Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Tamu Malam
"Kak... Kita perlu bicara... " seorang mahasiswi tiba-tiba datang dan menarik tangan kotor celo yang masih sibuk mengaduk semen dan pasir sebagai pengikat pasangan batanya.
Diperlakukan demikian, Celo hampir terjatuh, untung saja ia cepat menyeimbang tubuhnya, mengikuti langkah mahasiswi yang menyeretnya keluar dari workshop.
"Apaan sih, Na'! Aku lagi ada tugas penting!" Celo menghempaskan tangan Nana, tubuhnya berbalik hendak masuk ke workshop lagi, sebab waktunya kini tersisa dua puluh menit lagi.
"Kapan kamu kerumah? Papa sama Mama tunggu itikad baik kamu, Celo!" pekik Nana tertahan di belakang Celo, akhir-akhir ini pemuda itu sulit sekali ia temui.
Celo menghentikan langkahnya, tangannya mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya. Detik berikutnya, ia berbalik dan kembali melangkah mendekati Nana yang masih menunggunya penuh harap.
"Aku masih sibuk mengurus skripsiku, Na'. Kalau tahun ini aku tidak wisuda, bukan hanya mas Pandji yang tidak mau menanggung biaya kuliahku, tapi aku juga sudah dipastikan DO dari kampus ini," pelan Celo memberi pengertian pada pacarnya itu.
"Tapi kan, Celo.... perutku ini juga tidak bisa menunggu lebih lama lagi, sudah lima bulan!" Nana menyibak blazernya, memperlihatkan perutnya yang sudah membuncit dibalik kemeja kuliahnya.
Sesaat, Celo memandangi perut Nana yang sudah perempuan itu tutup kembali dengan blazernya yang kebesaran, agar tidak mudah terpantau oleh teman-temannya atau siapapun.
"Aku sudah bilang, gugurkan saja... kamu yang keras kepala. Kalau sudah begini, aku juga yang direpotkan. Iya, kan?" sesal Celo pada pacarnya.
Mendengar ucapan Celo, tentu saja Nana yang selama ini berusaha menahan diri langsung meradang, emosinya sudah di ubun-ubun.
"Badjingan kamu, Celo!"
Tidak sulit bagi Nana yang memiliki postur sama tinggi dengan Celo mencengkram dan menarik kasar kerah kemeja Celo hingga wajah pria itu hampir menabrak wajahnya.
"Rasakan ini! Hufh!" Dengan kekuatan penuh lutut Nana yang menekuk menghantam bagian vital Celo.
Duph!
"Ughhhh!" tubuh Celo seketika menekuk, mengerang tertahan sambil memegangi area selang kangan nya yang sakit luar biasa. Walau hanya sekali hantukan, serasa mau pingsan rasanya.
"Itu hadiah untuk burung brengsek kamu!" umpat Nana dengan napas memburu, wajahnya merah padam penuh emosi.
"Aku sudah berubah fikiran, Celo! Menikah dengan kamu hanya akan mempersulit hidupku di kemudian hari! Cukup sekali aku salah langkah. Mulai hari ini, jangan pernah cari aku lagi! Aku akan buat kamu menyesal seumur hidup kamu karena selalu beralasan bila dimintai pertanggung jawaban!"
Selesai berucap, Nana berlari pergi, tak ada tangisan lagi seperti yang sudah-sudah. Sikap Celo hari ini membulatkan tekadnya menutup rapat pintu hatinya buat pria itu.
"Celo, ngapain kamu di situ?" tanya Karina yang baru datang beberapa menit kemudian.
"Ugh," Celo berusaha menegakan tubuhnya, area sensitifnya masih terasa sangat sakit.
"Maaf, Bu... Saya terjatuh saat akan mengambil pasir di sana... " pelan Celo sembari menunjuk tumpukan pasir yang menggunung tidak jauh dari mereka.
"Saya tahu kamu berbohong, tadi kamu pergi sama pacar kamu. Iya, kan?" Karlina menatap dingin mahasiswa bimbingannya itu sambil berlalu memasuki workshop.
Celo terkesiap, dirinya tersadar bila dosennya itu pasti melihat Nana dari CCTV yang ada di dalam workshop. Matanya cepat mengedar ke plafon luar workshop, berharap disana tidak dipasang CCTV. Dan sayangnya, ada dua kamera CCTV yang langsung mengarah padanya.
"Matilah, aku...." Celo meringis, merasa hidupnya hari ini begitu sial.
"Lihat, hasil kerjamu, Celo!" teriak Karlina dari dalam workshop.
Celo buru-buru masuk, mengesampingkan rasa sakit pada si gundal-gandul yang masih begitu nyeri, lebih takut pada teriakan sang dosen pembimbingnya.
"Kamu itu ngerti nggak sih cara yang benar membuat dinding pasangan bata?!" sentak Karlina. Mata dosen perempuan itu melotot tajam dengan raut dongkol.
"Campurannya udah benar kok Bu, sesuai yang Ibu minta tadi," sahut Celo cepat.
