NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Duel di Atas Es yang Retak

Tranggggg!!!!

Gelombang kejut dari benturan senjata itu menyapu sisa-sisa kabut salju di sekitar mereka. Es pijakan mereka retak sedalam tiga meter, membentuk jaring laba-laba raksasa.

Yan Lie, sang perwira elit dari Kerajaan Surga Tiran, terpaksa melompat mundur sejauh sepuluh langkah. Urat-urat di tangannya yang memegang tombak berdenyut nyeri. Ia menatap pemuda berambut hitam di depannya dengan tatapan yang bercampur antara syok dan rasa jijik yang luar biasa.

"Kau..." Yan Lie memicingkan mata keemasannya, memindai tubuh Ye Cangtian. "Kau tidak memiliki Inti Ilahi di jantungmu. Keturunanmu kotor. Garis darahmu adalah lumpur. Bagaimana mungkin kau bisa memadatkan Napas Kehidupan?!"

Cangtian memutar kedua pedang peraknya dengan santai, mengibaskan sisa embun beku dari bilahnya. Aura hijau-emas yang memancar dari pori-porinya tidak setebal api merah milik Yan Lie, namun jauh lebih padat dan tajam.

"Inti Ilahi?" Cangtian mendengus, meludah ke atas es. "Kalian menyebutnya anugerah para dewa. Aku menyebutnya tongkat pembantu untuk orang lumpuh."

Wajah Yan Lie memerah karena amarah. Ujung tombaknya kembali berkobar. Salju di bawah kakinya langsung menguap.

"Jaga mulut kotormu, Budak!" raung Yan Lie. "Kami adalah ras penguasa! Kami dilahirkan dengan elemen alam yang mengalir di pembuluh darah kami! Kalian hanyalah tikus-tikus fana yang mencoba mencuri apa yang bukan milik kalian! Kalian tidak akan pernah bisa melampaui otoritas langit!"

"Otoritas langit?" Cangtian tertawa sinis. Ia menepuk dadanya sendiri, tepat di mana tulang rusuknya pernah patah berkali-kali.

"Kalian lahir dengan kulit besi, jadi kalian tidak pernah belajar cara menahan rasa sakit. Kalian lahir dengan api di tangan kalian, jadi kalian tidak pernah repot-repot mempelajari cara mengayunkan senjata dengan benar. Ilmu bela diri kalian kaku, lamban, dan menyedihkan. Kalian bukan dewa. Kalian hanya binatang buas beruntung yang kebetulan lahir dengan taring yang lebih tajam!"

Kalimat itu adalah penghinaan tertinggi yang pernah didengar oleh seorang perwira klan dewa.

"Aku akan membakar lidahmu!"

Yan Lie melesat ke depan, meninggalkan jejak api di lintasan esnya. Tombaknya menusuk bertubi-tubi seperti hujan meteor.

Wush! Wush! Wush!

Setiap tusukan membawa kekuatan Qi setara Ahli Persilatan Tingkat 5. Jika Cangtian mencoba menangkis serangannya secara frontal, pedang peraknya yang terbuat dari besi biasa pasti akan meleleh.

Namun, Cangtian tidak menangkis.

Tubuh Cangtian yang telah direndam dalam kolam darah dan racun Su Ling'er bergerak dengan kelenturan yang mustahil dimiliki oleh klan dewa.

Ia meliuk, menunduk, dan berputar melewati setiap tusukan tombak api itu. Hawa panas menghanguskan ujung rambut dan lengan jubah kulit serigalanya, namun bilah tombak itu sama sekali tidak menyentuh kulitnya.

Bagi Yan Lie, bertarung melawan Cangtian terasa seperti mencoba memukul asap. Sistem kultivasi klan dewa sangat bergantung pada hantaman destruktif berskala besar, sementara sistem meridian manusia yang diciptakan Cangtian berfokus pada aliran energi yang dinamis dan presisi.

"Berhenti menari-nari, bocah!" teriak Yan Lie frustrasi. Ia memutar tubuhnya, menggunakan pangkal tombak untuk menyapu kaki Cangtian.

Inilah celah yang ditunggu.

Alih-alih melompat mundur, Cangtian justru melangkah maju, menginjak poros ayunan tombak itu, lalu menebas pedang kanannya ke arah dada Yan Lie secara diagonal.

Crak!

Bilah perak itu merobek zirah dada Yan Lie, meninggalkan luka sayatan panjang yang menganga. Darah emas menyembur keluar, menodai salju putih.

Yan Lie menjerit kesakitan dan terhuyung ke belakang. Ia menatap dadanya yang terluka dengan ketidakpercayaan. Ia seorang Perwira Klan Dewa, baru saja dilukai oleh seorang manusia fana yang tingkat energinya jauh lebih rendah darinya!

