Bercerita tentang seorang gadis cantik berusia 20 tahun yang bernama Kayla Syakira Narendra. Dia harus menerima perjodohan yang sudah disepakati oleh orang tuanya dengan pria yang bahkan tidak ia ketahui siapa.
Namun siapa sangka cinta datang begitu cepat kepada Kayla. Dan ternyata pria yang telah menjadi suaminya itu merupakan cinta pertamanya.
Bagaimanakah reaksi Kayla setelah mengetahui bahwa pria yang sudah menjadi suaminya adalah cinta pertamanya? Ikuti terus kisahnya ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulian Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Di ruang kerja Pak Ruri sudah ada Tama dan Kin yang baru saja datang dari kantor. Mereka sedang membicarakan mengenai pelaku yang ingin menabrak Kayla.
"Begini Tuan, pelaku yang hampir saja menabrak Nona Kayla ternyata dia adalah orang suruhan, dan mobil yang digunakan adalah mobil rental," jelas Kin kepada Pak Ruri.
Pak Ruri mendengar dengan seksama penjelasan dari Kin sambil memegang dagunya seakan sedang berpikir.
"Apa kamu punya musuh, Tam?" tanya pak Ruri.
"Aku merasa tidak mempunyai musuh sama sekali, Pi." Tama menjawab pertanyaan mertuanya dengan yakin, ia memang tidak merasa ada masalah dengan orang lain apalagi sampai mempunyai musuh.
"Lalu siapa yang berniat mencelakai Kayla?"
"Saya rasa ini tidak ada hubungannya dengan persaingan bisnis, Tuan. Saya justru berpikir pasti ada asalan lain dibalik ini semua," kata Kin memberikan pendapatnya.
"Maksud kamu apa, Kin?" tanya Tama yang masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh Kin.
"Begini, pelaku yang mencoba mencelakai Nona Kayla saya rasa ada kaitannya dengan Tama maupun Nona Kayla sendiri. Mungkin saja ada seseorang yang tidak suka Tama bersama dengan Nona Kayla ataupun sebaliknya." Kin menjelaskan apa yang menjadi pendapatnya.
Tama dan Pak Ruri mencoba mencerna apa yang dikatakan Kin barusan.
"Ucapanmu ada benarnya, Kin," ucap pak Ruri.
"Tapi siapa kira-kira?" tanya Tama yang masih berfikir keras tentang siapa dalang dari kejadian waktu itu. Ia sangat mengkhawatirkan tentang keselamatan istrinya.
"Saat saya akan kesini, saya bertemu dengan Nona Lena di lobby kantor. Dia memaksa ingin bertemu dengan Tama. Setelah saya katakan kalau Tama sedang cuti untuk beberapa hari, dia kembali bertanya alasan Tama cuti untuk apa? Saya merasa dia seperti ingin mencari tahu sesuatu," tutur Kin.
"Kita tidak bisa asal menuduh orang tanpa adanya bukti," ucap pak Ruri. "Sekarang yang bisa kita lakukan adalah menjaga Kayla dengan baik. Awasi selalu Kayla! Tetapi jangan sampai membuatnya curiga dan membuatnya merasa tidak nyaman," sambungnya lagi.
Tama dan Kin mengangguk tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Pak Ruri.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam untuk makan malam. Hal itu menandakan kalau ketiga pria itu sudah berbicara sangat lama.
Kemudian terdengar suara pintu diketuk. Ternyata Kayla lah yang mengetuk pintu. ia ingin memberi tahu jika makan malam sudah siap.
"Papi makan malam sudah siap," ucap Kayla.
Pak Ruri beranjak dari duduknya untuk turun menuju meja makan.
"Mas makan malam dulu! Sekalian ajak Kin untuk bergabung makan malam bersama," ujar Kayla.
"Iya, sayang." Tama turun ke bawah dengan merangkul pinggang istrinya mesra, sedangkan Kin berjalan di belakang sambil melihat kemesraan pengantin baru itu.
Sesampainya di ruang makan, Bu Sonia dan Pak Ruri menatap anaknya sambil tersenyum kecil. Mereka merasa senang melihat Kayla yang sudah mulai memiliki perasaan untuk suaminya.
"Ehem ... pengantin baru nempel terus ya, Mi," goda pak Ruri kepada anak perempuannya.
"Isshh, Papi nggak usah godain Kay." Kayla kemudian berjalan menuju kursinya dan mendudukan tubuhnya diikuti oleh Tama yang ikut duduk di sebelah istrinya dan Kin duduk di kursi yang kosong.
"Kay ... ambilkan makan untuk suamimu, Nak," perintah bu Sonia.
