NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: tamat
Genre:Contest / Cintapertama / Badboy / Chicklit / Tamat
Popularitas:972.3k
Nilai: 5
Nama Author: el nurmala

Annisa tidak pernah menyangka akan hidup sebatang kara di usianya yang masih remaja. Ia menjalani kehidupan baru bersama keluarga Adisurya. Sebuah keluarga kaya yang memiliki dua anak bernama Rayhan dan Raydita.
Suatu hari ada yang mengenali Annisa sebagai Nyonya Adisurya di masa remaja. Satu pernyataan yang mulai mengungkap cerita masa lalu yang ditutupi keluarga itu.


Siapa sebenarnya Annisa?

Simak kisah selengkapnya ya...
Selamat membaca.

-----------
Cerita ini hanya fiksi. Jika ada nama, tempat, atau kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jati diri Annisa (bagian 1)

Happy reading ...

Tiba waktu pulang sekolah, Rayhan dan teman-temannya menuju tempat parkir. Di sana sudah ada Mang Asep yang menunggu.

"Ray, jemputan Lo tuh," tunjuk Raka setengah mengejek.

"Sialan Lo. Gue pulang bareng Lo aja, Gas."

"Nggak ada helm. Sama si Raka tuh, pinjem helm cadangan di security."

"Dih, aneh. Sama Lo juga bisa, tinggal pinjam helm-nya. Iya kan?"

"Nggak ah. Gue mau ke klinik nyokap," sahut Agas.

"Terserah deh. Ka, pinjemin sana!"

"Oke."

"Mang, Ray pulang sama saya," ujar Raka saat melewati Mang Asep.

"Oke, Den Raka. Jadi saya tinggal nunggu Neng Nisa sama Non Dita nih?" Raka ngacungkan ibu jarinya.

Raka dan Rayhan mendahului pulang. Sementara itu Agas masih asik dengan ponselnya. Tak lama terdengar suara Dita dan teman-temannya. Kemudian suara Yuda juga terdengar di sana.

"Dit, kalau ada anak yang lihat Lo pulang sama si Nisa berabe. Jatuh harga diri Lo," bisik Tasya dan diangguki oleh Mela.

"Gue juga tahu. Udah ah, bye." Raydita masuk ke dalam mobil. Dari luar Tasya dan Mela dapat melihat Dita dan supirnya beradu argumen. Tak lama kemudian, mobil pun mulai melaju.

"Bye, Upik abu," ujar Dita yang membuka sedikit jendela mobilnglya.

"Anak itu manggil upik abu sama siapa ya? Aku penasaran," ujar Yuda pelan sambil celingukan.

Dua teman Raydita terkekeh sambil mendelik pada Annisa. Mereka bersorak melihat raut wajah Annisa yang sedang bingung.

"Aku pulang dulu ya. Sudah dijemput Abi. Daah Nisa, daah Yuda! Sampai bertemu besok." Isti pun berlalu meninggalkan tempat itu, menghampiri ayahnya yang sudah memanggil dari kejauhan.

"Kamu ada yang jemput nggak, Nis?"

"Ee, ada mungkin." Sahutnya bingung.

"Kok mungkin? Kalau nggak ada, aku aja yang antar kamu pulang. Ada helm kok di bawah jok motorku." Tawarnya.

Annisa masih bingung harus menjawab apa. Ia merasa canggung bila menerima tawaran Yuda. Namun ia juga tidak yakin Mang Asep akan kembali untuk menjemputnya.

Annisa menatap ragu pada helm yang disodorkan Yuda. Melihat Yuda yang sudah siap akan menghidupkan mesin motornya, Annisa pun menggunakan helm tersebut.

"Dia pulang bareng gue. Helm-nya pinjam dulu ya," ujar Ghaisan mengagetkan Annisa yang sedang mengenakan helm.

Raut wajah Annisa semakin bingung saat tangan Agas menariknya menuju motor milik sahabat Rayhan tersebut.

"Oh, sekarang aku ingat. Dia kan yang waktu di tempat kemah itu," gumam Yuda. Kemudian berteriak saat Agas yang membonceng Annisa melewatinya.

"Woy! Main embat aja." Serunya.

Sementara itu, setibanya di rumah, Mang Asep kembali memutar kemudinya. Ia merasa tidak enak karena telah meninggalkan Annisa. Tepat di pertigaan jalan, suara klakson motor Agas mengalihkan perhatiannya.

