Dira, Luna dan Nisa adalah tiga gadis yang bersahabat, mereka berteman sejak SMA.
Dira adalah seorang gadis yang bar-bar sering berantem dengan teman kampusnya. Tetapi dia gadis yang cukup mandiri walaupun terbilang dari keluarga yang berada.
Luna sejak kecil adalah anak yang paling memprihatinkan, dia tinggal bersama ibunya di rumah yang sangat sederhana, bahkan untuk mencukupi kebutuhannya ibunya harus berjualan makanan. Luna gadis yang pintar bisa masuk kampus terbaik di kota itu dengan bantuan beasiswa.
Nisa adalah gadis yang ceroboh, tukang makan, kalau bicara asal benar.
Buat Nisa yang penting ada makanan semua beres.
Arkan dan Elang siapa ya mereka????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
#Awal pertemuan Sisil dengan Leo.
Sisil berlarian menuju ke dalam kampus karena sudah hampir telat, tidak sengaja dia menabrak seseorang yang kelihatannya sedang kebingungan mencari sesuatu.
"Aku buru-buru! bisa minggir tidak!" ucap Sisi, melangkah melanjutkan jalanya.
"Minta maaf dulu!" ucap Leo, mencekal lengan Sisil.
"Aku sudah bilang, aku buru-buru! lepasin gak!" ucap Sisil, lalu menoleh ke arah Leo, ternyata Leo sangat tampan.
"Sopan santun kamu mana?" tanya Leo, dia tidak melepaskan tangan Sisil.
"Iya, aku minta maaf! tadi tidak sengaja," ucap Sisil, lalu tersenyum ke arah Leo.
"Kenalkan aku," Leo, kamu siapa?" sambil mengulurkan tangan.
"Sisil!" menjabat tangan Leo dengan tersenyum.
Leo mengajak Sisil untuk duduk dan berbicara, dia juga minta di antar ke ruang dosen, karena dia baru pertama kali ke kampus ini. Sisil mengantar kemana Leo mau, sehingga menimbulkan keakraban buat keduanya.
####
"Nisa, tunggu!" ucap Elang, melihat Nisa baru datang ke kampus dan memanggil Nisa.
"Ada apa kakak ganteng?" tanya Nisa, merapikan rambutnya yang tidak berantakan.
"Kantin, yuk!" ajak Elang, belum sarapan pagi dan mengajak Nisa ke kantin.
"Nisa sudah sarapan di rumah, kakak ganteng!" tolak Nisa.
Elang terus memaksa Nisa agar mau menemani dia makan di kantin, Nisa pun mau dengan syarat di traktir.
Tiba-tiba Dira datang dan mengikuti mereka, setelah sampai di kantin baru Dira duduk di sebelah Nisa.
"Dira!" kaget Nisa, melihat Dira tiba-tiba di sebelahnya.
"Kalian tidak mengajak aku ke kantin!" ucap Dira, melihat ke arah Elang dan Nisa.
"Lihat kamu saja tidak!" ucap Elang, lalu meninggalkan mereka untuk memesan makanan.
"Tumben Elang mau makan di kantin!" ucap Dira, heran dengan Elang yang tiba-tiba langsung ke kantin.
"Tadi maksa Nisa," ucap Nisa, sambil mengambil camilan di meja.
"Luna mana, Nisa?" tanya Dira, panik karena tidak melihat Luna.
"Aku juga belum ketemu, Dira!" kata Nisa, memakan makanan yang dia ambil tadi.
Elang datang membawa tiga mangkok mie rebus yang dia pesan, dan mengajak Nisa dan Dira untuk makan. Dira berpamitan untuk mencari Luna terlebih dahulu dan meninggalkan Nisa dan Elang di kantin.
Dira berlari menuju ke perpustakaan, ternyata benar Luna ada di sana sedang membaca buku.
"Luna, kamu disini? aku cari kamu!" kata Dira, duduk di sebelah Luna.
"Iya, aku langsung kesini," ucap Luna, meneruskan membaca buku.
Dira kali ini sangat berisik dan di tegur oleh petugas perpustakaan, Dira mengajak Luna untuk keluar dari perpustakaan. Luna mengikuti Dira, dari pada membuat orang yang ada di dalam perpustakaan terganggu.
Mereka menyusul Elang dan Nisa yang ternyata kasih berada di kantin.
"Luna, Dira kalian dari mana?" tanya Elang, yang masih sibuk makan.
"Kita dari perpustakaan," jawab Luna singkat.
