seorang gadis berparas cantik yang mempunyai sahabat lelaki dari kecil. gadis itu memiliki perasaan kepada sahabatnya itu. tetapi ia tak berani mengungkapkan perasaannya karna ia takut akan kehilangan sahabatnya itu.
dibalik itu gadis itu juga menyimpan luka yang amat dalam karna kehilangan setengah bagian dari dirinya yaitu kembarannya.
Kehidupannya benar benar di uji ketika calon suaminya yang bernotabe sahabatnya meninggalkan nya untuk selama lamanya.
Dan ia berusaha bangkit untuk masa depannya dan ia memutuskan menjadi seorang dokter.
Bisakah ia bangkit dan menggapai impiannya? Dan bisakah ia membuka hatinya untuk pria lain?
yukkkk kepoin. silahkan mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinda Natesya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memendam Perasaan
"lu sendirian aja? mana mona? " tanya raka sambil duduk disampingku
"lagi beli minum katanya tapi kok lama banget ya? emang jauh warungnya ya? " tanyaku pada raka, aku sangat bingung kenapa mona dari tadi tidak kembali
akhirnya aku dan raka memutuskan untuk mencarinya. setelah berkeliling mencari mona ternyata aku dan raka melihat mona bersama riski, kami pun langsung menghampirinya.
"yaallah mon, gue sama raka nyariin lu rupanya lu asikan main game disini! " ucapku sedikit kesal pada mona
"hehehe maaf al, habisnya nih si riski ngajakin gue mabar dan disini jaringannya lumayan bagus" jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang tersusun rapi itu.
aku menggeleng tak percaya jika sahabat ku satu itu ternyata sekarang sangat menggilai game nya.
"ini gue beliin minum, lu pasti haus" ujarnya lagi sambil menyodorkan minuman padaku
"ga usah, haus gue udah ilang"
"jangan marah dong al, kan gue lupa please jangan ngambek ya ya ya ya. ntar deh gue traktir bakso" bujuk mona
"ogah. sono lu lanjutin aja game yang lu cintai dengan sepenuh hati itu!! " jawabku kesal dan meninggalkan mona bersama riski. begitupun raka yang menyusul ku.
sebenarnya aku tak terlalu marah pada mona, aku cukup memahaminya namun aku juga suka kesal akibat ulahnya.
"noh kan alena udah marah ama lu mon. udah bujuk sana" ucapan riski samar samar terdengar ditelingaku.
"udah biarin aja. alena orang nya kayak gitu. kalau dibujuk makin menjadi tuh orang. yuk lanjut" jawab mona
mendengar jawaban mona aku hanya tersenyum kecil. memang benar jika aku dibujuk orang yang ada aku makin kesal. cukup diamin aja dan tak mengulanginya lagi itu udah lebih dari cukup.
"al liat gue al biar gue ambil foto lu" ujar raka sambil menyetel cameranya.
aku hanya mengangguk dan berpose. banyak pose yang diambil oleh raka. aku cukup mahir jika menjadi model abal abalan raka.
setelah puas dengan berfoto, raka pun mengajakku makan sate.
"bang, pesan sate nya 2 porsi ya" ujar raka kepada penjual satenya
"duo porsi yo diak, tunggu sabanta (2 porsi ya dek, tunggu sebentar) "jawab penjualnya
tak butuh waktu lama, pesanan kami pun siap dan kami segera menikmatinya.
***
setelah puas menjelajahi puncak lawang, kami pun kembali kepenginapan.
udara disumatra barat (sumbar) sangatlah dingin dimalam hari, tak perlu memakai ac ataupun kipas karna udaranya sangatlah dingin dan membuat kita nyaman untuk tidur.
"lu masih kesal ya al sama gue" ujar mona memulai percakapan. kami hanya berdua dikamar ini karna pembagian kamar terdiri dari dua orang dalam satu kamar.
aku yang telah selesai mandi segera ke meja rias untuk melakukan perawatan muka ku dan tak menghiraukan ucapan mona.
"ayolah al, masak gara gara itu aja lu ngambek sih. please jangan gitu dong" sambung mona
aku hanya mendengus kesal "iya iya gue ga marah kok cuma kesal aja. gara gara lu lama banget balik nya si ali nyamperin gue" ujarku
"ha serius lu? ngomong apa dia? " tanya mona sangat antusias
"ya gitu nanyain masih ada kesempatan buat dia lagi "
"terus lu jawab apa? "
"gue jawab aja ga ada kesempatan buat penghianat. terus tiba tiba dia bilang kalau raka itu cinta sama gue" jawabku
"ha serius lu? hmmm sampai kapan sih al lu mau nutupin perasaan lu? " ujar mona yang membuatku langsung terdiam kaku.
