Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Semilir angin pagi menerbangkan helaian rambut pendek milik Delvin, pria itu memegang secangkir kopi panas di tangan kanannya. Pandangan matanya menatap lurus ke arah jalanan di depan mansion miliknya yang megah dan mewah.
Semenjak kepergian Aurora bersama kedua anaknya, rumah besar itu tampak sepi dan sunyi. Hanya ada para pekerja dan beberapa tamu penting yang terkadang mencari Delvin untuk melakukan transaksi atau sekedar menyapa.
"Sudah berapa lama Aurora pergi dari rumah ini, ya?" Gumamnya.
Pakaian tidurnya dia biarkan terbuka di bagian dada, memperlihatkan otot-otot kekar miliknya.
Delvin menoleh ke atas nakas di sebelah tempat tidurnya, di sana tergeletak surat perceraian yang sudah dia dan Aurora tanda tangani. Namun, sampai detik ini Delvin belum menyerahkan surat itu pada pengacaranya.
Delvin menghela napas panjang. Uap kopi mengepul tipis, namun hangatnya tidak sampai ke dadanya. Ada sesuatu yang mengganjal sejak pagi tadi, sesuatu yang terus mengusik pikirannya tanpa henti.
Ponsel di meja bergetar pelan.
Delvin melirik sekilas, lalu mengambilnya. Sebuah pesan masuk dari salah satu rekan bisnisnya, singkat namun cukup untuk membuat alisnya berkerut.
Alverez Group resmi mengumumkan Aurora Alverez sebagai pewaris utama. Dia mulai aktif kembali per hari ini.
Jari Delvin menegang.
"Apa…?" gumamnya nyaris tak terdengar.
Dia membaca ulang pesan itu, sekali, dua kali, memastikan matanya tidak salah menangkap huruf. Aurora. Pewaris resmi. Aktif kembali.
Cangkir kopi di tangannya bergetar pelan sebelum akhirnya dia letakkan di pagar balkon.
"Jadi kabar itu benar adanya," bisiknya.
Aurora yang dia kenal adalah Aurora yang selalu menolak. Wanita yang dengan dingin menjauh dari dunia bisnis keluarganya, yang memilih hidup sederhana bersamanya tanpa ambisi sedikit pun pada bisnis. Aurora yang lebih memilih mengurus anak-anak dibanding duduk di ruang rapat penuh pria licik dan permainan kekuasaan kini memilih keluar dari jalur aman?
Aurora kala itu selalu berkata dengan tegas, "Aku tidak mau hidup seperti ayahku yang di jadikan budak perusahaan, aku hanya ingin menjadi istrimu selamanya."
Namun sekarang?
Delvin menyeringai pahit. Ada rasa asing yang menyelinap di dadanya, campuran antara kaget, tersinggung, dan sesuatu yang enggan dia akui sebagai penyesalan.
"Jadi kau kembali ke sana," gumamnya lirih. "Ke tempat yang dulu kau benci."
Angin pagi kembali berembus, membawa aroma embun dan dingin yang menusuk. Delvin memejamkan mata sejenak. Dalam benaknya, wajah Aurora terlintas tatapan lembut dan selalu tersenyum padanya meskipun dia abaikan.
Perlahan, potongan-potongan ingatan bermunculan.
Aurora yang diam setiap kali ayahnya menyinggung soal perusahaan.
Aurora yang menggenggam tangannya dan berkata dia hanya ingin hidup tenang bersamanya.
Aurora yang menolak mentah-mentah ketika Delvin menyarankan agar dia kembali ke Alverez Group demi masa depan anak-anak mereka.
Dan sekarang dia masuk. Dengan sukarela.
Atau terpaksa? Delvin membuka mata. Rahangnya mengeras.
"Kenapa baru sekarang?" tanyanya pada udara kosong.
Apakah karena dia? Karena perpisahan mereka? Karena dunia yang dia paksa Aurora hadapi sendirian?
Tatapannya kembali tertuju pada nakas. Surat perceraian itu masih di sana, terlipat rapi, seperti ejekan yang diam. Selembar kertas yang seharusnya sudah dia lepaskan, tapi entah kenapa masih dia simpan.
Delvin melangkah mendekat, mengambil surat itu. Ujung jarinya menyentuh tanda tangan Aurora di bagian bawah. Tegas. Tanpa ragu.
"Dulu kau selalu menolak kekuasaan," katanya pelan. "Sekarang kau mengambilnya tanpa berkedip setelah berpisah denganku."
Ada sesuatu yang berubah. Dan Delvin baru menyadarinya sekarang dia tidak lagi mengenal wanita yang dulu tidur di sampingnya setiap malam.
Atau mungkin… selama ini dia memang tidak pernah benar-benar mengenalnya.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini sebuah panggilan dari salah satu direktur lama Alverez Group, nama yang sangat dia kenal.
Delvin menatap layar itu lama, sebelum akhirnya mengangkat.
"Halo," jawabnya datar.
"Delvin," suara di seberang terdengar berhati-hati. "Kau sudah dengar beritanya?"
"Sudah," potong Delvin.
"Aurora… dia berbeda. Sangat berbeda. Kami semua tidak menyangka jika dia akan bertindak sejauh ini."
Delvin tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya.
"Aku juga, Paman Jeremi," katanya pelan.
"Kau tahu alasannya dia begitu?"
"Tidak! Sama sekali tidak tahu," jawab Delvin.
