Mizell Haines dan Samuel Haines, kedua insan yang sedikit berbahaya, yang membuat masalah dengan mereka, akan mendapatkan pembalasan yang setara bahkan mereka akan memberikan pembalasan yang lebih kejam dari yang mereka dapatkan.
Sampai ketika, seseorang datang dengan rahasia yang mengejutkan. Memiliki niat buruk terhadap mereka, seseorang yang membuat Samuel cemas akan kedatangannya.
Apakah yang akan terjadi? mampukah Samuel dan Mizell menyelesaikan masalah itu?
•••••
"dia akan membayar semua perbuatannya pada mu, walaupun itu harus dengan nyawanya." lirih Samuel menggenggam tangan Mizell yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"cepatlah sembuh sayang, akan aku ceritakan sebuah kisah yang mengejutkan." matanya yang dingin sudah memerah, perlahan air matanya menetes dengan rasa sesak yang memenuhi dadanya.
•••••
Samuel Haines & Mizell Haines
ini kisah mereka berdua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dola Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
don't make trouble •PART 17
Mizell keluar dari mobil hitam samuel tepat di depan gerbang sekolah, hari ini Mizell tidak membawa mobilnya di karenakan Samuel tidak memberikan izin.
Tidak ingin ambil pusing, mizell langsung menurut tanpa membantah sekalipun, alhasil dia harus menghubungi Mina sebab dia tidak bisa menjemput temannya itu.
Penampilan Mizell sedikit berbeda, rambut yang biasanya dia ikat sekarang di biarkan terurai lurus sampai pinggang, rambutnya memang sangat panjang, sebab kakaknya selalu mengatakan dia suka Mizell berambut panjang maka dari itu Mizell tidak memotong rambutnya, hanya jika sudah melampaui pinggang barulah Mizell akan memotongnya.
Mizell masuk ke dalam kelas dan menemukan Mina yang duduk sambil membaca novel.
"woyyyy, ada berita besar..." baru saja Mizell meletakkan tasnya di atas meja, lelaki bernama Richard yang berperan sebagai ketua kelas Mizell berteriak keras di depan pintu.
Semua orang menatap heboh pada berita yang akan di bawakan Richard, sedangkan Mizell menatap malas ketua kelasnya yang sudah membuat heboh satu kelas di pagi hari yang sangat cerah.
"si Arden udah pulang dari Jerman." seluruh ruangan menjadi heboh tak karuan, seperti baru saja menerima berita duka saja yang semuanya tiba-tiba menjadi sedih dan menunduk ketakutan.
Apa-apaan ini kenapa suasananya seperti ini? Mizell melirik ke sampingnya dan benar saja, kondisi Mina lebih menakutkan dari perkiraan.
Buku novel yang awalnya dia genggam sudah tidak berada di tangannya, melainkan sudah tergeletak mengenaskan di lantai, sedangkan Mina menatap lurus dengan pandangan suram.
Entah siapa itu Arden yang mampu membuat suasana kelas mendadak suram, apakah semua orang di sini terlibat hutang piutang dengan jumlah yang besar pada Arden?
"ekhmm Mina.." mizell menyenggol bahu Mina yang hanya diam seperti patung, seakan mendapat sengatan mendadak Mina tersentak kaget.
"ehh iya kenapa?" suara Mina spontan naik satu oktaf karena kaget, yang membuat semua orang menatap ke arahnya.
"kenapa?" Mizell melototi semua orang yang menatap kearahnya penasaran, perlahan semua orang kembali pada posisinya.
"jadi Mina, siapa Arden?" Mina yang mendapat pertanyaan itu, menatap Mizell waspada seakan nama itu bagaikan virus yang sekali sebut dapat membunuh dalam sekejap mata.
"dia itu teman atau bisa di sebut juga ketua dari semua yang ada disini, gimana mau jelaskan nya ya...semua yang dia inginkan harus di turuti, dia itu juga anggota geng motor yang menakutkan..." jelas Mina yang membuat Mizell malah menjadi semakin kebingungan.
"kenapa begitu? lalu dari mana saja dia...katanya tadi Jerman, kenapa dia di sana?" jiwa ingin tahu mizell seakan berteriak untuk di keluarkan, nampaknya Mina sedikit takut akan topik pembicaraan mereka.
