NovelToon NovelToon
Kembali Ke Tahun 2005

Kembali Ke Tahun 2005

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Misteri / Nikahmuda / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nunna Zhy

Pernikahan seharusnya menjadi awal kebahagiaan, tetapi bagi Dara Sarasvati, tapi justru menjadi akhir dari mimpi-mimpi mudanya. Rutinitas rumah tangga dan keterbatasan hidup membuatnya mempertanyakan semua pilihan yang pernah ia buat.

Satu malam, pertengkaran dengan suaminya, Aldi Laksamana, mengubah segalanya.

Dara pergi—dan terbangun kembali di masa SMA, di tahun 2005.

Di hadapan kesempatan kedua ini, Dara dihadapkan pada dilema yang tak terbayangkan:
mengubah masa lalu demi dirinya sendiri, atau mempertahankan masa depan yang kelak menghadirkan anak yang sangat ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nunna Zhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang

“Aduh, sorry—” Dara akhirnya bersuara, tapi kata itu keluar tanpa benar-benar membawa penyesalan. Nada suaranya masih tajam, sisa emosi dari kantin belum juga reda.

“Sorry?” Aldi mengulang, satu alisnya terangkat. “Nendang kerikil ke kepala orang terus bilang sorry doang?”

“Kalau lo nggak berdiri di tengah jalan, juga nggak bakal kena,” sahut Dara cepat, tanpa berpikir panjang.

Mungkin pertemuan mereka kali ini bukan hanya pertemuan biasa. Dara yang kesal nggak jelas dan Aldi yang kena marah pelatih karena performnya hari ini kurang maksimal. Mereka berdua sedang ada di suasana hati yang kurang baik.

Aldi terdiam sepersekian detik, jelas tak menyangka akan diserang balik. “Lah, ini sekolah umum, bukan lintasan emosi lo.”

Ucapan itu seperti menyulut api yang sudah lebih dulu menyala.

“Emosi?” Dara tertawa pendek, hambar. “lo kira gue nggak punya alasan buat kesel?”

Aldi menatapnya lekat. Ada sesuatu di mata Dara—tajam, penuh tekanan, seolah ia sedang menyimpan beban yang sama sekali tak masuk akal untuk seorang siswi SMA.

“Kalau lo punya masalah, jangan dilampiasin ke orang lain.”

“Oh, jadi sekarang lo sok dewasa?” Dara mendengus. “Padahal lo paling nggak peka soal perasaan orang.”

Kalimat itu membuat Aldi tersentak. Rahangnya mengeras.

“Nggak peka?” Ia tertawa miring. “Elo tau nggak, dulu—”

Ucapan itu nyaris meluncur begitu saja. Tentang masa depan. Tentang Dara yang lain. Tentang tuntutan, tangisan, dan kata-kata kamu selalu kurang yang dulu begitu sering ia dengar.

Namun Dara lebih dulu memotongnya.

“Dulu apa?” tantangnya, matanya menyala. “Lo mau nyalahin gue lagi? Jangan kebalik. Lo yang selalu pura-pura nggak ngerti. Selalu ngerasa paling benar.”

Aldi mengepalkan tangan. Ia benar-benar ingin bicara—ingin membeberkan semuanya. Ingin bertanya kenapa Dara versi sekarang bisa begitu berbeda tapi tetap menyakitkan dengan cara yang sama.

“Kalau gue nggak peka,” katanya rendah, menahan diri, “lo itu banyak nuntutnya.”

Dara tersenyum sinis. “Lo pengecut. Selalu kabur tiap gue butuh.”

Suara mereka semakin meninggi. Beberapa siswa yang melintas mulai melambatkan langkah, ada yang terang-terangan berhenti. Bisik-bisik bermunculan. Ponsel bahkan sudah terangkat diam-diam.

“Eh, itu Dara sama Aldi, kan?”

“Kenapa mereka ribut?”

“Pacaran? Berantem?”

Rere yang sedang lewat bersama Satria menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut melihat pemandangan itu—dua orang yang seharusnya hampir tak punya urusan apa pun, kini berdiri saling berhadapan dengan aura permusuhan yang kental.

“Ini aneh,” gumam Satria.

