"Aku rela untuk menjadi yang ke - 3...yang pertama Tuhanmu, yang kedua Ibumu, yang ketiga Istrimu...Aku...asal jangan ada yang keempat diantara kita..."
Sebuah janji suci yang tidak seorangpun bisa menggoyahkannya.
Kisah perjuangan hidup seorang Lyvia dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga.
° Novel Adrian Maulana
Satu-satunya pria yang meluluhkan hatinya.
Namun apa jadinya jika kepercayaan cinta dikhianati.
Apakah Lyvia masih bisa menerima kembali ketulusan cinta Adrian ?
Akankah Adrian bisa meluluhkan hati Lyvia ?
Yuk ikuti kisah selengkapnya...😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzahra Nian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18. Biarkan Aku Sendiri
Semakin dalam ia memendam perasaan, semakin sakit rasanya hati ini. Kepalanya semakin berdenyut sakit sekali. Air matanya mengalir mulai membasahi pipi. Di dalam tangisnya, tiba-tiba Lyvia merasa ada jurang yang semakin lebar memisahkan antara dia dan Adrian.
Tak kuat lagi rasanya, dengan kasar ia seka air mata di pipinya. Lyvia membereskan pekerjaannya. Dia ingin pulang lebih awal hari ini. Entah kenapa tiba-tiba badannya kurang sehat.
"Diana...saya pulang duluan ya, ada yang kurang beres dengan badanku..." izinnya pada salah satu staf disitu.
"Baik Mbak...apa perlu diantar...?"
"Tidak, terimakasih...saya sudah pesan abang ojek online." jawabnya sambil berlalu.
Tak berapa lama ojol pesanannya sudah datang. Sepanjang perjalanan Lyvia hanya memikirkan perkataan Maya.
Sesampainya di rumah, Lyvia mengucap salam dan Langsung pergi ke kamarnya. Ibu yang merasa heran dengan sikapnya segera menyusulnya ke kamar.
"Via....ada apa lagi Nak..? kamu sakit..? menapa pulang lebih awal..?" tanya ibu yang mendapati Lyvia terbaring di ranjangnya.
Agar tidak membuat ibu khawatir, dia segera menghapus air matanya.
"Via tidak apa-apa Bu...cuma kurang enak badan saja..." Ibu memegang dahi Lyvia dengan punggung tangannya. Tidak terasa panas disana, namun tangan Lyvia sangat dingin.
"Mau Ibu ambilkan sesuatu...? atau kita ke dokter saja...?" rayu Ibunya yang sebenarnya merasakan kalau terjadi sesuatu padanya.
"Tidak Bu... Via ingin mandi dan istirahat sebentar, kalau ada yang nyari, bilang saja kalau Via tidur."
"Termasuk jika itu Adrian...?"
"Ya..."
"Benar dugaanku, pasti urusan hati lagi." gumam Ibu dalam hati.
Dari jawaban singkat putrinya, sudah jelas terlihat kalau mereka lagi berantem. Tapi apa yang mereka ributkan, sedangkan baru tadi pagi mereka terlihat mesra.
Setelah Ibunya keluar, Lyvia mengunci pintu kamarnya. Dia hanya perlu sendiri hari ini.
Dia duduk di tepi cendela kamarnya. Tatapannya hampa, fikirannya kosong.
"Adrian...kenapa kamu tega melakukan itu padaku...?" gumamnya dalam hati. Air matanya mengalir dengan deras di pipinya.
Samar-samar terdengar Adzan Ashar, Lyvia bangkit dari tempatnya. Dia mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajibannya.
Sedangkan Adrian, ketika melihat jam dinding di ruangannya menunjukkan pukul 16.00 WIB, dia bergegas menuju ke dealer untuk menjemput Lyvia.
"Maaf Pak...Mbak Lyvia sudah pulang..." kata Diana yang kebetulan bertemu Adrian di depan waktu mau pulang.
"Pulang...? sama siapa...?" tanyanya memastikan.
"Dengan ojek online, Tadi mbak Via pulang lebih awal, katanya sedang tidak enak badan." terang Diana.
"Oh... baiklah, terimakasih"
Adrian langsung menuju kerumah Lyvia. Sepanjang perjalanan, dia menghubunginya. Tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Lyvia yang dari tadi mendengar Handphonenya berdering ketika sholat, segera diambilnya. Dan dering itu terdengar lagi. Via hanya mematikan ponselnya, setelah tahu siapa yang menghubunginya.
"Kok dirijek...?" gumamnya sendiri.
"Via....kamu kenapa lagi...!" gerutunya dalam hati, ketika dihubungi kembali ponsel Lyvia sudah tidak aktif.
"Tidak biasanya kamu begini kalau tidak sedang ada masalah sayang...." gumamnya sendiri.
***
Sesampainya dirumah Lyvia, Adrian hanya bertemu dengan Ibunya. Adrian yang menanyakan keberadaan Lyvia, hanya dijawab sesuai pesan darinya tadi siang.