"Luna, kamu mau makan apa?" tanya Elang, karena Luna belum dia traktir sendiri.
"Terserah kamu saja, Elang!" ucap Luna, lalu duduk di kursi kosong dekat Elang dan Nisa makan. Elang lalu memesankan makanan yang sama untuk Luna.
"Aku pamit ke toilet dulu!" pamit Nisa, berlari menuju toilet.
"Tumben Nisa ke toilet! habis berapa mangkok tadi, Elang?" tanya Luna, penasaran.
"Baru dua mangkok mie tadi, belum nambah," ucap Elang, memberikan semangkok mie pada Luna.
"Dira, ayo kita makan!" ajak Luna, menerima pemberian Elang.
"Aku masih kenyang," jawab Dira, memainkan handphone genggamnya.
Nisa di toilet sedang kesakitan perut, saat makan tadi dia kebanyakan menaruh sambal di dalam mienya. Dia terpaksa harus menghabiskan karena malu dengan Elang. Saat akan kembali ke kantin tiba-tiba perutnya sakit lagi, terpaksa dia masuk ke toilet lagi.
"Nisa lama sekali, kemana saja?" tanya Dira, Dira heran dengan Nisa, biasanya dia makan banyak juga tidak bermasalah.
"Mungkin ketiduran," ucap Elang, membuat Dira melotot ke arah Elang.
"Cepat habiskan makanan kalian!" kata Dira, melihat jam di pergelangan tangan, ternyata jam kuliah akan segera di mulai.
"Sekarang jam pak Arkan, Dira! aku lupa!" ucap Luna, lalu mempercepat makannya.
"Pelan-pelan, Luna!" sahut Elang, mengaduk minuman milik dia.
"Jangan sampai telat lagi kita," kata Dira, menoleh ke arah toilet tetapi Nisa belum juga nampak.
Dira lalu membereskan tas Nisa yang di tinggal, sambil menunggu Luna makan. Setelah selesai makan mereka mencari Nisa ke toilet, ada satu pintu yang tertutup.
Dira dan Luna mengetuk pintu itu, dan benar Nisa ada di dalam. Nisa menyuruh mereka untuk masuk duluan ke kelas, karena perutnya yang masih sangat sakit.
Dira dan Luna akhirnya meninggalkan Nisa ke kelas dan ternyata Sisil melihat kejadian itu, dia mengunci pintu toilet dari luar.
Hampir satu jam Nisa tak kunjung ke kelas, Dira dan Luna sangat panik belajar pun tidak konsentrasi.
"Pak, izin ke toilet sebentar!" ucap Dira, karena Nisa tak kunjung datang.
"Mau ngapain?" tanya pak Arkan, dia bertanya karena tidak percaya dengan Dira.
"Buang air, pak! masa mau makan!" ucap Dira dengan ketus.
"Selesaikan dulu tugas kamu!" tegas pak Arkan.
Dira sangat kesal dengan pak Arkan, karena tidak mengizinkan dirinya ke toilet untuk mencari Nisa. Keadaan Nisa di toilet saat ini sangat lemas, berteriak minta tolong tetapi tidak ada yang mendengar.
"Kenapa pintunya bisa terkunci dari luar, aku sudah tidak kuat, Dira, Luna, tolong aku! " ucap Nisa.
Sayang sekali tidak ada satupun orang yang lewat, kebetulan juga di waktu jam pelajaran.
Begitu selesai dari jam pak Arkan, Dira langsung berlari keluar, pak Arkan masih di dalam kelas dan bertanya pada Luna.
"Luna, tunggu! kenapa Dira berlari?" tanya pak Arkan.
"Perutnya mungkin sakit, pak," ucap Luna, saat akan melanjutkan langkahnya pak Arkan terus mengajak bicara.
"Maaf, pak! saya buru-buru!" ucap Luna, meninggalkan pak Arkan begitu saja.
Di toilet Dira mengetuk pintu yang masih tertutup, tetapi tidak ada sautan dari Sisil.
"Gimana, Dira?" tanya Luna yang baru datang.
"Nisa diam saja! ayo kita dobrak saja pintu ini!" ajak Dira.
"Tapi, apa Nisa masih di dalam?" tanya Luna lagi.
Mereka berdua berusaha mendobrak pintu itu tetapi tidak berhasil, kemudian Luna mencari bantuan.
Kebetulan ada Leo yang melintas di situ, Luna langsung menarik tangan Leo dan mendobrak pintu. Leo menolak tetapi Dira dan Luna terus memaksa, akhirnya Leo mau membantu juga.