Tanpa banyak bicara, Rere langsung menghampiri mereka. Ia menarik lengan Dara, sementara Satria menahan Aldi dari sisi lain.

“Udah, udah! Kalian mau bikin panggung di sini?” seru Rere kesal.

“Apa sih, Re—” Dara memberontak.

“Belakang sekolah. Sekarang,” potong Rere tegas.

Mereka berempat akhirnya berada di area belakang sekolah yang lebih sepi, hanya ada lapangan kosong dan deretan pohon rindang. Suasana masih panas, napas Dara dan Aldi sama-sama berat.

Rere menyilangkan tangan di dada, menatap mereka bergantian.

“Kalian kenapa sih?” tanyanya akhirnya, nada suaranya penuh heran. “Kayak punya dendam membara.”

Ia menggeleng kecil. “Setau gue, kalian bahkan nggak pernah sedekat itu. Tapi barusan… kalian kayak dua orang yang saling benci dari kehidupan sebelumnya.”

Dara mengalihkan pandangan, seolah lantai tanah di bawah kakinya jauh lebih menarik daripada tatapan siapa pun.

Aldi terdiam, rahangnya kembali mengeras. Ada begitu banyak kata yang menyesak di tenggorokannya—tentang ketidakadilan, tentang rasa sesak yang entah sejak kapan selalu muncul setiap kali berhadapan dengan Dara. Kali ini, ia ingin bicara. Benar-benar bicara.

“Gue—” Aldi membuka mulut.

“Dara!”

Suara itu memotongnya tanpa ampun.

Calvin berlari kecil mendekat dari arah koridor belakang, napasnya sedikit tersengal. Wajahnya penuh kekhawatiran begitu melihat Dara berdiri dengan ekspresi tegang. Tanpa peduli keberadaan Aldi dan yang lain, ia langsung menghampiri Dara.

“Kamu kenapa?” tanyanya lembut, nyaris panik. “Aku nyariin kamu. Katanya kamu ribut di kantin… kamu nggak apa-apa, kan?”

Tangannya refleks terangkat, seolah ingin memastikan Dara baik-baik saja.

Dara tersentak kecil. “Aku nggak apa-apa, Vin,” jawabnya cepat, meski suaranya terdengar lebih lelah daripada yang ia inginkan.

Adegan itu menusuk mata Aldi.

Cara Calvin berdiri begitu dekat. Cara suaranya penuh perhatian. Cara Dara—tanpa sadar—melembut hanya dengan satu panggilan nama. Semua itu terasa salah. Terlalu salah. Dan anehnya, dadanya ikut terasa nyeri, seperti ada sesuatu yang direbut darinya padahal ia tak pernah mengaku memilikinya.

Aldi tertawa kecil, getir.

“Pantes,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Calvin melirik ke arahnya, alisnya berkerut. “Ada masalah apa, bro?”

Aldi tak menjawab. Ia sudah kehilangan keinginan untuk menjelaskan apa pun. Kata-kata yang tadi ingin ia ucapkan kini terasa konyol, tak lagi punya tempat.

Tanpa menatap Dara lagi, Aldi berbalik. Langkahnya cepat, bahunya tegang.

Sial, umpatan itu menggema di kepalanya.

Selalu telat. Selalu kalah.

Ia pergi begitu saja, meninggalkan Dara dengan sejuta pertanyaan yang tak sempat terucap, dan perasaan asing yang perlahan mengendap—bahwa ada sesuatu yang baru saja terlewat, sesuatu yang seharusnya penting, namun terputus sebelum sempat dimulai.

Bersambung...

1
Vivi Zenidar
karyanya bagus..... semoga akan banyak yg baca dan menyukai
achi
wihhh makin seru thorr👍👍👍
achi
naluri orang tua pasti selalu ada
achi
wkwkwk mari kita lihat siapa yg kebakar duluan
achi
kurang waktu buat komunikasi mereka dulu
achi
sama2 mau ubah takdir tp kalo dah jodoh pasti dikasi jalan
achi
semangatt ka nulis cerita ini 😍😍😍
I'm Girl
nah kan bner, si aldi emang dr masa depan
I'm Girl
cie cemburu si aldi
I'm Girl
ini Aldi pasti dr masa depan deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!