NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 9. Melanggar Perjanjian dan Kunjungan sang Adik

 Malam itu, Ansley sudah menunggu cukup lama.

Sejak siang tadi, Vellano telah berjanji akan makan malam bersamanya. Janji sederhana, tetapi bagi Ansley sangat berarti. Selama tiga tahun menjadi kekasih Vellano, ia terbiasa dengan kesibukan pria itu. Karena itu, ketika Vellano sendiri yang mengajaknya makan malam, Ansley sempat merasa bahagia.

Namun waktu terus berjalan.

Pesan yang ia kirim tidak kunjung mendapat balasan. Panggilannya pun tak diangkat.

Akhirnya, setelah menahan kecewa cukup lama, Ansley memutuskan pergi ke mansion Vellano.

Begitu sampai, langkahnya terhenti.

Dari dalam mansion, ia melihat Vellano sedang sibuk merawat Alessia. Perempuan itu terbaring lemah setelah kecelakaan di sirkuit. Vellano berdiri di samping tempat tidurnya, memastikan obat dan kompres Alessia tetap teratur.

Ansley merasa dadanya sesak.

Tanpa mampu menahan air mata, ia menghampiri Vellano.

“Jadi ini alasan kamu tidak datang?”

Vellano menoleh. “Ansley…”

“Aku menunggumu,” potong Ansley dengan suara bergetar. “Kita sudah janji makan malam. Aku menunggumu selama berjam-jam.”

Vellano terdiam.

Ansley mengusap air matanya dengan kasar.

“Selama tiga tahun aku menjadi kekasihmu, Vellano. Tiga tahun.” Suaranya semakin bergetar. “Tapi sekarang kamu lebih memilih dia? Alessia bahkan baru beberapa bulan kamu kenal.”

“Ini bukan soal memilih,” jawab Vellano tenang.

“Lalu apa?”

Vellano menarik napas panjang.

“Keselamatan Alessia adalah tanggung jawabku. Bagaimanapun juga, kami sudah menikah.”

Kalimat itu membuat Ansley terdiam.

Menikah.

Kata itu terasa begitu menyakitkan meskipun ia sudah mengetahuinya sejak awal.

“Kalau begitu…” Ansley menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Jawab satu pertanyaanku.”

Vellano menatapnya.

“Kamu mencintai Alessia?”

Hening.

Vellano tidak segera menjawab.

Untuk pertama kalinya, pria itu tampak kehilangan kata-kata. Tatapannya kosong, seolah pertanyaan sederhana itu justru menjadi sesuatu yang paling sulit untuk dijawab.

Ansley menunggu.

Namun Vellano tetap diam.

Diam yang bagi Ansley terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah jawaban.

Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, tanpa diketahui keduanya, Alessia mendengar semuanya.

Tubuhnya yang masih lemah terdiam di atas tempat tidur.

Ia mendengar nama dirinya.

Ia mendengar pertanyaan Ansley.

Dan yang paling membuatnya terpaku adalah keheningan Vellano ketika ditanya apakah ia mencintainya.

Alessia menundukkan pandangan.

Untuk pertama kalinya, pertanyaan yang sama mulai muncul di dalam pikirannya.

“Kenapa dia diam?”

Dan entah mengapa, jawaban yang belum diberikan Vellano itu justru membuat jantung Alessia berdebar lebih keras daripada seharusnya.

Ansley akhirnya tidak sanggup lagi menunggu jawaban.

Keheningan Vellano telah memberikan jawaban yang jauh lebih menyakitkan daripada apa pun yang bisa ia dengar dari bibir pria itu. Dengan air mata yang terus mengalir, Ansley berbalik dan berjalan meninggalkan mansion.

“Vellano…” suaranya bergetar sebelum ia melangkah keluar. “Aku benar-benar tidak menyangka akan kalah dengan seseorang yang bahkan baru beberapa bulan hadir dalam hidupmu.”

Vellano hanya terdiam.

Ia tidak mengejar.

Tidak menahan tangannya.

Tidak pula meminta Ansley untuk tetap tinggal.

Tatapannya justru perlahan kembali menuju kamar tempat Alessia berada.

Ansley menyadari hal itu.

Dengan isak tangis yang semakin pecah, ia meninggalkan mansion.

Pintu utama tertutup.

Dan untuk beberapa saat, mansion itu kembali sunyi.

Vellano mengembuskan napas panjang sebelum berjalan kembali menuju kamar Alessia.

Perhatiannya kini hanya tertuju pada wanita yang terbaring di sana.

Keadaan Alessia benar-benar memprihatinkan.

Dahinya masih diperban dengan jahitan yang terlihat jelas. Salah satu tangannya terbalut gips karena patah akibat kecelakaan. Wajahnya pucat, bibirnya tampak kehilangan warna, tetapi matanya tetap terbuka.