Saat pintu di buka mereka menemukan Nisa sudah pingsan di dalam toilet, lalu mereka menolong dan membawa ke petugas kesehatan yang ada di kampus itu.
"Ini semua gara-gara pak Arkan, kita jadi terlambat tolong Nisa!" ucap Dira, dengan kesal.
"Kenapa bisa teman kalian terkunci di toilet?" tanya Leo.
"Kita tidak tau," ucap Luna.
Dira dan Luna mengucapkan terimakasih pada Leo karena sudah membantu mereka, Leo pamit pergi karena ada mata kuliah lagi.
"Luna, kamu tolong jaga Nisa sebentar, aku ada perlu!" ucap Dira, meninggalkan Luna begitu saja.
"Dira, mau kemana?" tanya Luna, tetapi tidak ada jawaban.
Dira pergi ke ruangan pak Arkan, dia marah dengan pak Arkan.
"Ini semua gara-gara bapak, aku jadi telat tolong Nisa!" ucap Dira, dengan wajah marahnya.
"Kamu kenapa, Dira?" tanya pak Arkan dengan pelan.
"Kalau bapak mengizinkan Dira ke toilet tadi, mungkin Nisa belum pingsan!" omel Dira.
"Nisa pingsan! kok bisa?" tanya pak Arkan lagi.
Dira menjelaskan kepada pak Arkan, kenapa Nisa bisa pingsan, lalu pak Arkan meminta maaf pada Dira. Sekarang pak Arkan mengajak Dira untuk melihat keadaan Nisa di ruang kesehatan kampus.
"Bagaimana Luna, keadaan Nisa? sudah sadar belum?" tanya Dira.
"Belum, kita tunggu di sini dulu!" ucap Luna, yang duduk di kursi ruang tunggu.
Pak Arkan dan Dira ikut duduk di sebelah Luna, sambil menunggu petugas kesehatan memeriksa Nisa.
Petugas kesehatan akhirnya keluar dari ruangan itu dan memberitahu kalau Nisa sudah sadarkan diri. Dira, Luna, dan pak Arkan masuk ke ruangan itu untuk melihat keadaan Nisa yang masih terbaring lemas.
"Nisa, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dira.
"Aku tidak apa-apa.... ucap Nisa lirih.
"Maafkan kita Nisa, tadi sudah ninggalin kamu di toilet!" ucap Luna.
"Ini bukan salah kalian kok! tadi pintu masih bisa di buka, setelah aku masuk dan mau keluar tiba-tiba pintu terkunci dari luar!" jelas Nisa.
"Pasti ada yang sengaja mengunci!" sahut pak Arkan.
"Kalau ada, kita cari tau!" ucap Dira.
"Nanti aku lihat di petugas keamanan rekaman cctv depan toilet!" ucap pak Arkan.
Setelah Nisa membaik mereka mengantarkan Nisa pulang ke rumahnya.
####
Sisil saat ini sedang bersama teman-temanya, mereka membahas soal Sisil yang terkunci di toilet.
Leo mendengar cerita Sisil dan marah pada Sisil.
"Jadi kalian yang sengaja mengunci orang tadi di toilet!" sahut Leo, menatap ke arah Sisil.
"Mereka yang duluan ganggu aku!" jawab Sisil.
"Sisil, aku tidak menyangka kamu tega melakukannya!" ucap Leo.
"Kamu tidak usah ikut campur, Leo!" ucap salah satu teman Sisil.
"Kalian ternyata tidak sebaik yang aku pikir!" ucap Leo, lalu meninggalkan Sisil dan teman-temannya.
"Leo! Leo.. tunggu!" Sisil mengejar Leo.
"Apa lagi? aku tidak mau kenal kamu lagi!" ucap Leo.
"Aku bisa jelaskan!" ucap Sisil, lalu mengajak Leo untuk berbicara.
Leo percaya dengan apa yang di katakan oleh Sisil, dia juga menasehati Sisil agar tidak mengulangi lagi perbuatannya.
####
Pak Arkan saat ini menemui petugas keamanan di kampus, dia ingin melihat cctv yang ada di depan toilet. Setelah melihat pak Arkan kaget ternyata Sisil yang melakukan ini, dia membawa bukti itu.
Keesokan harinya pak Arkan memanggil Sisil ke ruangannya dan menunjukkan bukti cctv itu pada Sisil, tetapi Sisil terus menyangkal dan mengarang cerita.
"Perbuatan kamu ini hampir menghilangkan nyawa seseorang, Sisil!" ucap pak Arkan.
"Itu salah mereka juga, pak!" sangkal Sisil.
