Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.
Dari sikap yang ditunjukkan oleh wanita bernama Indah itu, Diva malah merasa wanita itu tidak tulus pada Calista. Buktinya, setelah ia menolak memberi sejumlah uang yang dimintanya, sikap wanita itu berubah dingin lalu pergi begitu saja tanpa berpamitan.
"Sepertinya selama ini hidup Calista dikelilingi orang-orang munafik yang hanya memanfaatkannya saja." Gumam Diva sepeninggal indah. Ia curiga selama ini indah sengaja memperkeruh keadaan sehingga Calista semakin posesif terhadap suaminya.
"Mulai saat ini aku tidak akan mau dimanfaatkan oleh siapapun, karena aku bukanlah Calista, tapi Diva." Diva ingin merubah semuanya, termasuk cara Calista dalam memperlakukan orang terdekatnya, orang terdekat yang justru membawa dampak negatif bagi kehidupan seorang Divana Calista.
"Permisi, nyonya." Ara masuk ke ruangan Diva setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ada apa, Ara?."
"Diluar ada tamu yang ingin bertemu dengan anda, nyonya."
"Siapa?."
"Putri dari tuan Caleen, nyonya."
Diva diam sejenak, sepertinya ia pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Btw, beliau ke sini dengan ditemani oleh kakaknya, tuan Cristian Caleen." Ara sedikit menambahkan.
Nama yang barusan di sebut oleh Ara akhirnya mengingatkan Diva pada sosok pria yang malam itu menghadiri acara ulang tahun tuan Tama bersama Erin, pria yang disebut Elio sebagai kakak sepupu Erin.
"Persilahkan mereka masuk ke ruangan saya!."
"Baik, nyonya." Ara lantas meninggalkan ruangan Diva dan tak lama berselang kembali lagi bersama dengan seorang pria dan juga wanita.
Diva bangkit dari duduknya, mengulas senyum ramah pada tamunya.
"Silahkan duduk.... !." Diva mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk di sofa dan tentunya ia pun ikut berpindah ke sofa. Diva bersikap professional layaknya seorang designer dan Client, ia meladeni Client nya dengan sepenuh hati tanpa tahu bahwa kenyataannya putra sulung dari tuan Caleen tersebut pernah menaruh hati pada Calista, bahkan pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung.
Obrolan diantara mereka terus berlanjut, sedangkan Ara pamit ke pantry guna membuatkan minuman untuk tamu. Baru saja tiba di pantry, Ara dikejutkan dengan getaran ponselnya yang berada di saku celananya. Berpikir mungkin panggilan telepon dari client, Ara langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.
"Tuan Elio." Gumam wanita itu melihat nomor kontak suami dari bosnya tertera di layar ponselnya.
"Selamat pagi, tuan."
"Apa pagi ini istri saya datang ke butik?. Soalnya sejak tadi saya menghubungi ponselnya namun tidak diangkat."
"Benar tuan. Saat ini nyonya Calista sedang mengobrol bersama client."
"Client?." Cicit Elio. entah mengapa, Elio merasa penasaran dengan client istrinya. Bagaimana tidak penasaran, selama setahun terakhir, ini kali pertama istrinya itu berkunjung ke butik tapi sudah sibuk mengobrol bersama client.
Ara mengangguk walaupun kenyataannya Elio pasti tidak akan melihatnya. "Client nyonya Calista di hari pertamanya kembali ke butik adalah tuan dan nona dari keluarga Caleen, tuan." Kata Ara dengan hati senang dan bangga karena di hari pertamanya come back, bosnya itu langsung mendapatkan client dari keluarga yang cukup terpandang di kota itu.
Elio terdiam, seperti sedang berpikir. Tuan Caleen hanya memiliki seorang putra yakni, Cristian Caleen. Apa mungkin client istrinya adalah Cristian Caleen, pria yang dulu tergila-gila pada istrinya ketika mereka masih duduk di bangku SMA. Walaupun itu terjadi di saat mereka masih remaja dulu, entah mengapa Elio tak tenang dibuatnya.
"Tuan....tuan...." Seruan Ara akhirnya menyadarkan Elio dari lamunannya.
"Istri saya tidak perlu tahu kalau saya menelepon kamu!."
"Baik, tuan." Walaupun bingung mengapa Elio memintanya untuk tidak menyampaikan perihal pria itu meneleponnya, Ara memilih untuk mengiyakannya.
