NovelToon NovelToon
Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:226.8k
Nilai: 5
Nama Author: Shaquinna Lathifah

Zuhally Hasbi Lathif, adalah pria yang menjadi pemeran utamanya. Yang akan memberikan kesan terhadap dua perempuan sekaligus dan dijadikannya sebagai kekasih hati.

Di dalam perjalanannya, kalian para readers akan menemukan alur yang membuat greget, kesel, penasaran, marah, juga baper sendiri.


Mungkin kisah sahabat yang menjadi madu dari sahabatnya sendiri adalah kisah yang sering ditemukan di platform aplikasi novel 😇.

Dan sepertinya tulisan ini juga masih memiliki unsur yang sama, namun penulis mengepak kisahnya yang dibuat lebih menarik lagi😇😇


Ikuti alurnya yaa.


salam bahagia untuk kalian semua dari Shaqi🙏🏻😇😇😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shaquinna Lathifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bumil manja

Jika sebelumnya Aly bahkan lebih sering menghabiskan waktu bersama Halimah di pesantren, maka tidak dengan saat ini. Sudah dua bulan lebih Aly tidak berkunjung ke pesantren sebab harus ekstra menjaga Alsya yang menjadi sering sakit-sakitan sebab kehamilannya yang pernah hampir tidak diketahui itu.

Setelah menjalani proses yang disarankan oleh dokter Lia, ternyata Alsya memang masih mengandung janinnya meski memang terjadi pendarahan hebat kala kecelakaan itu sampai Alsya juga telah menjalani proses kuret.

Takdir Allah memang tidak ada yang tahu, sebab  seharusnya jika janin yang dikandung oleh Alsya masih ada, pada proses kuret pasti akan terbawa keluar, namun ternyata masih bertahan dengan baik di dalam rahim Alsya. Walaupun sekarang janinnya itu menjadi lemah sebab perdarahan tersebut.

"Aly, kamu tidak berangkat ke pesantren, nak ?." Tanya umma saat mereka sedang berada di kamar Aly dan Alsya.

Aly tersenyum. "Tidak umma, Aly tidak tega meninggalkan Alsya dalam keadaan seperti ini." Tangan Aly mengusap-usap kepala Alsya yang berada di pangkuannya. Mata Alsya terpejam rapat dan sangat tenang dalam tidurnya.

"Memangnya tidak apa-apa?, Kamu mengajar kan disana ?."

"Iya, umma. Tapi insya Allah tidak akan ada masalah karena Aly sudah meminta ustadz lain untuk menggantikan jam mengajar Aly selama Aly disini."

"Oh, syukurlah kalau memang seperti itu. Umma dari kemarin-kemarin khawatir sama tanggung jawab kamu yang disana, soalnya." Ucap umma mengeluarkan unek-uneknya.

"Iya, umma."

"Ya sudah, umma keluar dulu ya?, Takut kamu juga mau istirahat." Ucap umma lagi sambil bangkit dari duduknya.

Aly hanya tersenyum untuk menjawab ucapan ibu mertuanya. Dia memang sedikit kelelahan karena menjaga Alsya yang kondisi tubuhnya tidak menentu, apalagi Alsya nya sendiri, mungkin rasa lelahnya dua kali lipat dari yang Aly rasakan sekarang.

Aly menatap wajah tenang istrinya yang sedang tertidur pulas, dia kecup keningnya dan memindahkan kepala Alsya ke bantal dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu tidurnya sang istri. Setelah posisi Alsya sudah terlihat nyaman, Aly bangkit dari tempat tidur sambil membawa handphone nya menuju ke balkon kamar. Aly menghubungi nomor yang bernamakan *Ning*, dan setelah menunggu beberapa menit saja, sambungan terhubung.

"Hallo, assalamualaikum..." Ucap Aly dengan suara lembutnya.

"Waalaikumsalam, mas." Jawab suara di seberang sana.