"sepertinya raka itu emang suka sama lu deh al, cara dia memperlakuin lu itu beda banget dan orang orang juga melihat lu sama raka itu pasangan yang serasi" sambungnya lagi
"mon, gue ga mau terlalu berharap sama dia dan gue yakin raka belum bisa lupain kembaran gue" jawabku sedikit meneteskan air mata. entahlah rasanya sakit sekali meyakinkan diriku agar tak berharap banyak
mona yang melihatku menangis membuatnya merasa iba dan tak melanjutkan ucapannya. ia segera memelukku dan menenangkanku.
tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu.
mona pun segera membukakan pintu itu dan ternyata raka.
"alena mana mon? " tanya raka dibalik pintu
mona menunjuk ke arahku dan mempersilahkan masuk.
"lu kenapa al? kok mata lu merah gitu dan hidung lu kenapa lagi ikutan merah" tanya raka sedikit panik
"tadi gue kelilipan makanya jadi nangis" alasanku sedikit tak masuk akal
"hmmm sini gue liat" raka pun memegang pipi ku dan menatap mataku serta mencari sesuatu disana
"pantasan aja lu kelilipan, nih liat bulu mata lu jatuh kedalam mata" ujarnya sambil mengambil bulu mata itu.
aku menatap wajahnya lekat lekat, semakin kesini semakin perasaanku tak menentu. ingin sekali aku memeluk raka dan menyatakan cintaku namun aku ga bisa melakukan itu. aku takut raka kecewa dan menjauhi ku.
"nih bulu mata lu, ga usah nangis lagi bentar lagi juga merahnya hilang" sambungnya lagi
syukurlah raka tak menyadari jika aku menangis bukan karna bulu mata namun karna menahan perasaanku padanya. aku hanya tersenyum.
"hukkh huuukkk masih ada guee. ya elah lu bikin jiwa jomblo gue meronta ronta banget" titah mona yang merasa keberatan melihat kami berdua
"syirik aja lu mblo. makanya cari pacar napa jangan sibuk game lu aja. game rajin tapi ga menghasilkan duit untuk apa cobak" ujar raka
"yeee lu juga jomblo ****, sadar napa sadar. btw lu jangan bawa game gue dong. ntar ya gue bisa buktiin kalo game gue bisa ngasilkan uang. awas aja lo ntar ga gue traktir" jawab mona yang tak kalah sewotnya
"sudah sudah, gue pusing liat lu berantem terus. sakit nih otak gue" ujarku menengahi perdebatan kecil itu.
raka beralih menatapku "yaudah yuk kita jalan jalan, sekalian cari angin segar. sumpek gue disini apalagi noh liat kebo satu itu" ujar raka kembali memancing emosi mona lagi
"apa lu bilang? kebo? sejak kapan gue jadi binatang monyet. yaudah pergi lu sono main yang jauh " jawab mona sambil melempar bantal kearah raka
"ayolah gaes, jangan kelahi mulu. capek gue dengarnya" ujarku kembali menengahi mereka
"hmm iya iya al" jawab raka diikuti anggukan mona.
"ayok kita pergi" ajak raka sambil memegang tanganku.
aku pun berdiri "lu ga ikut mon. ayo kita keluar jalan jalan" ajakku pada mona
"ga lah gue malas tuh ikut si tukang somay (raka) lagian gue mau main game nih. kebetulan jaringan nya bagus" jawabnya
"yaudah kami pergi ya mon. ingat lu jangan tidur dulu sebelum gue balik" ujarku padanya
" eh iya bungkusin gue satu ya terserah deh lu mau beliin gue apa" ucap mona tanpa melirik kearahku, iya sedang login game nya.
aku pun mengangguk dan segera pergi dari kamar itu..
aku dan raka pun segera pergi untuk mencari udara segar dan yang pastinya berburu kuliner.
*****
mohon bantu vote dan comentnya ya gaes jika kalian suka sama cerita autor ini dan biar author makin semangat up ceritanya.
please jika kalian tidak suka mohon tidak meninggalkan coment yang negatif. itu sangat menganggu author.
thankss gaes