Karena suatu perjodohan, Ayline menikahi Oswald. Seorang pengusaha muda, sukses di banyak negara yang diidam-idamkan oleh banyak wanita.
Musibah menimpa saat usia pernikahannya masih seumur jagung.
Dalam keputusasaan, Ayline bertemu dengan seorang pria pengertian yang mampu membuat Ayline berdebar di tiap pertemuan keduanya.
Bagaimana kelanjutan kisah Ayline dalam mencari kebahagiaan dan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KP 18 - Penolakan
“Mommy?!” gumam Ayline saat melihat nama Ibu mertuanya muncul sebagai id penelepon.
Syila yang menyadari perubahan air muka Ayline, jadi menduga-duga mengenai hubungan antara Ayline dan seseorang yang disebutnya Mommy. Siapa pun itu, sepertinya hubungan Nyonya dengannya tak begitu baik, batin Syila.
“Syila, sebentar ya. Aku terima panggilan dulu,” pamit Ayline kemudian ia mengambil jarak dari Syila.
Entah apa yang dibicarakan Ayline di telepon, sedikit pun suaranya tak bisa didengar oleh Syila. Akan tetapi, dari jauh Syila bisa mengamati raut wajah Ayline yang tampak murung. Syila bisa menduga jika apa pun pembicaraan mereka sepertinya tak berjalan baik.
Cukup lama Ayline bicara di telepon. Selama itu Syila tetap menunggu, duduk diam di tempatnya.
“Maaf ya, jadinya kamu menunggu lama,” ucap Ayline. Dia kembali duduk di posisinya semula. Namun, air mukanya tak lagi sama seperti sebelumnya. Walau Ayline tetap tersenyum, namun Syila tahu jika senyuman itu adalah senyuman yang dipaksakan oleh Nyonya-nya.
“Nyonya, apa terjadi sesuatu?”
Ayline melebarkan senyumnya kemudian menggeleng. Dalam hati Syila merutuki dirinya. Harusnya dia tak perlu ingin tahu. Kalau Ayline yang banyak ingin tahu, sah sah saja sepertinya. Siapa juga yang bernai menegurnya. Tapi jika itu dirinya, sepertinya kurang pantas.
“Tidak ada yang terjadi,” jawab Ayline singkat.
“Eh, Syila ini nomor ponselku. Kirimi aku nomormu. Kita bicara lagi nanti. Aku harus segera pergi.” Setelah pamit, Ayline segera pergi. Wanita itu bahkan menolak saat Syila menawarkan diri untuk mengantarnya kembali ke ruangan Oswald.
...…...
“Dari mana saja kamu?” tanya Oswald saat Ayline kembali ke ruangannya.
“Aku hanya berkeliling,” jawab Ayline.
Oswald memperhatikan raut wajah Ayline yang tampak berbeda dari sebelum dia pergi. Dari laporan Denis, istrinya itu baru saja menemui seorang buruh wanita.
“Berkeliling untuk menemui seorang buruh, itu maksudmu?”
Kening Ayline mengernyit. “Kamu mengikuti aku, Mas?”
Tak menjawab, Oswald malah tertawa. “Ay, apa kamu lupa suamimu cacat?! Jangankan mengikutimu, ke kamar mandi saja aku kesulitan.”
“Lalu bagaimana kamu tahu jika aku bertemu dengan seorang teman? Denis atau siapa pun yang mengikutiku, pasti melakukannya atas perintahmu juga kan?!”
Oswald masih tertawa. “Aku hanya bersikap perhatian sebagai suami. Jika kamu tersesat, aku juga yang susah. Kamu kan tanggung jawabku,” ucap Oswald memberi alasan.
“Lagian, sejak kapan kamu berteman dengan seorang buruh,” lanjutnya. “Ingatlah kamu siapa, Ay. Jangan permalukan aku.”
Ayline tak percaya dengan ucapan suaminya. Apakah begini watak Mas Oswald yang sebenarnya? Batinnya. Ia tahu ini tak pantas, tapi mengapa terbersit sedikit penyesalan atas keputusannya menikahi Oswald.
“Mas! Aku enggak pernah ya membeda-bedakan seseorang. Aku akan berteman dengan siapa saja,” tegas Ayline.
Cukup sudah dulu, semasa sekolah dan kuliah dia tak memiliki teman karena tuntutan keluarganya yang mengharuskan dirinya untuk fokus belajar, belajar, dan belajar. Sekarang, Ayline tak ingin lagi merasakan sepi karena tak memiliki seorang teman sebagai tempatnya berbagi cerita.
“Terserah padamu, ingin berteman dengan siapa saja. Aku hanya mengingatkanmu, kenali dirimu. Tahu di mana posisimu. Aku lelah mengingatkan jika kamu ini seorang Nyonya Pallas,” ucap Oswald.
“Kamu harus lihat bagaimana aku yang sekarang. Aku bukan Oswald yang dulu, suamimu ini hanya pria cacat. Beruntung kita punya nama besar keluarga Pallas, hingga membuat orang lain masih menghormati kita. Pahami itu, Ayline!”
“Jangan membantah dan cukup dengarkan ucapanku, Ayline. Aku sedang tak ingin berdebat.” Oswald segera menghentikan perdebatan mereka.
“Kamu egois, Mas!” Tanpa pamit, Ayline pun keluar dari ruangan suaminya. Lebih baik dia pulang dan menenangkan dirinya.
Belum hilang tekanan yang diberikan oleh Ibu mertunya lewat telepon, suaminya malah menambah beban pikirannya lagi. Bagaimana bisa hamil jika hubungan kami semakin hari semakin merenggang, batin Ayline.
