Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. PELUKAN RINDU
Murat mengurai pelukan itu. "Irene.." Murat tidak percaya wanita yang memeluknya saat ini adalah Irine. Adik dari mendiang sahabatnya Leon.
Irine memeluk Murat lagi. Membuat Danu dan Arif sikut sikutan karena penasaran siapa gerangan wanita cantik yang memeluk temannya itu.
Murat merasa malu dia mengurai pelukan wanita itu lagi. " Irine aku mohon jangan begini semua orang melihat kita". Irene yang sadar jadi pusat perhatian semua orang akhirnya melepaskan pelukannya.
Wanita itu mengusap air mata yang tidak sengaja mengalir. " Maafkan aku kak, aku terlalu senang bertemu denganmu". Murat yang mengerti hanya mengangguk.
"Baiklah teman temanku sudah menunggu, nanti kita bicara lagi". Murat merasa tidak enak karena kedua temannya yang sudah menunggu sejak tadi. Irine mengangguk, hatinya berbunga bunga karena bisa bertemu dengan pujaan hatinya selama ini.
Arif dan Danu yang sangat penasaran hanya bisa saling lirik lirikan. " Ehm sepertinya sebentar lagi bakal ada yang melepaskan status Dudanya nih". Arif yang memang si mulut ember pun bersuara.
Danu yang tidak mau kalah nyeletuk " Dapat yang cakep lagi rif, lo aja yang jomblo kalah...hahaha". Keduanya terus saja menggoda Murat, tetapi pria itu hanya acuh dan menulikan telinganya.
Memang selama pernikahan keduanya dengan Hanna tidak ada satupun temannya yang tahu. Pernikahan mereka dilakukan sangat tertutup karena permintaan Murat sendiri.
Pernikahan mereka hanya diketahui oleh keluarga inti saja, selain keluarga Murat ada juga keluarga dari mendiang istrinya Zahra karena memang mereka yang memaksa Murat untuk menikah dengan Hanna.
Sedangkan Hanna sendiri hidupnya sebatang kara dan oleh sebab itulah dia tinggal dan dibesarkan oleh keluarga Zahra.
...****************...
Makan siang pun usai, kini Murat sedang berkutat dengan segudang pekerjaannya yang tak kunjung selesai.
Tok...tok..tok.. Ceklek.
"Ada apa Dimas?" Murat yang memang sedang serius tidak menyadari siapa yang masuk keruangannya.
"Ckck..ternyata kakak dari dulu tidak berubah yah, terlalu fokus kalau sudah bekerja..hehehe". Murat yang baru sadar siapa yang masuk keruangannya mengangkat pandangannya.
"Irene...". Murat menghentikan pekerjaannya dan berdiri. Irine yang memang sangat merindukan Murat langsung mendekat dan memeluk pria itu lagi.
Murat menerima pelukan itu karena memang sejak dulu dia sangat dekat dengan Irine. Terkadang karena hal itulah yang membuat mendiang Zahra selalu cemburu pada kedekatan mereka.
" Apakah kakak merindukanku" Irine menengadahkan wajahnya untuk mengetahui jawaban Murat. " Tentu saja aku merindukan adik kecilku". Suara Murat sangat lembut berbeda sekali jika dia berbicara dengan istrinya.
Padahal sebenarnya Murat memang tidak ingat keberadaan Irine karena hidupnya terlalu banyak drama akhir akhir ini.
Murat mengurai pelukannya dia pun mengacak acak rambut Irine seperti kebiasaannya dulu. Mereka duduk berdampingan di sofa sederhana yang ada diruangan itu.
" Kenapa kakak tidak pernah mengunjungiku atau menghubungiku heh". sebenarnya Irine berharap Murat datang mengunjunginya ke Australia, dan menghiburnya, karena selama bersekolah dan tinggal disana dirinya sangat kesepian.
" Maaf, aku tidak bisa seenaknya pergi dan meninggalkan pekerjaanku Irine, Kamu tahu, aku hanyalah pegawai diperusahaan ayahmu ini". Selama ini Murat memang bekerja diperusahaan milik keluarga Leon.
Dia tidak mau kemampuan dan kepintarannya dipandang sebelah mata hanya karena dirinya menggunakan nama belakang Demir.
" huh..padahal kakak bisa minta cuti beberapa hari untuk menghadiri wisudaku. Papah pasti tidak keberatan dengan itu. " Hubungan Murat memang sedekat itu dengan keluarga Leon.
" Sudahlah Irine, yang penting kamu sudah pulang ke Indonesia. Bagaimana apakah kamu akan bekerja disini atau mencari pekerjaan diperusahaan lain?". Murat mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
" Iya kak, mulai minggu depan aku akan ditempatkan sebagai sekertaris COO (Direktur Operasional). Papah bilang aku harus lebih banyak belajar dari Om Wira."
Murat mengangguk mengerti. Pastinya Irine sudah dipersiapkan untuk menggantikan posisi ayahnya suatu hari nanti, karena tidak ada lagi pewaris keluarga Wijaya selain dirinya.
Murat melihat jam tangannya, sebentar lagì waktu pulang kerja. " Baiklah aku harus melanjutkan pekerjaanku, sebentar lagi jam pulang kantor".
" Baiklah kak,ehmmmm...bolehkah aku pulang bersamamu kak, tadi aku diantar sopir, tapi sudah aku suruh pulang, Karena aku pikir Papah tidak ada pertemuan lagi, tidak tahunya Papah ada kunjungan lagi hehehehe..."
Murat mengangguk, meskipun sedikit heran dengan alasannya. Tetapi dia tidak ambil pusing
" Baiklah biar aku menyelesaikan pekerjaanku dulu"
Irene mengangguk dengan semangat, inilah hal yang dia tunggu sejak dulu. Bisa berduaan dengan pujaan hatinya.