"Bagaimana kabarmu ?, Hem ?."

"Alhamdulillah, aku baik, mas. Mas Aly disana bagaimana ?, Keadaan Alsya juga bagaimana ?, Calon Dede bayinya ?."

Sikap cerewet Halimah mulai kambuh, membuat Aly menyunggingkan senyumnya. "Alhamdulillah, kami semua baik, sayang. Cuma yah, seperti biasanya, Alsya masih sering ngedrop tiba-tiba, tadi pagi badannya demam dan baru reda sekarang, setelah meminum vitaminnya dan dipijat oleh umma." Jelas Aly.

"Astaghfirullah. Kasihan sekali sahabatku..." Ujar Halimah yang merasa sedih mendapati sahabatnya mengalami kondisi demikian hanya karena mempertahankan calon bayinya. "Semoga Allah selalu memberikan keberkahan untuk kalian, mas, dan semoga Allah selalu memberikan kebaikan kepada Alsya."

"Aamiin..."

"Aamiin... Oh ya, mas. Mumpung sekarang lagi telepon, aku mau minta izin, boleh ?."

"Izin untuk apa ?."

"Aku mau ke pesantren Abah Uwa yang ada di Jogja, mas. "

"Memangnya disana ada acara apa ?, Kenapa tiba-tiba mau ke Jogja aja ?."

"Ummi mau bersilaturahmi sama keluarga disana."

"Sama siapa saja perginya ?."

"Sama ummi terus dua khodam putri sama khodam putra juga, mas. Boleh ya ?."

"Ya sudah, iya, boleh. Terus berapa hari disananya ?."

"Kurang tahu, apa kata ummi saja, mas."

"Baiklah, kalian hati-hati di jalannya. "

"Iya, mas. Makasih ya, assalamualaikum..."

"Iya, waalaikumsalam..."

Setelah menutup telepon, Aly kembali masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya di samping Alsya untuk istirahat siang.

 

Waktu terus berjalan dengan pasti, dan saat mendengar suara adzan dhuhur Aly kembali terbangun begitupun dengan Alsya yang juga membuka matanya.

"Sudah bangun?." Tanya Aly dengan senyum manisnya.

Alsya mengerjapkan kedua matanya lalu mengangguk.

"Kita sholat, yuk ?."

"Iya."

Aly bangkit dari tidurnya dan membantu Alsya untuk bangun juga kemudian keduanya melangkah menuju pintu kamar mandi.

Cukup lama Alsya membersihkan diri di kamar mandi, barulah keluar dan segera membentangkan dua sajadah untuk dipakai dirinya sendiri juga Aly yang masih berada di dalam kamar mandi.

Setelah Aly keluar, Alsya juga sudah rapi dengan memakai mukena nya. Keduanya sholat berjamaah dengan khusyuk, memanjatkan doa terbaik untuk keluarga kecilnya juga untuk keadaan Alsya dan juga calon buah hatinya. Selesai sholat keduanya duduk saling berhadapan untuk menyimak hafalan dari masing-masing keduanya.

Alsya mulai membacakan ayat demi ayat surah Al-Qur'an yang dihafalnya sedangkan Aly memperhatikannya dengan seksama sambil menyimak hafalan istrinya lalu akan memberitahukan jika ada bacaan yang salah atau kurang tepat.

Momen indah yang hanya mampu dirasakan kebahagiaannya bagi pasangan halal saja.

 

________________

 

Rumah keluarga Pengasuh pesantren sedang sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawa ke Jogja ke dalam bagasi mobil. Halimah menggandeng tangan ibunya untuk masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil melaju kencang membela perjalanan menuju luar kota.

Di tengah perjalanan Halimah menghubungi sepupunya yang dia kira pasti sedang ada di pesantren juga. Tak lama menunggu, sambungan telepon terhubung membuat Halimah tersenyum senang.

"Hallo, assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam, mbak Imah."