Alessia sebenarnya sudah mendengar semuanya.

Vellano menarik kursi dan duduk di sebelah tempat tidurnya.

“Kenapa belum tidur?” tanyanya pelan.

Alessia menoleh.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Kemudian sudut bibir Alessia terangkat sedikit.

“Jadi… kamu melanggar kontrak pernikahan kita.”

Vellano mengernyit.

“Kontrak?”

“Bukankah kita sudah sepakat?” suara Alessia lirih. “Pernikahan ini hanya perjanjian. Tidak ada perasaan. Tidak ada kewajiban untuk saling mencampuri kehidupan pribadi.”

Vellano menatapnya tajam.

“Kamu salah mengerti.”

“Oh?”

“Aku tidak memilihmu dibandingkan Ansley.”

Alessia terdiam.

“Aku hanya melakukan apa yang menjadi tanggung jawabku,” lanjut Vellano. “Kamu istriku. Istri sahku. Kamu terluka parah dan aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja.”

Alessia memalingkan wajah.

Entah mengapa, jawaban itu justru membuat hatinya sedikit kecewa.

“Jadi hanya karena tanggung jawab?”

Vellano tidak langsung menjawab.

Tatapannya jatuh pada wajah Alessia yang pucat.

Sebenarnya ada jawaban lain yang ingin ia ucapkan.

Tetapi gengsi menahannya.

Begitu pula Alessia.

Mereka sudah terlalu lama berpura-pura bahwa pernikahan itu hanyalah sebuah kontrak. Padahal sejak beberapa waktu terakhir, perhatian kecil, kekhawatiran, dan rasa cemburu yang muncul di antara mereka perlahan telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Mereka hanya terlalu keras kepala untuk mengakuinya.

Alessia menatap Vellano sekali lagi.

“Kalau begitu… jangan membuatku salah paham.”

Vellano terdiam.

Namun kali ini, diamnya bukan karena tidak tahu jawabannya.

Melainkan karena ia tahu persis apa yang sebenarnya ia rasakan.

Ia hanya belum siap mengatakannya.

......................

Empat hari telah berlalu sejak kecelakaan di sirkuit malam itu.

Kondisi Alessia berangsur membaik. Infus dan berbagai alat medis yang sebelumnya menempel di tubuhnya sudah dilepas. Kini ia hanya perlu menjalani masa pemulihan karena tangannya masih terbalut gips. Luka di dahinya juga masih tertutup perban.

Sementara itu, kehidupan Vellano kembali dipenuhi rutinitas.

Sebagai CEO Vellano Group—sebuah luxury conglomerate besar—ia harus kembali ke kantor setiap hari. Pagi itu, sebelum berangkat, Vellano sempat memastikan Alessia sudah sarapan dan obatnya diminum.

“Jangan melakukan hal bodoh.”

Alessia yang sedang duduk di sofa langsung mendengus. “Aku hanya punya satu tangan yang bisa dipakai. Memangnya aku mau merampok bank?”

Vellano menatapnya datar.

“Denganmu, aku tidak akan pernah tahu.”

Lalu ia pergi.

Alessia akhirnya sendirian di mansion. Maid yang biasanya menemani dan mengurus rumah sedang cuti karena anaknya sakit.

Rumah besar itu pun terasa sangat sepi.

Sampai beberapa jam kemudian—

“ALLESSIAAAAA!”

Teriakan menggema dari pintu utama.

Alessia yang sedang minum hampir tersedak.

Nicholas, adik Alessia yang baru pulang sekolah, berdiri membeku melihat kakaknya dengan dahi diperban dan satu tangan digips.

“KAKAK KECELAKAAN?! KENAPA AKU BARU TAHU?!”

Alessia menghela napas.

Nicholas langsung berlari mendekat dengan wajah panik.

“Siapa yang melakukan ini?! Aku akan—”

PLAK!

Satu tangan Alessia yang sehat langsung mendarat di kepala Nicholas.

“Aw!”

“Berisik!”

Nicholas memegangi kepalanya dengan wajah kesal.

“Aku ini khawatir!”

“Kalau khawatir, kecilkan volume suaramu.”

Nicholas terdiam beberapa detik.

Kemudian matanya kembali tertuju pada gips Alessia.

“...Tapi serius, Kak. Kenapa keluarga tidak diberi tahu?”

Alessia langsung mengalihkan pandangan.

Karena ia tahu, cepat atau lambat, rahasia tentang kecelakaan itu tidak mungkin terus disembunyikan.

Alessia segera menyadari bahwa Nicholas mulai terlalu banyak bertanya. Sebelum interogasi itu berubah menjadi sidang keluarga, ia buru-buru mengalihkan pembicaraan.

