Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.
Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.
Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.
Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.
Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ardian datang
***
Darah Ardian terhenyak begitu menyadari kehadiran ketiga sahabatnya. Dia melirik, sedikit ragu untuk menyapa. Namun, Dimas Rindu dan Dian melewati meja Ardian begitu saja. Tanpa mempedulikan Ardian di dekat mereka. Ardian mulai sadar bahwa dia melakukan kesalahan, setelah melihat perlakuan sahabatnya barusan.
Dimas, Rindu dan Dian duduk di meja belakang Ardian. Sengaja membuat Ardian terganggu dengan kehadiran mereka.
"Dian, Rindu kalian pesan apa?"
"Aku milkshake coklat aja," jawab Rindu.
"Ermmm, kalau gue roti bakar dan jus alpukat," kata Dian kemudian.
"Roti bakarnya seperti biasakan?"
"Yooiii!"
"Ok, gue persen dulu, kalian tunggu disini, jagain nyamuk."
Ardian yang mendengar merasa tersindir, kata-kata itu jelas ditujukan untuknya.
"Beresss," jawab Dian dan Rindu bersamaan.
Sementara Ardian yang mulai terusik mengepalkan tangannya. Memang tidak salah ketiga sahabatnya itu menyindir. Penghianat memang pantas diperlakukan begitu. Dengan cara di diamkan dan abaikan akan membuatnya sadar dengan sendirinya. Semua perlakuan itu Ardian yang lakukan terlebih dahulu pada sahabat-sahabatnya.
"Ardi ... hei, kamu kenapa diam?" Dania—gadis berparas cantik yang sedang dikejar Ardian—menepuk tangan yang mengepal dan menyadarkan Ardian.
"Nggak kenapa-napa, kamu udah minumnya?"
"Belum nih, masih ada separuh, emang kenapa?" tanya Dania bingung.
"Ya udah, tinggalin aja, kita pindah tempat."
"Memang kenapa harus pindah?"
"Gak kenapa-kenapa, aku mau ganti suasana, kita pindah ya!" bujuk Ardian.
"Ya udah, ayolah."
Rindu yang melihat Ardian pergi semakin merasa kesal. Begitupun Dian dan Dimas. Mereka semua diabaikan begitu saja. Padahal Ardian yang salah karena mengkhianati mereka.
"Maunya apa sih itu anak? Kita dianggap apa selama ini? Kalau memang udah nggak mau temenan sama kita, seharusnya bilang aja terus terang. Jangan diam-diam gitu. Sialan, awas lo cicak gurun!" Dimas menggerutu.
Dian yang juga sudah tersulut emosi mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
"Sabar Dim, Yan …." Rindu mengusap pundak Dian menenangkan.
"Iya, Yan sabar, gue juga nggak terima diginiin. Kita itu temenan udah lama, tapi kelakuan Ardi kali ini tidak bisa gue maafin. Kita tunggu saja dia datang sendiri minta maaf. Kita gak usah ladenin dulu aja," tambah Dimas.
Mereka akhirnya memilih sabar menghadapi kelakuan Ardian yang seenaknya. Dari sifat Ardian yang mereka tahu, anak ini akan sadar setelah merasa kehilangan. Ardian yang kurang peka akan situasi sekitarnya sering membuat ketiganya jengkel. Sebab itulah Rindu memilih menyimpan rapat-rapat tentang perasaannya.
Kenyataan bahwa dia menyukai Ardian dalam diam, karena tidak ingin kehilangan sahabatnya yang lain. Mungkin saja Ardian akan merasa canggung dan Dimas akan menjauh. Karena Rindu tahu Dimas pernah menaruh hati padanya. Hanya Dian yang tau tentang perasaannya pada Ardian.
Geng yang beranggotakan empat orang kini hanya ada tiga. Biasa sebelum libur akhir pekan mereka berkumpul merencanakan hari libur besoknya. Dimas pun mengatakan niatnya untuk menjadikan Rindu vokalis band yang akan didirikan dengan teman sekelasnya. Rindu menerima ajakan Dimas dengan senang hati, tentu saja karena dia memang suka musik. Dian juga akan ikut serta dalam band itu.
Dimas dan Dian berteman sejak kecil, mereka sering menghabiskan waktu bersama. pertama kali bertemu ketika diajak mama-mama mereka ikut arisan. Dimas yang dari keluarga musisi mewarisi darah seni dari orang tuanya. Dan Ibu Dian adalah seorang pianis, bakat itu diturunkan pada Dian.
