Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Menyelamatkan Perusahaan
"Mas Hendry, tadi kamu keren banget. Kamu sebenarnya siapa sih?"
Pertanyaan Michelle menggantung di koridor VIP RS Sejahtera.
Hendry menatap gadis itu. Michelle masih memakai seragam sekolah yang kusut, rambutnya diikat asal, matanya merah karena semalaman panik. Ia masih muda, tetapi rasa ingin tahunya tajam. Terlalu tajam untuk dibiarkan menyentuh rahasia yang belum waktunya terbuka.
"Aku suami Mbak Jessica," jawab Hendry tenang.
Michelle memutar mata. "Itu sih aku juga tahu."
"Kalau begitu cukup."
"Tidak cukup." Michelle mendekat setengah langkah, menurunkan suara. "Direktur rumah sakit membungkuk padamu. Mama sampai tidak bisa ngomong. Yanto juga seperti habis ditampar. Mas, orang biasa tidak bisa begitu."
Hendry tidak menjawab langsung. Dari balik kaca ruang VIP, Jessica tertidur dengan wajah pucat. Selang infus menetes pelan. Napasnya sudah stabil, tetapi tubuhnya masih lemah setelah operasi.
"Michelle," kata Hendry akhirnya, "kalau kamu ingin membantu kakakmu, jangan tanyakan hal yang belum bisa kujawab."
Michelle terdiam.
Nada Hendry tidak keras, tetapi ada sesuatu di baliknya. Bukan ancaman. Bukan kebohongan panik. Lebih seperti pintu besi yang ditutup dengan tenang.
"Baiklah," gumam Michelle. "Tapi aku akan cari tahu."
"Belajar dulu."
"Ih, Mas Hendry."
Ia cemberut, tetapi ketegangan di koridor sedikit mencair. Setelah Mama Ayu memaksanya pulang untuk sekolah, Michelle pergi dengan beberapa kali menoleh ke belakang.
Pagi berubah siang. Kota Biru bergerak seperti biasa di balik kaca ruang VIP, tetapi bagi Jessica, dunia seperti tertahan di satu titik: layar ponselnya.
Ketika ia bangun, hal pertama yang ia cari adalah ponsel. Air dan makanan baru menyusul setelah itu.
"Jangan dulu," kata Hendry, mengambil ponsel itu dari nakas.
Jessica menahan nyeri saat mencoba duduk. "Aku harus cek kantor."
"Dokter bilang kamu harus istirahat."
"Hendry." Suaranya serak, tetapi matanya sudah kembali menjadi mata seorang pemilik perusahaan. "PT Daun Kreasi punya deadline. Sampel untuk PT Surya Abadi harus selesai besok sore. Kalau gagal, kontrak itu bisa batal. Kalau kontrak batal, gaji bulan ini..."
Kalimatnya terputus oleh rasa sakit. Ia menekan perutnya, wajahnya kembali pucat.
Hendry menuangkan air dan membantu ia minum. "Siapa yang memegang desain?"
"Tina Larasati. Tapi dia..." Jessica menarik napas. "Dia mungkin tidak akan datang lagi. Ada masalah kontrak dengan perusahaan lamanya. Dia perlu uang Rp 50 Juta untuk menyelesaikan penalti. Aku belum bisa bayar."
"Bagian produksi?"
"Gilang Nugraha. Dia paling paham setting warna untuk bahan kemasan. Tapi sejak kemarin nomornya tidak aktif." Jessica menatap Hendry, rasa malu dan panik bercampur di matanya. "Aku tidak mau merepotkanmu, tapi perusahaan ini... aku membangunnya dari nol."
Hendry meletakkan gelas.
"Serahkan padaku."
Jessica menatapnya seolah ia baru mendengar bahasa asing.
"Kamu?" katanya pelan.
"Aku."
"Hendry, ini bukan urusan rumah. Ini kontrak bisnis. Ada vendor, invoice, desain, produksi, pengiriman--"
"Aku tahu."
"Kamu tidak tahu."