"Kamu tidak boleh mengikuti kelas saya selama tiga hari! dan ini surat peringatan kedua kamu! sekarang silahkan tinggalkan ruangan ini!" ucap pak Arkan, marah pada Sisil.
"Tapi, pak!" ucap Sisil.
"Keluar!" bentak pak Arkan, dia kesal karena Sisil tidak mau mengakui perbuatannya padahal bukti sudah jelas.
Sisil pergi ke tempat teman-temannya berkumpul, dia menunjukkan kertas itu kepada teman-temannya.
"Puas kalian!" ucap Sisil.
"Maaf kita tidak tau kalau akan seperti ini!" ucap salah satu teman Sisil.
"Ide kalian selalu bikin aku di hukum, kenapa tidak bilang kalau di toilet ada cctv!" ucap Sisil, marah dengan temanya.
"Mana kita tau," jawab teman Sisil dengan entengnya.
Mereka akhirnya berdebat saling menyalahkan satu sama lain.
Dira, Luna dan Nisa sekarang sedang mengerjakan tugas bersama di perpustakaan, mereka berencana akan magang di perusahaan dan saat ini mereka menyiapkan perlengkapan yang di perlukan.
Elang menemui mereka karena dari kemarin pagi belum ketemu, dia juga tidak tau soal Nisa yang habis terkunci di toilet.
"Kalian ngapain?" tanya Elang, yang baru datang.
"Kakak ganteng, tidak lihat kita sedang apa!" jawab Nisa.
"Elang, kamu kemana saja, dari kemarin gak nongol?" tanya Luna.
"Aku kemarin langsung pulang, tidak jadi kuliah," ucap Elang.
"Ada apa? kok mendadak sekali?" tanya Dira.
Elang bercerita kalau bundanya minta di antar ke bandara karena ada saudara yang sakit di luar kota, kebetulan kuliah Elang tidak padat.
"Nisa kemarin sakit perut gara-gara kamu!" ucap Luna.
"Lho! kok aku yang di salahkan, Nisa sendiri yang minta makan banyak!" jelas Elang.
"Sudah jangan malu-maluin kalian!" sahut Nisa, tidak terima temanya menyalahkan Elang.
Dira menceritakan semua pada Elang, apa yang di alami Nisa kemarin.
"Ayo kita ke kantin lagi!" ajak Elang.
"Boleh!" ucap Dira, dengan semangat.
Mereka pun pergi ke kantin bersama, kali ini Dira yang akan membayar jajan mereka.
"Nisa, jangan banyak-banyak pakai sambelnya," ucap Dira.
"Dikit kok!" ucap Nisa, sambil tersenyum.
"Jangan di ulang lagi, Nisa! ingat kemarin!" sahut Nisa.
"Iya, Luna! aku sudah kapok!" ucap Nisa.
Di saat mereka sedang menikmati makanannya tiba-tiba Sisil datang, dia tidak terima karena di beri surat peringatan.
"Kalian ngadu apa sama pak Arkan?" tanya Sisil.
"Ngadu?" ucap Dira, saling berpandangan dengan Luna dan Nisa.
"Iya, kalian kan yang sudah bilang kalau Nisa terkunci di toilet!" tuduh Sisil.
"Jangan-jangan kamu yang kunci Nisa dari luar!" sahut Luna.
"Gara-gara kalian aku dapat surat peringatan lagi!" ucap Sisil.
"Itu belum apa-apa! besok kamu bisa di do!" sahut Elang.
"Kamu diem, Elang! jangan ikut campur!" ucap Sisil, melotot ke arah Elang.
"Aku jadi gak nafsu makan, lihat Sisil datang!" sahut Nisa.
"Sisil!" panggil Leo.
"Iya, Leo!" jawab Sisil, lalu pergi menemui Leo.
Setelah kepergian Sisil mereka tampak bingung dengan ucapan Sisil.
"Maksudnya Sisil tadi apa? kok kita yang disalahkan?" tanya Luna.
"Aku juga tidak tau!" jawab Dira.
"Sudah kita lanjut makan aja!" ucap Nisa.
"Nanti di rumah aku tanya kakak!" ucap Elang, biar temannya tidak penasaran.
Selesai makan mereka semua pulang ke rumah masing-masing, kecuali Dira yang akan berangkat berkerja.
...❤❤❤❤❤...
Terimakasih sudah membaca dan mendukung 🥰
baik benar jadi teman❣️❣️❣️❣️
masih z suka menyalahkan orang lain 🙄🙄🙄🙄