Sebelum baca siapkan tissue dulu ya 🤧🤧
Javier Louis adalah seorang anak laki-laki yang di buang karena ibunya tidak menyukai keberadaannya. Anak hasil dari pemerkosaan membuatnya di benci dan tidak di terima.
"Kau memang tidak pernah salah, hanya takdirmu yang salah, kehadiranmu menjadi petaka dan membuat jalan hidupmu seperti ini."
Sementara di sisi lain, Xaviera Careen mengalami kesedihan atas kematian ibunya. Ia begitu terpukul hingga selalu menyalahkan dirinya.
"Aku merindukannya, sangat merindukannya. Setiap detik dalam hidupku, aku merindukannya. Dadaku sangat sesak sampai tidak bisa bernapas, apa yang harus aku lakukan? Datanglah...sapa aku dalam mimpi."
Tangisan Xaviera yang begitu menyayat hati.
Bagaimana nasib Javier dan Xaviera. Apakah mereka akan bahagia? Bagaimana dengan nasib percintaannya?
Happy reading 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBUKA LEMBARAN BARU.
💌 MAFIA BERHATI MALAIKAT 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Apa aku sudah di surga? Surganya begitu nyaman dan tenang. Dingin dan sejuk. Aahhhh...."Javier tersenyum sendiri dengan mata terpejam. Tangannya menelungkup dan ia gerakkan untuk meraba area yang begitu lembut itu.
"Hmmm...hmmm...."Javier mengigau. "Aku tak merasakan sakit lagi. Apa karena aku sudah berada di surga? bekas lukaku hilang sendiri dan sakitnya hilang juga. Tuhan, biarkan aku di sini saja. Jangan biarkan aku tinggal bersama mereka lagi. Tempat ini begitu nyaman." Pikirannya sudah terbangun. Tapi ia takut untuk membuka mata. Ia takut jika ini hanyalah mimpi. Meski kesadarannya perlahan muncul menguasai dirinya. Namun karena kenyamanan yang tak pernah ia dapatkan, membuat Javier mencoba menikmati keindahan surga ini.
Javier pun perlahan-lahan membuka matanya, "Ya Tuhan, benarkah ini surga?" Ia menatap langit-langit kamar itu. Lampu kristal dan desaign yang mewah menghias plafon kamar itu. Javier belum sepenuhnya sadar. Ia masih merasa seperti berada di surga.
"Di surga juga mempunyai barang-barang mewah seperti ini? Hmmm...Bisakah aku tidak turun lagi ke bumi? di sini benar-benar sangat nyaman." Javier kembali menelusuri seprei lembut yang terbuat dari kain sutera halus dan nyaman.
"Bisa kah, aku pilih tempat ini menjadi rumahku di surga, Tuhan? Aku akan bahagia dan bersyukur jika memiliki kamar seindah ini. Desain kamar tidurnya begitu mewah dan bergaya country. Interior kamar tidur ini begitu elegan dengan menggunakan furnitur dengan pemilihan warna yang begitu natural. Wallpapernya saja memberi sentuhan glossy yang membuat dinding kamar ini menjadi lebih memiliki karakter. Luar biasa." Javier kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu dan tersenyum lagi. Javier sering membacanya dari majalah bekas yang di jualnya setiap hari. Bahkan ia berkhayal memiliki kamar seperti itu dan sekarang menjadi kenyataan. Javier tersenyum bahagia, ia tidak lagi bertemu dengan preman itu lagi. Tidak mendapat makian dari bosnya lagi. Lagi-lagi Javier mengucap syukur dan berterima kasih kepada sang pencipta.
Javier tersenyum dan memastikan penglihatannya lagi. Matanya memicing arah lelaki yang berdiri tegap di sana. Ia mengucak matanya, seakan memastikan penglihatannya. "Hah? Ternyata malaikat ada berpakaian hitam juga. Mereka lengkap menggunakan kacamata hitam di sana." Javier terkekeh, jarak mereka tujuh meter darinya. Kamar ini benar-benar sangat luas.
"Tunggu," Javier berusaha memastikan penglihatannya. "Bukankah itu pistol? Apa Tuhan mengizinkan mereka membawa pistol juga? Astaga... jangan-jangan mereka adalah malaikat maut. Mengambil nyawa orang dengan cara menembaknya. Begitukah?" Javier begitu panik, itu artinya nyawanya akan di ambil di sini.
"Kau sudah bangun?" Seorang pria tersenyum simpul saat melihat tingkah Javier sedari tadi. Ia duduk di sofa di samping tempat tidur Javier.
Mata Javier terbelalak. Javier langsung mengerjap dan melihat ke arah sumber suara. "Aku dimana? Bukankah ini surga, siapa dia?" Javier berbicara pada batinnya, wajahnya begitu takut saat melihat seorang pria duduk sambil menyeruput kopinya di sana. Ada beberapa orang berdiri tegap dengan ekspresi kaku dan tegang. Mereka seperti pasukan khusus yang siap melindungi tuannya dari peperangan.
