Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 22
"Aku membencinya selama tiga tahun..." bisik Arsen dari balik kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.
"Aku mencaci-makinya... Aku menyebutnya wanita tidak tahu diri yang kabur meninggalkan aku demi uang... Padahal dia harus menguburkan ayahnya yang tewas dibunuh oleh keluargaku sendiri..."
"Arsen..."
"Aku ini monster, Nu!" jerit Arsen tiba-tiba, menepuk dadanya sendiri dengan keras hingga menimbulkan bunyi benturan yang menyakitkan.
"Aku memaksa dia bekerja sampai pingsan! Aku membentaknya di depan karyawan! Aku biarkan Aurelia menghinanya! Padahal tanganku dan darah dagingku sudah berlumuran darah ayahnya!"
Danu menepi ke pinggir jalan raya yang sepi, mematikan mesin mobil, lalu berbalik sepenuhnya menatap Arsen dari kursi pengemudi.
"Dengarkan aku, Arsen!" tegas Danu seraya memegang kedua bahu Arsen yang berguncang hebat.
"Kamu tidak tahu apa-apa saat itu! Kamu sedang koma dan berjuang antara hidup dan mati di rumah sakit Singapura! Kamu adalah korban kebohongan Papamu sama seperti Tsania!"
"Tapi aku yang membawakan neraka itu ke hidupnya, Danu!" sergah Arsen dengan mata merah menyala dan basah oleh air mata penyesalan.
"Kalau saja dia tidak pernah kenal denganku... kalau saja dia tidak pernah mencintaiku, ayahnya masih hidup detik ini! Ibunya tidak perlu menderita ketakutan!"
Arsen mengepalkan tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya menancap dalam menembus kulit telapak tangannya, meneteskan sedikit darah segar di atas celana kain mewahnya. Rasa sakit fisik itu bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehancuran batin yang kini mengoyak dadanya.
"Apa yang harus aku lakukan, Nu?" bisik Arsen frustrasi, suaranya parau dan hilang arah.
"Bagaimana bisa aku menatap matanya lagi? Bagaimana bisa aku meminta maaf atas nyawa seorang ayah yang dihilangkan oleh keluarga Pratama?"
Danu menatap sahabatnya dengan pandangan lurus dan tidak tergoyahkan.
"Kamu bayar semuanya Sabtu malam nanti," jawab Danu penuh penekanan.
"Kamu seret Pak Bisma dan Aurelia ke hadapan hukum. Kamu kembalikan nama baik Tsania dan almarhum ayahnya di depan publik dan seluruh media nasional."
Arsen terdiam sejenak. Kata-kata Danu perlahan merasuk, menetralisasi isakan tangisnya menjadi amarah murni yang membakar habis seluruh kepatuhan palsunya. Arsen mengusap air mata di wajahnya dengan kasar menggunakan lengan jas.
Ia menunduk, menatap layar tablet yang masih menyajikan bukti otopsi dan laporan kepolisian yang selama ini disembunyikan oleh kekuasaan ayahnya.
"Laporan penganiayaan ini... apa bisa diproses oleh Kepolisian Republik Indonesia sekarang?" tanya Arsen dengan intonasi suara yang mendadak berubah dingin dan mematikan.
"Bisa," tegas Danu.
"Tim pengacara independen kita sudah merekonstruksi ulang kasus ini bersama saksi kunci, salah satu bekas pengawal yang ikut dalam aksi teror malam itu dan kini siap bersaksi setelah kita beri perlindungan hukum."
Arsen mengangguk perlahan. Manik matanya berkilat penuh dendam murni yang terarah pada sasaran yang tepat.
"Pastikan surat penangkapan atas nama Bisma Pratama dikeluarkan resmi oleh kepolisian pada Sabtu malam nanti," perintah Arsen penuh kepastian.
"Tepat saat Papa sedang berdiri di atas podium menyambut pertunanganku dengan Aurelia."
Danu menarik napas panjang. "Kamu benar-benar akan menjebloskan ayah kandungmu sendiri ke dalam penjara?"
Arsen mengangkat wajahnya, menatap Danu tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.
"Dia bukan ayahku lagi sejak hari di mana dia membunuh ayah dari wanita yang kucintai," sahut Arsen datar, suaranya sarat akan dinginnya kematian.
"Dan untuk Aurelia... aku akan memastikan seluruh keluarga besarnya bangkrut bersama saham Pratama Group yang runtuh malam itu."
Arsen merogoh saku kemejanya, menyentuh cincin perak kusam yang selalu ia simpan.
"Jalankan mobilnya, Danu," ujar Arsen pelan.
"Antar aku ke RS YPK Mandiri. Aku mau berada di luar kamar Tsania malam ini., walau hanya untuk menjaga tidurnya dari kejauhan."
Mobil Alphard hitam itu melaju tenang menembus keheningan malam Jakarta, membawa Arsen kembali menuju RS YPK Mandiri. Di dalam kabin yang temaram, Arsen menyandarkan kepala pada telapak tangannya. Tablet di sampingnya masih menyala, menampilkan berkas hukum yang sarat akan aroma kecurangan dan kekuasaan.
