Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Makan Malam Di Tempat Terpisah.
Sementara itu di tempat lain, Ravin tidak langsung pulang ke rumahnya dan Sera. Ia melajukan mobilnya menuju apartemen tempat Rania tinggal.
Selama seminggu ini, mereka sangat jarang bertemu. Ravin hanya bisa mampir sebentar saat sarapan, dan itu hanya dua kali.
Tidak mungkin terlalu sering membohongi Sera. Setelah ia tidak bisa pulang saat hari jadi mereka. Takut gadis itu mencurigainya.
Sebelum masuk ke dalam unit apartemennya, Ravin menyempatkan untuk mengirim pesan pada Sera.
Ia mengatakan kalau malam ini akan pulang terlambat. Menyelesaikan pekerjaan di kantor, karena akan di tinggalkan pergi ke Bali besok pagi.
“Ran.” Panggil Ravin saat ia tiba di apartemennya.
Rania sedang berada di dapur sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Ia menoleh sejenak sembari tersenyum.
“Hai, Vin. Tunggu dulu ya. Makanannya sebentar lagi siap.” Ucap wanita itu.
Ravin mengangguk pelan. Ia kemudian melepas jas, dan meletakkan di atas sofa ruang tamu.
Kemudian menghampiri Rania. Sembari melangkah ke dapur, Ravin menggulung lengan kemejanya hingga siku.
“Masak apa?” Tanya Ravin sembari mencuci tangannya.
“Ayam saus mentega, tumis buncis, sapi lada hitam, nasi beras merah, dan sambal tomat.” Ucap Rania.
Ia sengaja memasak makanan kesukaan Ravin. Karena pria itu sudah jarang datang ke apartemen. Apalagi, besok Ravin akan pergi ke Bali selama 2 hari.
Rania ingin Ravin selalu mengingat dan merindukan masakan buatannya.
“Apa yang bisa aku bantu?” Tanya Ravin kemudian.
“Kamu siapkan piring dan teman - temannya saja. Aku akan menyiapkan makanannya di piring saji.” Ucap Rania.
Ravin mengangguk patuh. Ia pun beralih pada lemari penyimpanan peralatan makan, kemudian membawa dua piring, serta sendok dan garpu ke meja makan.
Rania membawa satu persatu makanan yang telah siap ke meja makan.
Ravin menuangkan air ke dalam gelas. Kemudian menarik kursi untuk di tempati oleh Rania.
“Aku senang kamu memilih makan malam disini, sebelum kamu pergi ke Bali, Vin.” Ucap Rania sembari mengisi piring dengan nasi dan penemannya.
“Tapi aku tidak bisa lama, Ran. Aku tidak mau Sera curiga. Dia bisa saja bertanya pada asisten ku.” Ucap Ravin sembari menerima piring yang Rania sodorkan.
Wanita itu menghela nafas pelan. Inilah resiko masih berhubungan dengan mantan kekasih yang sudah menikah.
Tidak bisa memiliki waktu yang cukup untuk berdua.
“Setidaknya, kamu habiskan makanan yang sudah aku buat, Vin.” Ucap Rania pelan.
“Tentu, Ran.” Ravin tidak mungkin mengecewakan gadis itu.
.
.
.
Sera memelankan langkah kakinya, saat melihat Wira berada di dapur dan sedang membantu bi Sari membuat makan malam.
Gadis itu terpaku di tempatnya.
Baru kali ini ia melihat seorang pria berada di balik meja dapurnya. Sebelumnya, baik sang papa, Sena maupun Ravin, sama sekali tidak pernah terlalu lama saat berada di dapur.
Wira terlihat berbeda. Pria itu sepertinya sudah terbiasa menggunakan peralatan dapur.
Apa mungkin karena Wira hidup sendiri? Sehingga pria itu begitu cekatan saat menggunakan peralatan dapur?
Apa Ravin akan segagah itu saat berada di depan kompor dan menggunakan celemek?
Sera menggelengkan kepala pelan. Ia tak seharusnya memikirkan pria lain, di saat dirinya telah bersuami. Apalagi, menbandingkan suaminya dengan Wira.
“Non.” Panggil Bi Sari saat menyadari keberadaan Sera.
Wira pun ikut menoleh. Kemudian mengangguk tanda hormat.
