Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Gara-gara Genetik.
Sementara itu, Jun-seok yang baru saja tiba di kediaman Min-seo dan Daejung langsung berlari keluar dari mobil tanpa menunggu kakek dan neneknya turun sepenuhnya.
“Pelan-pelan, aegi-ya!” teriak Min-seo ketika melihat cucunya berlari begitu bersemangat.
Jun-seok hanya melambaikan tangan tanpa menghentikan langkahnya. Tas kecil yang dibawanya bahkan hampir terlepas dari bahunya karena ia terlalu bersemangat memasuki rumah.
Min-seo menggeleng kecil sambil tersenyum di sampingnya, Daejung turut menatap punggung cucunya yang semakin menjauh. Senyum hangat menghiasi wajah pria tua itu.
Tidak ada lagi kegelisahan yang dulu kerap mengusik pikirannya.
Tidak ada dendam yang harus dipelihara.
Tidak ada kecemasan tentang masa lalu yang perlu terus dibawa ke hari esok.
Di usia mereka sekarang, Min-seo dan Daejung akhirnya dapat menikmati sesuatu yang dahulu terasa begitu jauh dari kehidupan mereka dahulu; ketenangan.
Mereka telah berdamai dengan masa lalu, menerima keputusan putra-putra mereka, dan memahami bahwa setiap anak berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Daejung mengembuskan napas panjang, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Anak itu benar-benar tidak bisa diam,” gumam Daejung sambil terkekeh.
Min-seo menoleh kepadanya.
“Bukankah itu yang membuat rumah kita kembali ramai?” tanyanya, membuat senyum Daejung semakin mengembang.
“Benar.”
Begitu keduanya masuk ke dalam rumah, mereka langsung melihat Jun-seok yang tengah duduk di ruang tamu yang luas. Anak itu tampak begitu menikmati waktunya bersama dua ekor kucing British Shorthair milik keluarga mereka—Luna dengan bulu blue-cream dan Leon dengan bulu soft-blue.
Kedua kucing itu sebenarnya dulu merupakan hadiah Junho untuk Nala. Namun, karena kesibukan mereka yang semakin padat, Nala dan Junho sengaja menitipkan keduanya kepada Minseo dan Daejung. Kini, Luna dan Leon sudah begitu terbiasa tinggal di rumah tersebut, seolah-olah keduanya memang telah menjadi bagian dari keluarga itu sejak awal.
“Luna... Leon, bagaimana kabar kalian? Kalian suka tinggal bersama Halmeoni dan Harabeoji?” tanya Jun-seok riang tangannya segera meraih Luna dan mengangkat kucing gembul itu ke pangkuannya.
“Meong...”
Luna mengeong pelan, kemudian mengedipkan mata dengan santai seolah benar-benar sedang menjawab pertanyaan Jun-seok. Respons sederhana itu langsung membuat Jun-seok tertawa lepas.
“Ikhhh... kau menggemaskan sekali,” ucapnya gemas.
Tanpa ragu, ia mengecup kepala Luna beberapa kali hingga kucing itu hanya bisa menggerakkan ekornya perlahan. Min-seo yang melihat tingkah cucunya hanya tersenyum. Ia kemudian berjalan mendekat dan ikut berjongkok di hadapan Jun-seok.
“Seok,” panggilnya.
Jun-seok segera menoleh.
“Iya, Halmeoni?”
“Katanya Daddy akan menjemputmu nanti malam. Jadi, siang ini ayo bermain. Halmeoni mau pergi ke rumah Keun-abeoji untuk bertemu Ji-ah,” ujar Min-seo.
Mata Jun-seok langsung berbinar, ia mengangguk tanpa ragu.
“Harabeoji ikut?” tanya nya menoleh pada Daejung yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung, pria tua itu tanpa ragu mengangguk.
“Tentu saja. Nanti kita bermain bersama. Bagaimana?” tanya nya membuat Jun-seok kembali mengangguk dengan antusias. Bahkan, sebelum Min-seo sempat mengatakan apa-apa, anak itu sudah berdiri dan memasang wajah penuh semangat.
“Kita pergi sekarang!” ajaknya.
Minseo spontan menggeleng sambil terkekeh.
“Istirahat sebentar, nee? Jangan sampai kelelahan.”
Jun-seok akhirnya mengangguk, meskipun ekspresi tidak sabar masih jelas terlihat di wajahnya. Namun, baru beberapa detik kemudian, perhatian anak itu kembali teralihkan.
Leon berlari melintasi ruang tamu, disusul Luna yang melompat turun dari pangkuannya. Jun-seok langsung mengejar keduanya ke sana kemari. Sesekali ia berjongkok, lalu kembali berlari ketika kedua kucing itu berbelok ke arah lain.
Tawa riangnya kembali memenuhi ruang tamu.
“Dapat!”
