NovelToon NovelToon
Anshela

Anshela

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:127.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Bel pulang sekolah berbunyi, tapi Shela masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Mungkin ia akan tetap di sana sambil suasana sekolahnya agak sepi, baru setelahnya dia akan pergi.

Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya Shela mulai beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kelasnya. Suasana sekolah benar-benar sudah cukup sepi, mungkin yang tersisa hanya mereka yang sedang melakukan kegiatan ekstrakurikuler dan mereka yang memiliki jadwal piket harian.

Shela berjalan dengan santai di koridor, ia menjepit skateboard-nya dilengan sebelah kiri sedangkan kedua lubang telinganya dia tutupi dengan earphone. Rambutnya masih tergerai indah meski sebagian lagi tertutup oleh Hoodie, mulutnya juga bergerak mengunyah permen karet.

Untuk menuju ke gerbang sekolah Shela harus melewati lapangan terlebih dahulu, dan di sana masih banyak para murid yang sedang berlatih ekstrakurikuler. Seketika beberapa dari mereka mengalihkan pandangannya ke arah Shela, ia hanya cuek dan terus berjalan menghiraukan tatapan itu.

Beberapa dari mereka bahkan terang-terangan menggodanya, Shela terus berjalan dan mengabaikan orang-orang itu, beruntung earphone di telinga menyelamatkannya, sehingga ia bisa berpura-pura tidak mendengar mereka.

Dari jarak yang cukup jauh dia bisa melihat Dika dan teman-temannya sedang duduk beristirahat di bawah pohon besar, mereka sepertinya sedang berlatih Basket.

Dika, Marvin dan lainnya mengalihkan atensi mereka pada sosok Shela yang tengah berjalan mendekat. Dalam hati Marvin berharap Shela akan menghampirinya dan menempel seperti kebiasannya dulu. Sayangnya semua harapannya pupus begitu Shela hanya melewatinya tanpa melirik sedikitpun.

Bukan hanya Marvin, Dika juga berharap hal yang sama. Ia berharap Shela akan menghampirinya dan memintanya untuk mengantarkan gadis itu pulang. Dan ya Dika juga kecewa karena semua itu hanya harapan saja.

Sesampainya di luar gerbang, Shela meletakkan skateboard-nya di aspal lalu ia mulai menggunakannya untuk menuju ke rumah. Di tengah perjalanan,ia merasa perutnya berbunyi. Shela baru ingat jika hari ini dia tidak beristirahat karena malas.

Sebelum sampai di rumahnya, dia mampir terlebih dahulu di warung yang ia lewati untuk membeli roti atau biskuit yang bisa mengganjal perutnya yang keroncongan. Shela duduk di depan warung sambil menghabiskan makanannya. Setelahnya ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya.

Shela masuk ke pekarangan rumahnya, ketika sampai di teras dia berhenti dan membawa skateboard nya menuju ke dalam rumah.

Shela tidak menyadari jika dari tadi ada seseorang yang memperhatikannya dari atas balkon. Dia adalah Anggara, kakak keduanya. Laki-laki itu cukup terkejut dengan penampilan Shela ke sekolah juga kemampuan gadis itu dalam memakai papan skateboard.

Anggara mengira jika penampilan Shela berubah hanya ketika berada di rumah saja, ternyata di sekolah pun penampilan gadis itu ikut berubah.

Entah mengapa melihat perubahan adiknya sekarang, membuat Anggara merindukan sikap Shela yang dulu, manja dan ingin selalu dekat dengannya. Padahal dulu dia begitu risih setiap kali Shela bersikap manja padanya, tapi sekarang Anggara malah ingin gadis itu kembali seperti dulu.

Anggara berpikir apakah sikap dingin Shela juga akan ditunjukkan kepada papahnya? Atau justru gadis itu masih bersikap manja? Maka dari itu Anggara selalu meminta papahnya untuk segera pulang, supaya dia bisa melihat bagaimana sikap Shela pada papahnya.

Shela masuk ke dalam kamarnya, ia menyimpan tasnya di meja belajar. Ia merebahkan dirinya sebentar untuk menghilangkan rasa penat di tubuhnya. Padahal di sekolah dia tidak melakukan aktivitas berat, tapi kenapa tubuhnya terasa penat?

Shela menghela napasnya, dia sejalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelahnya ia mengganti seragamnya dengan pakaian rumah. Ia berjalan menuju meja belajar, karena malam nanti dia ingin lantu belajar gitar, maka dia memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya sekarang.