Ucapan itu keluar terlalu cepat. Setelah mengatakannya, Jessica tampak menyesal. Ia memalingkan wajah. "Maaf. Aku hanya..."
"Takut kehilangan semuanya," sambung Hendry.
Jessica diam.
Hendry mengambil kartu akses dan nomor kontak dari saku. "Aku tidak akan bertanya lebih banyak. Istirahat. Sore ini aku kembali dengan kabar."
"Jangan bikin masalah."
Hendry berhenti di pintu. Ia menoleh.
"Aku sudah terlalu lama tidak membuat masalah untuk orang yang pantas menerimanya."
Sebelum Jessica sempat memahami kalimat itu, Hendry sudah keluar. Bagus berdiri di koridor, punggungnya tegak.
"Pak Hendry?"
"Kita ke PT Daun Kreasi."
Bagus mengangguk. "Makan dulu?"
"Nanti."
Bagus tampak sedih selama tiga detik, lalu mengikuti.
Kantor PT Daun Kreasi menempati dua lantai ruko modern di kawasan bisnis kecil Kota Biru. Logo daun hijau di depan pintu terlihat bersih, tetapi suasana di dalamnya kacau. Beberapa staf duduk dengan wajah tegang, printer besar berhenti, dan meja desain penuh sampel yang belum selesai.
Begitu Hendry masuk, bisik-bisik muncul.
"Itu suami Bu Jessica..."
"Bukannya dia tidak kerja?"
"Kenapa dia datang?"
Hendry mendengar semuanya. Ia mengabaikannya.
Seorang staf perempuan mendekat dengan ragu. "Pak Hendry, Bu Jessica bagaimana?"
"Operasinya berhasil. Dia sedang pemulihan." Hendry menatap seluruh ruangan. "Saya perlu tahu status order PT Surya Abadi."
Staf itu bingung. "Pak?"
"File desain terakhir, daftar vendor, jadwal produksi, dan kontak Tina Larasati serta Gilang Nugraha. Bawa ke ruang meeting."
Nada itu tidak tinggi. Tetapi anehnya, orang-orang bergerak.
Mungkin karena mereka terlalu panik dan butuh seseorang mengambil komando. Mungkin karena mata Hendry tidak lagi seperti menantu yang bisa diabaikan. Dalam sepuluh menit, folder dan laptop sudah terbuka di ruang meeting.
Masalahnya jelas.
Desain utama belum final karena Tina membawa file working terakhir. Produksi tidak bisa jalan tanpa koreksi warna dari Golianto. Jika dua orang itu tidak kembali hari ini, sampel untuk PT Surya Abadi akan terlambat.
Terlambat berarti penalti.
Penalti berarti PT Daun Kreasi bisa jatuh.
Hendry menghubungi Tina dari nomor kantor. Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua juga. Pada panggilan ketiga, suara perempuan terdengar dingin.
"Saya sudah bilang ke Bu Jessica, saya tidak bisa kembali."
"Ini Hendry Pratama."
Ada jeda. "Pak Hendry?"
"Kita bertemu sekarang. Di mana?"
"Tidak ada gunanya. Saya harus bayar penalti ke kantor lama. Kalau tidak, mereka akan sanksi saya. Saya tidak mau menyeret PT Daun Kreasi."
"Berapa?"
"Rp 50 Juta."
"Bawa salinan kontrak dan nomor rekening mereka. Saya tunggu di kantor."
"Pak, saya tidak minta--"
"Saya tidak sedang memberi bantuan pribadi. Saya menyelamatkan order perusahaan istri saya."
Satu jam kemudian, Tina Larasati datang dengan mata lelah dan map cokelat di tangan. Ia perempuan muda berwajah cerdas, rambutnya pendek, cara jalannya cepat seperti orang yang terbiasa dikejar deadline.
"Pak Hendry, saya sungguh minta maaf," katanya begitu duduk. "Saya pikir kalau saya pergi diam-diam, Bu Jessica tidak perlu ikut menanggung masalah saya."
