NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

"Lanjutkan penyisiran," ujar Rayan setelah beberapa saat terdiam. Nada suaranya tenang, namun penuh ketegasan. "Perluas jangkauannya. Periksa pasar barang bekas, kawasan padat penduduk, sampai daerah-daerah yang bahkan tidak tercantum dalam data resmi. Jangan lewatkan satu tempat pun."

Arka menundukkan kepala singkat. "Siap, Tuan. Saya akan segera menindaklanjutinya."

Rayan merebahkan punggungnya pada sandaran kursi sambil memandang hamparan langit kota yang perlahan diselimuti senja. Sorot matanya menyimpan kelelahan setelah hari yang panjang, namun di balik itu terselip perasaan yang terus mengusiknya. Ada keresahan samar yang sulit ia jelaskan, seolah sesuatu memanggilnya dari kejauhan. Ia tidak mengerti asalnya, tetapi perasaan itu terlalu kuat untuk diabaikan.

Rayan tidak mengetahui siapa sebenarnya perempuan itu. Namun anehnya, bayangan tentang dirinya terus hadir dalam ingatan, muncul berulang kali seperti serpihan kenangan yang tak utuh dan sulit dipahami.

Namun sejak malam itu, ketenangan yang selama ini ia kenal seakan perlahan menghilang dari hidupnya.

Dan ia bertekad untuk terus mencari hingga akhirnya menemukan perempuan tersebut.

Dua puluh bulan telah berlalu sejak malam yang mengubah segalanya itu.

Selama rentang waktu itu, Rayan Elvano Wirajaya tidak pernah sekalipun menghentikan usahanya untuk mencari.

Minggu demi minggu berlalu dengan laporan baru yang terus berdatangan. Berkas-berkas menumpuk di atas meja, peta-peta diperbarui, dan setiap foto kembali diteliti dengan saksama untuk mencari petunjuk yang mungkin terlewat. Dana yang dikeluarkan pun terus bertambah tanpa batas yang jelas. Banyak orang merasa heran melihat kegigihannya. Mereka tidak mengerti mengapa Rayan rela menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga, dan uang demi menemukan seorang wanita yang bahkan identitas lengkapnya masih menjadi misteri baginya.

Namun, Rayan tidak memedulikan semua komentar itu.

Rayan dikenal sebagai sosok yang pendiam dan sulit ditebak. Ia jarang menunjukkan emosi, cenderung menjaga jarak, dan hampir tidak pernah membiarkan urusan pribadi memengaruhi hidupnya. Namun ada satu prinsip yang selalu ia pegang teguh tanggung jawab. Sekali ia merasa memiliki kewajiban terhadap sesuatu, ia akan menuntaskannya dengan sungguh-sungguh tanpa pernah setengah hati.

"Aku mungkin telah kehilangan sebagian ingatan tentang malam itu," gumam Rayan pelan. "Tapi aku yakin satu hal, beban dari kejadian tersebut tidak seharusnya dipikul olehnya seorang diri."

Kata-kata itu meluncur nyaris seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Malam telah larut ketika ia berdiri di balkon kantornya, memandangi gemerlap lampu kota yang membentang di kejauhan. Angin malam berembus pelan, menerpa wajahnya yang tampak serius. Di tengah keramaian kota yang tak pernah benar-benar tidur, pikirannya kembali tertuju pada sosok perempuan yang selama ini terus menghuni sudut benaknya.

Banyak orang mengira Rayan telah melupakan kejadian itu dan melanjutkan hidupnya seperti biasa. Namun kenyataannya tidak demikian. Jauh di dalam hatinya, masih ada kegelisahan yang tak kunjung menghilang. Sesekali, wajah gadis yang ditemuinya malam itu muncul dalam mimpi-mimpi yang samar dan sulit dijelaskan. Bayangan itu tidak pernah terlihat jelas, tetapi selalu meninggalkan perasaan yang mengganggu, seolah ada sesuatu yang belum selesai dan terus menuntut jawaban darinya.

Rayan menyadari bahwa apa yang mendorongnya selama ini bukan sekadar rasa bersalah. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu sebuah prinsip yang selalu ia pegang teguh. Ia tidak ingin menjadi seseorang yang berpaling dari konsekuensi atas tindakannya. Meskipun ingatannya tentang malam itu nyaris tidak ada, ia tetap merasa memiliki tanggung jawab untuk mencari kebenaran dan menghadapi apa pun yang menantinya.