"Itu kan Neng Nisa. Kalau nggak salah sama Den Agas. Syukurlah. Jika tidak, bisa dimarahi Tuan. Kira-kira Neng Nisa ngadu nggak ya?" Gumamnya.

Mobil yang dikemudikan Mang Asep kembali berpapasan dengan Agas. Mang Asep merasa heran karena Agas menurunkan Annisa tidak di depan rumah majikannya.

"Neng, Neng Nisa. Aduh, maafkan Mang Asep ya. Baru saja Mamang mau jemput Eneng."

Nisa yang akan membuka pintu gerbang hanya tersenyum dan menjawab, "Nggak apa-apa, Mang. Mang Asep mau masuk atau masih ada perlu di luar?"

"Masuk, Neng. Sebentar lagi pergi mengantar Nyonya."

"Ya udah, kalau begitu. Sekalian saya bukakan gerbangnya."

"Tidak usah, Neng."

Annisa tidak menghiraukan Mang Asep dan membuka lebar-lebar pintu gerbang. Setelah mobil itu masuk, Annisa menutup pintu itu kembali.

***

"Mama mau kemana?" tanya Dita saat melihat mamanya sudah bersiap.

"Sama Kak Ehan perginya? Ikut," rengek Dita.

"Iya, ayo. Sana ganti baju dulu."

"Asik. Jangan ditinggal ya."

"Cepetan! Nggak pake lama," ukar Rayhan ketus sambil terduduk di sofa. Putra sulung Adisurya itu terlihat asik dengan ponselnya.

Sementara itu, Rianti melihat Annisa yang sedang membantu Bi Susi di taman belakang. Sesaat ia terkesiap saat melihat tawa Annisa. Tawa itu mengingatkannya pada seseorang.

"Kalau diperhatikan, kok anak itu ada miripnya Mas Adi ya?" batin Rianti bergumam.

"Nggak mungkin kan kalau ... ah, nggak mungkin." Tepisnya.

"Mama ngobrol sama siapa?" tanya Rayhan tanpa menoleh.

"Nggak sama siapa-siapa."

"Heh, aneh."

Tak berselang lama, Rianti dan dua anaknya pun pergi ke pusat perbelanjaan. Walaupun dikenal badboy, Rayhan sangat dekat dengan mamanya. Ia selalu bersedia menemani dan membawakan belanjaan sang mama.

Di tempat lain, Ghaisan juga sedang berada di tempat praktek mamanya, Dokter Rika. Terlahir dari orang tua yang berprofesi sebagai dokter, Ghaisan sangat suka melihat mamanya memeriksa para pasiennya. Bahkan tak jarang sampai ketiduran.

Rika yang telah menyelasaikan tugasnya hari ini, menghampiri Agas yang tertidur di meja perawat. Saat akan membangunkan, tatapan Rika tertuju pada layar ponsel putranya.

"Ini kan? Anak angkat Rianti dan Adisurya?" Gumamnya.

Karena penasaran, Rika mengambil ponsel itu dengan sangat pelan. Wajahnya tersenyum mengetahui putranya sudah mulai memperhatikan teman perempuan.

Rika menatap foto Annisa yang tengah tertidur menggunakan sleeping bag. Keningnya berkerut dan tatapannya menajam. Rika memperbesar tampilan foto itu, kedua maniknya membulat tak percaya.

"Tidak mungkin anak ini ...."

Seketika raut wajah Rika menegang. Ghaisan yang mengerjap nampak kaget dan bertanya, "Ada apa, Ma?"

"Ti-tidak ada apa-apa." Sahutnya tergagap dan mengembalikan ponsel Agas.

Agas terlihat malu mengetahui mamanya melihat foto Annisa di ponselnya. Saat ia mencoba akan menjelaskan, mama mendahului memintanya untuk pulang.

"Mama ada urusan sebentar. Kamu pulang dulu ya, Sayang."

Agas pun menuruti dan berpamitan pada mamanya. Sementara itu, Rika bergegas mengambil tas miliknya dan pergi entah kemana.

"Adi, tega sekali kamu," ucap Rika gusar.

Sementara itu, Adisurya yang baru pulang mananyakan Annisa. Setelah membersihkan diri, ia ingin mendengar anak itu bercerita tentang bagaimana hari pertamanya sekolah.