"Ibu...Adri tidak tau apa yang terjadi pada Lyvia, izinkan Adrian menemuinya sebentar." pintanya pada Ibu.
"Jangan sekarang Nak...Ibu takut dia malah tidak mau keluar dari kamarnya, karena sejak tadi siang dia mengunci dirinya di kamar. Bahkan sejak pulang kerja, dia belum makan sama sekali." terang Ibu, yang membuat Adrian semakin panik.
"Baiklah Bu...Adrian pulang dulu, tapi Adrian minta tolong, tolong hubungi Adrian tentang perkembangan Lyvia."
"Iya Nak...pasti Ibu kabari..."
Habis magrib, Ibu mencoba mengetuk pintu kamar Lyvia.
"Via....makan dulu nak, Ibu tunggu di meja makan..." kata Ibunya.
"Ibu makan dulu saja...Via masih kenyang Bu..." jawabnya.
Ibu hanya bisa menggelengkan kepala dan menyudahi rayuannya. memang kalau perkara hati semua terasa tidak nyaman. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Dibiarkannya Lyvia menikmati itu, hal itu wajar dirasakan bagi kaum muda.
Lyvia masih larut dengan perasaannya. Air matanya terkuras habis, apalagi ketika Sholat. Dia ungkapkan semua isi hatinya pada Sang Pencipta.
Tangisan itu masih berlanjut. Sampai akhirnya dia merasa lelah dan tertidur dengan sendirinya.
Sedangkan Adrian masih dengan perasaan gundahnya. Dia duduk termenung sendiri di teras depan. Tangannya masih sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali dia menghubungi Lyvia, tapi masih saja di rijek. Bahkan kadang terdengar nada tidak aktif.
("Sayang....kamu kenapa...? tolong jelaskan padaku...?") ✔️
("Lyvia... tolong, jangan bikin aku khawatir..") ✔️
("Sayang.... angkat telfonku...") ✔️
("Pllliiiiiiisssssssss.....") ✔️
Semua pesan WhatsApp Adrian cuma dibaca, tanpa di balas sama sekali.
Mama mendekati Adrian, beliau curiga melihat sikap putranya.
"Kenapa lagi Nak... Mama lihat kamu risau dari tadi..."
"Lyvia Ma... entah kenapa, tadi dia pulang tanpa menunggu aku jemput.... tidak hanya itu, dia tidak mau membalas chatku, bahkan telepon juga dirijek..." jelas adrian panjang kali lebar.
"Kamu sudah kerumahnya....?"
"Sudah Ma....dia hanya mengurung diri di kamar, bahkan kata Ibunya dia belum makan sama sekali."
Adrian mengadu pada Mamanya seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Matanyapun mulai berkaca-kaca.
Baru kali ini Adrian terlihat cengeng dimata Mamanya. Mama bisa merasakan betapa dia mencintai gadis itu. Dielusnya kepala putranya dengan kasih sayang.
Malam semakin larut, tapi...belum ada kabar sama sekali dari Ibunya Lyvia. Rasanya ingin sekali dia berlari ke rumah itu. Namun ketika minta izin kepada Mamanya, beliau melarang.
"Biarkan Lyvia sendiri dulu...mungkin kalian berdua harus sama-sama instrospeksi diri..."
"Iya Ma..."
"Sekarang sudah larut...ayo istirahat, jaga kesehatanmu..."
Adrian menurut permintaan Mama. Dia masuk menuju kamarnya. Meskipun matanya terpejam tapi fikirannya jauh di tempat Lyvia.
Untuk kesekian kalinya, dicobanya kembali menghubungi Lyvia. Namun tidak ada hasilnya. Dilihat WhatsApp Kania masih online. Dia mencoba mengirimkan pesan.
("Nia...belum tidur...?" )tanyanya mengawali pembicaraan.
("Belum Kak...")
("Kak Lyvia apa kabar...? Kakak tidak bisa menghubunginya sama sekali...? Kakak khawatir ...")
("Kak Via belum keluar kamar hari ini Kak...dari siang tadi juga belum makan.")
("Apa perlu Kakak ke sana Sekarang...?")
("Tidak usah Kak...sudah larut, mungkin Kak Via juga sudah tidur. Kakak segera istirahat, jaga kesehatan Kak...jangan begadang...")
("Iya Nia....kabari aku perkembangan Lyvia ya...")
("Siap Ndan...besok pagi saya info Kak.")
Kata Kania mengakhiri chats WhatsApp mereka.
"Kasian Kak Adrian, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Kak Via menutup diri" fikir Kania dalam hati.
Adrian mulai mencoba memejamkan matanya dan kembali kerumah Lyvia besok pagi setelah mendapat kan kabar dari Kania.
~ -----------------------------
~ -----------------------------
~ -----------------------------
Semua serb natural...😍😍😘
Lanjut ah...😗😗