Siapa sangka. Hidup bahagia bersama pria yang sangat dicintai Lala kandas begitu saja hingga akhirnya dia dijuluki sebagai pelakor. Kesabarannya telah habis hingga ia memutuskan menikah dengan pria lain. Sayangnya, Rama tidak membiarkan Lala bahagia. Dia terus mengusik hidup Lala karena baginya Lala adalah miliknya.
Bukan hanya itu saja. Pria yang dinikahi Lala juga memiliki segudang rahasia. Lala merasa frustasi melihat takdir hidupnya yang tidak pernah memihak kepadanya.
Akankah Lala bisa meraih kebahagiaan yang selama ini ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BP. Bab 18
Lala menghadap ke pintu ketika seseorang membukanya dengan kasar. Jantung Lala langsung berhenti melihat seorang pria asing berdiri di sana. Lala segera turun dari tempat tidur dan menjauh. Pria itu masuk dengan tatapan mesum.
"Rena! Rena!" teriak Lala. Berharap sahabatnya segera muncul dan menolongnya dari bahaya. "Ini bukan mimpi! Ini nyata!" gumam Lala. Dia bahkan sampai mencubit tangannya sendiri untuk memastikan apa yang dia lihat tidak sekedar halusinasi semata.
"Hai cantik, siapa namamu?" tanya pria itu. Dari cara pria itu memandang saja Lala sudah tahu kalau pria itu memiliki niat jahat terhadap dirinya.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa masuk ke rumah ini?"
Pria itu tertawa. Dia tidak mau terburu-buru karena dia tahu kalau mangsanya kali ini adalah sosok yang lemah. Tidak bisa berontak! Sangat mudah untuk ditaklukkan. Melihat Lala ketakutan dan panik seperti itu membuatnya semakin bersemangat. Hasrat di dalam tubuhnya ingin segera terpenuhi ketika dia memperhatikan kemolekan tubuh Lala yang terbilang seksi.
Lala berlari ke jendela dan ingin kabur dari sana. Tadi malam ia sempat memperhatikan jendela dan melihat tidak ada sekat di jendela. Dari sana ia berharap bisa kabur agar bisa selamat.
Sayang memang. Kamar itu sangat sempit. Hanya perlu maju beberapa langkah saja pria itu sudah dekat dengan Lala. Dia menarik paksa tangan Lala dan menutup kembali jendela yang terbuka. Pria itu tertawa lagi ketika buliran bening di mata Lala mulai menetes.
"Gadis manis, jangan menangis. Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang." Pria itu mendorong tubuh Lala hingga terjerembab di kasur. Lala mengambil ponselnya untuk meminta tolong seseorang. Pria itu segera merebutnya dan melempar ponsel itu ke meja rias. Ponselnya pecah dan rusak.
"Jangan! Tolong jangan sakiti saya!" lirih Lala dengan wajah memohon.
"Tidak akan. Kau hanya akan merasakan sebuah kenikmatan sayang ...." Pria itu mengambil sebuah pil dari dalam sakunya. Ia ingin memasukkan pil itu ke dalam mulut Lala. Tetapi, Lala tidak mau membuka mulutnya.
"Pelacu*r sampah!" umpat pria itu marah ketika Lala sulit untuk di taklukkan.
PLAAKKK
Sebuah tamparan yang sangat menyakitkan mendarat di pipi Lala. Lala meringis ketika kepalanya terasa pusing. Di detik yang sama, pria itu memasukkan pil yang tadi sudah dia siapkan. Lala menahan pil itu di bawah lidah. Ia tidak mau sampai menelannya karena dia tahu obat itu pasti obat tidak beres.
Pria itu merobek paksa piyama yang dikenakan Lala. Pakaian dalam yang menutupi aset milik Lala kini terpampang dengan jelas. Nafsunya semakin memuncak hingga sulit sekali baginya untuk menundah.
Pria itu memegang tangan Lala dan menunduk. Lala menendang bagian sensitif pria itu hingga menghasilkan rasa sakit yang mematikan. Pria itu mundur dan mengatur napasnya ketika miliknya di tendang Lala dengan begitu keras.
Saat itu Lala berlari menuju ke pintu. Ia keluar untuk menyelamatkan diri. Tadinya Lala ingin mengunci pria itu di dalam kamar, tetapi waktunya sangat singkat. Ia tidak sempat mengambil kunci yang menggantung di pintu.
