Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan anak kandung
Setelah mencari cukup lama, menyisir setiap sudut rumah sakit, akhirnya Edho menemukan Ayahnya sedang duduk melamun di salah satu kursi yang terdapat di taman rumah sakit QQ.
Berjalan berlahan Edho menghampiri Ayahnya.
"Kenapa ayah ada disini?" Tanya Edho ikut duduk di samping ayahnya.
"Edho?" Baim memilih diam, dia menatap kedepan dengan tatapan kosong.
"Kenapa Ayah tidak menemui bunda? Bunda menunggu kedatangan Ayah."
"Bagaimana kondisinya?"
"Kenapa tidak melihat secara langsung kondisi bunda?"
"Ayah tak sanggup, sungguh sakit rasanya,edho."
"Kenapa, Kesalahan seperti apa yang telah dilakukan oleh bunda? Mengapa tak ada pintu maaf dari ayah untuk bunda? Pertanyaan Edho bertubi-tubi menghujani Baim. Membuat Baim binggung harus berkata apa. Dia takut jika Edho mengetahui mengenai masa lalu mereka dia akan membenci bundanya.
"Kamu tak perlu tahu Edho, itu masalah antara ayah dan bunda."
"Aku harus tahu ayah, Aku bukan anak kecil lagi. Aku tak ingin terus-terusan melihat bunda menanggis tanpa tahu apa yang di tanggisinya."
"Jangan ingin tahu, Edho. Biarkan semua ini kami berdua yang hadapi."
"Ayah, Edho mohon. Ceritakan semuanya, Edho berhak tahu."
"Oke, tetapi dengan satu syarat!"
"Apa?"
"Tetaplah berada di sisi bundamu, walaupun kamu mengetahaui kenyataan ini. Jangan pernah membencinya."
"Baik, akan Edho lakukan seperti permintaan Ayah." Tanpa berpikir sebesar apa kesalahan sang bunda.
"Uhemm, Baim menarik nafas sebelum mulai bercerita.
"Edho, apakah kamu masih mengingat bagaimana kisah antara Bundamu dan Kenzo?
"Iya, aku mengetahaui kisah itu."
"Kami bersahabat, Ayah, bundamu, Kenzo dan Vino. Kami berteman cukup lama, Seperti kata orang tak ada namanya persahabatan murni diantara pria dan wanita. Ayah menggagumi Bundamu diam-diam tanpa mengutarakan rasa kagum itu. Ayah memilih menjadi penggagum rahasia bundamu, karena pada waktu itu Kenzo juga menaruh hati pada Bundamu. Ayah tidak ingin merusak persahabatan kami pada waktu itu. Ayah juga sadar bahwa Bundamu juga menggagumi Kenzo."Baim menghentikan ceritanya sesaat.
Semua itu berubah setelah kakekmu menjodohkan Ayah dan Bunda. Ayah sangat senang pada waktu itu, walaupun akibat perjodohan itu Kenzo mulai menjauhi kami.
Ayah bertekad membuat bundamu jatuh cinta pada ayah. Usaha ayah tidak sia-sia tidak membutuhkan waktu lama sehingga ayah berhasil meluluhkan hati bundamu. Hubungan kami semakin membaik pada waktu itu, kami memutuskan untuk bertunangan dahulu sebelum menikah.
"Sehingga pada suatu saat bunda mu mengajak ayah menemui kenzo. Akibat pertemuan itu, bundamu memutuskan hubungan dengan ayah. Dia berkata dia mencintai kenzo.Bundamu sangat terobsesi untuk memiliki Kenzo. Bermacam cara dia lakukan untuk mendapatkan kenzo. Dia bahkan pernah mencoba bunuh diri."
Baim mulai berkaca-kaca ingin menanggis saat ini.
"Kamu tahu kesalahan terbesar bundamu bukan karena dia memutuskan hubungan dengan ayah. Tetapi kesalahanya adalah menyingkirkan buah cinta kami." Air mata yang Baim tahan sejak tadi akhirnya jatuh juga, jatuh membasahi wajahnya.
"Apa maksud ayah?"
'"Ayah tidak mempermasalahkan dia memutuskan hubungan dengan ayah, dia memilih memperjuangkan cintanya dan Kenzo. Karena ayah sadar betul, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Tetapi mengapa dia menyingkirkan buah cinta kami, dia mengaborsi janin yang di kandungnya saat itu. Anak yang harusnya hadir dan menjadi kakakmu dia menyingkirkan janin itu tanpa memikirkan perasaan ayah."