Sedangkan Rindu hanya dari keluarga yang biasa-biasa saja. Kesukaannya pada musik karena ia suka mendengar radio FM. Rindu belajar secara otodidak dan ia memiliki suara merdu alami. Suaranya sering mengudara di acara karaoke radio. Hanya ketiga sahabatnya yang tahu mengenai hobinya itu.
Satu lagi anggota geng ini Ardian. Hobi main basket dan ikut kumpulan klub motor. Walaupun dia terlahir dari keluarga pendiri sebuah agensi hiburan. Namun, dia tidak pernah tertarik untuk ikut mengelola. Mungkin nanti jika orang tuanya sudah mendesaknya, ia harus ikut terjun ke dunia hiburan. Karena Ardian satu-satunya penerus di keluarganya.
***
"Hai Assalamualaikum wr wb sobat Muda! apa kabarnya nih? semoga baik-baik saja ya … Seneng rasanya, Dila Atriana bisa kembali hadir, di acara yang ditunggu-tunggu selama seminggu 'malam-malam nggak usah galau.'
"Seperti biasa Selama dua jam kedepan dari jam tujuh sampai jam sembilan malam nanti, Dila bakalan menemani sobat Muda yang sekarang lagi galau ... ataupun yg lagi seneng karena abis jalan sama pacarnya."
"Cieee...cieee --- nah sobat Muda juga bisa sekalian request di no WhatsApp 085*****911 ataupun telepon on air 022****975 ... Dila tungguin yaaaa ...!"
"Langsung aja nih kita dengerin satu lagu pembuka dari maliq & d'essential with 'dia' ... check this song ...."
Temukan apa arti di balik cerita
Hati ini terasa berbunga-bunga
Membuat seakan aku melayang
Terbuai asmara
Adakah satu arti di balik tatapan
Tersipu malu akan sebuah senyuman
Membuat suasana menjadi nyata
Begitu indahnya
Dia … seperti apa yang selalu kunantikan
Aku inginkan
Dia oh ... melihatku apa adanya
Seakan 'ku sempurna
Tanpa buai kata tercuri hatiku
Dia tunjukkan dengan tulus cintanya
Terasa berbeda
Saat bersamanya
Aku jatuh cinta
Suasana sore hari ini Rindu ditemani alunan musik menghangatkan hatinya. Rindu bersenandung sambil merebahkan badan di tempat tidur seraya memainkan ponsel. Satu kaki di tekuk menopang satu kaki di atas lutut. Gerakan kaki seirama dengan ketukan musik. Rindu juga selalu minta request lagu di radio kesukaannya ini.
Sebuah pesan WA masuk dari Ardian.
"Rin, kamu di rumah?"
Layar ponsel yang menampilkan aplikasi biru, beralih ke aplikasi pesan. "Wahhh ... masih ingat ternyata." Rindu membalas.
"Marah-marahnya di tunda dulu
kamu di rumah, kan?"
"Iya ... aku di rumah, ada apa?" Rindu bersungut sambil mengetikkan pesan.
"Aku di depan rumah kamu, keluar bentar."
"Udah di depan? Dasar ... aku malas keluar!"
"Aku lompat pagar samping nih … langsung masuk kamar kamu."
Si Ardian ini, terkadang bisa nekad juga. Rindu sangat kesal.
"Hooiii jangan … iya, iya aku keluar sekarang."
"Nahh gitu … jangan lama-lama."
Ponsel dia taruh dengan kasar di kasur. "Emang Nih anak, kadang-kadang suka maksa, nyebelin," sungut Rindu dalam hati.
Cepat-cepat Rindu melapisi hotpants-nya dengan celana panjang. Kemudian menyambar jaket yang tergantung di belakang pintu. Jaket dipakai tanpa memasang resleting, rambut diikat keatas tergesa-gesa, tidak rapi.
"Mau kemana kamu, Rin." Dahlia yang sedang beberes di dapur, melihat anaknya berlari keluar.
"Si Ardi, Ma ... ada di depan!" jawab Rindu sedikit berteriak. Mama membulatkan mulut tanda mengerti. Dia kembali sibuk ingin menyiapkan makan malam.
Sedangkan Rindu berlari kecil ke pintu. Saat sampai di teras, dia berkacak pinggang melihat ke arah Ardian. Lalu menghampiri dan memelototi pria itu sambil terus menggerutu.
"Hisss, ngapain senyum-senyum?" gimana Rindu.
***
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
..