"Aku memang belum tahu siapa dirinya," ucap Rayan pelan. "Tapi jika aku memilih mengabaikan semua ini, berarti aku telah mengkhianati prinsip yang selama ini kupegang."

Arka memahami bahwa apa yang diucapkan Rayan bukan sekadar instruksi yang harus dijalankan. Di balik setiap kata, tersimpan prinsip hidup yang telah lama dipegangnya. Dan selama keyakinan itu masih tertanam dalam diri Rayan, pencarian tersebut akan terus berlanjut tanpa mengenal kata berhenti.

Meskipun biaya yang telah dikeluarkan untuk pencarian itu mencapai angka yang sangat besar, Rayan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Ia tetap melanjutkan usahanya, seolah nilai uang tidak ada artinya dibandingkan jawaban yang ingin ditemukannya.

Tak seorang pun tahu apa yang sebenarnya mendorongnya untuk terus bertahan. Mungkin karena ia ingin membereskan masa lalu yang belum selesai, atau menjalankan tanggung jawab yang ia rasa masih melekat padanya. Namun bisa jadi ada alasan lain yang lebih dalam sesuatu di dalam hatinya telah terhubung dengan sosok itu jauh sebelum ia menyadarinya sendiri.

*****

Pagi itu, langit di Semarang tertutup awan kelabu yang menggantung rendah. Udara terasa pengap dan penuh tekanan, seakan menyimpan pertanda bahwa sesuatu besar akan terjadi dalam waktu dekat.

Di lantai paling atas gedung Wirajaya Corp, Rayan berdiri dalam keheningan. Tubuhnya menghadap ke arah jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Sorot matanya tertuju pada langit kelabu di luar sana, mengikuti pergerakan awan gelap yang menggantung rendah di atas kota dengan tatapan yang sulit diartikan.

Pintu ruang kerja itu terbuka perlahan, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan. Suara langkah sepatu berhak terdengar teratur mendekat. Tak lama kemudian, aroma parfum berkelas menyebar di udara. Zahra melangkah masuk tanpa menunggu izin, seperti yang sering dilakukannya. Penampilannya terlihat sempurna dengan rambut yang tertata rapi dan riasan yang nyaris tanpa cela. Namun di balik penampilan elegan itu, tersimpan tatapan tajam yang seolah membawa maksud tertentu.

"Ada hal yang harus kita bahas," katanya tegas begitu memasuki ruangan, tanpa memberi ruang untuk percakapan ringan terlebih dahulu.

Rayan bahkan tidak menoleh. "Ternyata kamu datang lagi."

"Aku datang untuk mendapatkan kejelasan," jawab Zahra tegas. Ia meletakkan sebuah amplop di atas meja tanpa ragu. "Orang-orang mulai mempertanyakan kapan semuanya akan dipastikan. Kita sudah bertunangan cukup lama, Rayan."

"Itu terjadi bukan karena keinginanku," jawab Rayan tenang. Meski suaranya pelan, ketegasan di dalamnya tidak bisa disangkal.

Zahra mengulas senyum tipis yang sulit ditebak artinya. "Paksaan, katamu?" ujarnya pelan.

"Keluargamu dan keluargaku sudah mencapai kesepakatan. Bahkan Tuan Zayan tidak pernah menentang hubungan ini. Semua orang menganggap kita akan bersama pada akhirnya. Yang tersisa hanyalah menetapkan hari pernikahan dan mengakhiri keraguanmu itu."

Rayan akhirnya mengalihkan pandangannya. Tatapannya jatuh pada Zahra dengan sorot mata yang tenang, namun tajam.

"Berpura-pura?" ulangnya pelan. "Kalau ada yang sedang menyembunyikan kenyataan, itu bukan aku, Zahra."

Zahra sempat terdiam sejenak, seolah tidak menyangka akan mendapat balasan seperti itu. Namun ia segera menegakkan bahunya dan menatap Rayan tanpa gentar.

"Aku tidak sedang menyembunyikan apa pun," katanya mantap. "Perasaanku padamu selalu nyata, sejak dulu hingga sekarang. Setelah sekian lama menunggu, aku akhirnya berada di titik yang kuinginkan. Dan aku tidak berniat melepaskan kesempatan ini begitu saja."

Setelah itu, keheningan turun dan memenuhi ruangan, membiarkan kata-kata yang baru saja terucap menggantung di udara.