"Apa!" Edho mengusap mukanya frustasi.
"Katakan bahwa ayah bohong, katakan bahwa apa yang ayah ceritakan itu tidak benar. Bunda tidak mungkin melakukan semua itu."
"Ayah juga berharap itu semua tidak terjadi, ayah berharap itu semua hanya mimpi. Tetapi itulah kenyataan sebenarnya.
"Tidak ayah bohong."
"Edho, bunda mu yang dulu jauh sekali perbedaannya dengan bundamu yang sekarang.Dahulu Dia wanita yang dipenuhi ambisi kuat, tidak ada satu hal pun yang di inginkannya tidak dia dapatkan. Karena itu dia sangat terobsesi untuk memiliki kenzo."
"Bunda... "
Ucap Edho terduduk lesu di samping ayahnya."
"Ingat Edho, jangan pernah membenci bundamu. tetaplah berada disampingnya."
"Apakah karena ini ayah sangat membenci Bunda?"
"Iya, edho."
"Apakah ayah tidak mencintai bunda?"
"Cinta?" Ayah sungguh muak mendengar kata itu."
"Jawab Edho ayah, apakah ayah mencintai bunda?"
Baim diam dia tidak tahu harus menjawab apa, sesungguhnya dia sangat binggung dengan perasaannya sendiri. apapun yang dia lakukan untuk menyakiti Clara. Tetapi hal itu membuat dia sendiri bertambah sakit. Melihat clara menanggis akibat ulahnya membuat hatinya ikut menanggis. Mengapa perasaan ini tidak bisa dia ajak kompromi. seharusnya dia senang ketika menyakiti Clara, tetapi yang di rasakan berbanding terbalik dari harapannya.
"Kenapa ayah diam?" Tanya Edho memperhatikan sang ayah yang membisu mengunci mulutnya untuk berkata-kata.
"Apakah ayah merasa senang melakukan semua ini pada bunda? Apakah ayah bahagia?" Tanya Edho sekali lagi, walaupun ayahnya tetap diam membisu.
"Apakah dengan melakukan semua ini dapat mengulang kembali masa lalu kalian, mengembalikan janin yang telah di buang oleh Bunda? Aku berharap ayah dapat berdamai dengan hati ayah sendiri. Ada aku, apakah kehadiranku tidak berarti apa-apa buat ayah."
"Edho, Ayah meragukan bahwa kamu anak ayah, jujur ayah merasa tidak pernah melakukan hal itu pada bunda."
"Hehe, teruslah hidup seperti ini ayah, apa ayah tahu, ayah telah membuang-buang waktu ayah untuk hal-hal yang tidak berguna.
Aku tidak mempermasalahkan ayah tak menganggapku anak ayah. Aku sedari kecil juga telah merasakan bahwa ayah tak menginginkan aku. Aku cukup tahu kebenaran ini, aku tahu bunda salah, aku rasa selama ini juga bunda tersiksa dengan rasa bersalahnya." Edho menarik nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Aku memang bukan akan ayah, hiduplah seterusnya dengan keyakinan bahwa aku bukan anak ayah."
"Edho, ayah tidak bermaksud seperti itu."
"Hem, Edho tersenyum walau hati menanggis. Aku akan selalu berada disisi bunda, aku yang akan menjaganya. Ayah pergilah, lanjutkan kehidupan ayah, maafkan bunda atas kesalahannya dulu.Aku permisi dulu.
Edho beranjak dari tempat duduknya, dia berlari kecil tanpa menghiraukan panggilan Baim yang terus memanggilnya. Dia tidak ingin menujukan bahwa saat ini dia sedang menanggis, dia menyembunyikan air matanya di hadapan ayahnya.
Edho masuk ke toilet rumah sakit, cukup lama dia berdiam di toilet tersebut. Disana dia menanggis menumpahkan sesak di dadanya.
Anak mana yang tidak kecewa dan sedih apabila tidak di akui sebagai anak oleh orang tua yang berada disisinya selama ini. Hati siapa yang tidak menanggis apabila tidak pernah di akui sebagai anak oleh orang tuanya.
Edho menanggis dan terus menanggis, dia percaya pada Bunda Clara. Dia yakin bundanya tidak serendah itu,dia yakin bahwa Baim adalaha ayah biologisnya. Rasa dendamnyalah yang membuatnya berhati batu.
.
.
.
.
.
Jangan lupa memberikan dukungan kalian buat Author ya. Minta vote,like dan komentarnya😘😘