Sera melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
“Bi. Nanti siapkan makannya sedikit saja. Kak Ravin pulang terlambat malam ini.” Ucap Sera sembari menarik sebuah kursi untuk di temapti.
Ia menjatuhkan bokongnya dengan sangat pelan. Seolah enggan berada di tempat itu.
Mendengar ucapan Sera, Wira yang sedang mencuci buah, pun menoleh ke arah gadis itu.
‘Dia pasti sedang bersama mantan kekasihnya.’ Wira menyunggingkan sudut bibirnya.
Sangat tipis. Hingga tak ada orang yang menyadarinya.
“Mas Wira, makan malam disini saja dulu sebelum pulang.” Ucap Sera sembari menatap ke arah pria itu.
“Iya, non. Nanti saya ikut makan sama bibi di belakang.” Ucap Wira.
Sera menganggukkan kepalanya mendengar jawaban pria itu.
Wira pun selesai menyiapkan buah segar. Kemudian membawanya ke meja makan.
Bi Sari juga sudah selesai menghidangkan makanan untuk Sera.
“Terima kasih, bi. Bibi juga makan dulu.” Ucap Sera.
“Nanti saja, setelah non Sera selesai makan.” Tolak Bi Sari.
“Tidak apa - apa, bi. Aku juga tidak terburu - buru. Bibi dan mas Wira bisa makan disini bersama aku.” Ajak Sera.
Bi Sari menggelengkan kepalanya. “Biar bibi dan mas Wira makan di belakang saja, non. Tidak enak nanti jika tuan tiba - tiba pulang.”
Sera pun menganggukkan kepalanya. Bi Sari mengajak Wira makan berdua di dapur belakang.
“Pak Ravin sering pulang terlambat ya, bi?” Tanya Wira saat mereka menikmati makan malamnya di dalam dapur belakang.
Makanan yang sama, dengan yang tersaji di meja makan majikan mereka. Karena, Sera dan Ravin tidak mempermasalahkan hal itu.
Apapun yang mereka makan, itu pula yang di berikan pada pekerjanya.
“Tuan Ravin baru diangkat menjadi Direktur menggantikan ayahnya yang terkena stroke beberapa bulan lalu, mas. Jadi, tuan masih belajar memimpin perusahaan. Karena itu, beberapa kali, tuan pulang terlambat.” Jelas Bi Sari.
Wira mengunyah makanannya dengan pelan. Pria itu seakan memikirkan sesuatu.
‘Pria tua itu, belum saatnya untuk ma-ti. Dia harus merasakan karma atas perbuatannya pada ibuku.’
“Bibi sudah lama bekerja dengan keluarga ini?” Tanya Wira kemudian.
“Baru satu bulan lebih ini, mas. Dari tuan Ravin dan non Sera pindah ke rumah ini.”
Wira menaikan sebelah alisnya. “Saya kira, bibi sudah lama bekerja dengan keluarga Arthadipa. Bibi terlihat begitu akrab dan perhatian pada non Sera.”
Bi Sari menghela nafas panjang, lalu menggeleng pelan. “Sebelumnya juga, bibi merasa canggung, mas. Tetapi, karena non Sera sering meminta bibi untuk menemaninya makan malam. Kami pun mulai akrab.”
“Pak Ravin sering terlambat pulang dari kantor, bi?” Tanya Wira.
Bi Sari menghela nafas pelan. Kemudian menganggukkan kepalanya.
“Kata non Sera ya karena itu. Tuan Ravin baru diangkat menjadi Direktur. Jadi masih perlu banyak belajar. Makanya sering lembur.” Wanita paruh baya itu menjeda ucapannya dengan memadukan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
Wira pun mengangguk paham. “Tapi sepertinya pak Ravin sangat mencintai non Sera.” Ucap pria itu.
Bi Sari menggelengkan kepalanya. “Mas Wira jangan mengatakan pada siapapun. Tuan dan non Sera itu menikah karena perjodohan.” Bisik wanita paruh baya itu.
“Perjodohan?” Gumam Wira seolah - olah terkejut.
Bi Sari mengangguk pelan.
Wira pun melanjutkan menikmati makan malamnya.
‘Asal bibi tau, aku yang seharusnya menikah dengan Sera. Bukan adik pecundang ku itu.’