Setelah obralan nya bersama Elio berakhir, Ara lantas melanjutkan niatnya untuk membuat minuman untuk tamu.
Setelah hampir satu jam mengobrol, kini Diva nampak mengantarkan tamunya hingga ke depan.
Diva merasa bangga karena ia di beri kepercayaan untuk mendesain gaun pengantin. Ini adalah projek pertama Diva, ia berharap hasil design nya nanti akan disukai oleh client nya. Saking senangnya mendapat kepercayaan untuk membuat gaun pengantin, Diva sampai tak menyadari bahwa kini sinar mentari telah tergantikan oleh cahaya rembulan. Ternyata hari sudah malam.
"Sepertinya aku harus segera pulang sekarang." Diva bersiap-siap untuk pulang. Sebelum beranjak, Diva memeriksa ponselnya. Ternyata ponselnya dalam kondisi senyap sehingga ia tidak menyadari panggilan telepon dari Elio. Ada banyak panggilan tak terjawab dari Elio. Hendak melakukan panggilan balik, tiba-tiba ponselnya kehabisan daya.
Diva baru sadar ternyata hanya tinggal ia dan security yang tersisa di butik, semua pegawai sudah pulang, termasuk Ara.
"Malam, pak."
"Malam nyonya."
"Saya pulang dulu ya pak."
"Iya, nyonya. Hati-hati mengemudikan mobil, nyonya!."
"Terima kasih, pak." Balas Diva dengan mengulas senyum ramahnya. Ia berterima kasih karena pria itu sudah menunjukkan kepeduliannya.
*
Setibanya di rumah, Diva menghampiri kamar Elhan terlebih dahulu dan tenyata bocah itu sudah tidur. "Maaf sayang, karena mommy tidak sempat menemani kamu hingga tertidur malam ini." Diva mengusap lembut puncak kepala Elhan yang telah terlelap dalam tidurnya. Diva yakin Elhan tidak tidur siang sehingga malam ini tidur lebih awal. Setelah merapikan posisi selimut Elhan, Diva berlalu ke kamarnya.
Setibanya di kamar, Diva mendapati Elio sedang sibuk dengan ponselnya, seperti sedang berbalas pesan dengan seseorang. Namun begitu, Diva tak mau terlalu ambil pusing, ia justru berlalu menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket akibat rutinitasnya seharian ini.
Tanpa di sadari oleh Diva, ternyata Elio merasa semakin tak tenang atas sikap istrinya yang menurutnya cuek terhadapnya.
"Sepertinya sudah waktunya Elhan punya adik." Elio bergumam sembari menatap ke arah pintu kamar mandi, di mana tubuh Diva baru saja menghilang di baliknya. Entah mengapa, mendengar client istrinya adalah Cristian Caleen, mampu menciptakan kegelisahan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata dihati Elio. Jika istrinya kembali mengandung anaknya, itu artinya sang istri tidak akan mungkin berpikir untuk pergi dari sisinya, sejauh itu Elio berpikir. Khawatir istrinya tergoda pada Cristian yang faktanya menyukai Calista sejak masih duduk di bangku SMA. Dan bisa jadi alasan Cristian belum juga menikah hingga detik ini karena belum move on dengan perasaannya pada Calista.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian Diva keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe untuk menutupi tubuh polosnya. Wanita itu nampak canggung menyadari tatapan Elio, terlebih kini pria itu beranjak turun dari tempat tidur dan melangkah ke arahnya.
"Ada apa, mas?." Dengan suara lirih, nyaris tak terdengar, Diva bertanya pada saat Elio berhenti tepat dihadapannya.
"Sayang....." Seruan lembut Elio yang disertai dengan sentuhan lembut pada pipinya mampu membuat bulu kuduk Diva meremang. Tubuhnya pun membeku seketika. "Aku menginginkanmu Diva." Seperti ucapan Elio sebelumnya, kini pria itu kembali memanggil istrinya dengan panggilan akrabnya di awal pernikahan mereka dulu.
Deg.
Mulut Diva semakin keluh mendengar Elio memanggilnya dengan nama itu. Rupanya apa yang dikatakan Rika tempo hari tidak salah, suatu hari Elio pasti akan menyentuhnya karena menganggap dirinya adalah istrinya, Calista. Makanya Rika memperingatkan Diva untuk menyiapkan diri untuk itu.
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