Season 2 novel SANG PENGASUH
Arya, Ricky, Rendi, dan Wiliiam, adalah empat pria tampan sold out yang telah menjalani senasib sepenanggungan gagal malam pertama karena kejahilan diantara mereka. Menjalani kehidupan rumah tangga tidak selancar jalan tol. Keempatnya mengalami ujian.
Diantaranya, Arya. Kemunculan salah satu keluarga yang dikira telah meninggal, hadir mengusik ketenangan rumah tangganya.
Pun dengan Rendi. Kedatangan adiknya dari Turki dan kini tinggal bersamanya malah membuatnya was-was.
Kisah kehidupan keempatnya, author kemas dalam satu bingkai cerita.
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat/perusahaan itu hanya kebetulan semata.
Selamat menikmati kisah yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri.
Cover free by pxfuel
Edit by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Penasaran
Andina keluar dari kamar mandi usai cuci muka. Ia terbangun lebih dulu karena teringat anak-anak di rumah. Meski ada Ibu yang menemani cucunya, namun pikirannya tetap saja terpaut mengingat mereka.
"Sudah enakan, Mas?"
Andina duduk di tepi ranjang. Ia menyentuh dahi Arya yang baru saja terbangun saat meraba kasur, karena orang yang dipeluknya tidak ada di sisinya.
"Alhamdulillah jauh lebih baik. Kan obatnya kamu--" Arya mencolek hidung mancung istrinya. Ia bangun dan membuka bajunya yang basah karena keringat.
Arya meraih jam tangannya di atas nakas. "Hm, aku tidur 1 jam tapi langsung fresh."
"Itu namanya tidur berkualitas," jawab Andina sambil membereskan baju Arya. Memasukkannya ke dalam paper bag untuk dibawa pulang.
"Ada kabar lagi dari rumah gak, yank?" Arya menanyakan kabar anak-anaknya. Setelah sebelumnya Andina menceritakan ada Ibu yang menjaganya di rumah. Ia duduk di tepi ranjang dengan bertelanjang dada. Celananya digulung sampai betis karena mau ke kamar mandi.
"Tidak ada. Berarti mereka masih anteng. Tapi aku mau pulang aja ya. Mas Arya kan udah fit."
"Pengennya sih nanti saja pulang bareng. Tapi sekarang aku harus banyak mengalah sama anak-anak deh."
Andina terkekeh. Ia menjawil kedua pipi Arya dan menggoyangkannya ke kiri ke kanan. Bayi besarnya memberenggut karena berat untuk ditinggal. Arya dengan bibir manyun, hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Namun kecupan kilat dari bibir lembut sang istri membuatnya tersenyum senang.
"Baju gantinya mau yang mana, Mas?" Andina membuka lemari, mengamati beberapa kemeja yang tergantung di hanger. Arya selalu menyimpan beberapa setelan baju formal ataupun baju santai. Untuk cadangan jika dibutuhkan.
"Terserah kamu, sayang." Arya berteriak dari ambang pintu kamar mandi.
.
.
.
Arya sudah rapih dengan memakai kemeja lengan panjang warna abu tua, baju ganti yang dipilihkan Andina. Berpadu sempurna dengan celana hitam yang dikenakannya. Ia menghubungi Meta menanyakan tamunya. Karena jadwal meeting dengan tamu terlewat 15 menit.
Usai menutup teleponnya, Arya menghampiri Andina di sofa yang bersiap untuk pulang. "Sayang, kapan aku buka puasa?" Arya memilin ujung hijab Andina. Kelakuannya persis kayak anak kecil yang merajuk minta dibelikan es krim.
"Hm. Kasih tau gak ya--" Andina mengetuk-ngetuk telunjuknya di pipi, seolah sedang berpikir.
Dan ekspresinya itu malah membuat Arya gemas. "Ih sayang, cepet kasih tau--"
Arya menggelitik pinggang Andina sampai tertawa-tawa dan meminta ampun karena geli.
Andina menganggkat tangannya, menyerah. "Ampun Mas. Udah ah aku mau pulang. Di luar tamu sudah menunggu tuh." Andina berdiri merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan karena ulah Arya. Ia masih bungkam kapan masa nifasnya berakhir.
Arya ikut berdiri dan menarik tangan Andina sampai tubuh sang istri menubruk dada Arya.
"Kiss dulu, sayang. Hukuman karena kamu gak ngasih tau jadwal buka puasa aku."
Ciuman panas berlangsung 5 menit. Jika Andina tak menahannya, mungkin akan berlanjut meminta yang lain. Sementara di luar sudah ada tamu yang menunggu untuk bertemu boss Arya.
