Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Rencana Licik Anna
"Aku salah nilai kamu selama ini, Mas." lanjut Nisa. "Ternyata selama ini aku hanya kamu anggap sebagai barang saja yang setelah selesai dipakai langsung kamu abaikan."
Kini raut wajah Nisa tidak tersirat rasa sedih lagi, namun kali ini ekspresi wajahnya tergambar seperti orang yang merasa sangat tersinggung dan terluka hatinya karena harga dirinya sudah diinjak-injak.
Nisa boleh saja orang dari kalangan bawah, namun untuk harga diri, pantang untuk direndahkan oleh orang lain. Baik itu oleh sesamanya atau orang yang berada di atas kelasnya.
"Oke, Mas. Kamu anggap aku hanya sekedar barang. Maka aku pun akan mulai menganggapmu hanya sekedar patung yang berjalan," tekad Nisa yang rasa sakit hati dikhianati oleh Arya telah luntur dan tergantikan oleh rasa tidak terima harga dirinya diinjak-injak.
Nisa mulai kembali ke tempatnya semula dan memilih duduk di salah satu kursi sambil menunggu pintu kantor dibukakan oleh suaminya.
Di dalam ruang kantor Arya, mereka berdua yang baru selesai berzinah mulai mengenakan pakaian mereka kembali.
"Yank, nanti aku ngumpet atau menampakkan diri saja?" tanya Anna kepada Arya.
"Kamu ngumpetlah! Nanti kalau Nisa ngeliat kamu ada di dalam kantorku, dia pasti akan curiga."
"Kenapa sih aku harus sembunyi? Setakut itu kah kamu sama istrimu, Mas?"
"Aku nggak takut sama Nisa. Aku hanya takut kepada ayahku saja."
"Memangnya ayah kamu kenapa, Mas?"
"Kalau ayahku tahu, dia akan membuat aku dipecat dari jabatanku saat ini."
"Sebegitu sayangnya kah orang tuamu sama istrimu?"
"Sebenarnya yang sayang banget itu ibuku sama Nisa, tapi karena ibuku sudah meninggal, ayahku yang gantian menjaga Nisa. Meski dia nggak terlalu sayang pada Nisa, tapi aku yakin dia pasti akan langsung menurunkanku dari jabatanku saat ini kalau aku ketahuan macam-macam."
"Lalu hubungan kita akan terus begini aja, Mas?" kesal Anna. "Aku juga ingin jadi istri sah kamu, Mas. Aku sudah menyerahkan semua yang aku punya buat kamu. Masa kamu akan ngebuang aku begitu aja. Aku nggak mau ya kalau hanya jadi selingkuhan kamu saja. Jadi istri kedua pun aku mau kok."
"Kamu sabar dulu ya, An!" jawab Arya lirih. "Aku pasti akan nikahin kamu kok. Tapi ... aku bingung bagaimana caranya agar ayahku tidak menyalahkanku saat aku menjadikanmu istri kedua. Mungkin akan lain ceritanya kalau Nisa yang selingkuh."
"Kita buat saja istrimu itu seolah-olah berselingkuh darimu, Mas. Agar kita bisa bebas menikah secara sah di mata agama dan negara."
"Tapi bagaimana caranya, An?" bingung Arya. "Istriku saja tidak pernah pergi-pergi keluar rumah atau berinteraksi dengan lelaki lain selain keluarganya sendiri."
"Kita bayar aja seorang laki-laki muda dan kita buat seolah itu simpanan istri kamu, Mas. Setelah itu kita grebek dan kamu bersandiwara seolah kamu yang paling tersakiti. Kamu bisa minta cerai dan lain-lain. Lalu setelah itu kita bisa menikah, Mas, tanpa banyak yang akan menghalangi lagi."
"Baiklah kalau begitu. Kamu atur saja ya, Sayang. Jujur saja aku sudah jenuh dan bosan tinggal bersama dengan istriku itu selama dua puluh tahun lebih," curhat Arya.
"Tentu saja aku akan mengaturnya. Akan aku pastikan kamu dan istrimu berpisah secepatnya. Serahkan saja semuanya padaku," ucap Anna sembari menyeringai licik.