...…...
Sejak pulang dari pabrik, Ayline mengurung diri di kamar. Hidangan makan siang yang disiapkan oleh Pak Albert di kamarnya, tak disentuh sama sekali.
Oswald yang baru pulang segera meminta Denis membereskan makanan-makanan itu dan menggantinya dengan yang baru. Tahu jika Ayline akan sulit diajak makan malam di meja makan, Oswald memutuskan untuk makan malam di kamar saja bersama Ayline.
Ayline menghentikan kegiatannya yang sedang membaca buku di sofa. Setelah Denis keluar dari kamar mereka, dia pun membantu Oswald untuk membersihkan diri. Bedanya, kali ini dia lebih banyak diam. Ayline hanya bicara saat Oswald bertanya padanya.
“Apa tadi Mommy menghubungimu?” tanya Oswald saat Ayline membantunya menggosok punggung.
“Hem,” jawab Ayline dengan dehaman.
“Apa yang kalian bicarakan?”
Ayline heran, apa mungkin suaminya sedang mengujinya? Jika tanpa ia katakan Oswald sudah tahu bahwa Mommy Raya menghubunginya, bukankah harusnya dia juga sudah tahu apa yang Mommy Raya bicarakan.
“Kupikir kamu sudah tahu apa yang kami bicarakan,” jawab Ayline.
“Tentang anak, lagi?!” tanya Oswald namun lebih mirip seperti sebuah keluhan.
“Ya, Mommy pikir hubungan rumah tangga kita sedang ada masalah.” Walau tadi sempat berpikir untuk merahasiakan pembicaraannya bersama sang Ibu mertua, namun sepertinya Oswald tetap akan tahu. Jadi, Ayline pikir lebih baik dia bicarakan saja.
“Lalu kamu beritahu Mommy apa sebenarnya masalah kita?” Oswald panik, ia bahkan menghentikan tangan Ayline yang masih menggosok punggungnya.
“Aku tak berpikir kita ada masalah, Mas. Mengenai anak, itu rahasia Ilahi,” ucap Ayline.
“Kita hanya harus berusaha, bukan?” tanya Ayline.
Benar, bukan? Ayline merasa usaha mereka yang memang masih kurang. Apalagi setelah Oswald mulai mengalami ej*kul*si dini. Suaminya itu jadi takut untuk mencoba.
Pertanyaan Ayline menjadi angin lalu. Oswald sengaja mengabaikan pertanyaan itu. “Cepat selesaikan, aku lelah,” ucap Oswald melepas tangan Ayline.
...…...
Malam semakin larut, Oswald merasa kantuk mulai menyerangnya. Ayline yang melihat suaminya sudah selesai bekerja dengan laptopnya bergegas ke kamar mandi untuk mempersiapkan dirinya.
Di kamar mandi, Ayline mengganti piyama tidurnya dengan baju dinas malam yang sangat pas ditubuhnya. Parfum dengan perpaduan aroma red berries dan pear, menimbulkan kesan aroma yang manis, sensu*l, dan feminim semakin menambah kepercayaan dirinya.
“Ayo kita berusaha!” gumam Ayline di depan cermin seraya mematut dirinya lagi. Memastikan penampilannya mampu menggoda sang suami.
Ayline keluar kamar mandi dengan langkah perlahan. Ia mendekat ke tempat tidur di mana Oswald sudah berbaring di bawah selimut tebal. Lampu utama kamar pun sudah pria itu padamkan.
Ayline naik ke tempat tidur, ikut masuk ke bawah selimut dan sedikit kecewa saat menyadari jika Oswald berbaring memunggunginya. Jangan menyerah Ayline, kamu sudah siap bukan?! Jangan mundur, batinnya.
Ayline pun dengan lembut mengusap punggung Oswald. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh suaminya, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.
“Mas ….”
“Heem,” jawab Oswald dengan dehaman tanpa menoleh pada Ayline.
“Aku merindukanmu,” ucap Ayline. Ia bahkan dengan berani menarik satu tangan Oswald dan meletakkan tangan itu di bagian dadanya.
Terdengar helaan napas Oswald. Ia menarik kembali tangannya menjauh dari tubuh Ayline. “Aku lelah, Ay.”
“Tatap aku, Mas. Lalu katakan jika kamu menolakku lagi malam ini!” pinta Ayline.
...——————...
kita bongkar
saat membuat novel konflik pemeran utama pria (suami) salah maka istri dibuat tegas pergi dan tidak memaafkan dan menerima kembali, suami dibuat nangis menyesal ngemis maaf, berjuang keras dapat kesempatan, dan akan dihadirkan lelaki lain yang baik pada istri dan dipuja2
tapi banding
novel yang pemeran utama wanita salah bahkan selingkuh sekalipun bahkan kayak pelacur tebar pesona dengan banyak pria, apa yang terjadi itu bukan dianggap kesalahan, mala dibela dibilang romantis (menjijikan), bahkan author berjiwa munafik ini malah membenarkan semua kelakuan menjjijikan pemeran utama wanita (yang artinya sama saja dia membenarkan kelakuan menjijikan dirinya sendiri), sang suami dibuat kayak orang bodoh harus Terima saja diperlakukan kayak gitu
dan karya2 mu kita bisa sifat aslimu yaitu munafik dan murahan
saat suami salah kau laknat tapi kau membenarkan semua kelakuan mu bahkan selingkuh dan kayak wanita murahan tebar pesona pada banyak lelaki kau benarkan,
jika berkenan mampir dikaryaku judulnya Karena Amin Yang Sama🙏