Kemudian Rayan bergerak maju dengan langkah tenang. Ia menghentikan langkahnya di hadapan Zahra, menyisakan jarak yang begitu dekat hingga mereka dapat melihat setiap perubahan ekspresi di wajah masing-masing dengan jelas.

Rayan menatapnya tanpa berkedip. "Jangan terlalu cepat merasa berhasil," ujarnya pelan namun penuh tekanan. "Yang kau miliki hanyalah sebuah simbol. Tapi kepercayaan dan pilihanku tidak pernah berpindah ke tanganmu."

Zahra membisu. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya perlahan menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku bisa saja memanfaatkan pengaruh keluargaku untuk memaksamu tetap berada di sisiku," ucap Zahra dengan suara yang mulai bergetar. "Tapi itu bukan yang kuinginkan. Aku tidak ingin hubungan ini berdiri karena tekanan atau kewajiban. Aku ingin suatu hari nanti kau memilihku karena memang itu yang kau inginkan."

Rayan memandang Zahra dalam diam untuk beberapa saat. Tidak ada yang bisa menyangkal pesona yang dimilikinya. Ia cantik, percaya diri, dan selalu tahu apa yang diinginkannya. Namun entah mengapa, semua itu tidak mampu menyentuh sesuatu di dalam dirinya. Hatinya tetap tenang, tanpa gejolak yang berarti.

Rayan menghela napas pelan sebelum akhirnya membuka suara. "Aku tidak ingin memberimu harapan yang keliru," katanya tenang.

"Perasaanku tidak pernah berada di tempat yang sama dengan perasaanmu. Dan sesuatu yang dipertahankan dengan paksaan biasanya tidak akan bertahan lama."

Zahra menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang nyaris meluap. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu. Langkahnya terdengar tergesa, sementara bunyi hak sepatunya bergema keras di ruangan yang mendadak sunyi.

Di luar gedung, awan yang sejak pagi menggantung akhirnya melepaskan seluruh bebannya. Hujan turun dengan deras, membasahi kota tanpa ampun. Suaranya menghantam kaca dan jalanan, seolah menjadi saksi bisu atas sesuatu yang baru saja retak dan perlahan runtuh.

Rayan tetap terpaku di tempatnya. Berbagai emosi saling bertabrakan di dalam dada, menciptakan kegelisahan yang sulit dijelaskan. Ia menyadari satu hal semua yang terjadi hari ini hanyalah awal. Sebuah ujian besar tengah menunggu di depan, dan badai yang sesungguhnya baru saja mulai bergerak menuju hidupnya.

*****

Beberapa bulan berlalu begitu cepat. Kini Fariz kecil telah berusia dua setengah tahun. Bocah itu tumbuh menjadi anak yang menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Wajahnya tampan, tubuhnya lebih tinggi dibandingkan anak-anak seusianya. Kulitnya cerah, sementara sepasang mata cokelatnya tampak jernih dan penuh rasa ingin tahu. Bulu matanya yang lentik membuat wajahnya terlihat semakin menawan, seolah digambar dengan begitu sempurna. Hanya bibir kecilnya yang tipis dan manis yang tampak jelas mewarisi wajah Alya. Selebihnya, Fariz bagaikan teka-teki yang belum terpecahkan. Mungkin sifat dan rupanya berasal dari sang ayah sosok yang hingga saat ini masih menjadi misteri, bahkan bagi Alya sendiri.

Fariz kecil kerap mencuri perhatian ke mana pun ia pergi bersama Alya. Saat digendong menyusuri pasar atau ketika menemani ibunya beristirahat di tepi jalan sambil menunggu cuaca tidak terlalu terik untuk mulai bekerja, tak sedikit orang yang menoleh dan memuji ketampanannya. Pertanyaan yang sama pun sering muncul dari berbagai mulut siapa sebenarnya ayah anak itu?

Namun Alya hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Ia memilih mengalihkan pembicaraan daripada menjelaskan sesuatu yang tak ingin diungkit lagi. Terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak prasangka yang pernah diarahkan kepadanya. Setelah sekian lama, ia sudah lelah memberi jawaban dan terbiasa menghadapi tatapan penuh rasa ingin tahu maupun kecurigaan dari orang-orang di sekitarnya.