"Kamu apa kabar, Ra ?."

"Alhamdulillah, Zahra baik mbak, mbak Imah juga bagaimana kabarnya ?."

"Alhamdulillah, aku juga baik. Ah ya, Zahra aku sedang perjalanan menuju ke pesantren Abah uwa, kamu ada disana kan ?."

Tidak ada jawaban dari seberang, sepertinya Zahra sedang melamun. Halimah memeriksa handphonenya apakah masih nyambung atau tidak dan ternyata memang masih nyambung tapi Zahranya saja yang tidak menjawab dan malah terdiam.

"Zahra."

"Ehh, iya, mbak ?, Maaf, sekarang Zahra nggak lagi ada di pesantren Abah, Zahra udah berangkat ke apartemen Zahra lagi."

"Yah, jadi nanti disana tidak ada siapa-siapa dong ?, Terus aku sama siapa disana ?." Ujar Halimah merajuk karena pertengkarannya dengan sepupu perempuan satu-satunya malah gagal karena sepupunya itu sudah selesai dari masa liburannya.

"Iya, maaf ya, mbak. Tapi lain kali insya Allah kalau mbak Imah main ke Jogja lagi aku akan ada, kita belanja ke Malioboro bareng seperti biasanya, ya ?." Ucap Zahra mencoba merayu kakak sepupunya.

"Iya, deh. Tapi, Zahra, sebenarnya apartemen kamu itu ada di mana sih ?, Kira-kira dekat tidak sama pesantren Abah ?."

"Hmm, lumayan jauh, mbak. "

"Iya dimana ?."

"Yang jelas di Jakarta, mbak Imah. Udah ya, Zahra mau masuk kelas dulu, soalnya sekarang Zahra lagi ada di kampus."

"Iya, inget belajarnya yang rajin biar nggak ngecewain Abi sama Umi kamu. Assalamualaikum..."

"Iya, mbak. Waalaikumsalam."

Sambungan telepon terputus. Halimah menyimpan handphonenya lagi ke dalam tas lalu memejamkan matanya karena perjalanan masih sangat lama untuk sampai ke kota istimewa Yogyakarta.

 

____________

1
Hera sasuwe
Luar biasa
imbiya
/Sob/ sakit hati gue
Nabila Ramadhani
keyya itu anaknya aly dan ning Halimah
Jin Jan
affin jgn asal ambil keputusan seperti aly hanya Krn amanah langsung meng iya kan saja, tanpa memikirkan yg lain
Jin Jan
lebih baik affin 1000% dari pada aly fyza
Nabila Ramadhani
Luar biasa
Nabila Ramadhani
bikin kesel sama tokoh utamanya, aly
Elok Pratiwi
cerita buruk ... penulis nya penganut poligami
Rina Susilowati
syukurin laki2 rakus ..makan tuh celap celup. makan amanah, dasar garong..😆😆
Jin Jan
makan tu amanah..
Jin Jan
jgn halangi alsya, mbak..dan klo halimeee mati sklipun, jgn kembali ke aly
Jin Jan
rasain km aly..makan tu amanah..
Jin Jan
bener kt aba alysa, tinggalkan ali
Jin Jan
klo km nolak,ga munkin smua ini terjadi halimaahhhh...
Jin Jan
ko umi nya sudah tau anaknya mau melahirkan malah ditinggal
Jin Jan
bilang sahabat, tapi nusuk dari belakang,dasar pelakor
Jin Jan
sama2 munafik
Jin Jan
semoga km Ali tidak bisa punya keturunan dan alsya menikah dgn pria aneh
Nabila Ramadhani: setuju, biar aly dapat karmanya
total 1 replies
Jin Jan
ya maka dari itu, jgn hanya nurutin nafsu berkedok amanahhhh
Jin Jan
biarpun perintah dari sang guru to kyai,,klo nyakitin wanita lain seharusnya kan bisa nolak,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!