Bukan salahmu karena kamu lahir dari seorang wanita yang belum menikah.
Tapi takdir begitu kejam. Hanya karena tidak punya Ayah, hampir semua orang mencemoohnya.
Saat mengetahui dia lahir dari pemerkosaan, Syahida bertekad untuk mencari keadilan buat ibunya yang selama ini telah berjuang sendiri merawat dan membesarkan dirinya..
Bisakah Syahida membuktikan kalau ibunya wanita baik-baik yang tidak mendapatkan keadilan
Dan bagaimana pula perjalanan cintanya?..
Yuuuk ikuti kisahnya di novel ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Beberapa hari berlalu, kehidupan meraka sungguh bahagia, kehadiran Syafa semakin menambah kebahagiaan mereka semua.
Sedang di kota, Kevin memeriksa hasil laporan anak buahnya tentang Fa'az. Kevin menggeleng melihat semua laporan tentang Fa'az.
"Ini jatah kalian plus bonus, terimakasih karena melakukan pekerjaan dengan sangat baik," Kevin memberikan amplop pada orang suruhannya.
"Bos, sepertinya ada juga yang mengincar incaran bos, saat kami mengikuti mereka pulang, ada mobil lain juga yang mengikuti mereka,"
"Kalau begitu tugas kalian lanjut, kalian gali informasi orang yang mengikuti Syahida, aku bayar separu dimuka," Kevin memberikan amplop lagi.
"Ini pasti butuh waktu bos, secara mereka pasti seperti kami, tidak mudah,"
"Semakin cepat kalian bisa mencari tahu, aku kasih bonus yang lebih besar," seru Kevin.
Orang suruhan Kevin langsung pulang dan memulai penyelidikan mereka.
***
Enam bulan sudah semua ini berjalan, namun tidak juga ada perkembangan berita siapa yang juga mengikuti Fa'az waktu itu.
Sedang kehidupan Syahida semakin bewarna, tingkah lucu Syafa yang semakin menggemaskan membuat suasana rumah kecil mereka semakin ceria.
Sore hari di rumah Syahida.
"Sayang, Syafa boleh ibu bawa? Ibu mau kerumah Bibil, ada acara disana, boleh ya …." pinta Kinar.
"Ibu kapan kembali?" Tanya Syahida.
"Habis magrib, nanti ibu minta suami Bibil antar kami pulang,"
"Iya bu, ibu bawa stok Asi aja," Syahida mempersiapkan keperluan bayinya.
Syahida selalu mengalah jika ibunya yang meminta, karena Kinar sedikitpun tidak bisa pisah dengan Syafa. Setelah keperluan Syafa selesai, Fa'az segera mengantar mertuanya kerumah sahabat baru mertuanya di desa tersebut. Setelah mengantar Kinar, Fa'az kembali kerumah.
"Halo manis, sudah lama kita tidak pernah berdua seperti ini," Fa'az memeluk Syahida dari belakang.
"Hem … jangan macam-macam,"
"Harus macam-macam, aku lelah puasa lama," seru Fa'az memojokkan istrinya.
Suasana desa yang sepi tidak berpengaruh pada suasana rumah itu, karena Kegiatan sore mereka yang hangat.
Fa'az tertidur di kamar mereka karena lelah berjuang sore tadi.
"Hei!!! Bangun!!! Sebentar lagi magrib!" Syahida membangunkan Fa'az.
"Owh, sudah gelap ya, kita magrib jama'ah yukk, sudah lama kita tidak berjama'ah,"
"Ayukkkk, aku rindu jadi makmum kamu sayang," seru Syahida.
Setelah selesai mandi, adzan magrib berkumandang. Syahida sudah selesai mempersiapkan keperluan Sholat mereka.
"Sudah siap?" Tanya Fa'az.
Syahida yang sudah selesai dengan mukenanya, mengangguk dan tersenyum. Mereka bedua menunaikan sholat magrib berjama'ah.
***
Di luar rumah, beberapa orang menyiram rumah Syahida dengan bensin, sekelilingan rumah itu mereka sirami dengan bensin. Setelah selesai mereka semua berkumpul dekat mobil mereka. Sedang salah satunya langsung melempar percikan api kearah besin, api pun langsung menyambar apa saja yang di tumpahi bensin itu.
Mereka semua langsung pergi dari area rumah Syahida dan Fa'az.
***
Syahida dan Fa'az baru selesai sholat magrib. Syahida mencium punggung telapak tangan Fa'az.
"Sayang, berjanjilah padaku, kalau kamu tidak akan membiarkan Syafa kekurangan kasih sayang," ucap Fa'az.
"Kamu bilang apa? Kita bedua akan melimpahi kasih sayang pada Syafa, Syafa tidak akan sepertiku yang tidak tahu kasih sayang seorang ayah, dia mempunyai orang tua lengkap yang …" perkataan Syahida terhenti saat melihat kepulan asap.
"Api???" Ringis Syahida.
Mereka berdua langsung berusaha menyelamatkan diri, namun terlambat, semua rumah Fa'az sudah di lalap kobaran api yang besar. Mereka berdua pasrah dan saling berpelukan, karena tidak bisa lagi kabur.
Fa'az menyelimuti Syahida dengan selimu tebal dan memeluknya kembali.
****
Di luar rumah para warga bekerja keras memadamkan kobaran api yang melalap kediaman Fa'az. Dengan bermacam cara semua warga berusaha memadamkan api tersebut.
Warga merasa lega karena mobil pemadam kebakaran datang ke area tersebut dan langsung melakukan tugas mereka. Beberapa menit api pun padam.
Namun melihat keadaan yang terbakar, tidak bisa berharap banyak andai di dalam rumah tersebut jika ada orang yang masih selamat.
****
Bersambung …
***
Apa yang terjadi pada Syahida dan Fa'az?