Lala berlari dan tertegun melihat Rena yang tergeletak di lantai dengan kepala dipenuhi darah segar. "Rena, bangun Ren!" Lala berjongkok dan menepuk pipi Rena. Ia menangis sejadi-jadinya. Lala tidak tahu harus bagaimana sekarang. Tetap tetap kabur dan meninggalkan Rena sendiri dalam keadaan seperti itu. atau bertahan di sana dan kembali bertemu dengan pria gila yang masih ada di dalam kamar.
Lala mengambil vas bunga yang ada di meja. Ia berdiri ketika mendengar suara pintu terbuka. Pria itu kini terlihat marah. Wajahnya memerah dan langkah kakinya semakin cepat. Ia sama sekali tidak peduli dengan vas bunga yang di pegang Lala.
"Pergi! Pergi! Tolong!" teriak Lala.
Pria itu tidak bergeming. Dia melangkah seperti robot sambil menatap tajam wajah Lala. Ketika vas bunga itu melayang ke arah wajahnya. Dengan mudahnya pria itu menangkis hingga membuat suara gaduh di ruangan televisi tersebut.
Lala terjatuh ketika dia tidak tahu kalau di belakangnya ada kursi. Kepalanya terbentur sudut meja hingga mengeluarkan sedikit darah segar. Tetapi, rasa perihnya sama sekali tidak terasa karena kini rasa takut itu lebih besar. Lala berangsur mundur dan mencari-cari senjata yang bisa ia gunakan untuk melindungi dirinya.
"Kau tidak akan bisa kabur dariku!" ujar pria itu. Dia mendekati Lala dan duduk di atas tubuh Lala. Lala kesulitan bernapas ketika pria itu mencekiknya. Tangannya terus berusaha meraih sesuatu yang bisa menolongnya. Tetapi, tidak ada apapun di sana.
"Aku akan membuat hidupmu menderita. Jauh lebih menderita dari yang di alami temanmu itu!"
Deg. Lala sempat terdiam karena syok. Dia tidak menyangka kalau Rena juga pernah mengalami hal yang sama. Tetapi, wanita itu tidak pernah cerita. Dia terlihat sangat ceria selama ini.
"Tolong!" teriak Lala lagi. Walau dia kesulitan bernapas dan suaranya tidak kuat, tetapi setidaknya Lala berjuang mempertahankan kehormatannya.
Pria itu mendaratkan tamparan lagi hingga membuat sudut bibir Lala membiru. Kali ini memang pukulannya tidak main-main. Pria itu emosi karena Lala sempat memberontak. Pukulan itu membuat Lala tidak sadarkan diri. Dia pingsan hingga membuat pria itu berhenti mencekiknya. Ada senyum kemenangan di sana. Dia membuka baju Lala karena sudah tidak sabar menikmati tubuhnya.
Di detik yang sama. Keajaiban datang kepada Rena. dia terbangun dan duduk.
"Lala, aku harus bisa menolong Lala." Rena segera bangkit ketika melihat sahabatnya dalam bahaya. Rasa sakit yang ada di kepalanya terlupakan sejenak. Ia mengambil kayu yang tergeletak di lantai dan segera berlari kencang. Setelah dia berhasil memukul kepala pria itu, kepala Rena kembali terasa sakit. Di tambah lagi pukulan Rena seperti tidak ada kualitasnya. Bukannya pria itu pingsan, justru dia terlihat murkah melihat Rena berdiri sambil memegang kayu.
"Ternyata kau belum mati, wanita sialan!" umpatnya. Rena merasakan pusing. Dia kehilangan banyak darah. Namun, Rena tidak mau membiarkan sahabatnya merasakan apa yang pernah dia rasakan.
"Kali ini kau tidak lolos lagi! Kau harus mati di tanganku wanita jala*ng!" umpat pria jahat tersebut.
Pria itu memegang tangan Rena dan melepas kayu yang di genggamannya. Dia mendorong Rena ke dinding dan mencekik wanita itu hingga tubuhnya terangkat ke atas. Rena kesulitan bernapas. Ia meneteskan air mata ketika tenaganya telah habis. Jangankan mengeluarkan suara, untuk bernapas saja sulit. Rena merasa seperti tenggelam di lautan es. Dingin dan gelap. Semua terasa sangat menakutkan. Samar-samar dia memandang Lala yang masih berbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu, La .... Aku pergi."