Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: RAPAT DIREKSI YANG PENUH KEJUTAN
Tiga hari setelah acara malam itu, ruang rapat utama Grup Arka kembali riuh. Berkas-berkas proposal kerja sama dari berbagai perusahaan menumpuk di meja panjang, termasuk map berlogo PT. Rian Abadi yang diletakkan di paling ujung. Nadia duduk tenang di kursi kepemimpinan, mendengarkan satu per satu penjelasan para direktur mengenai calon mitra yang diajukan.
"Untuk proyek perumahan di kawasan timur," ucap Direktur Pengembangan Proyek, "Ada PT. Rian Abadi yang mengajukan penawaran. Modal mereka terbatas, namun tenaga kerjanya cukup berpengalaman. Harga penawarannya juga lebih rendah dibandingkan perusahaan besar lain."
Beberapa direktur saling berpandangan. "Risikonya cukup tinggi. Jika mereka kehabisan dana di tengah jalan, proyek kita yang akan rugi besar."
Nadia mengetuk meja pelan dengan ujung pena emasnya. Suasana seketika hening. "Kita tidak menilai seseorang hanya dari seberapa besar modal yang mereka miliki saat ini," ucapnya tenang namun tegas. "Kita lihat integritas, rencana kerja, dan sejauh mana mereka siap berkomitmen. Namun satu hal lagi—jangan pernah berharap pada koneksi atau jaminan orang lain. Keberhasilan harus diraih dengan usaha sendiri, bukan karena memanfaatkan nama besar pihak lain."
Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa, namun bagi siapa saja yang tahu sejarahnya, itu adalah peringatan yang tajam.
"Bagaimana dengan penilaian tim verifikasi?" tanyanya lagi.
"Mereka layak dipertimbangkan, Nona. Namun kami sarankan untuk memberikan syarat yang ketat, agar tidak ada kecerobohan yang merugikan."
Nadia mengangguk pelan, lalu menatap nama di sampul map itu sekali lagi. "Terima proposalnya. Jadwalkan pertemuan lanjutan minggu depan. Katakan pada mereka untuk datang membawa rencana rinci dan jadwal pembiayaan yang jelas. Jangan ada yang disembunyikan."
Sementara itu, di kantor kecil miliknya, Rian melompat bangkit dari kursi saat telepon berdering dan kabar itu sampai ke telinganya. Wajahnya berseri-seri, penuh kegembiraan yang meluap-luap.
"Diterima! Mereka mau bertemu kita!" serunya tak percaya pada Diana yang duduk di hadapannya. "Akhirnya, pintu itu terbuka. Jika kita bisa meyakinkan mereka di pertemuan nanti, masa depan kita benar-benar cerah!"
Diana ikut tersenyum bangga, namun tak lupa mengingatkan. "Ingat, Rian. Jangan sampai kau melakukan kesalahan. Kau harus tampil meyakinkan, menunjukkan bahwa kau layak dipercaya. Dan jangan terlalu banyak bicara soal hal pribadi, fokus saja pada bisnis."
Rian mengangguk semangat, namun jauh di sudut hatinya, rasa penasaran itu kembali muncul. Ia tak sabar bertemu lagi dengan Nadia—CEO misterius yang namanya sama persis dengan mantan istrinya, yang setiap kali ia ingat, hatinya terasa semakin gelisah.
Hari pertemuan pun tiba. Rian datang lebih awal, mengenakan setelan jas terbaik yang ia miliki, membawa berkas yang sudah ia susun berulang kali agar sempurna. Saat ia dipandu masuk ke ruangan kerja utama di lantai tertinggi gedung Grup Arka, napasnya tercekat sejenak. Ruangan itu begitu megah, memancarkan kekuasaan yang tak terbayangkan.
Dan saat pintu terbuka, sosok yang ia tunggu sudah duduk di balik meja kerja besar itu. Nadia tampak lebih tegas dengan setelan jas berwarna putih bersih, rambut dikuncir rapi, dan tatapan yang langsung menyambutnya tanpa keraguan sedikitpun.
"Silakan duduk, Tuan Rian," ucapnya singkat sambil tetap menatap berkas di hadapannya, seolah kehadiran Rian hanyalah hal yang biasa saja baginya.
Rian duduk dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia merasa sangat terhormat, di sisi lain ia merasa kecil dan tak berdaya di hadapan wanita itu. Pertemuan yang seharusnya berlangsung profesional, justru terasa seperti ujian yang tak terduga bagi keduanya—bagi Nadia untuk tetap tenang di hadapan pria yang pernah melukainya, dan bagi Rian untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita hebat ini bukanlah wanita yang dulu ia tinggalkan.
(Lanjut ke Bab 8?)