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu malah ke sini? Bukannya pulang ke rumah?”

Nicholas langsung memasang wajah masam.

“Aku sedang merajuk.”

Alessia mengangkat alis. “Merajuk?”

“Mama marah karena aku main game terlalu lama.”

Alessia menahan tawa. “Pantas saja. Jadi kamu kabur ke sini?”

“Aku bukan kabur. Aku melakukan kunjungan keluarga.”

“Dengan seragam sekolah?”

Nicholas terdiam.

“Itu detail kecil.”

Alessia akhirnya tertawa kecil. Hubungan mereka memang sangat dekat.Walaupun belum lama menikah dan belum lama tinggal di mansion ini,tapi Nicholas sering menjadikan tempat Alessia sebagai tempat berlindung setiap kali ia sedang dimarahi orang tua mereka.Dulu apartemen Alessia dan sekarang Mansion yang ia dan suaminya tinggali.

Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya kembali serius.

“Kak, sekarang giliran aku bertanya.”

“Tidak.”

“Dahi dijahit?”

“Tidak penting.”

“Tangan digips?”

“Bisa sembuh.”

“Kecelakaan?”

Alessia terdiam.

Nicholas langsung menyipitkan mata. “Nah! Benar, kan?”

Alessia menghela napas panjang. Ia akhirnya menyerah.

“Empat hari lalu aku kecelakaan di sirkuit.”

Nicholas membelalak. “EMPAT HARI LALU?!”

“Jangan teriak!”

“Kenapa tidak ada yang memberitahu kami?”

Alessia menunduk sebentar sebelum menjawab tenang.

“Aku tidak mau membuat keluarga panik. Aku juga tidak ingin masalah ini menjadi kehebohan. Lagi pula, aku masih bisa mengatasinya sendiri.”

Nicholas menatap kakaknya lama.

“Sendirian?”

Alessia mengangguk.

“Yah… tidak sepenuhnya.”

Nicholas langsung curiga.

“Siapa?”

Alessia terdiam.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, nama Vellano hampir saja keluar dari mulutnya.

Belum sempat Nicholas melanjutkan interogasinya, nada ponsel Alessia tiba-tiba berbunyi.

Alessia mengambil ponselnya dan langsung terdiam ketika melihat nama kontak yang muncul.

“Suami sok cool.”

Nicholas yang duduk di sebelahnya ikut melirik.

“Suami sok cool?” ulangnya, menahan tawa.

“Diam.”

Alessia buru-buru mengangkat panggilan.

“Ya?”

Suara Vellano terdengar dari seberang.

“Kamu sudah makan siang?”

Alessia mengerutkan kening. “Sudah.”

“Obatnya sudah diminum?”

“Sudah.”

“Jangan lupa minum air. Dan jangan terlalu banyak bergerak.”

Alessia terdiam beberapa detik.

Perhatian sederhana itu entah mengapa membuat pipinya terasa hangat.

“Ya… aku tahu,” jawabnya pelan.

Setelah panggilan berakhir, Alessia langsung berdehem dan meletakkan ponselnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun Nicholas sudah menyeringai lebar.

“Oooooh…”

Alessia menatap tajam. “Apa?”

“Jadi ternyata ada orang yang merawat Kakak.”

“Dia cuma menjalankan tanggung jawabnya.”

“Ya, ya. Tanggung jawab.” Nicholas mengangguk berlebihan. “Sampai telepon cuma buat menyuruh makan dan minum obat.”

Alessia mengambil bantal lalu melemparkannya.

“Pulang!”

Nicholas tertawa.

Tak terasa hari sudah sore. Setelah cukup puas menggoda kakaknya, Nicholas akhirnya berdiri.

Alessia melirik jam.

“Cepat pulang. Sebentar lagi Vellano pulang.”

Nicholas berhenti di pintu.

“Wah, sudah hafal jadwal suami.”

“Keluar!”

Tawa Nicholas kembali terdengar sebelum pintu mansion tertutup.

Alessia menghela napas.

Namun tanpa sadar, ia tersenyum kecil.

Entah sejak kapan, menunggu Vellano pulang mulai terasa seperti sesuatu yang ia nantikan.

Malam sudah larut ketika Alessia masih duduk di sofa ruang tengah. Televisi menyala, tetapi matanya terus melirik jam.

“Kenapa lama sekali sih…” gumamnya.

 Matanya perih dan tiba-tiba kepalanya sedikit sakit

...Malam semakin larut ketika Vellano akhirnya tiba di rumah. Begitu membuka pintu, langkahnya terhenti saat melihat Alessia............

...****************...

 Sosweet kali,tapi gengsi 🤣

 Terimakasih untuk yang sudah mampir,jangan lupa tinggalkan jejak ya.

See you soon🫶🏽

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 2 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!