Hari itu, mentari pagi masih terasa ramah ketika Alya memutuskan mengajak Fariz menemaninya mencari barang-barang bekas di kawasan pinggiran kota. Biasanya, Fariz akan dititipkan kepada Bu Lita, tetangga barunya yang selama ini banyak membantu dan menyayangi bocah itu seperti cucunya sendiri. Namun keadaan sudah berubah. Sejak seminggu terakhir, Bu Lita mulai bekerja sebagai penjaga toko di pasar dan menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Karena tak ingin merepotkan siapa pun, Alya akhirnya membawa Fariz ikut bersamanya bekerja hari itu.

Sementara itu, Bu Ami perempuan paruh baya yang dahulu selalu menjadi tempat Alya dan Fariz berlindung tak lagi memiliki tenaga seperti dulu. Kondisi kesehatannya terus menurun dari waktu ke waktu, membuatnya tak sanggup lagi mengurus anak kecil. Sejak kunjungan terakhir Alya beberapa waktu lalu, Bu Ami lebih banyak menghabiskan hari-harinya berbaring di atas ranjang. Batuk yang tak kunjung mereda kerap menguras tenaganya, membuat tubuhnya semakin lemah. Melihat keadaan itu, Alya tak tega meminta bantuan, meskipun ia tahu Bu Ami masih menyayangi Fariz seperti cucunya sendiri.

"Eh, Alya, hari ini Fariz ikut sama kamu?" sapa seorang pedagang sayur dari lapaknya di pinggir jalan. Pandangannya tertuju pada bocah kecil yang berada dalam gendongan kain di dada Alya.

Alya mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum tipis yang menyiratkan kelelahan.

"Iya, Mbok. Hari ini dia harus ikut sama aku. Lagi nggak ada yang bisa nemenin di rumah," jawabnya lembut.

Fariz kecil terlelap dengan tenang di pelukan Alya, kepalanya bersandar nyaman di bahu sang ibu. Napasnya terdengar pelan dan teratur, seolah dunia di sekitarnya tak menyimpan sedikit pun kesulitan. Ia belum mengerti betapa berat perjuangan yang harus dijalani Alya setiap hari.

Dengan karung usang yang tergenggam di satu tangan dan menjaga tubuh mungil Fariz di sisi lainnya, Alya melangkah menyusuri jalanan yang berdebu. Di bawah terik yang perlahan meninggi, ia menelusuri sudut-sudut kota, mengumpulkan botol plastik bekas, kaleng-kaleng kosong, dan apa pun yang masih bisa dijual demi menyambung hidup mereka berdua.

Sesekali Alya menghentikan langkahnya sejenak. Ia menyeka butiran keringat yang membasahi dahinya, lalu memperbaiki posisi Fariz dalam gendongan agar bocah itu tetap merasa nyaman. Di dalam hatinya, Alya sadar bahwa kehidupan yang mereka jalani jauh dari kata sempurna bagi seorang anak seusia Fariz. Namun untuk saat ini, hanya itulah yang mampu ia perjuangkan. Meski serba terbatas, ia bertekad memberikan yang terbaik dari apa yang dimilikinya demi masa depan putranya.

Alya menatap wajah Fariz yang masih terlelap, lalu mengusap rambut halusnya dengan penuh kasih.

"Sabar ya, Sayang," bisiknya lirih sambil mencium kening putranya. "Mungkin sekarang kita masih hidup sederhana, tapi Mama nggak akan menyerah. Mama akan bekerja sekuat tenaga supaya suatu hari nanti kamu bisa punya kehidupan yang lebih baik."

Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar beristirahat, Alya terus melangkah dengan langkah sederhana namun penuh keteguhan. Terik matahari dan kerasnya kehidupan seakan tak mampu memadamkan semangat yang ia simpan di dalam hati. Bersamanya ada sebuah harapan yang terus ia jaga dan lindungi harapan yang hadir dalam sosok anak kecil yang berada di pelukannya.

*****

Setelah berkeliling mencari barang bekas selama hampir setengah hari, Alya akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ia membawa Fariz menuju sebuah taman kota yang cukup tenang, jauh dari keramaian jalan utama. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya terdengar tawa beberapa anak yang sedang bermain di area ayunan dan perosotan. Di beberapa bangku taman, tampak para ibu duduk santai sambil mengawasi anak-anak mereka yang berlarian dengan riang.

Alya duduk di bangku beton yang mulai hangat terkena sinar matahari. Karung usang berisi hasil pulungannya tergeletak di samping kaki. Ia membuka tas kecilnya, lalu mengeluarkan sebotol air minum dan menyodorkannya kepada Fariz.