Shela mengeluarkan beberapa bukunya dan fokus mengerjakan pekerjaan rumah.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya, Shela merapihkan bukunya . Ia mengambil gitar miliknya lalu mulai belajar beberapa kunci yang belum ia kuasai. Shela itu cerdas,makadari itu dia sangat mudah untuk belajar sesuatu.

Malamnya Karana bosan dia mulai kembali melancarkan permainan gitarnya. Bisan bermain gitar di dalam kamar, dia membawa gitarnya menuju taman samping rumahnya. Dia mengambil ponselnya dan mulai mengikuti kunci yang di tambilkan di layar ponselnya. Sudah cukup belajar gitar,dia memasang earphone di telinganya. Ia menikmati musing yang ia dengar sambil menatap langit malam yang cukup cerah.

Shela terbawa suasana, tanpa saat ia bersenandung, sesekali ia juga bernyanyi. Suara Shela terdengar merdu dan lembut, ia memejamkan matanya meresapi setiap lirik yang dia nyanyikan.

Hanya dengan suara merdunya saja akan membuat siapa saja yang mendengarnya akan tenggelam dalam alunan lembut suara Shela.

Shela mengakhiri nyanyiannya, ia tersenyum tipis, dirinya meras lebih baik setelah bernyanyi. Tanpa di sadari sedari tadi ada seseorang yang ikut menikmati suara merdu miliknya, apalagi melihat senyum Shela membuat orang yang memperhatikannya itu terpesona.

Di pintu samping ada Dika dan Marvin yang tak sengaja mendengar Shela bernyanyi. Sedangkan tak jauh dari mereka Anggara ikut menikmati suara merdu Shela.

Gue baru tau kalau lo punya suara semerdu ini, Shela. Gue juga baru tau kalau Lo suka gitar dan rela belajar sendiri. Apalagi si yang gek gue tahu dari diri Lo?  Batin Anggara.

___

Dengan napas terengah-engah dan keringat membasahi dahinya, Shela berlari sekuat tenaga menuju sekolah. Ia teringat akan tugas yang terabaikan karena seharian belajar bermain gitar kemarin. Sungguh ironis, di tengah malam yang sunyi ia baru tersadar bahwa tugas itu harus diserahkan pagi ini. Akibatnya, ia harus berkutat dengan lembarnya hingga dini hari, membuatnya bangun kesiangan pada hari yang sungguh tidak tepat: Senin, saat gerbang ditutup lebih awal karena upacara.

"Paak!!!" teriaknya penuh harap sambil menghambur ke gerbang yang nyaris tertutup oleh satpam. Langkahnya yang terburu-buru berhasil membawanya melewati gerbang tepat waktu.

"Terima kasih banyak, Pak," Shela berucap sambil berusaha mengatur napas.

Satpam itu hanya menggelengkan kepala, senyum simpul terkembang di bibirnya. "Ampun, Neng. Beruntung bapak belum sempat mengunci gerbang. Kalau sudah, ya sudah, nggak bisa buka lagi."

"Maaf, Pak," kata Shela sembari terkekeh kecil lalu bergegas melanjutkan larinya menuju lapangan upacara, berusaha tak membuang waktu satu detik pun lagi.

Kesialan Shela tak berhenti sampai di situ, ketika ia berada di lorong menuju ke lapangan, dia bertemu dengan ketua OSIS menyebalkan. Shela pura-pura tidak melihat dan melangkah begitu saja.

Dion tersenyum simpul, memperhatikan Shela yang sengaja menghindari pandangannya. Dia mendekati gadis itu dan dengan cepat menahan tas Shela, membuatnya terhenti seketika. "Mau ke mana?" tanyanya dengan nada yang menyiratkan penasaran.

Shela berbalik, wajahnya mencerminkan kekesalan. "Ke kelas, mau simpan tas gue," jawabnya singkat, matanya tidak lepas dari Dion.

Dion mengamati Shela dari atas ke bawah, nada bicaranya meninggi, "Baru kemarin lo taat peraturan, sekarang sudah melanggar lagi. Mana dasi dan topi lo? Belum lagi lo udah terlambat dan tidak mengenakan atribut sekolah lengkap."

Shela berdecak keras, jengkel. "Berisik! Lepasin dulu tangan. Lo!" desaknya.

Dion akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya dan Shela, dengan gerakan cepat, mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Ini, gue bawa. Ribet banget sih!" keluh Shela, raut wajahnya memperlihatkan rasa terganggu yang mendalam.