"Bi, tolong panggilkan Nisa."

"Baik, Tuan."

Bi Susi yang hendak menuju dapur mendengar suara pintu dibuka. Terlihat olehnya Dokter Rika berjalab sangat cepat menuji ke dalam rumah.

"Adi." Panggilnya.

"Ada apa, Rika?"

"Apa maksudmu, hah?"

"Maksud apa?" Adisurya terlihat bingung.

Rika yang mengetahui dari security bahwa Rianti dan anak-anaknya tidak ada, merasa akan leluasa bicara pada Adisurya.

"Dia, anak itu kan?"

"Dia, siapa? Duduklah, santai sedikit."

Rika pun terduduk berseberangan dengn Adisurya.

"Dia, anak angkatmu."

"Annisa? Memangnya kenapa dia?"

"Dia bayi yang kau titipkan pada saudari Bi Susi kan? Aku benar kan, Adi? Aku melihat sendiri bekas operasinya. Meski orang awam tidak dapat melihat dengan jelas, tapi aku ini dokter. Aku tahu itu bekas operasi lima belas tahun lalu. Apa maksudmu? Kau ingin Rianti tahu kalau anak itu anak kandungnya?" cecar Rika. Mereka tidak menyadari ada langkah yang terhenti mendengar hal tersebut.

_bersambung_

1
machiato
bagusssssss
Dwi Handayani
amit², kaynya si Dita emang sekeluarga orangnya begitu semua ya, gak tau diri. si Rikok juga ngapain pake natap Annisa jengah, tlol banget, udh bagus Annisa bisa nerima si ditot itu.
Dwi Handayani
15 tahun Annisa emang hdup dlm kesulitan ekonomi, tapi dia berlimpah kasih sayang dan didikan yg tepat. kesuliatn slm 15 tahun tuh gak ada apa²nya rianti, dibanding dengan perlakuan burukmu yg hanya bbrapa hari itu.
Dwi Handayani
beraaaakkkk
Dwi Handayani
di bab berapa gitu, penulis bilang ini kisah nyata, bjir, ternyta beneran ada ya ibu segila ini. pantes gak punya ikatan batin, orang gak punya hati ternyata.
Dwi Handayani
owalah, jdi Nisa belum tau ya, dia cuma dengar bagian "anak Adisurya" aja. pantesannnn. mataku keblinger gini bacanya 🤭
Dwi Handayani
walahhh trnyta Adisurya juga g*blok
Dwi Handayani
anak polos, yg kurang kasih sayang, emang pasti akan snang saat tau ortunya masih hidup. jdi dia gak ada dendam²an
Dwi Handayani
seri ceritanya, kasian banget Nisa, dia dperlakukan scara gak adil sama ortunya. bahkan mnertku, Adisurya juga beneran ayah yg brngsek. dia tidak bisa menjamin ketenangan dn kenyamanan ank kandungnya sndiri.
Rahmaniar
suka banget ceritanya,ada sedih,gembira,perjuangan dan ada hikmah di setiap kejadian nya, terima kasih thor atas karya yang bagus ini,semangat selalu untuk berkarya.
Shan
udah dibaca berulang🤭, ini sdh ke tiga kali. makasih kak semua novel kakak bagus, enak dibaca 😍
Shan
suka sekali😍
Shan
kak,come back
akhirnya ceritanya tamat jga,,sya nungguin sampe gak berani buka cerita ini takut kecewa akhirnya happyending jga. makasih kak
Endang Sulistia
betul Raka..gercep juga si raka
Endang Sulistia
gak usah pacaran pacaran ya nis...
Endang Sulistia
sukurin
Rezqhi Amalia: permisi kak, siapa tahu kakak minat mampir dikaryaku yang berjudul 'Dipaksa Menikahi Suami Sahabatku'

terimakasih sebelumnya 🤗💐
total 1 replies
Sri Ariyanti
terima kasih kak el upnya. ceritanya bagus. ditunggu karyamu selanjutnya. sukses selalu
Sri Ariyanti
tq kak el upnya
Sri Ariyanti
up nya jangan kelamaan ya kak el. biar gak lupa jln ceritanya dan juga biar dapet feel nya. sukses dan selalu semangat
Sri Ariyanti
tq thor atas karyamu. suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!