Panggilan berakhir secara sepihak. Delvin berdiri mematung di tengah kamar, surat perceraian masih di tangannya. Ada rasa asing yang menekan dadanya, seperti kehilangan yang baru benar-benar terasa setelah semuanya terlambat.
Aurora bukan lagi wanita yang menolak takdirnya. Aurora kini berdiri di pusat kekuasaan yang dulu dia benci.
"Sial! Wanita itu mempermainkanku rupanya," gumam Delvin murka.
***
Mall bertingkat delapan menjadi tujuan Aurora dan kedua anaknya kali ini. Setelah susah payah membujuk Riven untuk masuk sekolah bersama Arjuna, Aurora mengajak kedua anaknya membeli pakaian baru sebelum memulai debut mereka di sekolah nanti.
Aurora menggenggam tangan Riven, sementara Arjuna berjalan di sisi lainnya dengan ekspresi antusias. Suasana mall cukup ramai, namun tidak terlalu padat. Lampu-lampu terang memantul di lantai marmer mengilap, aroma kopi dan parfum bercampur di udara.
"Mau yang mana dulu?" tanya Aurora lembut.
"Toko itu," tunjuk Arjuna cepat.
Aurora mengangguk. Dia melangkah lebih dulu menuju sebuah butik pakaian anak yang berada di sudut lorong. Namun, tepat saat dia hendak membuka pintu kaca toko tersebut tiba-tiba sebuah insiden tak terduga muncul.
Bruk!
Tubuh Aurora menabrak seseorang dengan cukup keras.
Kotak belanja dan beberapa map hitam terlepas dari genggaman pria itu, jatuh berserakan ke lantai. Bunyi benda-benda itu menggema singkat, menarik perhatian beberapa pasang mata di sekitar.
Aurora tersentak. "Maaf... aku tidak melihat--"
Dia refleks berjongkok, membantu memungut barang-barang yang jatuh. Jemarinya bergerak cepat, terlatih, tanpa ragu. Namun, sebelum dia sempat menyerahkan kembali map tersebut, suara dingin menyela.
"Tidak perlu."
Nada itu rendah. Tajam. Datar. Aurora terdiam sejenak. Dia mendongak menatap wajah orang yang sepertinya tidak suka dengan bantuan yang di berikan olehnya.
Pria di hadapannya tinggi, bahunya bidang, rahangnya tegas dengan garis wajah keras seolah dipahat dari batu. Mata abu-abu gelapnya menatap lurus tanpa emosi, namun di balik ketenangan itu, Aurora menangkap sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang amarah yang ditahan, seperti magma di perut gunung.
"Maaf," ulang Aurora, tetap tenang. "Aku menjatuhkan barang-barangmu."
Pria itu melirik sekilas ke map di tangan Aurora, lalu ke arah lantai yang kini sudah bersih. Sudut bibirnya terangkat sedikit, bukan senyum. Lebih mirip ejekan tipis.
"Permintaan maaf tidak membuat waktuku kembali," katanya dingin. "Atau mungkin kau terbiasa berpikir semua bisa diselesaikan dengan satu kata itu?"
Aurora tercengang.
Bukan karena kata-katanya saja, melainkan cara pria itu mengucapkannya. Seperti seseorang yang terbiasa memerintah, bukan diminta pengertian.
Aurora berdiri perlahan. "Aku tidak bermaksud--"
"Tidak bermaksud," potong pria itu cepat. "Kalimat favorit semua orang setelah merugikan orang lain."
Arjuna yang sejak tadi diam akhirnya maju selangkah. "Om, Mommy sudah minta maaf."
Tatapan pria itu beralih ke Arjuna. Sekejap saja, sorot matanya melunak lalu kembali dingin saat menatap Aurora.
"Ajari anakmu untuk melihat jalan sebelum berjalan," katanya sarkas. "Bukan mengajari orang lain untuk memaklumi kelalaian yang kau lakukan."
Riven mencengkeram tangan Aurora lebih erat. Aurora bisa merasakan getaran kecil itu.
Aurora menahan napas. Sudah lama tidak ada yang berbicara padanya seperti itu. Dingin, meremehkan, dan penuh kemarahan yang bahkan bukan miliknya.
"Kalau kau sedang marah, itu bukan urusanku," jawab Aurora tenang, suaranya datar namun tegas. "Aku sudah meminta maaf dan membantu membereskan barangmu. Selebihnya, itu pilihanmu untuk menerima atau tidak."
Mata pria itu menyipit.
Untuk pertama kalinya, ada ketertarikan tajam di sana. Sebuah pengakuan yang enggan bahwa wanita di hadapannya tidak selemah yang dia kira.
"Kau cukup berani," ucapnya pelan, nyaris mengancam. "Atau cukup bodoh."
Aurora menatap balik tanpa gentar. "Biasanya orang marah pada hal yang tidak bisa mereka kendalikan, dan kau sepertinya tipe orang seperti itu."
Beberapa pengunjung mulai melambatkan langkah, menyadari ketegangan yang tidak biasa. Pria itu mendekat setengah langkah, auranya menekan seperti badai yang siap pecah.
"Kau tidak tahu siapa aku, hm?" katanya rendah.
"Aku tidak tertarik untuk tahu," balas Aurora dingin.
Akhirnya pria itu tersenyum smirk lalu meraih map terakhir dari tangan Aurora dengan gerakan kasar. "Berdoalah agar kita tidak bertemu lagi."
Aurora mengangguk tipis. "Itu doa yang sama yang aku inginkan."