Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 hukuman yang tersembunyi
Ranti memang tidak menghukum secara blak-blakan namun halus dan hukuman Ranti tidak berhenti di situ.
Ia mulai perlahan menghapus nama Sisil dari berbagai akses keluarga. Kartu tambahan diblokir. Hak waris ditinjau ulang. Beberapa aset yang dulu dijanjikan diam-diam dipindahkan.
Sekarang semua sudah berubah, Sisil sama sekali tidak mendapatkan apa pun dari keluarga Wiratmaja lagi, dia sekarang hanya lah orang asing yang menumpang hidup di keluarga Wiratmaja.
Dan semuanya Ranti lakukan tanpa keributan besar, pelan, diam-diam namun mematikan.
Sisil mulai panik karena ia sadar posisinya di rumah itu sedang runtuh.
Malam harinya, Sisil diam-diam menelepon seseorang. Ia sudah tidak sanggup menghadapinya sendiri lagi.
“Mama…”
Suara di seberang terdengar kesal.
“Kenapa baru telepon sekarang?”
“Ada masalah ma.”
“Apa lagi sekarang?”
Sisil menggigit bibir.
“Aunty sudah mulai curiga ma.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu suara wanita itu berubah tegang.
“Apa mereka tahu soal kecelakaan?”
“Aku nggak tahu pasti seberapa banyak…”
“Bodoh kamu!”
Sisil langsung menahan tangis.
“Sekarang mereka mulai narik semuanya ma…”
“Kalau begitu kamu jangan diam saja dong!”
Tatapan Sisil perlahan berubah gelap.
“Aku harus gimana sekarang ma?”
Suara orang lain terdengar dari belakang telepon.
Ayah kandungnya.
“Cari Alkina sekarang.”
Deg.
“Kenapa harus cari Alkina?”
“Selama anak kandung itu belum kembali, posisi kamu masih bisa diselamatkan.”
Sisil langsung terdiam.
“Kalau dia balik gimana…”
“Maka habis semuanya, rencana kita gagal.”
Napas Sisil mulai memburu dan perlahan rasa takut dalam dirinya berubah menjadi kebencian.
Sementara itu, Ranti sedang duduk di kamar Alkina lagi.
Ruangan kecil itu kini menjadi tempat yang paling sering ia datangi karena hanya disana ia bisa merasakan anaknya namun di sana ia juga merasakan sedang dihukum.
Ranti memegang sweater lama milik putrinya sambil menangis pelan.
“Aku bahkan nggak tahu ukuran baju anak kandung aku sendiri…”
Suara wanita itu pecah. Setiawan yang berdiri di dalam ruangan itu hanya bisa diam.
“Aku kasih semuanya buat Sisil sementara Alkina aku abaikan, aku…” Tangis Ranti semakin keras, bahkan ia tidak mampu melanjutkan ucapannya.
“Padahal Alkina cuma butuh aku percaya sama dia…” Penyesalan itu perlahan menghancurkan Ranti dari dalam.
Namun semua sudah terlambat karena anak yang ia abaikan sekarang bahkan tidak diketahui keberadaannya.
Di sisi lain Alkina mulai bekerja paruh waktu di toko buku kecil dekat rumah Mira. Toko yang masih terlihat dari rumah Mira.
Awalnya Mira melarang Alkina untuk bekerja namun Alkina meyakinkan Mira bahwa ia aman bekerja di sana. Setelah cukup lama Alkina meyakinkan Mira akhirnya Mira izinkan.
Pemilik toko juga sangat menyukainya karena Alkina rajin dan sopan.
“Kamu cepat belajar ya,” puji pemilik toko.
Alkina tersenyum kecil.
“Terima kasih bu.”
Sedikit demi sedikit gadis itu mulai belajar hidup normal.
Meski luka di hatinya belum hilang namun di tempat baru ini setidaknya tidak ada yang membencinya.
Sore itu Mira mendapat laporan baru.
“Bu Mira,” ujar orang kepercayaannya, “keluarga kandung Sisil mulai bergerak.” Tatapan Mira langsung tajam.
“Mereka mencari Alkina?”
“Iya bu.”
“Tujuan mereka apa mencari Alkina, bukannya seharusnya mereka senang Alkina pergi dari keluarga Wiratmaja?”
“Sepertinya ingin mencegah Nona Alkina kembali ke keluarga Wiratmaja.”
Mira terdiam beberapa detik lalu tersenyum tipis. Senyum dingin yang jarang muncul.
“Mereka mulai panik rupanya.” Ucap Mira yang sekarang paham.