Kepanikan menelan bulat-bulat arogansinya.

Mata keemasan Yan Lie bergetar saat ia menyapu pandangannya ke sekeliling tempat pertarungan. Di kejauhan, melalui badai salju, ia melihat sebelah anggota nya sedang dibantai secara perlahan oleh delapan ratus prajurit fana yang bertarung layaknya sekawanan serigala gila.

Mereka akan kalah. Dewa akan kalah oleh manusia.

"Tidak... ini tidak mungkin... Penguasa Di Tian harus tahu tentang ini..." gumam Yan Lie panik.

Ia menjatuhkan tombaknya, membiarkannya tertancap di es, dan dengan panik tangan kirinya merogoh sabuknya, meraih Batu Suara berwarna merah.

Ia memusatkan Qi Api-nya ke tangan itu, bersiap untuk meremukkan batu tersebut dan mengirimkan koordinat lokasi mereka ke ibu kota Surga Tiran.

Cangtian melihat gerakan itu dari jarak sepuluh meter. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

Jika batu itu hancur, Desa Fajar tamat. Puluhan ribu manusia, Xing Yun, Paman Lu, Su Ling'er... semuanya akan dibakar dari langit dalam hitungan jam.

‘Terlalu jauh’ batin Cangtian. Kecepatannya tidak akan cukup untuk memotong tangan Yan Lie sebelum batu itu hancur.

Kecuali, ia tidak mencoba menangkis.

Yan Lie melihat Cangtian melesat ke arahnya. Sambil tersenyum gila, Yan Lie menendang pangkal tombak yang tertancap di tanah, membuatnya melayang ke udara, lalu meninju ujung tumpulnya, menembakkan tombak api itu lurus ke arah dada Cangtian bagaikan peluru.

"Mati kau!" raung Yan Lie, tangannya mulai meremaskan Batu Suara itu.

Cangtian tidak bergeser satu inci pun dari lintasannya. Ia membuka pertahanannya lebar-lebar.

Jleb!

Tombak hitam yang membara itu menembus lurus ke bahu kiri Ye Cangtian, merobek otot, menghancurkan tulang selangka, dan menembus hingga ke punggungnya.

Bau daging manusia yang hangus seketika memenuhi udara. Hantaman tombak itu seharusnya membuat tubuh Cangtian terpental ke belakang.

Namun, mengabaikan rasa sakit yang melumpuhkan akal sehat, Cangtian menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram batang tombak yang menancap di bahunya, menguncinya di tempat, dan menggunakan momentum lajunya untuk terus meluncur maju melalui lintasan tombak tersebut!

Mata Yan Lie terbelalak ngeri melihat monster manusia yang terus maju meski tertusuk.

Crash!

Pedang perak di tangan kanan Ye Cangtian berayun dalam satu tebasan kilat yang melengkung indah.

Tangan kiri Yan Lie, yang masih menggenggam Batu Suara, terpotong rapi dari sikunya, melayang ke udara, dan jatuh mendarat di atas salju.

"Aaaaggghhhhh!!!!"

Raungan penderitaan Yan Lie menggema ke seluruh penjuru gurun. Darah emas menyembur deras dari lengannya yang buntung. Ia jatuh berlutut, matanya menatap ngeri ke arah tangannya yang terpotong dan Batu Suara yang masih utuh di dalamnya.

Cangtian berdiri menjulang di atasnya, napasnya memburu, darah merah segar mengalir deras dari bahu kirinya dan menetes dari pedangnya.

Slash.

Satu ayunan pedang terakhir mengakhiri segalanya. Kepala Yan Lie terlepas dari lehernya dan menggelinding di atas salju, menyisakan keheningan yang mencekam di tengah badai.

Melihat perwira mereka dipenggal oleh seorang manusia fana yang tertusuk tombak api, sisa-sisa prajurit dewa yang masih hidup kehilangan seluruh semangat tempur mereka. Mental mereka hancur lebur. Mereka berteriak ketakutan, menjatuhkan senjata mereka, dan mencoba lari menembus badai.

Namun, Pasukan Fana tidak mengenal ampun. Dalam hitungan menit, delapan ratus serigala putih itu menerkam dan menghabisi setiap prajurit dewa yang tersisa, memastikan tidak ada satu pun yang selamat untuk menceritakan kisah pembantaian ini.

Saat sorak sorai kemenangan umat manusia bergema untuk pertama kalinya mengalahkan suara badai, Ye Cangtian akhirnya membiarkan pedangnya jatuh.

Pemuda itu ambruk bertumpu pada satu lutut, pandangannya mulai mengabur akibat kehilangan banyak darah dan racun api dari tombak di bahunya.

1
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!