Bocah itu sudah terbangun sejak beberapa menit lalu. Wajahnya tampak segar setelah tidur cukup lama dalam gendongan. Sambil memainkan ranting kecil yang ditemukannya di taman, Fariz terus mengoceh dengan semangat, menikmati setiap hal yang menarik perhatiannya.

Tiba-tiba matanya berbinar. Ia mengangkat tangan mungilnya ke arah langit dan berseru penuh antusias,

"Mama, lihat! Ada burung di atas!"

Alya tersenyum kecil, tatapannya melembut saat melihat tingkah dan kepolosan Fariz. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan setiap kali ia menyadari betapa cepat putranya belajar dan memahami hal-hal di sekelilingnya. Di balik lelah yang menempel di tubuhnya, selalu ada kebanggaan kecil yang membuat hatinya terasa lebih ringan.

"Iya, Sayang. Itu burung," ucap Alya lembut sambil tersenyum. Tangannya mengusap pelan rambut halus Fariz dengan penuh kasih. "Pintar sekali kamu, Nak. Baru lihat sudah tahu itu burung."

Fariz tertawa kecil, lalu kembali asyik bermain dengan dedaunan kering di sekitarnya, menendang dan mengacaknya dengan penuh rasa ingin tahu. Alya memperhatikannya tanpa berkedip, seolah berusaha mengabadikan setiap detik sederhana itu dalam ingatannya. Momen seperti ini terasa begitu berharga di tengah kerasnya kehidupan yang terus ia jalani.

Namun ketenangan itu sedikit terusik ketika pandangannya tertuju pada seorang pria berpakaian rapi di dekat pintu masuk taman. Dengan gerakan santai, pria itu membuang beberapa botol plastik bekas ke dalam tong sampah besar yang tersedia di sana. Pemandangan itu membuat Alya tanpa sadar memperhatikannya lebih lama dari biasanya, sebelum kembali mengalihkan perhatian pada Fariz.

Botol-botol yang dibuang itu tampak masih cukup bersih, belum benar-benar layak disebut sampah. Seketika perhatian Alya berubah, matanya menajam dan mengikuti gerakan pria itu dengan lebih waspada dari sebelumnya.

"Di sini dulu ya, Sayang," ucap Alya pelan sambil berdiri. Ia merapikan posisi Fariz agar tetap aman di bangku. "Mama ambil botol itu sebentar."

Fariz mengangguk kecil, lalu kembali duduk di rerumputan sambil tetap menggenggam ranting yang tadi ia mainkan. Alya kemudian bergegas melangkah cepat menuju tong sampah di dekat pintu masuk taman. Ia memeriksa botol yang baru saja dibuang, memastikan kondisinya, lalu memasukkannya ke dalam karung yang dibawanya.

Setelah itu, ia segera kembali ke bangku tempat Fariz menunggu, memastikan putranya tetap aman dan tidak jauh dari pandangan.

Namun ketika Alya kembali ke bangku itu, ia langsung terdiam sejenak...

"Fariz?" suara Alya terdengar lebih tegas saat ia memanggil, sambil menoleh cepat ke kanan dan kiri. Matanya bergerak gelisah, menyapu setiap sudut sekitar bangku tempat ia meninggalkan putranya tadi.

Bangku taman itu kini kosong. Ranting kecil yang sebelumnya dimainkan Fariz tergeletak begitu saja di tanah, seolah baru saja terlepas dari genggaman. Suara tawa yang tadi memenuhi udara sudah lenyap tanpa jejak. Tidak ada lagi langkah kecil, tidak ada sosok bocah yang seharusnya menunggu di sana.

Yang tersisa hanya ruang sunyi yang membuat dada Alya langsung terasa sesak.

"Fariz?! Nak!" suara Alya pecah di tengah kepanikan yang tiba-tiba menyeruak. Ia menoleh lebih cepat, matanya membesar, mencari-cari ke segala arah dengan napas yang mulai tidak teratur.

Suara Alya terdengar meninggi, napasnya mulai tersengal saat rasa panik merambat cepat ke seluruh tubuhnya. Ia berlari ke satu sisi lalu berbalik ke sisi lain, matanya terus menyapu setiap sudut taman tanpa henti. Ia mencari sosok kecil dengan kaos lusuh dan celana pendek yang biasa ia kenakan, namun tidak ada satu pun tanda keberadaan Fariz di mana pun.

1
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!