya, menatapku.

"Bikin nambah pe’er aja deh..." sungutnya. Aku menatap siluet yang terbayang dari balik celananya, lalu terkekeh dan meninggalkannya menuju lift.

Ia harus berusaha meredam nafsunya kali ini, mungkin akan terlambat meeting agak lama.

*****

Aku kangen Lucas.

Beneran...

Selebihnya aku ingin makan pisang goreng.

Sambil mengetik kontrak yang dirancang dalam bahasa Jerman, aku membayangkan pria itu.

Pesanku ngga dibalas.

Yang ada malah pesan dari Pak Alex, dia ngomel-ngomel karena bagian operasional nekat membeli 3 unit server dari supplier dengan yang mahal. Padahal sistem finance yang baru belum launching karena uji coba masih tahap penyesuaian. Saat ini Pak Bima sedang panik mempersiapkan dirinya untuk menghadap Pak Leon terkait pembelian mesin yang tadi.

Number Seven keluar dari ruangan Pak Bima dengan wajah sembab karena baru saja dibentak, dia seenaknya  mengeluarkan argumen mengenai kepanikan Pak Bima.

Lalu aku melihat Number Nine mengangkat telepon dengan wajah tegang. Lalu wajahnya langsung pucat dan melihat jam dinding. Ia sempat menatap Number Ten dengan ketakutan saat teleponnya berdering lagi. Terdengar suara Pak Aria yang berteriak padanya supaya cepat ke lokasinya di lantai 30.

Ia buru-buru lari menuju ke arah lift.

Aku tersenyum menang.

Pak Andre datang dengan wajah kuatir langsung masuk ke ruangan Pak Bima. Didalam mereka tampak terlibat pertikaian. Sekitar 10 menit setelahnya Pak Aria masuk ke ruangan Pak Bima, sambil mengenakan jasnya dan menatap tajam padaku. Number Nine menyusul sekitar 5 menit kemudian dipapah security untuk sampai ke Posnya, ia meringis menahan sakit saat mencoba duduk.

Aku menghubungi Jihan, menanyakan kabarnya, dan menawarkan kerjasama bisnis untuk ayahnya. Mungkin bisa sedikit meredakan emosi keluarganya dengan cuan yang akan berdenting di rekening mereka. Aku menutup teleponnya karena wanita itu mau menghubungi ayah dan pamannya dulu.

Dan saat itu Lucas datang.

Dia sangat tampan, tapi wajahnya agak muram saat ini.

"Lucas,  Di pusat ngga ada masalah,kan? Kamu ngga ditanya-tanya tentang kotak yang kukembaliin kan?" tanyaku bertubi-tubi. Aku takutnya Big Boss tersinggung karena aku mengembalikan hadiahnya dan dia melampiaskan kemarahan ke Lucas.

"Enggak kok..." ia menuju mejaku dan menyortir surat yang ditujukkan untukku.

"Bianca..." desisnya  dengan suara rendah kemudian.

Kenapa dia memanggil namaku?

"Nanti malam aku jemput yah."

Wah...

Ada apa ini...

Karena tidak ingin mengganggunya dengan pertanyaan lain, Aku mengangguk.

“Tapi... setelah itu, aku mampir ya.”

Dan tatapannya...

Aku mengenal tatapan itu.

Tatapan yang sama dengan yang sering ditunjukan Pak Aria dan Pak Andre padaku.

The Lustful Gaze on His eyes

Makes me defy my own thoughs

For the love i take for the sins i make

Beautiful in its persistence

Aku terdiam selama beberapa saat, hanya menatapnya yang sedang meletakkan surat di atas mejaku dan tersenyum penuh arti kepadaku. "Oke, selesai." sahutnya riang setelah menyirtir surat, "Sekarang beli pisang goreng buat kamu, dan atur kabel untuk meeting nanti sore. Masih ngidam, kan?!"

"Yah..." entah kenapa aku hanya terpaku.

Mungkin ia sekarang sedang menghipnotisku.

Ia terkekeh.

"Aku suka melihat tampang kamu kalau lagi bengong begitu. Jadi pingin kucium..." Bisiknya.