"Iya, Mi ini Kay ambilin kok," jawab Kayla. "Kamu mau pake lauk apa, Mas?" tanya Kayla kepada pria yang duduk disampingnya.
"Terserah kamu aja aku suka semuanya kok, tetapi jangan lupa sayurnya ya."
"Kalau udah nikah mah gitu ya mau makan aja ada yang ambilin. Huh yang jomblo mah bisa apa atuh, cuma bisanya ngiler," gerutu Kin dalam hati yang masih memperhatikan Tama dan Kayla.
Nasib jomblo mah gitu Kin jadi yang sabar yah, nanti juga lo ketemu jodohnya.
Semuanya menikmati makan malam dengan tenang. Tak ada suara apapun, yang ada hanya suara sendok dan garpu saling bersahutan. Semuanya sangat menikmati makan malamnya.
"Emm ... masakan Mami enak sekali," ucap Tama memuji.
"Itu bukan masakan Mami, sayang," jawab Bu Sonia.
"Kalau bukan masakan Mami lalu ini masakan siapa?" tanya Tama yang tidak tau bahwa istrinyalah yang memasaknya.
"Ya tentu saja istrimu lah yang memasaknya," sahut pak Ruri.
"Benarkah?" Tama menatap ke arah Kayla menuntut Jawaban.
"Iya, Mas," jawab Kayla singkat.
Tama benar-benar terkejut, ia tidak menyangka kalau istrinya itu sangat pandai memasak. Makanan yang Kayla masak sangat lezat dibandingkan dengan masakan restaurant favoritnya pun kalah.
"Ini sungguh lezat, sayang. Masakan restaurant saja kalah." Tama memuji masakan Kayla dihadapan semuanya.
Kayla tersenyum, ia senang karena masakannya pas di lidah suaminya.
Makan malam telah selesai sejak tadi. Kini Tama dan Kayla sudah berada di dalam kamar mereka. Kayla sedang sibuk memasukkan semua keperluannya ke dalam koper, besok ia akan pindah ke rumahnya bersam Tama.
"Sayang apa sudah selesai semua?" Tama menunggu istrinya beberes sejak tadi sambil menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
Karena Kayla yang tidak kunjung selesai ia pun menghampiri istrinya kemudian memeluknya dari belakang.
"Mas ... kau mengagetkanku," pekik kayla saat merasakan kedua tangan Tama yang tiba-tiba melingkar di perutnya.
"Kau lama sekali, sayang," bisik Tama dengan suara yang sedikit menggoda. Ia kemudian mencium ceruk leher istrinya yang membuat Kayla merasa geli.
"Geli, Mas jangan seperti itu!" ucap Kayla yang tidak didengar oleh Tama sedikitpun.
Tama malah terus menghujani leher istrinya dengan ciuman dan sesekali menggigit kecil.
Kayla menggelinjang geli saat Tama terus menciumi lehernya. Tubuh Kayla kini sudah dibalikan oleh Tama agar mereka saling berhadapan.
Perlahan Tama mendekatkan wajahnya ke wajah sang istrinya. Kayla memejamkan matanya saat Tama mulai mencium bibirnya.
Lama kelamaan Kayla mulai membalas ciuman Tama walau masih agak kaku karena hal itu merupakan pengalaman pertama bagi Kayla.
Tama segera menggiring Kayla ke ranjang dengan tetap saling berpagut. Ia kemudian merebahkan tubuh Kayla di ranjang dan menindihnya.
Desahan Kayla membuat Tama tambah bersemenmangat. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu sehingga keduanya kini sudah tidak mengenakan satu helai benangpun.
"Sayang ... Apa kau siap? Ini aka terasa sakit awalnya," ucap Tama. Ia takut istrinya akan merasakan sakit namun ia juga sudah tidak bisa menahannya.
Kayla hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Tama tadi. Ia teringat akan nasihat Maminya bahwa seorang istri itu bertugas melayani suami, apa yang dilakukan oleh istri kepada suaminya bernilai pahala.
Tama mulai melakukan penetrasi, ia melakukannya dengan pelan-pelan agar Kayla tidak terlalu merasakan sakit.
Malam ini menjadi malam pertama bagi mereka berdua.
"Terimakasih sayang sudah menjaga hal yang paling berharga pada dirimu," Tama menatap lekat wajah istrinya dan mengusap lembut pipi Kayla.
"Sama-sama, Mas," balas Kayla seraya memandang wajah tampan suaminya.
Akhirnya mereka berdua tertidur dengan Kayla berada di dalam dekapan Tama, mungkin mulai sekarang posisi itu adalah posisi ternyaman saat dia tidur.
****
Hay semuanya setelah baca jangan lupa ya untuk like, Comment dan vote👌👌
Terimakasih ❤️
mampir ya