"Bagus, cepat ke lapangan," ujar Dion, mengakhiri interaksi mereka dengan tatapan yang tajam.

"Terus tas gue gimana?"

Dion mengulurkan tangannya, berusaha meyakinkan. "Biarkan gue yang pegang."

Namun, Shela memeluk tasnya erat-erat. "Gak, gue takut lo akan melakukan sesuatu pada tas ini," ujarnya dengan nada curiga.

Dion memandangnya dengan ekspresi tak percaya. "Ya ampun, segitu curiganya lo sama gue? Apakah wajah gue terlihat seperti orang jahat?"

"Semua bisa terjadi," balas Shela tajam, matahari semakin terik memantulkan bayangan mereka berdua.

"Tuh, lihat! Pak Santoso slahi keliling,lo tinggal pilih aja, mau dihukum atau upacara dan titipin tas Lo ke gue," Dion mencoba meyakinkan dengan menunjuk ke arah sosok yang dikenal sebagai guru kedisiplinan yang paling ditakuti di sekolah itu, yang sedang berjalan di kejauhan.

Shela menoleh, dan benar saja—dari kejauhan, dia bisa melihat siluet tegas Pak Santoso. Tidak ada pilihan lain, dia harus membuat keputusan. "Oke, tapi awas kalau lo berani macam-macam dengan tas gue!" Ancam Shela dengan nada serius.

"Iya, cepatke lapangan, dan jangan lupa pakai semua atribut lo," ujar Dion sembari membalas dengan nada yang setengah menggurui.

"Iya, bawel!" seru Shela sambil berlari menuju lapangan, segera memasang dasinya.

Dari kejauhannya, Dion memperhatikan sosok Shela yang berlari itu. Hatinya terasa semakin tertarik—benar kata Faris, terkadang perasaan benci bisa berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak terduga.

1
Tiavitri Vitri
maaf ya tor lama2 malas mo baca,prasaan diawal udah bagus lama2 bosan,
Arum Oke
👍
Nita Renita
ayok Shella kamu pasti bisa 😃👍
david 123
oh...kenapa tdk diproses ya melakukan kekerasan di lingkungan sekolah...malah di biarkan...lanjut thor..
david 123
Ubah alurx thor,Shela selalu tersiksa ya ,dr awal cerita..kapan nasibx baik..,he...he....
Xiaomi Note 14
bodoh, kan sidik jari ada prcm polisi klw gk di prkaa sdik jeri ,nya asl nduh.
kalea rizuky
novel paling buruk yg pernah q baca sejauh ini muter bertele tele pokok bkin mood baca anjlok
kalea rizuky
novel g guna pantes sepi like wong MC goblok biarin aja bokap lu nyesel uda bodo amat ma dika ma bokap lu yg oon ehh ini masih aja mau balik tololllllll q ksih rating jelek biarin slaah sendiri bkin pembaca sebelll
kalea rizuky
kn karena lu semua. bego yg buat novel lebihhh beggggg
kalea rizuky
pecundang semua sella goblok lengkap bgt ne novel paling bego
kalea rizuky
sela. jd goblok terlalu menye menye skip g jelas ne novel
atun atun
lnjutkan
Rita Rita
seorang Dika hanya pecundang sejati laki laki banci,, dulu berjanji mau lindungi Shela,, ini yg salah Dika apa author ya 🤔
Rita Rita
heran sama si author,, udah 2 x Shela dibuat mati,, apa ini tokoh utama dibikin mati beneran 🤔🤣 yg bikin geli itu kaum keluarga Shela,, katanya terpukul atau apalah kalo nurut AQ cuma preetttt,,
Rita Rita
aduh Thor,, sekali kali ga langkah gontai untuk Shela kenapa sih,,
Rita Rita
Shela ga ada punya langkah tegas langkah gontai Mulu,, kapan ada bahagia kalo hidup terus menerus dibebani konflik, masa iya hidup monoton di situasi yang sama.
Rita Rita
heran aja sama si Shela katanya pinter,, tapi kok bego nya makin gedein ya,, masa udah 2 x masih masuk lobang yang sama,,
Rita Rita
cerita nya muter muter gitu aja ga ada titik temunya, berbelit tanpa ada narasi yg jelas,,,
Lenty Fallo
lnjut thor upnya...💪❤️
atun atun
tokoh utama benaran gk sih ni meninggoi
parah ini thornya
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!