Lalu ia seenaknya meninggalkanku menuju lift keluar.

Oh, tidak... jantungku berdebar kencang!

*****

Pukul 15.50 Leon dan Bara tiba di Beaufort Bank.

"Six." sapa Leon padaku.

Aku mengangguk padanya, lalu masuk ke ruang meeting untuk mengatur minuman dan snack. Saat aku keluar Lucas datang membawa kabel dan beberapa Laptop untuk teleconference. Ia menyeringai padaku.

"Hari ini bakal heboh ya..." desisnya.

"Pisang gorengku manaaa?" tagihku.

Ia menunjuk pos ku dengan kepalanya karena kedua tangannya penuh.

Aku mencium pipinya tanda terimakasih dan bergegas ke pos. Setidaknya masih ada waktu semenit untuk beberapa gigit pisang goreng.

Lucas masuk ke ruang meeting dan kulihat Bara dan Leon sedang terlibat diskusi serius disana.

Para Direksi akhirnya menyelesaikan pertengkaran mereka dan masuk ruang meeting, Pak Wisnu ikut bergabung paling terakhir.

Para sekretaris mengatur duduknya. Saat aku akan duduk di kursi sebelah Seven,

"Six, duduk disini." Leon memukul-mukul kursi disebelahnya.

Aku akhirnya nenurut dan duduk diantara dia dan Bara, dihujani tatapan iri para sekretaris. Lucas yang sedang mengatur Laptop sempat melirik kami namun ia tidak berekspresi. Lalu keluar dari ruang meeting setelah speaker berfungsi.

Tepat pukul 16, ada panggilan masuk teleconference. Layar hanya menampilkan bagan dan tabel.

"Selamat Sore, Saya Alex Beaufort." terdengar suara rendah yang dalam.

Kami menahan napas.

Akhirnya Big Boss berbicara kepada kami!

1
LOVE U TOO¹
aku disini lagi ya ampun..
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
Cicak Speed
sesayang itu Alex sama Almira
Reni Otta
sama jangan kan Bianca aku juga suka thor kalo Alex jadi Lucas habis lucu kalo Lucas...🤭
Reni Otta
sumpah seru banget baca nya Thor deg deg ka...👍
Sha_rie
ceritanya buagus. penulisannya enak dibaca.
Khairul Azam
aku klo baca novel ada kisah anak seperti rumi ini bener gak tega buat baca aku sekip aja meski sebagus apa novelnya
Khairul Azam
gimana sih bapak kaya gitu masih diturutin minta uang
Khairul Azam
koplsk koplak 🤣🤣🤣🤣
Khairul Azam
itulah lelaki habis manis sepah dibuang
Khairul Azam
bima aria andre mereka emang bejad tp krisna lebih lebih dan lebih bejad
Khairul Azam
kacau kacau
Khairul Azam
ini kantor kq berantakan begini yak
Khairul Azam
aku jg begitu suka minder suka gak percaya diri 🤭🤭🤭 maluan apa itu yg bikin gak pernah deket sama laki laki 🤭🤭
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤS𝟎➜ѵїёяяа
Madam ini paling update, berita blom booming madam udah bikin novel nya. novelnya juga keren , kisah yg serem saat diberita , monoton kadang pas di denger... dikemas dlm novel yg menarik & bahasa yg enak dibaca .
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️

balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤS𝟎➜ѵїёяяа
emang suara Andre bisa bikin org hamil kah Isabel 🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤS𝟎➜ѵїёяяа
bener kata siapa kemaren tuh di novel nya Axel Rio, apa pak Damaskus ya yang bilang ... klo owner-nya beaufort labil🤣🤣🤣 cekatan dlm mengambil sikap soal perusahaan tapi kekanan Kanakan masalah perasaan
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤS𝟎➜ѵїёяяа
dihapus sama Leon lipstik nya🤣🤣🤣🤣
ncapkin
mantap
Payung Rejo
interesting
Defvi Vlog
novelnya bagus, alur ceritanya agak beda sama yg lain malah makin bagus. tulisannya rapih bahasanya bagus, yg kurang cuman karena aku ga ngerti bahasa inggris 😭, lain kali terjemahin ya tor😁👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!