Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENYUMAN SOSOK BERBAJU HITAM
Acara yasinan yang di selenggarakan untuk mendoakan arwah, Pak Anwar pun begitu khusuk. Semua sanak keluarga hadir, begitu juga keluarga Pak Ardi yang dengan sigap membantu segala hal yang di lakukan di sana. Bahkan, mereka rela meninggalkan sawah mereka yang sebentar lagi akan panen, dan kala itu sedang banyak-banyak nya hama tikus yang kalau tidak di perhatikan, akan memakan habis tanaman padi mereka.
"Kita dahulukan kepentingan keluarga Almarhum kakakmu dulu, Bu. Sawah biarkan saja dulu. Insyaallah, kita masih kebagian." Ucap Pak Ardi memberi nasehat kepada istrinya, Rahma.
"Makasih, yo Pak." Bu Rahma yang terlihat sangat terpukul karena kehilangan kakak satu-satunya yang meninggal mendadak itu, sangat terharu oleh pengertian suaminya.
"Wes, Bu. Seng penting Ibu kuat. Ayo kita bantu yang lain siapin takjilnya. Terus kita ikut ngaji sama-sama. Nduk, Wardah di mana, Bu? Jangan lupa, dia juga suruh cepat siap-siap." Bu Rahma menghapus air matanya lalu mengangguk.
Di dalam kamar, Sulis nampak terlihat biasa saja. Berbeda dengan Rohmat yang terlihat begitu sedih akan kehilangan sosok mertua yang sangat baik kepadanya, walau hanya sekedar menantu. Banyak hal yang ia pelajari dari sosok Pak Anwar, dalam menjalankan bisnis pertaniannya.
"Cengeng banget sih kamu, Mas. Yang mati ya sudah biarin aja. Nggak perlu terlihat sedih begitu. Eneg aku lihatnya. Kayak aku aja yang mati. Sampe kamu nangis kehilangan nggak berhenti-henti." Sulis menatap muak suaminya.
"Astagfirullah, dia itu Bapakmu, Lis. Dan sudah ku anggap, Bapakku juga. Dan Bapak itu orangnya sangat baik. Ya wajar aku merasa kehilangan akan sosok dirinya. Aku heran, kamu kok bisa sesantai itu kehilangan Ayah kandungmu sendiri, Lis."
Sulis hanya melirik suaminya malas. "Ngapain juga harus bersedih, lalu menangis. Yang mati, ya sudah mati. Mau di tangisi pun, nggak akan balik lagi. Hanya orang lebay kayak kamu saja, yang sampe segitunya menangisi orang mati. Sudah! Aku males ngomong sama kamu. Sana keluar, katanya mau ikut ngaji buat doain, Bapak." Ucap Sulis dengan mengusir suaminya, sedangkan dia kembali menatap layar ponselnya.
"Loh, emang kamu nggak ikutan ngaji, Lis?" Tanya Rohmat.
"Nggak! Aku lagi datang bulan. Sudah! Jangan banyak tanya lagi, cepet keluar sana. Bikin eneg aku aja kamu." Cerca Sulis dengan sikap acuh.
Rohmat menggeleng kepala menatap istrinya yang
tidak pernah menghargainya. Dia pun melangkah keluar.
Sulis tersenyum senang melihat kepergian, Rohmat.
Dia pun kembali menatap layar ponselnya, dan kembali mengetik komen-komen yang rata-rata ucapan bela sungkawa dari teman-temannya.
Di luar Laela nampak tidak menyukai keramain di rumahnya. Sewaktu hidup bawel banget. Sudah mati pun, bikin rame rumah. Bikin gerah saja. Jadi bosen kalau lama-lama begini. Nggak bisa kemana-mana lagi. Hufft... pengen ke warung, Emba Anita nih. Huh... mana ngajinya sampe seminggu lagi. Tuh orang tua, mati juga masih menyusahkan orang rumah.
Laela termenung di kamarnya. Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar di telinganya.
