Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 KHSC
Pagi hari setelah konfrontasi yang menghancurkan dengan Gunawan, Juna dan Nares terbangun. Nares terdiam. Kepalanya bersandar di dada Juna, tetapi matanya terbuka, menatap langit-langit. Ketulusan dan keberaniannya dalam memimpin audit internal seolah hilang, digantikan oleh rasa malu yang dalam.
Juna tahu, kata-kata kejam Gunawan telah menghancurkan benteng pertahanan terakhir Nares.
“Nareswari, kau tidak tidur?” tanya Juna lembut, mengelus rambutnya.
Nares menggeleng pelan. “Aku hanya… memikirkan kata-kata Gunawan. Aku selalu tahu siapa ibuku dan mengapa aku di panti asuhan. Aku sudah berusaha melupakan, Juna. Tapi mendengar itu dari mulut orang lain… Aku merasa kotor. Aku merasa aku mencoreng namamu dan Bhaskara Corp.”
Juna membalikkan badan Nares, memaksanya menatap matanya.
“Dengarkan aku. Kau adalah Nareswari Kirana, wanita paling murni dan paling berintegritas yang pernah aku temui,” kata Juna, suaranya tegas. “Aku tidak peduli siapa orang tuamu. Kau tidak memilih mereka. Kau memilih untuk menjadi dirimu sendiri. Kau memilih untuk menjadi seorang sarjana, menjadi orang baik, dan menjadi istriku.”
Juna mengambil kedua tangan Nares. “Aku sudah kehilangan banyak hal karena pengkhianatan, Nares. Aku tidak akan membiarkanmu merusak dirimu sendiri karena masa lalu yang tidak pernah kau pilih. Gunawan mencoba menyerang kita dengan kata-kata kotor, karena dia tahu dia tidak bisa menyerang kita dengan bukti korupsi. Jangan biarkan dia menang.”
Nares melihat cinta dan ketulusan yang mutlak di mata Juna. Ini bukan lagi CEO yang melindungi asetnya; ini adalah suami yang melindungi istrinya.
“Aku mencintaimu, Nareswari. Dan aku ingin kau mencintai dirimu sendiri. Jika kau malu pada masa lalumu, maka kau meremehkan dirimu yang sekarang,” bisik Juna, mencium Nares dengan lembut.
Dukungan Juna seperti balsem bagi luka Nares. Ia memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi.
***
Juna memanggil rapat dewan direksi darurat. Gunawan hadir, dengan wajah yang pucat dan mata penuh kebencian.
Rapat itu berjalan cepat dan efisien. Juna, yang kini mengendalikan situasi, tidak bertele-tele.
“Saya mengumumkan pengunduran diri Bapak Gunawan dari dewan direksi Bhaskara Corp. Pengunduran diri ini bersifat sukarela dan berlaku segera,” kata Juna, suaranya menggelegar di ruang rapat.
Gunawan bangkit, marah. “Ini tidak sukarela, Arjuna! Kau memaksaku!”
“Oh ya? Jika kau tidak mengundurkan diri, maka aku akan menyerahkan bukti-bukti kejahatanmu ke polisi sekarang juga, Paman. Pilihan ada di tanganmu,” balas Juna, menatap Gunawan tanpa berkedip.
Seluruh dewan terkejut. Mereka tahu, Juna tidak main-main.
“Aku akan mengundurkan diri. Tapi ingat, Arjuna. Bhaskara Corp akan hancur karena istrimu! Dia tidak pantas berada di sini!” Gunawan berteriak, amarahnya meledak.
“Divisi CSR yang dipimpin istri saya telah menemukan inefisiensi dan potensi risiko hukum senilai puluhan miliar di Proyek Pulau Seribu. Bukti-bukti itu akan segera diserahkan ke tim internal compliance. Nareswari tidak menghancurkan perusahaan. Dia membersihkannya,” kata Juna, nadanya final.
Gunawan hanya bisa mendengus dan meninggalkan ruangan dengan kekalahan mutlak.
Setelah Gunawan pergi, Juna menatap dewan direksi. “Mulai hari ini, Nyonya Nareswari Kirana adalah Kepala Divisi Sustainability yang memiliki otoritas penuh untuk mengaudit semua proyek. Siapa pun yang mencoba menghalangi pekerjaannya akan dianggap berkhianat pada Bhaskara Corp.”
Juna telah mengonsolidasikan kekuasaannya, dan yang lebih penting, ia telah mengukir posisi Nareswari sebagai kekuatan yang tak tergoyahkan.
***
Nares pindah ke kantor barunya sebagai Kepala Sustainability. Kantor itu terletak di lantai yang sama dengan Juna, dengan pemandangan kota yang menakjubkan.
Nares langsung terjun ke dalam pekerjaannya. Ia menggunakan pilot project Fondasi komunitas sebagai terapi untuk mengalihkan pikirannya dari masa lalu. Ia melakukan panggilan video dengan komunitas pemasok dan merancang modul pelatihan digital.
