Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Maaf.
Ardi menatap ke depan. “Bu Ani.” Ardi memanggil Ani tanpa menoleh ke Ani. Ani menoleh ke Ardi, ia menatap wajah Ardi yang sedang menatap ke depan. “Saya minta maaf, saya sudah berkata kasar kepada Ibu,” ucap Ardi kemudian ia menoleh ke Ani dan menatap wajah Ani.Ia merasa bersalah karena sudah membenci Ani. Padahal Ani sama sepertinya, sama-sama tidak tahu apa yang telah terjadi.
Ani mendengar apa yang Ardi ucapkan. “Sudah saya maafkan Pak Ardi. Sekarang saya mengerti mengapa Pak Ardi begitu marah kepada saya. Kita sama-sama dibohongi oleh mereka,” kata Ani. “Saya membayangkan wajah mereka yang sedang tertawa setelah berhasil mengelabui kita.”
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara ribut-ribut. Ardi dan Ani menoleh ke arah suara. Mereka melihat para wartawan keluar dari gedung Direktorat Lalu Lintas. Sepertinya pembacaan hasil penyelidikan sudah selesai.
Ani menghela napas lalu menundukan kepala. Ardi menoleh ke Ani. “Ibu tidak pulang bersama mertua Ibu?”
Ani mengangkat kepala lalu menoleh ke Ardi. Ardi sedang memperhatikannya. “Saya bisa pulang sendiri,” jawab Ani. Ia kembali menundukkan kepalanya.
Ardi meneguk minumannya hingga 1/3 botol kemudian ia berdiri. Ardi menoleh ke Ani. “Ayo, saya antar Ibu ke rumah sakit,” ujar Ardi.
Ani menggelengkan kepala. “Saya sedang tidak ingin ke rumah sakit,” jawab Ani. Ia sedang tidak ingin melihat wajah b*jingan suaminya yang telah berselingkuh di belakangnya.
Ardi menarik napas panjang. “Kalau begitu kita makan dulu,” kata Ardi.
Ani kembali menggelengkan kepala. “Saya tidak lapar,” jawab Ani.
“Kita tidak boleh lemah selama mereka dalam keadaan koma. Kita harus banyak makan! Kita perlu tenaga untuk balas dendam saat mereka sadar nanti,” ujar Ardi.
Ani menoleh ke Ardi. “Apakah mereka akan sadar dari koma?” tanya Ani dengan polos.
Ardi menarik napas panjang. “Tidak ada yang tahu mereka akan sadar atau tidak. Bahkan dokter tidak bisa memastikan kapan mereka akan sadar. Tapi,paling tidak kita siapkan amunisi untuk membalas dendam kepada mereka,” jawab Ardi.
“Bapak mau balas dendam dengan cara apa?” Ani menatap Ardi dengan wajah polos.
“Entahlah. Sedang saya pikirkan,” jawab Ardi. “Ayo, bangun! Kita makan dulu.” Ardi memberi tanda agar Ani berdiri. Akhirnya Ani berdiri meskipun ia merasa enggan.
Ardi melangkahkan kaki, Ani mengikuti langkah Ardi. Namun, Ardi bukan berjalan menuju ke kantin melainkan ia berjalan menuju ke tempat parkir. Seketika Ani terkejut melihat Ardi berjalan menuju ke sebuah mobil. Ani menghentikan langkahnya di depan mobil. Ardi membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian terdengar suara mesin mobil menyala. Namun, Ani tetap bergeming di depan mobil.
Ardi keluar dari mobil. Ia melihat Ani berdiri di depan mobil. “Ngapain Ibu diam di situ? Ayo masuk!” sahut Ardi.
“Bapak mau ngapain?” Ani malah balik bertanya dengan tatapan curiga.
Ardi menghela napas lalu menghampiri Ani. “Kita kan mau carimakan,” jawab Ardi.
“Kenapa tidak makan di kantin saja?” tanya Ani lagi.
“Di kantin pasti ada wartawan. Ibu mau wartawan melihat kita makan berdua?” tanya Ardi.
Ani terdiam mendengar ucapan Ardi, ia berpikir sejenak. Setelah ia pikirkan, ternyata benar juga apa yang dikatakan Ardi. Kalau mereka makan di kantin pasti ada wartawan yang melihat mereka. Ia bukan seorang selebriti tetapi kasus kecelakaan yang dialami suaminya menarik perhatian wartawan. Mungkin karena saat kecelakaan terjadi, suaminya berada dalam satu mobil dengan istri seorang perwira kepolisian.
“Baiklah, kita cari makan di luar,” kata Ani. Setelah mendengar jawaban Ani, Ardi kembali ke mobil. Ani pun melangkah kakinya menuju ke pintu mobil. Ia membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil.
“Ibu tidak usah khawatir kalau saya macam-macam, Ibu bisa mengadu kepada Edwin. Dia akan melapor apa yang telah saya lakukan kepada atasan saya,” ujar Ardi sambil memperhatikan Ani yang sedang memasang sabuk pengaman.
Ani menoleh ke Ardi. “Baiklah, kalau Bapak berani macam-macam, saya akan laporkan ke Pak Edwin,” jawab Ani. Ardi memasang kaca mata hitam lalu menjalankan mobil.
Selama di perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Ani hanya diam sambil memperhatikan pemandangan di luar mobil, sedangkan Ardi fokus menyetir mobil. Sudah sepuluh menit di perjalanan, tetapi mereka belum juga sampai ke tempat yang dituju. Ani menoleh ke Ardi yang sedang fokus menyetir mobil. “Kita makan di mana?” tanya Ani.
“Di jalan Bengawan,” jawab Ardi tanpa menoleh ke Ani.
Setelah dua puluh menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Ardi memarkirkan mobil di halaman rumah makan bebek. “Di sini ada wartawan yang melihat kita, nggak?” tanya Ani sambil memperhatikan rumah makan itu.
Ardi mematikan mesin mobil sambil memperhatikan rumah makan itu. “Mudah-mudahan tidak ada.” Ardi membuka sabuk pengaman. Namun, Ani tidak membuka sabuk pengaman, ia ragu untuk keluar dari mobil.
Ardi menoleh ke Ani. “Ayo kita turun! Saya sudah lapar.”
Akhirnya Ani membuka sabuk pengaman, Ardi pun keluar dari mobil. Ia menunggu Ani di depan mobil. Setelah Ani keluar dari mobil, Ardi mengunci pintu mobil menggunakan remote. Mereka bersama-sama masuk ke dalam rumah makan. Ani berjalan sambil menunduk, ia takut bertemu dengan orang yang ia kenal.