"La, Laela. Ayo keluar sayang, ngajinya udah mau di mulai ni." Panggil Bu Saedah dari luar pintu.
Laela menghembuskan napas kesal, lalu bangkit membuka pintu. "Laela lagi datang bulan, Nek. Baru aja datang." Ucap Laela berbohong.
"Loh, kok sama dengan, Ibumu? Masa kok barengan gitu? Ayo ah! Kamu pasti cuma alasan." Bu Saeda memaksa Cucu perempuannya itu.
"Ye! Yang alesan pasti si, Ibu. Lalea mah beneran, Nek. Sini Laela kasih liat Nenek, kalau nggak percaya mah." Laela memegang lengan Neneknya, mengajak masuk kedalam kamar.
Bu Saedah hanya menghela napas dalam. "Ya sudah, nenek percaya. Tapi, kasian lo, ada Fitri sama Fia di luar." Ucap Bu Saedah membujuk.
Laela terlihat berbinar. Namun, kembali dia ingat, bahwa dia paling males mengaji, apa lagi membaca Yasin, yang ayatnya panjang banget.
"Nek! Masa karena teman datang aku harus mengaji?
Datang bulan ya datang bulan, Nek."
"Ya sudah. Nenek tinggal dulu." Bu Saedah yang kehabisan ide pun memilih pergi. Dia masih menyesalkan perbuatan anaknya Sulis. Entah, dia harus marah, atau memaklumi anaknya tersebut. Yang sebenarnya dia sudah tahu kebohongan anaknya itu sedari dulu. Tapi, karena tahunya sudah terlambat, Yusuf pun sudah terlalap api kala itu. Sejak itu, dia tetap menyembunyikan rahasia itu.
Dia pun kini menyesal, karena dia harus kehilangan suami yang sangat menyayanginya karena masalah itu. Namun pada akhirnya, dia tidak tahu harus berbuat apa. Air mata pun mengalir, sebagai tanda, hatinya tak sanggup menahan sakitnya kehilangan teman hidupnya, yang selama ini sangat baik dan perhatian kepadanya.
"Maafkan aku, Pak. Aku gagal mendidik anak perempuan kita." Bu Saedah mengusap air matanya.
Wardah yang tak sengaja melihat Bu Saedah menangis pun menghampiri. "Bude, ini semua sudah takdir Allah. Bude yang tabah Ya? Bude nggak sendiri kok, masih ada, Tante, Dan Om. Ada Beni, dan Laela. Ada juga kami yang kedepannya, akan sering berkunjung kemari. Jadi, Bude nggak akan merasa kesepian." Ucap Wardah yang terlihat prihatin kepada Bude nya, yang sejak kepergian Pak Anwar, tak terlihat seorang pun di sisinya untuk menenangkannya.
"Terimaksih Ya, Wardah, sayang. Kamu anak yang sangat baik. Bangga orangtuamu mempunyai kamu." Bu Saedah memegang tangan Wardah yang sedang memeluk pundaknya.
Wardah tersenyum. "Yu ngaji. Biar Arwah, Pakde, tenang di alam sana."
Bu Saedah tersenyum lalu mengangguk.
Acara pun berjalan lancar sampai akhir.
Semua orang berjalan keluar, kembali ke rumah masing-masing. Dengan berbisik mengungkapkan banyak pertanyaan yang sedari tadi mereka simpan.
"Embah, kabarnya, Pak Anwar meninggal secara nggak wajar Ya?"
"Eh..., mana saya tahu. Saya tahunya pas mandiin, ada luka lebam, dan kepalanya yang bocor."
"Oh...! Jadi, nggak ada sangkutannya sama Arwahnya si Yusuf dan istrinya itu?"
"Di lihat dari lukanya sih, kayaknya nggak. Tapi saya mah nggak mau tau lah. Takut salah ucap saya." Embah Rofik terlihat ragu.