"Kau tertidur hampir 10 jam." Alfonso bangun dari duduknya dan mendekat ke arah Javier.
Reflek Javier merubah dirinya ke posisi duduk lalu mendorong tubuhnya ke belakang sampai berhenti pada sandaran kasur, Javier menarik kakinya menekuk, seakan sedang melindungi diri. Rasa sakit pada tubuhnya kembali lagi. "Jangan sakiti aku! Jangan pukul aku."
Alfonso mengerutkan keningnya, menatap Javier begitu dalam. Ia tersenyum tipis. Alfonso bisa merasakan ketakutan Javier yang begitu jelas di sana. "Sejahat-jahatnya aku, aku tidak pernah menyakiti anak-anak. Apalagi memukul. Aku menolong dan membawamu ke sini. Siapa namamu?"
Wajah Javier memelas sendu." Terima kasih tuan, nama saya Javier Louis."
"Javier?" Panggil Alfonso.
"Iya, tuan?"
"Apa yang terjadi denganmu, tubuhmu babak belur habis di pukul dan kau ditemukan di jalan. Apa kau salah satu preman jalanan?" Alfonso duduk di sisi ranjang.
Javier menggeleng cepat, "Aku bukan preman tuan." Javier menolak dirinya dikatai preman. " Mereka yang telah memukul aku, tuan."
"Kenapa kau di pukul?"
"Aku tidak tahu tuan,"
Alfonso tersenyum singkat, ia sendiri tahu bagaimana kehidupan anak jalanan karena ia pernah dari sana. "Apa karena utang?"
"Tidak tuan," Javier menggeleng.
"Kenapa kau keluar malam-malam? Kau tidak kasihan dengan tubuhmu yang kurus itu, seharusnya anak-anak seusiamu belajar di rumah."
"Aku tidak sekolah tuan." Javier menunduk sedih. Raut wajahnya terlihat begitu muram.
Alfonso menautkan alisnya. "Kau tidak sekolah?" Ia memastikan pendengarnya.
"Benar, tuan."
"Berarti kau anak nakal sampai tidak mau sekolah." Alfonso bangun dari duduknya dan menatap Javier kembali.
"Tidak tuan, aku tidak pernah sekolah karena tidak ada biaya."
Alfonso menaikkan alisnya setengah. "Kau tidak sekolah sama sekali atau berhenti sekolah?"
"Aku tidak pernah sekolah tuan."
"Sekarang ada program pemerintah yang memberikan sekolah gratis bagi anak-anak yang tidak mampu. Kenapa kau tidak menggunakan itu?"
Javier menggeleng pelan,. "Ibu tidak ingin aku sekolah, tuan. Jadi aku tidak pernah mendapatkan program belajar gratis." Ia menunduk, tidak berani menatap pria itu.
"Benarkah?" Alfonso tertawa renyah. Anak lelaki ini mengingatkannya pada masa lalunya, persis seperti dirinya, Ia selalu menciptakan kebohongan agar mendapat simpatik orang. Alfonso sudah lebih dulu dari sana. Ia bahkan sering memberi bantuan kepada orang lain, namun ia diam-diam mengambil dompet pemiliknya. Alfonso berusaha menahan tawanya sambil mengusap dahinya.
Javier mengernyit heran, Ia mengangkat wajahnya. "Ada yang salah tuan?"
"Tidak, tidak ada yang salah." Ucap Alfonso menghentikan tawanya. Ia memasukkan tangannya ke kantong celana sambil menarik napas singkat. Alfonso menatap ke arah Javier yang sedari tadi menunduk. Ia tersenyum simpul di sana. "Lukamu sudah di obati. Setelah makan siang, kau bisa pulang. Aku rasa orang tuamu sudah mencarimu." Alfonso maju beberapa langkah dan mendekat ke arah Javier. Ia menepuk lengan Javier dengan lembut. "Jadilah anak yang baik," kata Alfonso tersenyum lalu memutar tubuhnya. Namun sebelum Alfonso melangkah pergi, Javier sudah bangun dari tidurnya dan memeluk kaki Alfonso dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya memelas sendu di sana.
"Tuan, aku bisa melakukan apa saja. Asal jangan kembali ke tempat itu lagi. Aku mohon biarkan aku bekerja di sini. Sebagai penjaga kebun mungkin atau mencuci mobil tuan, aku bisa melakukannya." Tatapan memohon dan air bening yang sedari tadi mengumpul mengkristal akhirnya jatuh juga.
Anak buah Alfonso dengan cepat menahan tubuh Javier agar tidak melukai bosnya itu.
"Apa yang kau lakukan?" Bentak anak buah Alfonso dengan tegas dan menjauhkan tubuh anak kecil itu dari tuannya.
"Aku mohon tuan. Biarkan aku bekerja di sini." Javier memohon dengan air mata berderai. Tangannya masih di pegang kuat oleh anak buah Alfonso.
