Semua bermula dari keisengan dan kenakalan remaja SMA, sosok Pandu lelaki badboy terpaksa menikahi teman wanita yang sering ia bully.
Pernikahan yang tidak dilandasi rasa cinta melainkan karena sebuah tanggung jawab karena Pandu telah membuat gadis tersebut buta untuk selamanya.
Akankah kedua musuh ini akan menemukan cinta setelah menikah? Dapatkah Pandu mencintai gadis yang telah di buat buta olehnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemesraan
Suara geluduk datang tanpa di undang, di pagi hari yang baru saja menampakkan mentari.
Awan hitam berbondong-bondong menyatu seakan-akan ingin berperang menciptakan kilat petir dan kemudian menjatuhkan gerimis ke tanah bumi.
Pandu mulai mengecupi pipi Dewi, dan turun ke leher. Tangannya membelainya dengan kasih sayang yang tak pernah ia berikan pada siapapun.
Suasana yang mendukung ditengah dinginnya cuaca mereka membutuhkan kehangatan.
Tangannya mulai berjalan liar menarik dasternya ke atas hingga terlihat kulit putih dan mulus.
Gerimis semakin deras, langit tak lagi terang karena mega mendung membentengi sinar mentari pagi. Hujan lebat pun mengguyur jalan-jalan dan membuat kebisingan dari atas genteng.
Tok tok tok
"Non Dewi.., Mas... Pandu.. " Teriak bik Asih datang terburu-buru dengan pakaian yang sedikit basah. Napasnya juga tersengal-sengal habis berlarian agar tidak kehujanan.
"Astaga bik Asih datangnya cepet banget sih, belum aja mulai...," gerutu Pandu
Dewi terkekeh kecil,
"Jangan ketawa kamu, ntar malem habis kamu ku makan," ancam Pandu tetapi membuat Dewi terkekeh lagi
"Haha udah sana bukain, kasian bik Asih di luar kan hujan," sahut Dewi
Pandu sedikit lucu terkadang dia berbicara lu-gue, aku-kamu, sesuka hatinya mungkin karena belum terbiasa karena lebih sering memakai bahasa gaul.
Pria itu berjalan sedikit tak enak, karena miliknya sudah mengeras dan tertahan karena waktu yang tidak mendukung. Di elus miliknya itu agar kembali normal.
Cek lek.
"Bik, kehujanan ya... " ucap Pandu
"Eh....," ucap Bik Asih tidak meneruskan kalimatnya karena dia langsung membatin
Duh apa aku ganggu ya, pintunya di kunci jangan-jangan mereka lagi anuu... duh jadi ga enak batin Bik Asih
Tak berapa lama Dewi keluar dari kamar dan menuju ke belakang tempat cucian.
Nah kan bener, pasti mereka mah gituan batin Bik Asih lagi.
"Maaf ya Mas, bibik tadi kena gerimis, mana lagi hujan deres pas sampe sini,"
"Kok minta maaf bik, ya baguslah kalau cepet-cepet sampe, kan biar ga kehujanan," ucap Pandu
"Heleh Mas Pandu nih loh, sok-sokan gak tahu hehe. Emangnya bibik gak pernah nikah, bibik juga pernah jadi pengantin baru. Jadi maaf ya kalau keganggu," jelas Bik Asih
"Hehe ya gak usah di perjelas dong bik, Pandu kan jadi malu," ucap Pandu
Kemudian ia kembali keluar, motor yang seharusnya dicuci malah terkena air hujan. Ia pun segera mendorong hingga batas kanopi garasi. Kemudian melanjutkan cucinya dengan memberikan sabun deterjen pakaian, maklumlah Pandu tidak punya uang untuk membeli sabun atau shampo khusus motor.
Satu jam lagi adalah jam delapan. Ia berharap hujan akan reda sebelum pukul delapan
"Non, biar bibik aja yang terusin. Teras belakang licin, takutnya non salah langkah dan terpeleset," ucap Bik Asih setelah memotong-motong bahan makanan.
Ia sedang menunggu rebusan air matang. Rencananya dia ingin membuat soto dengan kecambah yang banyak bagus untuk Dewi jika ingin cepat punya momongan.
Bik Asih juga sudah mencuci bersih kerang, tinggal merebusnya. Bagus dimakan untuk Pandu. Juga Bik Asih sudah membeli bahan jamu untuk mata Dewi.
"Tapi Dewi gak enak sendiri kalau tidak mengerjakan apapun," ucap Dewi
"Mending Non Dewi lanjutin yang tadi tertunda hehehe," goda Bik Asih seraya berbisik
"Ihh bik Asih nih....," Dewi malu sendiri rupanya wanita paruh baya itu tahu apa yang tadi Dewi dan Pandu ingin lakukan.
Akhirnya Dewi menurut, dia tidak ingin menyusahkan orang-orang sekitarnya, terlebih kebutaannya itu bukan dari kecil sehingga semakin tidak terbiasa melakukan aktifitas tanpa melihat.
Jadi bersyukurlah kita yang masih bisa melihat hingga bisa membaca novel-novel author di noveltoon. Apalagi novel mahakarya Septira Wihartanti yang super keren dan sayang kalau dilewatkan.
Bik Asih mengerjakan tiga pekerjaan sekaligus. Memasak soto, merebus kerang, dan menjemur pakaian yang habis dicuci, ke lantai atas yang tertutup kanopi.
Bik Asih menurunkan tirai penutup agar tidak terkena tempias. Sedikit susah memang kalau menjemur di saat hujan.
Pandu juga sudah selesai mengeringkan motornya meski butut namun dia selalu menjaga kebersihan si motor kesayangan. Ia masuk ke dalam dan mendapati Dewi yang sedang menonton televisi lebih tepatnya mendengarkan televisi, karena tidak punya radio. Ponselnya sendiri habis raib di copet.
"Sayang," sapa Pandu mendekat dan merangkul pundak Dewi
"Iya sayang, udah nyuci motornya?" tanya Dewi
Sesaat ia melihat kondisi suasana yang tidak terlihat bik Asih. Sebuah kecupan mendarat di pipi istrinya.
"Udah, sekarang aku laper," bisik Pandu seketika menjadi manja
"Hihi geli ahh, kamu kumisan ya sekarang? Tunggu ya, bentar lagi mateng,"
"Aku mau makan kamu," Pandu terus mengusel-usel pipi Dewi memberikan kelitikan kecil. Dewi terkekeh lagi karena geli
"Ya namanya juga cowok, ada kumis tipis lah," timpal Pandu
"Aku boleh raba wajah kamu gak? Tiba-tiba wajah kangen udah lama gak lihat bentuk wajah kamu yang dekil," ucap Dewi sedikit terkekeh
"Haha eksotis ini, si bolang, makin item makin manis. Sini tangan kamu... Nih puas-puasin raba, sampe bawah juga daku rela," sahut Pandu mesem-mesem
"Ih itu maunya kamu," Dewi mulai meraba, pandangannya ke depan lalu dia mulai menutup matanya agar fokus dan sambil membayangkan.
Sebenarnya, Pandu tidak dekil, kulitnya juga tidak hitam namun juga tidak putih. Terkesan macho dan lelaki banget.
"Udah belum?" tanya Pandu
Dewi membuka matanya lalu tersenyum, "Udah,"
"Kunti,"
"Hemm,"
"Jangan senyum,"
"Loh emang kenapa?"
"Nanti hatiku makin tergoda," ujar Pandu dan langsung mengecup bibir Dewi
/Facepalm/
/Facepalm/
/Facepalm/
/Facepalm/
terima kasih banyak buat novelnya /Kiss/