Andina mengusap bibir Arya karena ada noda lipstik tertinggal. Ia pun memoles kembali bibirnya dengan lipstik warna peach seperti sedia kala. Setelah memastikan penampilannya kembali rapih, Andina pamit pulang. Saat membuka pintu, tampak di sofa ruang tunggu ada Ricky sedang berbincang dengan seorang tamu pria.
Mendengar suara pintu terbuka, keduanya menoleh ke arah pintu dan tersenyum kepada Andina yang berjalan mendekat.
"Bu Arya, gimana si boss sudah fit?" Ricky berinisiatif menyapa lebih dulu. Ia sudah tahu dari Meta kalau Arya sedang istirahat dan jangan diganggu.
"Alhamdulillah sudah fit lagi. Sekarang sudah bisa menerima tamu." Andina tersenyum ramah. Sekilas ia menatap tamunya yang tersenyum tipis kepadanya.
"Pak Steve, kenalkan ini istrinya Pak Arya." Ricky memperkenalkan Andina kepada tamunya yang berusia sekitar 35 tahun itu.
Segera Andina mengatupkan kedua tangannya di dada saat sang tamu akan menjulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman.
"Saya Andina." ujarnya dengan mengulas senyum ramah.
"Steve." Sang tamu pun ikut mengulas senyum, menyebutkan namanya. "Saya bersama adik, tapi sedang ke toilet dulu," sambungnya.
Tak lama Andina pun buru-buru pamit meninggalkan keduanya saat hp dalam tasnya berdering.
"Bu Andin, mari saya antar sampai lobi." Meta menghampiri Andina yang tergesa-gesa.
"Gak usah- gak usah. Mbak Meta lanjutkan saja pekerjaannya!" Andina tersenyum, menepuk bahu Meta yang berdiri di dekatnya. Dirinya tidak mau merepotkan sekretaris suaminya itu, apalagi sedang ada tamu yang harus dilayaninya.
Bunyi nada hp yang mati sebentar, kembali berdering. Dilayar terlihat nama adiknya yang memanggil.
"Assalamualaikum--"
"Mama--- Mama di mana?"
Bukan Zaki yang menelponnya, melainkan Athaya. Andina tersenyum mendengar suara si cikal yang merajuk. Ia berhenti sejenak untuk melanjutkan berbicara dengan Athaya.
"Hei, anak soleh kok gak jawab salam dulu--"
"Kumsalam. Mama di mana?" Athaya mengulang kembali pertanyaannya.
"Mama di kantor Papi, Kak. Ini juga mau pulang. Kakak main dulu sama Om Zaki ya!"
"Ihhh Mama-- napa nda ajak kaka ke kantol Papi?"
Suara di sebrang sana mulai sumbang, merengek. Mungkin sebentar lagi akan menangis.
"Cup, anak soleh gak boleh nangis dong. Mama ada urusan penting dulu sama Papi. Nanti kapan-kapan ke kantor Papi lagi, kakak diajak deh."
Akhirnya Athaya berhasil dibujuk, tak jadi menangis. Tapi dia minta diibelikan es krim yang banyak dengan menyebutkan daftar nama siapa saja yang akan diberinya. Mulai dari nenek, Om Zaki dan semua orang yang ada di rumah. Dengan senang hati Andina menuruti keinginan si cikal, yang mulai punya kebiasaan berbagi.
Andina melanjutkan melangkah sambil memasukkan hp nya ke dalam tas.
Bruggh
Dirinya bertabrakan dengan seseorang saat berada di belokan karena berjalan menunduk saat menutup resleting tasnya.
"Jalan pakai mata dong!!" Perempuan yang bertabrakan dengan Andina berseru kesal karena tasnya terjatuh.
"Aduh maaf ya mbak, saya tidak sengaja." Andina menatap perempuan cantik yang berpenampilan seksi, mengenakan dres ketat di atas lutut. Wajahnya ketus dan ditekuk.
"Ada yang sakit mbak? Sekali lagi maaf ya." Andina menyentuh lengan berkulit putih perempuan yang ditabraknya. Untuk melihat apakah ada lecet. Namun sentuhannya ditepis dengan kasar.
"Ck. Kamu sudah buang waktuku!" Dan perempuan yang baru keluar dari tolilet itu berlalu menabrak bahu Andina. Ia berjalan gemulai bak peragawati di catwalk.
Ini kan jalur menuju ruangan Mas Arya. Siapa dia?
Andina menatap punggung perempuan seksi itu yang berjalan menuju arah ruangan Arya.
Penasaran. Tapi Andina berpikir tak mungkin kembali lagi ke ruangan suaminya, karena Athaya sudah menunggunya di rumah.