"Satu semen banding empat pasir, dan satunya lagi... satu semen banding enam pasir," tunjuknya pada dua dinding pasangan bata hasil kerjanya yang belum rampung sepenuhnya.
Karlina menggeleng frustrasi mendengar jawaban asal keluar dari mulut Celo, rasa dongkolnya jadi berlipat-lipat kali ganda.
"Waterpas nya mana, Celo?" Karlina nampak gemas sekali.
"Bagaimana bisa kamu lupa kalau itu alat paling krusial untuk memastikan pasangan bata rata secara horizontal dan vertikal!" pekiknya nyaring, memenuhi ruang workshop, beberapa kepala yang ada di ruang berbeda terlihat saling melongok ke arah mereka.
Mendengar nama alat itu disebut, Celo langsung menepuk jidatnya.
"Maaf, Bu.... Sa-ya lupa..." Celo meringis, menjawab kikuk, ada rasa malu dalam nada kalimatnya.
"Unting-unting nya?" Kalina kembali menyebutkan satu nama alat penting lainnya dalam dunia pertukangan, sebab dirinya tidak melihat benda itu menggantung di sudut dinding pasangan bata Celo untuk mengecek apakah dinding miring atau sudah lurus vertikal.
Celo kembali berucap kikuk. "Alat itu... saya juga lu-pa, Bu..." nadanya pelan.
Karlina mendesah mendengar jawaban Celo. "Benang Acuan? Jidar? Meteran (Measuring Tape)? Siku-siku (Steel Square)," Karlina sengaja menyebutnya satu persatu semua nama alat pertukangan itu secara lengkap, karena tidak satupun dari alat-alat itu digunakan oleh mahasiswa bimbingannya itu dalam membuat dinding pasangan bata.
Celo diam mematung, sudah tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Apa kamu sudah mengerti, Celo... Kenapa tadi saya mengatakan bangunan rumah, gedung, hotel, atau apapun itu, akan roboh kalau kamu yang jadi Struktural Engineering nya," lanjut Karlina, saat melihat Celo tidak bisa berucap lagi.
"Seorang Engineering Teknik Sipil tidak mengandalkan insting saja melainkan menggunakan peralatan tukang dan alat ukur presisi karena pekerjaan konstruksi menuntut akurasi tinggi, keamanan, dan kepatuhan terhadap standar teknis. Mengandalkan insting memiliki risiko kegagalan struktur dan pembengkakan biaya, sedangkan alat ukur memberikan data kuantitatif yang objektif. Saya harap kamu mengerti ini, Celo."
Celo tidak berucap, hanya mampu menjawab dengan anggukan malu.
"Ini sudah beranjak sore, kita sudahi saja pertemuan ini. Minggu depan, di waktu yang sama, silahkan buat tugas yang sama dengan bantuan peralatan yang saya sebutkan tadi."
Karlina melirik arloji tangannya sekilas lalu beralih pada area kerja Celo.
"Semua material yang kamu pakai tidak gratis, Celo. Kamu harus membayarnya ke bagian kepegawaian workshop ini. Dan jangan lupa bongkar, dan buang sampah-sampahmu ini pada tempatnya," ucap Karlina tanpa beban menutup sesi konsultasi skripsi mahasiswa bimbingannya.
"Di-dibongkar, Bu?" Celo ternganga.
"Iya, masa nggak. Ngaco kamu, Celo. Dinding pasangan bata kamu itu tidak ada manfaatnya disini. Adik-adik tingkat kamu bakalan terpingkal-pingkal kalau melihatnya. Kamu nggak malu, hah?"
Celo mengusak rambutnya kasar, begitu frustrasi.
Terbayang olehnya tugas berat membongkar dinding pasangan bata hasil karyanya itu. Selain membongkar, butuh tenaga ekstra pula untuk membuangnya dari sana.
...***...
Tok! Tok! Tok!
"Ada tamu..." gumam Harry menatap adiknya.
"Meli saja.yang bukain pintunya, Mas," Melitha yang sedang menata hidangan di atas meja makan menghentikan kegiatannya itu.
Harry mengangguk, lalu mengambil alih melanjutkan menata hidangan di atas meja sepeninggal adiknya.
Klek-klek...
Begitu anak kunci berhasil diputar pelan, Melitha menarik gagang pintu rumahnya.
"Selamat malam, Mel... " pria berusia matang yang tengah berdiri di depan pintu itu tersenyum tipis.
"Aaaa.... M-mas Pa-ndji... " Melitha yang kaget melihat kakak sepupunya itu mendadak jadi gugup.
"Se-selamat malam juga, Mas...." balasnya menyapa.
Pandji masih tersenyum di tempatnya melihat kegugupan adik sepupunya itu.
"Boleh Mas masuk?"
"Aaaaa.... I-iya, Mas. Bo-boleh, tentu, Mas...." Melitha bertambah gugup, sampai lupa bergeser untuk memberi ruang pada kakak sepupunya itu.
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.