NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Rencana Besar, Anggaran Tipis

Kipas angin kusam di langit-langit ruko berdecit ngilu, seakan ikut menertawakan nasib Fajar siang ini. Keringat sebesar biji jagung meluncur dari pelipisnya. Sialan. Udara pedalaman Kalimantan Timur memang panas, tapi deretan angka di layar laptopnya jauh lebih bikin gerah.

Fajar mengacak rambutnya frustrasi. Gila aja! batinnya menjerit melihat hamparan spreadsheet Excel yang masih kosong melompong dengan judul tebal menantang: Alokasi Anggaran Pemasaran Kuartal III - Cabang Kaltim.

"Pusat waras gak, sih? Duit segini disuruh buka pasar baru?" umpat Fajar, suaranya serak menahan emosi. Ia mengusap wajahnya kasar. "Ini mah bukan budget ekspansi, tapi duit jajan bocah SD!"

Tiga anak buahnya yang sedari tadi duduk lesehan di karpet tipis langsung saling sikut. Si rambut gondrong—yang entah sejak kapan diangkat Fajar jadi asisten dadakan—memberanikan diri merangkak maju.

"Gawat ya, Bos?" bisik si Gondrong panik.

Fajar memijat pangkal hidungnya keras-keras. Matanya perih. "Bukan gawat lagi. Ini kiamat kecil." Ia memutar kursi kerjanya kasar menatap mereka bertiga. "Gue baru aja disuruh ngelola duit mepet ini buat iklan, event, diskon, sampai dana sponsor. Meleng dikit alokasinya, kita semua gulung tikar sebelum jualan genap setahun. Paham lu pada?"

Si topi terbalik ragu-ragu mengangkat tangan. "Gimana kalau semua uangnya kita pakai buat bikin diskon gede-gedean aja, Bos? Kayak yang dibikin Pak Joni kemarin. Warga desa kan matanya langsung ijo kalau lihat yang murah-murah."

Brak!

Fajar menepuk pahanya sendiri. Jiwa eksekutifnya meronta keras. "Lu mau kita mati bunuh diri massal?!" potong Fajar tajam. Si topi terbalik langsung kicep. "Diskon 50 persen tanpa taktik itu namanya bakar duit! Kita emang dapet keramaian, tapi cuma sesaat. Profit hancur lebur! Begitu harganya balik normal, warga bakal kabur karena udah kebiasa dikasih harga murah."

Tarikan napas Fajar memburu. Ia melompat berdiri, menyambar spidol hitam, dan melangkah lebar ke papan tulis kecil di dinding ruko.

"Buka mata dan telinga kalian. Gue ajarin gimana cara main divisi pemasaran yang elegan." Fajar menggambar sebuah lingkaran besar dan membaginya jadi empat potongan.

"Satu, Iklan Lokal," ujung spidolnya mengetuk papan. "Buang jauh-jauh ide kampungan keliling desa pakai mobil pikap sama toa masjid yang bikin Pak Kades ngamuk kemarin. Kita main cantik. Alokasi dana ini masuk ke Radio Suara Rimba. Kenapa? Karena itu satu-satunya stasiun radio yang didengerin bapak-bapak petani tiap pagi sambil ngopi! Brand awareness kita bakal meroket tanpa kelihatan murahan."

Tiga bawahannya melongo. Mata mereka berbinar takjub, seakan bos muda dari ibukota di depan mereka ini sedang memancarkan aura dewa penyelamat.

"Dua, Event atau Acara," lanjut Fajar menggebu-gebu. "Bulan depan ada Panen Raya di Balai Desa, kan? Sebagian besar budget lari ke sana. Kita jadi sponsor utama. Kita bangun tenda VVIP, adakan demo alat tani, dan bikin kuis berhadiah pompa air mini. Jangan cuma nunggu pembeli, kita yang jemput bola ke sarang mereka!"

"Gila, cerdas amat lu, Bos! Terus sisa duitnya buat apaan?" tanya si Gondrong makin antusias, sampai maju ke depan.

Senyum licik nan bangga tercetak di wajah Fajar. "Ketiga, Promo Diskon Strategis. Kita gak bakal main potong harga mentah-mentah. Kita pakai jurus bundling. Beli satu traktor mini, gratis dua karung bibit unggul sama pupuk. Warga ngerasa menang banyak, padahal kita cuma ngeluarin biaya inventory bibit yang murahnya kebangetan. Profit aman, gudang Pak Joni kosong. Cantik, kan?"

Fajar menutup spidolnya mantap. Otaknya mungkin jenius menyusun rencana ini, tapi ulu hatinya mendadak mulas saat sadar ujian aslinya belum dimulai. Ia harus mempresentasikan angka-angka pas-pasan ini kepada para "Dewa" di Jakarta.