"mungkin karena dia orang yang berpengaruh, polisi saja tidak berani menangkapnya, dan dia Jerman di karenakan adiknya sedang koma sedang mendapatkan perawatan di sana." Mina menjelaskan dengan suara kecil berbisik, Mizell menganggukkan kepalanya paham.
"sekolah ini, memang aneh..."bsingkat Mizell seakan tidak peduli, dan malah beralih pada ponselnya.
••••
Pada bel pertanda istirahat, Mizell menatap heran ke semua orang yang bahkan tidak bergerak dari duduknya, biasanya semua orang akan menghilang dan berlalu menuju kantin, tapi sekarang mereka seakan sudah menempel pada bangku mereka.
"mina, kantin yukk..." Mizell menarik tangan mina mengajaknya ke kantin, tapi Mina menatap Mizell sambil menggelengkan kepalanya seakan tidak ingin beranjak dari bangkunya.
"yok lah, lapar loh..." tak menghiraukan penolakan dari Mina, mizell tetap menarik Mina keras. Semua orang menatap mereka terkejut, seakan baru saja melihat setan di siang bolong.
"kalian tidak lapar apa? yaudah kami duluan.." Mizell dengan pedenya melambaikan tangan dan keluar begitu saja melewati pintu.
Suasana koridor sangat sepi, seperti benar-benar tidak ada yang keluar dari kelas mereka, entah ada peraturan apa. Jangan tanyakan mizell akan hal itu, karena yang menjadi pusat perhatiannya sekarang adalah bunyi perut yang Sadang membutuhkan makanan.
"eh ada max sama Vian." Mizell langsung menghampiri Maxime dan Vian yang duduk di tengah kantin, yang rata-rata isinya hanyalah kakak tingkat laki-laki.
Maxime Menatap mizell dengan alis terangkat, mungkin heran dengan keberadaan Mizell yang sepertinya nekat atau benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"berani sekali." komentar Vian saat Mizell sudah duduk manis di hadapan mereka.
"ya dong, Mizell gitu loh." Mizell menatap mangkok Maxime dan Vian yang sudah bersih, seluruh isi mangkok itu sudah ludes di santap mereka.
"akan aku pesankan." tanpa aba-aba, Maxime langsung berdiri membuat Mizell menatap tak percaya akan sikap Maxime yang tiba-tiba baik padannya.
Tak berapa lama, Maxime kembali dengan nampan di tangannya. Terdapat dua mangkok dan dua gelas di atasnya yang sudah berisi makanan.
"terimakasih kak max." Mizell melahap makanan yang di sodorkan padanya, sebab perutnya sudah tidak bersahabat.
Mizell pikir Maxime akan kembali ke kelas tapi tidak, Maxime kembali duduk di hadapannya sambil memainkan ponsel di tangannya.
"wahhh si cupu punya pacar..." suara bass seseorang membuat Mizell menghentikan makannya, mengangkat kepalanya perlahan.
Matanya membulat, wajah yang ada di hadapannya seperti tidak asing, sedangkan Maxime menatap dingin seseorang di depannya, seakan tidak bersahabat.
"sudahlah Arden.." Mizell menaikan alisnya, oh jadi ini yang namanya arden tapi wajah ini terlihat sangat mizell kenali.
"wah ceweknya lumayan..." tiba-tiba Arden memegang dan mengangkat dagu Mizell yang membuat tatapan Mizell langsung tertuju ke mata arden.
"kurang ajar." ternyata Maxime dan Vian yang melihat hal itu tak tinggal diam, mereka langsung berdiri dan menepis tangan Arden dari dagu Mizell.
Tak di sangka-sangka Arden malah mengajak temannya dan terjadi hal yang tidak di inginkan, dimana mereka malah saling memukul satu sama lain.
•••••
TBC...
Dapet salam dari "Senja" dan "ZB".
Jangan lupa pada mampir ya.
jangan lupa juga untuk tinggal kan jejak.
Dapet salam dari "Senja" dan "ZB".
Jangan lupa pada mampir ya.
jangan lupa juga untuk tinggal kan jejak.