Jun-seok akhirnya berhasil menangkap Leon yang tubuhnya cukup gembul. Anak itu tertawa puas sambil memeluk kucing tersebut, sementara Leon hanya mengeong protes dan berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
Minseo dan Daejung saling berpandangan rumah yang dahulu terasa terlalu sunyi kini kembali dipenuhi suara langkah kaki kecil, tawa seorang anak, dan sesekali suara mengeong dari dua ekor kucing yang menjadi penghuni kesayangan mereka.
Dan entah mengapa, bagi kedua orang tua yang telah melewati begitu banyak hal itu, keramaian sederhana tersebut terasa seperti hadiah yang jauh lebih berharga daripada apa pun.
⊹ ──༺𝐁𝐘𝐍𝐊༻── ⊹
Mobil melaju perlahan di antara deretan lampu Seoul yang mulai menyala satu per satu. Jalanan Apgujeong cukup padat, tetapi tetap tenang; jenis kepadatan yang terasa akrab, bukan menyesakkan. Lampu-lampu kendaraan memantul di kaca jendela, beriringan dengan cahaya toko dan papan reklame yang mulai menerangi sisi jalan.
Di dalam kabin, keheningan diisi oleh alunan musik lembut dan suara napas dua orang yang sudah terlalu terbiasa berbagi ruang sunyi.
Seharian itu terasa panjang, tetapi menyenangkan. Museum, toko buku, tawa-tawa singkat di Hannam-dong semuanya seperti potongan kecil kehidupan yang jarang mereka miliki. Nala menyandarkan kepala pada sandaran kursi, matanya mengikuti pantulan cahaya kota yang bergerak perlahan di balik jendela.
Junho melirik sekilas kedua tangannya masih menggenggam kemudi, tetapi fokusnya jelas beberapa kali terpecah oleh sosok perempuan di sampingnya.
“Kamu bahagia?” tanyanya tiba-tiba, membuat Nala menoleh cepat senyum kecil muncul di wajahnya tanpa perlu dipaksakan.
“Sangat... Terima kasih.”
Junho mengangguk kecil senyum tipis tersungging di bibirnya, menyimpan sesuatu yang tidak perlu dijelaskan. Momen-momen seperti ini terlalu mahal untuk disia-siakan oleh keduanya.
Dahulu, hampir setiap langkah mereka terasa diawasi. Kini, justru waktu yang sering kali tidak memberi mereka cukup kelonggaran untuk sekadar menikmati kebersamaan tanpa terburu-buru.
“Oppa, apa kita merepotkan mereka? Kita menitipkan Seok terlalu lama,” ucap Nala pelan.
Junho menggeleng.
“Tidak. Mereka senang. Eomma malah meminta Seok menginap. Tadi dia menghubungiku,” jawabnya.
Nala mengangguk kecil.
“Begitu...”
Setelah itu, ia kembali terdiam pandangannya beralih ke luar jendela, memperhatikan deretan lampu kota yang terus bergerak di balik kaca. Mobil berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah Nala mengembuskan napas kecil jemarinya bergerak pelan di atas pangkuan, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu.
“Tapi, Oppa... kamu sadar atau tidak?” ucapnya akhirnya, ragu-ragu.
“Sadar apa?” Junho menoleh sekilas sebelum kembali memperhatikan jalan di depannya.
Nala memiringkan kepala tatapannya tertuju pada suaminya dengan ekspresi setengah kesal, setengah bingung.
“Kenapa Seok hanya mirip kamu? Wajah, rambut, badan, sikap, tingkah—semuanya. Yang mirip aku hanya senyumnya. Itu adil tidak?” tanyanya.
Junho terdiam sepersekian detik hingga akhirnya tawanya pecah ringan di dalam kabin. Nala langsung mengerucutkan bibir, jelas tidak terima.
“Aku serius,” ucapnya kesal. Namun, bukannya berhenti, tawa Junho justru semakin terdengar, membuat Nala semakin sebal. “Kenapa tertawa?” protesnya.
Junho menggeleng sambil menahan senyum.
“Karena baru sekarang kamu mempermasalahkan hal itu?” tanyanya geli.
“Memangnya tidak boleh?” balas Nala kesal.
“Boleh.” Junho mengangguk iseng.
“Lalu?” tanya Nala sambil melirik suaminya tajam.
Junho kembali meliriknya sekilas. Ketika tatapan mereka bertemu, senyum di wajah pria itu justru semakin jelas, seolah ia baru menemukan bahan untuk menggodanya.
“Berarti genku lebih kuat, Yeobo.” Junho masih tidak kuasa menahan tawanya, sedangkan Nala langsung mencemberut.
“Gen apa? Aku yang mengandung, melahirkan, pegal, sakit, dan tidak nyaman selama berbulan-bulan. Tetapi hasil akhirnya malah mirip kamu. Itu tidak adil,” kata Nala panjang lebar.