Rio, yang menyaksikan perubahan Nares, sangat kagum. Ia melihat bagaimana Nares yang dulunya ragu-ragu, kini memimpin rapat dengan keyakinan.
“Nyonya, proyek ini berjalan sangat lancar. Anda benar-benar visioner. Para pemasok kecil sangat antusias dengan pelatihan teknologi ramah lingkungan,” lapor Rio.
“Terima kasih, Rio. Kita tidak hanya membantu Bhaskara Corp, kita membantu mereka untuk mandiri. Itu esensi dari sustainability,” jawab Nares, sambil tersenyum.
Saat Nares sibuk bekerja, Juna masuk ke kantornya. Ia membawa dua cangkir kopi.
“Aku ingin menjadi asisten pribadimu sebentar,” kata Juna, meletakkan kopi di meja Nares.
“CEO Bhaskara Corp menjadi asisten? Sebuah kehormatan,” balas Nares, tertawa.
Juna duduk di sofa di kantor Nares. “Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Kau tidak perlu memaksakan diri.”
“Aku baik-baik saja, Juna. Pekerjaan ini menyelamatkanku. Aku menyadari, aku tidak perlu malu pada masa laluku. Yang penting, apa yang aku berikan pada masa depan. Dan aku akan memberikan yang terbaik untuk Bhaskara Corp, untukmu,” kata Nares, menatap Juna.
Juna merasa sangat bangga. Ia melihat bagaimana Nares telah tumbuh dari seorang mahasiswi yang terpaksa menikah menjadi pemimpin yang berwibawa.
***
Saat Juna dan Nares sedang makan malam di rumah baru mereka (yang masih dalam tahap penyelesaian akhir), ponsel Juna berdering dengan panggilan darurat dari Rio.
“Pak Juna, gawat. Larasati baru saja membocorkan dokumen ke semua media gosip,” suara Rio panik.
“Dokumen apa lagi?” tanya Juna, nadanya mengeras.
“Dokumen Panti Asuhan Nareswari. Dia memutarbalikkan fakta, Pak. Dia mengklaim Nyonya Nareswari adalah buronan yang menyembunyikan masa lalu kotornya, dan bahwa Nyonya Nareswari adalah anak dari seorang penjahat yang bersembunyi. Dia menggunakan kata-kata kotor yang dilontarkan Gunawan di rapat, tapi dia menambahkan drama bahwa Nareswari menipu Anda,” jelas Rio.
Juna menggebrak meja. Amarahnya memuncak. “Dia sudah kelewatan!”
Nares, yang mendengar percakapan itu, menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menangis. Ia kini kuat.
“Larasati tidak akan berhenti sampai reputasiku hancur, Juna. Dia tahu, selama aku ada, dia tidak bisa kembali padamu,” kata Nares dengan suara mantap.
“Kita akan menyelesaikannya. Aku akan mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah semua tuduhan itu,” janji Juna.
“Tidak, Juna. Pernyataan resmi hanya akan membuatnya terlihat seperti kita berbohong. Kita akan melakukan sesuatu yang lebih berani. Kita akan menghadapi kebenaran,” kata Nares, matanya bersinar dengan ide.
***
Nares duduk di depan Juna, menjelaskan strateginya.
“Larasati ingin membuatku terlihat seperti penipu dan aib. Satu-satunya cara untuk melucuti senjatanya adalah dengan mengakui kebenaran itu sendiri, dengan cara kita,” jelas Nares.
“Maksudmu… kau akan mengakui masa lalumu di depan publik?” tanya Juna, terkejut.
“Ya. Tapi dengan syarat, kau harus bersamaku. Kita akan mengadakan konferensi pers mendadak besok pagi. Aku akan menceritakan kisahku: dari panti asuhan, beasiswa, hingga bertemu denganmu. Dan kau akan menceritakan mengapa kau memilihku, terlepas dari masa laluku,” kata Nares.
“Itu sangat berani, Nareswari. Itu sangat berisiko. Jika publik tidak menerima…”
“Jika kita jujur, mereka akan menerima. Mereka melihatmu sebagai CEO yang dingin. Mereka melihatku sebagai gadis desa. Jika kita menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang berjuang dan saling mencintai terlepas dari latar belakang, kita akan memenangkan hati mereka. Dan Larasati tidak akan memiliki apa-apa untuk diserang lagi,” Nares meyakinkan Juna.
Juna menatap Nares. Ia melihat bukan lagi gadis kecil yang takut, tetapi seorang wanita yang berani dan visioner, yang menggunakan kejujuran sebagai senjata utama.
“Kau benar. Kita akan melawan api dengan kebenaran. Rio akan menyiapkan konferensi pers besok pagi. Kita akan mengakhiri permainan Larasati ini untuk selamanya,” kata Juna, memegang tangan Nares.
Mereka berdua tahu, pertempuran ini adalah yang terakhir dan paling pribadi. Memenangkan pertempuran ini bukan hanya tentang mempertahankan Bhaskara Corp, tetapi tentang mendefinisikan jati diri Nareswari di mata dunia.