Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pelindung Yang Berbahaya
Pintu besi berat itu tertutup rapat di belakang mereka, memisahkan ruang bawah tanah yang remang dan sunyi dari hiruk-pikuk bahaya yang sedang mengamuk di atas. Bima menyalakan lampu darurat, lalu menatap Nayara dengan tatapan penuh harap sekaligus cemas.
"Tolong tetap di sini, Nona. Jangan membuka pintu ini untuk siapa pun selain saya atau Tuan Arya sendiri," pesannya terakhir sebelum melangkah pergi, meninggalkan Nayara sendirian di ruangan kecil yang berisi persediaan makanan dan obat-obatan lengkap.
Detik demi detik terasa berjalan lambat seperti jam yang macet. Setiap suara dentuman samar, setiap letusan yang teredam tembok tebal, membuat jantung Nayara berdegup kencang hingga sesak. Ia memeluk lututnya erat di sudut ruangan, bayangan wajah Arya terus melintas di benak—wajah yang tenang namun penuh tekad saat mencium keningnya untuk terakhir kalinya pagi itu.
Di atas sana, pertempuran tak lagi bisa dihindari. Musuh menyerbu dari segala arah, mencoba mendobrak pertahanan benteng Arya. Namun mereka tak menyangka bahwa kemarahan seorang Arya Satria yang melindungi apa yang dianggapnya berharga jauh lebih mengerikan daripada sekadar pemimpin yang berambisi memperebutkan wilayah.
"Jangan biarkan satu pun dari mereka melewati pintu utama!" bentak Arya, suaranya menggelegar di tengah asap dan debu. Matanya menyala tajam, bukan lagi amarah karena dendam lama, melainkan tekad baja yang tak tergoyahkan. Setiap gerakannya lincah dan mematikan, namun matanya tak henti sesekali melirik ke arah lantai tempat Nayara bersembunyi.
Bagi orang luar, Arya adalah pelindung yang berbahaya—menakutkan, kejam, dan tak kenal ampun. Namun di dalam hatinya, ia hanyalah seorang pria yang berusaha sekuat tenaga agar tak kehilangan orang yang mampu mengembalikan kemanusiaannya.
Saat pertempuran mulai mereda menjelang siang, sisa-sisa pasukan musuh akhirnya mundur kocar-kacir, meninggalkan luka dan kekacauan di halaman rumah. Arya berdiri terengah-engah, lengannya terluka dalam, dan wajahnya penuh keringat serta noda debu. Namun tak ada yang berani mendekat atau mengobatinya saat ia berjalan terhuyung menuju ruang persembunyian.
Pintu besi itu terbuka perlahan. Begitu melihat sosok yang berdiri di ambang pintu, Nayara tak peduli pada bahaya yang masih ada atau darah yang menetes dari lengan pria itu. Ia berlari dan memeluk tubuh Arya erat, seolah takut jika ia melepaskannya, pria itu akan lenyap seketika.
"Kau aman..." bisik Arya lemah, namun napasnya lega saat merasakan kehangatan tubuh gadis itu. Tangannya yang bergetar membalas pelukan itu seerat mungkin. "Kau masih di sini... kau aman."
"Anda terluka," isak Nayara, menyentuh lengan Arya yang basah oleh darah. "Kenapa Anda melakukan ini semua demi saya? Saya bukan siapa-siapa..."
Arya menangkup wajah gadis itu dengan tangan yang masih kasar dan bergetar. "Kau salah. Kau adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan hidup sampai detik ini. Jika sesuatu terjadi padamu, maka aku juga sudah mati."
Mereka berdiri di sana dalam pelukan yang penuh rasa syukur dan ketakutan yang baru saja berlalu. Dunia di luar sana mungkin masih menganggap Arya Satria sebagai ancaman terbesar, namun bagi Nayara, pria yang berbahaya inilah satu-satunya pelindung yang ia miliki—pelindung yang rela menumpahkan darahnya sendiri demi menjaga nyawa orang yang dicintainya.
Lanjut ke Bab 15: Jejak Darah Dan Kebenaran? 😊