Tawa Junho terdengar semakin lepas. Ia bahkan sempat menoleh sekilas, matanya berkilat jahil sebelum kembali fokus pada jalan di hadapannya.
“Itu namanya kerja tim. Aku menyumbang materi berkualitas,” jawabnya santai.
Nala langsung menoleh.
“Oppa, kalau kerja tim, seharusnya hasilnya adil, bukan? Kenapa yang ini tidak?” desisnya. Nada suaranya mulai meninggi karena benar-benar merasa dirugikan.
“Karena aku yang bekerja paling banyak,” jawab Junho tanpa merasa bersalah.
Nala langsung melotot.
“Loh... kamu...” Ia terdiam sesaat, seolah sedang mencari kalimat yang cukup pantas untuk membalas ucapan suaminya. Namun, pada akhirnya ia hanya mendengkus kesal. “Menyebalkan.”
Nala ingin mengatakan lebih banyak, tetapi ia memilih menahannya. Daripada semakin memperpanjang perdebatan yang jelas-jelas hanya akan membuat Junho semakin senang menggodanya, lebih baik ia mengalah.
Keputusan itu justru membuat senyum puas tersungging di wajah Junho karena ia tahu istrinya sudah kehabisan kesabaran.
“Tapi kamu cinta aku, kan?” tanyanya.
Nala menatap lurus ke depan. Bibirnya masih mengerucut, sementara kedua tangannya terlipat di depan dada.
“Kadang aku ingin marah... tetapi lelah. Kalau tahu akan seperti ini, mungkin aku tidak akan terlalu banyak diam,” keluhnya.
Junho tertawa kecil dia kemudian sedikit mendekatkan wajahnya, seolah ingin memastikan hanya Nala yang mendengar nada godaannya.
“Kamu lucu kalau cemberut,” godanya.
“Aku hampir menangis,” bantah Nala. Suaranya kini terdengar lebih lembut. Ia mengembuskan napas sebelum melanjutkan, “Oppa, kau tahu aku hanya ingin... sedikit saja. Apa tidak bisa ada sesuatu yang mirip denganku? Kenapa semuanya malah diborong olehmu?”
Nada kesalnya masih terdengar, tetapi kali ini lebih seperti keluhan manja daripada kemarahan sungguhan. Tepat saat itu, lampu lalu lintas berubah hijau mobil kembali bergerak mengikuti arus kendaraan yang perlahan mencair.
Junho menghela napas pelan ekspresinya berubah menjadi lebih hangat. Tangan kanannya terulur sejenak, mencari tangan Nala yang terletak di atas pahanya.
“Seok punya caramu memperhatikan sesuatu, caramu diam, caramu mendengarkan. Itu bukan hal kecil,” ucapnya sembari menatap sekilas jemarinya yang menggenggam tangan Nala dengan lembut, lalu sesekali mengusap punggung tangannya menggunakan ibu jari.
“Kamu mungkin hanya terlalu mengenalku sampai lebih mudah melihat sifatku pada dirinya daripada melihat sifatmu sendiri. Itu sebabnya kamu merasa Seok hanya mirip denganku. Padahal jelas ada bagianmu di dalam dirinya.” Junho melirik Nala sekilas tatapannya begitu tenang. “Seok itu gabungan dari aku dan kamu. Dia bukan hanya aku atau kamu. Dia itu kita.”
Nala terdiam tatapannya yang semula mengarah ke luar jendela perlahan turun pada tangan mereka yang saling bertaut. Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa sedikit lebih hangat.
“Kamu selalu seperti itu. Menggoda, lalu menenangkan. Menyebalkan sekali,” timpal Nala.
Junho meliriknya lagi senyum jahilnya perlahan kembali menghiasi wajah pria itu.
“Aku suami yang bertanggung jawab...” katanya penuh percaya diri.
Nala langsung menoleh.
“Bertanggung jawab membuatku kesal?” balas nya cepat.
“Kesal itu bagian dari cinta. Karena aku mencintaimu, jadi jawabannya iya,” jawab Junho santai.
Nala menggeleng pelan namun, kali ini ia tidak lagi cemberut. Senyum kecil justru muncul di sudut bibirnya, sementara tangannya tetap berada dalam genggaman Junho sepanjang perjalanan pulang.
“Oppa, ini benar-benar...” Ucapannya terhenti.
“Kenapa?” potong Junho.
Nala menatapnya dengan ekspresi setengah menuduh.
“Kamu menggoda terus seharian, dari pagi sungguh menyebalkan,” keluhnya, membuat tawa Junho kembali terdengar.