"Tapi, kata, Bu Saedah, Pak Anwar jatuh. Apa benar? Jatuh sampai kepala bocor gitu? Ngapain juga, Pak Anwar manjat-manjat tangga. Kan ada menantu, dan si Beni. Biasanya juga, mereka yang benerin kalau ada apa-apa di rumah mereka." Ucap Sobirin yang sempat bertanya kepada, Bu Saedah.
"Hust! Udah, jangan nebak-nebak. Nanti salah bicara, kita nanti di pecat dari pekerjaan kita di kebunnya, Pak Anwar." Tegas Embah Rofik menegur mereka.
Mereka pun kembali diam walau masih penuh dengan tanda tanya di dalam hati masing-masing.
***
Wardah membuang sampah di belakang rumah dengan kepala penuh dengan pikiran. Jujur saja ia merasa kehilangan dari sosok Pakde yang ramah dan baik hati itu. Dan yang lebih menggangu pikirannya ialah, ia sangat kasihan melihat Bude yang baik hati, terlihat sangat terpuruk. Dia tahu persis, keluarga Bude nya itu, tak begitu perhatian kepadanya. Bahkan, meninggalnya Pak Anwar pun, mereka bukannya selalu di sisi Budenya, malah mereka masih tetap sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Keluarga orang kaya itu aneh Ya? Mengapa, nggak ada toleransi sesama keluarga sedikit pun. Jadi serem, kalau orang tuaku kaya harta nantinya." Gumam Wardah menatap kegelapan dalam hutan yang tiada ujungnya.
Namun, seketika lamunannya buyar, kala melihat
sosok berbaju hitam berdiri di samping pohon besar di samping rumah.
Wardah melangkah mengendap, ingin tahu siapa orang itu. Karena beberapa kali ia melihat sosok itu, tapi selalu saja kehilangan sosoknya saat ia kejar.
Sosok itu terlihat bergumam. Persisnya terdengar seperti mengucapkan mantra. Setelah selesai, di tiupnya abu yang ada di mangkuk yang terbuat dari tanah liat itu.
"Nikmatilah segala kesengsaraan yang telah kau tabur dulu. Senyum di balas senyum, air mata di balas air mata, sakit di balas sakit, dan mati di balas dengan kematian pula. Haha... walau aku sangat menikmati akan segala rasa ketakutanmu. Namun, aku akan lebih puas melihat tangisan kesengsaraanmu, sebelum nyawamu aku ambil esok hari." Sosok itu menyunggingkan senyuman miring menatap nyalang ke rumah yang terlihat sangat besar dan mewah itu.
Tiba-tiba tutup kepalanya di tarik oleh seseorang.
"Hai! Siapa kamu?! Mengapa kamu ingin mencelakai keluarga saudaraku?" Tegas Wardah dengan suara agak keras.
Pria itu panik. Untungnya keadaan sangat gelap, dan sepi. Hingga Wardah tak begitu jelas melihat rupa wajahnya.
"Mereka pantas mendapatkannya. Ingat, jangan sekali-kali kamu memberitahu apa yang aku ucapkan barusan. Karena kamu, bukanlah bagian dari mereka." Pria itu segera berlalu meninggalkan Wardah yang terkejut akan ucapan pria itu. Wardah terpaku mencerna kata-kata pria itu.
"Hai! Apa maksudmu! Tunggu! Tolong jelaskan apa maksud ucapanmu!" Ucap Wardah setelah tersadar. Ia mencoba mengejar, namun kegelapan menyulitkannya untuk mengetahui kemana sosok pria berbaju hitam itu pergi.
Wardah dengan kecewa kembali. "Apa maksudnya barusan? Dan, kata-kata dia barusan juga... Air mata di balas air mata... Dan... mati, di balas kematian. A-apa maksudnya...? Ya Tuhan..., apa pun yang terjadi, ku mohon lindungilah keluargaku."
Wardah semakin ketakutan dengan kata-kata itu. Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam rumah.