Tepat pukul dua siang, Fajar sudah merapikan kerah kemejanya. Telapak tangannya berkeringat dingin saat ia duduk tegap menatap layar. Klik. Tautan video conference dibuka.

Di layar, dua wajah familier muncul dari ruang direksi kantor pusat. Sinta dengan wajah sedatar tembok, dan... Kirana.

Sialan. Fajar menelan ludah susah payah. Kirana terlihat sangat anggun—dan mematikan—dalam balutan kemeja sutra berwarna navy. Auranya dingin menembus layar. Mengingat wajah merah merona Kirana yang salting parah di Jakarta tempo hari, rasanya aneh setengah mati harus kembali berhadapan dengan wanita itu dalam mode bos besar. Detak jantung Fajar langsung balapan.

"Selamat siang, Fajar," sapa Kirana. Suaranya sedatar papan setrika. "Draf anggaranmu sudah saya baca. Jelaskan sekarang, kenapa kamu mengalokasikan 40 persen anggaran hanya untuk satu event sponsor Panen Raya?"

Fajar berdeham pelan. Fokus, Jar. Jangan kelihatan bucin di depan kamera.

"Selamat siang, Bu Direktur," balas Fajar tak kalah formal. Ia menatap lurus ke mata Kirana. "Empat puluh persen itu bukan pengeluaran, Bu, melainkan investasi Return on Investment (ROI) jangka pendek. Panen Raya itu satu-satunya momen berkumpulnya seluruh kepala keluarga dari tiga distrik. Dengan jadi sponsor utama, kita mengamankan monopoli perhatian pasar di sana."

Mata elang Kirana memicing. Wanita itu sedang menguji nyalinya. "Lalu bagaimana dengan risiko over-budget? Di drafmu, kamu memotong habis biaya iklan luar ruang."

"Karena mencetak puluhan spanduk di wilayah rawan hujan lebat itu buang duit pemborosan, Bu," jawab Fajar cepat, tak mau kalah gesit. "Saya alihkan sisa anggarannya ke radio lokal dan promo bundling. Petani pedalaman lebih gampang ditarik lewat interaksi sosial dan tradisi lisan dibanding baliho diam. Sponsor event ditambah radio, itu kombinasi hyper-local marketing yang paling mematikan buat wilayah saya."

Hening merayap di panggilan video itu. Sinta yang duduk di samping Kirana refleks menaikkan sebelah alisnya, jemarinya mengetik di iPad. Sang sekretaris es itu jelas terkesan. Di balik layar, Kirana menatap laptopnya cukup lama, mencari celah argumen Fajar. Namun nihil. Strategi Fajar terlalu solid, efisien, dan tanpa celah ala amatiran.

"Baiklah." Suara Kirana akhirnya melunak, membuat beban berton-ton di bahu Fajar seketika menguap. "Proposal anggaranmu saya setujui. Saya akan minta bagian keuangan mencairkan dananya ke rekening cabang besok pagi. Pastikan eksekusi di lapangan sama sempurnanya dengan mulutmu barusan, Fajar."

"Siap laksanakan, Bu Direktur. Terima kasih atas kepercayaannya," jawab Fajar mantap.

"Rapat selesai. Sinta, siapkan dokumen berikutnya," titah Kirana mutlak.

Sinta mengangguk, bangkit dari kursinya, lalu berjalan keluar dari jangkauan kamera. Tepat saat pintu ruangan di pusat tertutup dan Sinta menghilang, keajaiban terjadi. Topeng es Kirana runtuh tak berbekas.

Bahu kaku wanita itu mengendur rileks. Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat ke arah kamera. Tatapan mata elangnya seketika berubah menjadi tatapan teduh dan lembut yang sukses membuat lutut Fajar mendadak lemas—untung saja ia sedang duduk.

"Presentasi yang sangat bagus, Mas Kepala Cabang," bisik Kirana, suaranya sangat pelan, memastikan tak bocor ke luar ruangannya. Sebuah senyum tipis yang luar biasa manis mengembang di bibirnya. "Aku bangga sama kamu. Jangan lupa makan siang, ya."

Klik. Layar mendadak gelap. Panggilan diakhiri bahkan sebelum Fajar sempat merespons dan mengeluarkan gombalan mautnya.

Fajar mematung. Di layar laptopnya yang hitam, hanya ada pantulan wajahnya sendiri yang sedang tersenyum lebar kayak orang kesurupan. Rasa mual dan pusing memikirkan angka budget selama berjam-jam seketika lenyap tak bersisa. Energinya serasa terisi penuh hingga dua ratus persen!

Brak!

Fajar menggebrak mejanya kencang lalu melompat berdiri.

"Gondrong! Siapin semua berkas ke Balai Desa sekarang juga!" teriak Fajar menggelegar ke luar ruangan. "Hari ini kita booking acara Panen Raya, besok kita ratain pasar alat pertanian se-Kaltim!"

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!