“Berarti berhasil,” jawabnya tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Nala menunduk, entah karena kesal atau karena perasaannya kembali tersentuh, matanya mulai berkaca-kaca. Melihat perubahan ekspresi istrinya, Junho segera menurunkan kecepatan mobil. Tatapannya sesekali beralih kepada Nala, sementara genggamannya pada tangan wanita itu mengerat.
“Jangan menangis. Nanti aku yang salah,” katanya lembut dia terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya kembali terangkat. “Begini saja... bagaimana kalau kita buat lagi?”
Dahinya berkerut, pura-pura berpikir serius dan hal itu cukup untuk membuat Nala langsung menoleh.
“Oppa!” serunya kesal.
“Apa?” Junho memasang wajah polos. “Kamu ingin sesuatu yang mirip denganmu, kan? Apa salahnya kalau kita buat lagi? Lagipula, Seok juga sudah besar.”
Nala hanya menatapnya tidak percaya, namun Junho tetap melanjutkan dengan nada santai, seolah apa yang sedang mereka bicarakan merupakan sesuatu yang sangat sederhana.
“Kau tahu, usaha terkadang tidak pernah mengkhianati hasil. Jadi, kita coba saja. Bagaimana?” lanjut nya membuat Nala seketika terdiam.
Ucapan Junho terdengar seperti gurauan, tetapi kali ini ia tidak langsung membalas. Pandangannya kembali mengarah ke depan, sementara jemarinya bergerak kecil di dalam genggaman suaminya.
Sejak awal, mereka memang telah sepakat untuk menunda memiliki anak lagi. Bukan hanya karena kesibukan mereka, tetapi juga karena ada bagian dalam diri Nala yang belum sepenuhnya siap mengulang rasa sakit saat melahirkan.
Ingatan tentang hari itu masih terlalu jelas, rasa sakit yang datang bergelombang, tubuh yang terasa seperti kehilangan seluruh tenaga, ketakutan yang sempat membuatnya bertanya-tanya apakah ia sanggup melewatinya—semuanya belum benar-benar hilang dari ingatannya.
Nala mengembuskan napas pelan.
“Kalau gen-nya ikut kamu lagi bagaimana?” tanyanya akhirnya.
Suaranya terdengar jujur, meskipun masih menyimpan keraguan. Junho justru tersenyum lebar bahunya terangkat santai seolah pertanyaan itu sama sekali bukan persoalan besar.
“Itu nasib,” balas nya membuat Nala langsung memukul lengannya pelan.
“Kamu ini—” gerutunya kesal.
Namun, meskipun bibirnya masih mengeluh, sorot matanya tidak lagi menunjukkan penolakan seperti sebelumnya, ia benar-benar sedang mempertimbangkannya dan Junho tahu itu.
“Apa pun hasilnya, aku ingin dengan kamu, Nala. Kalau kamu siap, bilang, ya. Aku tidak pernah memaksa. Seok sudah lebih dari cukup untukku...” Junho berhenti sejenak, lalu menatap istrinya dengan sorot mata yang lebih lembut. “Tetapi kalau kamu ingin mencoba peruntungan, kita bisa mencobanya sekali saja.”
Ucapan itu membuat Nala menghela napas panjang, rasa kesalnya belum sepenuhnya hilang, tetapi senyum kembali menghiasi wajahnya.
Ada sesuatu dalam cara Junho berbicara yang membuat gurauannya terasa berbeda ia tetap menggoda, tetapi di balik itu terselip sebuah kepastian bahwa keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan Nala.
“Kamu benar-benar manusia paling menyebalkan yang pernah aku cintai,” jawabnya.
Junho melirik ke arahnya. Kedua matanya penuh tawa.
“Aku tahu... dan aku mencintaimu lebih dari dirimu sendiri. Kau tahu, aku selalu ingin mencintaimu lebih besar dari kemarin dan kurang dari besok,” balasnya santai.
Nala menggeleng kecil, tetapi kali ini ia tidak membantah.
Di kejauhan, rumah orang tua Junho mulai terlihat, cahaya hangat dari dalam rumah memancar melalui jendela-jendela besar, kontras dengan lampu kota Seoul yang masih berkilauan di sepanjang jalan.
Nala menyandarkan punggungnya dengan lebih nyaman. Rasa kesalnya perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan yang hanya dapat tumbuh dari dua orang yang telah melewati begitu banyak hal bersama—dua orang yang mungkin sesekali saling membuat kesal, tetapi tidak pernah benar-benar menemukan alasan untuk pergi.
Jemari mereka masih saling bertaut.
Dan di antara gemerlap lampu kota Seoul, mereka tertawa kecil—tentang gen, tentang nasib, tentang kemungkinan seorang anak lain yang mungkin atau mungkin tidak pernah hadir dalam kehidupan mereka.
Tentang cinta yang, setelah sekian lama, masih selalu menemukan cara untuk terasa ringan, meskipun hidup tidak pernah benar-benar sederhana.