Arsen tahu betul siapa ayahnya. Bisma Pratama bukan sekadar pengusaha kaya biasa; pria tua itu memiliki jaringan gurita yang mengakar hingga ke jajaran elite kepolisian, kejaksaan, bahkan pengadilan. Bukti-bukti yang dikumpulkan tim detektif swasta ini, meski sangat valid dan solid bisa saja digembosi atau dilenyapkan dalam semalam jika Bisma mengerahkan seluruh pengaruh politik dan finansialnya.
Melaporkan Bisma ke polisi dan berharap pria itu langsung mengenakan rompi tahanan pada Sabtu malam nanti adalah sebuah pertaruhan dengan tingkat kepastian yang rapuh. Risiko korupsi sistemik terlalu besar.
Namun, Arsen tidak lagi peduli apakah hukum sanggup memenjarakan ayahnya atau tidak.
Fokus utamanya kini bergeser pada sesuatu yang jauh lebih nyata dan bisa ia kendalikan sepenuhnya: menghancurkan topeng kesombongan keluarga Pratama, membatalkan pertunangan terkutuk dengan Aurelia di hadapan seluruh media nasional, dan berlutut memohon ampun pada Tsania.
"Nu," panggil Arsen pelan, memecah keheningan kabin mobil.
"Ya, Arsen?" sahut Danu seraya melirik dari kaca spion.
"Kita realistis saja," ujar Arsen dengan suara parau namun tenang.
"Papa punya terlalu banyak orang dalam di kepolisian. Amplop-amplop bukti penganiayaan ini mungkin belum tentu bisa membuat Papa langsung mendekam di balik jeruji besi pada Sabtu malam nanti. Pengacaranya yang licik pasti akan mengajukan praperadilan atau memanipulasi saksi."
Danu mengangguk pelan, menyetujui analisis realistis sahabatnya. "Lalu apa rencana utamamu jika kepolisian ragu menindak Pak Bisma di tempat?"
Arsen mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Matanya memancarkan kilat keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Tujuanku Sabtu malam nanti bukan cuma sekadar proses hukum, Nu. Tujuanku adalah eksekusi publik," tegas Arsen dengan nada dingin.
"Aku tidak peduli kalau Papa bisa meloloskan diri dari penjara dengan uangnya. Tapi aku pastikan, Sabtu malam nanti, nama baiknya hancur lebur di mata dunia bisnis! Aku akan memutuskan seluruh aliansi saham, membatalkan pertunangan dengan Aurelia di hadapan puluhan kamera wartawan, dan membongkar semua kelakuan busuk mereka!"
Arsen menarik napas panjang, menatap bayangan dirinya di jendela mobil yang gelap.
"Aurelia dan keluarganya memanfaatkan Pratama Group untuk menyelamatkan bisnis mereka yang mulai kolaps. Dengan membongkar kebenaran ini di depan media, saham keluarga Aurelia akan anjlok ke titik nol. Pertunangan itu batal secara permanen, dan Papa tidak akan lagi punya hak atau alasan untuk mengatur hidupku!"
Danu menghembuskan napas lega mendengar pemikiran rasional Arsen.
"Itu strategi yang jauh lebih masuk akal dan mematikan, Arsen. Sekali nama baik dan aliansi bisnis mereka runtuh di depan publik, Pak Bisma tidak akan punya panggung lagi untuk menekanmu."
"Dan yang paling penting..." Arsen menggantung kalimatnya, merogoh saku kemejanya dan menggenggam erat cincin perak polos milik Tsania.
"Aku punya alasan sah dan mutlak untuk meninggalkan neraka ini dan kembali pada Tsania. Aku tidak peduli kalau Papa mencabut seluruh hak warisku atau memecatku dari jabatan CEO. Aku siap keluar dari Pratama Group tanpa membawa sepeser pun uangnya."
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di pelataran parkir belakang RS YPK Mandiri.
Arsen menyusuri lorong rumah sakit yang sepi dengan langkah perlahan. Ia tidak menaiki lift menuju lantai VVIP 601, melainkan berjalan menuju taman dalam rumah sakit yang terletak persis di bawah balkon lantai enam.
Malam semakin larut dan udara dingin menusuk tulang, namun Arsen tetap berdiri di sana, menatap lurus ke arah jendela kamar nomor 601 yang lampunya terpancar temaram.
Dari kejauhan, ia tahu Tsania sedang terbaring di dalam sana, berjuang memulihkan fisiknya yang hancur akibat ulahnya.
"Aku tahu... mungkin kamu tidak akan pernah mau melihat wajahku lagi setelah semua yang terjadi, Nia," gumam Arsen sangat pelan, menyatukan kedua tangannya di balik saku jas. Angin malam mengibaskan rambut hitamnya yang sedikit berantakan.
"Aku tidak minta kamu memaafkanku sekarang... aku bahkan tidak pantas meminta kesempatan kedua," lanjut Arsen dalam bisikan yang sarat akan keperihan.
"Tapi beri aku waktu sampai Sabtu malam... Biarkan aku menghancurkan rantai yang mengikat kita selama tiga tahun ini. Setelah itu, kalau kamu mau mengutukku, memukulku, atau mengusirku dari hidupmu selamanya, aku siap menyambutnya."
Arsen memejamkan mata, membiarkan rasa dingin malam membalut tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, rasa dendam dan amarah murka di dadanya telah menguap sepenuhnya digantikan oleh tekad membara untuk menebus dosa dan melindungi wanita yang sangat ia cintai, apa pun taruhannya.