Hendry membaca kontrak itu dengan teliti. Ada klausul penalti. Tidak ideal, tetapi sah. Ia lalu meminta staf keuangan membuat bukti transfer.
Tina melihat layar. Matanya melebar.
"Pak... ini benar-benar ditransfer?"
"Kirim ke perusahaan lama. Minta tanda terima tertulis dan surat pelepasan kewajiban hari ini."
"Tapi uang sebesar ini..."
"Kamu punya desain yang bisa menyelamatkan kontrak?"
"Punya."
"Kalau begitu bayarannya sudah murah."
Tina menggigit bibir. Matanya memerah, tetapi ia segera membuka laptop. "Saya akan selesaikan final artwork dalam dua jam."
Di luar ruang meeting, staf yang mendengar kabar itu mulai saling pandang. Rp 50 Juta. Bagi perusahaan kecil yang sedang sesak, itu seperti udara segar di ruang tertutup. Bagi Hendry, uang itu keluar tanpa suara, tanpa pamer, tanpa meminta ucapan terima kasih.
Tetapi masalah belum selesai.
Nomor Golianto masih tidak aktif.
Seorang operator produksi akhirnya bicara dengan suara pelan. "Pak Hendry... saya dengar Mas Golianto punya utang ke rentenir gelap. Ibunya masuk rumah sakit bulan lalu. Dia pinjam uang. Kemarin ada orang datang ke kontrakannya. Setelah itu dia tidak masuk."
Udara di ruang meeting berubah berat.
"Di mana tempatnya?" tanya Hendry.
Operator itu ragu. "Daerah gudang lama dekat pelabuhan kecil. Orang-orang bilang jangan ke sana. Mereka punya beking."
Bagus, yang sejak tadi diam di pojok, mengangkat kepala. "Berapa orang?"
Operator menelan ludah. "Saya tidak tahu, Mas. Tapi biasanya ada yang jaga. Badannya besar-besar."
Bagus tampak sedikit lebih cerah. "Oh."
Hendry menatapnya. "Kenapa terdengar senang?"
"Tidak, Pak Hendry. Saya hanya lapar."
Tina yang sedang mengetik berhenti sebentar, bingung. Staf lain tidak tahu harus tertawa atau takut.
Hendry berdiri. "Tina, selesaikan desain. Kirim final artwork ke produksi begitu Golianto kembali."
"Pak Hendry..." Tina berdiri. "Anda benar-benar akan ke sana?"
"Kalau Golianto dibutuhkan perusahaan, kita jemput."
"Tapi itu rentenir."
"Lebih baik. Mereka pasti mengerti hitungan untung rugi."
Hendry mengambil kunci mobil. Bagus mengikuti di belakangnya, kali ini tanpa bertanya soal makan.
Daerah gudang lama berada di sisi kota yang jarang disentuh keluarga Mahendra. Jalanan lebih sempit, lampu lebih jarang, dan aroma solar bercampur air laut menggantung di udara. Di antara bangunan tua, ada satu ruko lebar dengan pintu besi setengah tertutup. Di depannya, dua pria bertato merokok sambil menatap setiap kendaraan yang lewat.
Mobil Hendry berhenti di seberang jalan.
Dari dalam ruko terdengar suara laki-laki mengerang.
Hendry keluar.
Salah satu pria bertato membuang rokoknya. "Cari siapa?"
"Gilang Nugraha."
Pria itu tertawa. "Kalau mau ambil orang, bayar dulu."
Bagus berjalan satu langkah ke depan, masih dengan wajah polos. "Berapa?"
"Bos yang tentukan."
Pintu besi didorong dari dalam. Empat pria lain keluar, masing-masing memegang pipa besi. Di belakang mereka, samar terlihat Golianto terikat di kursi, wajahnya lebam.
Salah satu pria memutar pipa di tangannya. "Kalian berdua salah tempat."
Bagus menoleh pada Hendry.
"Pak Hendry," katanya sambil menggulung lengan baju, "yang ini boleh sebelum makan, kan?"