"Lepaskan, kalian menyakitinya." Suara Alfonso begitu nyaring di sana. Ia lalu berjongkok dan melihat ke arah Javier. "Kau tidak bisa bekerja di sini. Aku yakin orang tuamu sudah mencarimu. Pulanglah!" Kata Alfonso bangun dan segera membalikkan badannya dan melangkah pergi.
"Tuan, ibuku telah membuangku." Kata Javier dengan tangisan pilu. Langkah Alfonso terhenti dan masih memunggungi Javier.
Air mata Javier kembali menguasai dirinya. Ia tidak bisa menolak betapa sedihnya Javier mengingat itu lagi, namun keadaan yang membuatnya harus mengakuinya. Dadanya kembali sesak. "Mungkin tuan tidak mempercayaiku. Tapi itu kenyatannya. Aku bekerja di pasar untuk bertahan hidup. Biarkan aku bekerja di sini tuan. Setidaknya untuk membalas kebaikan tuan yang telah membantuku. Aku berjanji akan bekerja dengan baik."
Alfonso tersenyum lagi, kata-kata itu juga pernah ia katakan ketika ia dipukuli orang tidak di kenal. Apakah ini kebetulan saja, kenapa nasib hidupnya sama dengan anak lelaki yang bernama Javier itu.
"Tuan?"
"Maaf. Aku tidak bisa menerimamu bekerja di sini. Kau harus pulang!" Alfonso kembali melangkah meninggalkan kamar itu.
"Tuan...!" Javier berusaha mengejar namun anak buahnya menghalangi. "Tuan.." Panggil Javier bersimpuh di sana. Ia menunduk sedih sambil mengusap air matanya beberapa kali. Siapa yang akan percaya dengan ucapannya. Javier tertawa sambil menangis. Ini adalah hidupnya dan harus kembali menjadi anak jalanan.
"Silakan ikut dengan saya." Kata wanita paruh baya itu membawa Javier keluar dari kamar.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Hujan gerimis menyambut kedatangan mereka. Dingin mencekam seakan gambaran dari hati Xaviera saat ini. Sudah 15 menit ia berdiri di sana. Xaviera meletakkan bunga ke makam Yohanna, tempat mommynya beristirahat untuk selamanya. Sebelum bicara ia menyeka terlebih dahulu air bening yang terjatuh di pipinya.
"Mommy, mungkin dalam waktu lama aku tidak berkunjung ke rumahmu, aku akan pergi menemui aunty di Belanda. Maafkan Viera meninggalkan mommy sendiri di sini. Viera janji akan kembali menjadi orang sukses dan tidak akan mengecewakan keluarga lagi." Bahu Xaviera bergetar, ia menutup erat-erat mulutnya, agar tangisannya tak terdengar Ester. Karena ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi.
Ester menyadarinya. Ia segera memeluk Xaviera dari samping, lalu membelai rambut Xaviera. Ester berharap Xaviera bisa melupakan kesedihannya atas kepergian mommynya dan membuka lembaran baru nantinya.
"Jangan sedih lagi non,"
"Aku kuat Ester, aku akan kuat." Xaviera mengatakan kuat dengan lantang. Namun bibirnya bergetar dengan raungan tangis yang memilukan. Air matanya terus meleleh membasahi pipinya.
Tiba-tiba muncul Andreas, "Waktunya berangkat nona." Ucapnya begitu sopan.
"Kita berangkat nona." Ester menimpali lagi.
Dengan cepat Xaviera mengangguk, "Kita pergi Ester. "Xaviera bangun, Ia berusaha untuk bernapas untuk mengurangi rasa sesak yang ada di dadanya. Mereka pun berjalan meninggalkan pemakaman dan langsung menuju bandara. Ester dan Andreas ikut bersama Xaviera.
Bunyi pembuka terdengar bergema di bandar udara di kota xx. Mereka berjalan menuju pintu gerbang keberangkatan. Andreas sudah mendorong koper. Langkah Xaviera pelan begitu sampai di depan pintu gerbang. Ia membalikan tubuhnya. Air matanya kembali terjatuh begitu saja. Ia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekelilingnya. Rasa sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia sembunyikan, Ia akan merindukan tempat ini. Kenangan bersama mommynya. Xaviera menutup mulutnya ketika sudah Memberikan tiketnya pada petugas pemeriksa melakukan check in dan menunggu di gerbang keberangkatan. Xaviera melangkah dengan segala kesedihan. Walau daddy tidak datang, ia tak berkecil hati. Setelah meninggalkan negara ini, Xaviera akan membuka lembaran baru. Ia berjanji akan selalu bahagia dan manfaatkan hari-harinya sebaik mungkin. Xaviera percaya bahwa hari esok, akan datang lebih baik lagi.
BERSAMBUNG
❣️ Readers tersayang tinggalkan jejak kalian ya. Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu 🤗🤗🤗
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌
salam sejahtera buat, kt sehat sll buat klrgnya😘😘
jgn lupa persatukan viera dgn javier, heheee