Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 17
Cattleya terus melihat ke arah luar. Pemandangan yang menakjubkan tentunya, hingga membuat dirinya terpaku untuk beberapa saat.
Namun Cattleya lalu tersadar, dia melihat ke segala arah. Ada keanehan di sini.
Cattleya membalikkan tubuhnya, berjalan mendekati Lucien lalu bertanya, "Bagaimana bisa kita ada di sini?"
Pertanyaan yang sangat terlambat itu diajukan oleh Cattleya kepada Lucien. Dia merasa bingung. Tempat yang dipenuhi oleh salju dan pegunungan es dalam novel biasanya ada di wilayah utara. Sedangkan tempat tinggalnya yang dulu ada di wilayah selatan. Pasti butuh waktu behari-hari bahkan mungkin berminggu-minggu untuk sampai di sin. Tapi Cattleya yakin, perpindahan dirinya dari selatan ke utara bahkan tak membutuhkan waktu satu hari.
Cattleya kembali mengingat. Dalam dunia novel romansa fantasi, hal yang tidak mungkin memang menjadi mungkin. Tapi dia sangat yakin bahwa novel yang berjudul "The Emperor True Love" ini tak ada sihir di dalamnya.
"Apa aku kurang teliti bacanya? atau ada yang terlewat. Tapi tidak mungkin. Aku membaca novel in berkali-kali dan memang tak menemukan tentang sihir di dalamnya. Bahkan adegan di utara saja tidak ada. Scene ini sama sekali tidak muncul. Apa mungkin semuanya berubah? Apa benar alurnya sungguh sudah berubah karena aku kabur malam itu? Kalau benar berubah, maka mungkin aku tak akan tertangkap oleh kaisar gila itu. Yaah bagus."
Kepala Cattleya terus saja bersisik. Dia tak lagi peduli jawaban Lucien tentang bagaimana cara mereka sampai di sini, karena Lucien juga cuma hanya diam sambil menunjukkan senyumannya.
"Mari kita lihat-lihat isi rumah ini. Aku tdak tahu apa kamu akan senang atau tidak. Jika tidak, kamu bisa mengubahnya sesuai dengan keinginanmu."
Lucien menggendong Leoric, lalu meraih tangan Cattleya dan membawa mereka berdua keluar kamar.
Sepanjang melihat-melhat, Cattleya tak henti-hentinya terpana. Rumah ah tidak istana ini sungguh sangat luar biasa mewah, berkelas dan juga elegan, meski sedikit kotor. Mungkin karena lama tidak dihuni.
"Maaf masih terlihat sangat berantakan. Aku jamin besok sudah rapi. Ah ya, ini sudah waktunya makan malam. Kalian tunggu di sini, aku akan mencari makanan untuk kalian."
Lucien membawa Cattleya dan Leoric ke ruang istrahat. Meminta mereka untuk duduk dan beristiahat sejenak. Dengan tersenyum lebar, Lucien tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
Mata Cattleya membulat sempurna. Dia benar-benar melihat sihir di depan matanya.
"Sihir, di dunia ini sungguh ada sihir?"
"Woaaah ayah hebat. Tapi tenapa Ibu tadet. Tan emang itu cihil. Leo tan bica Ibu. Lambut Leo dan lambut Ibu, itu talena cihil Le."
Degh!
Cettleya langsung menatap putranya. Dia mengedipkan matanya berkali-kali mendengar Leoric berbicara.
Apa yang dikatakan Leoric membuat Cattleya sadar bahwa dunia ini ada sihir. Dan dia menjumpai itu pada putranya sendiri.
"Sayang dengarkan Ibu," ucap Cattleya. Dia membawa Leric ke dalam pangkuannya.
"Iya Ibu."
"Jangan pernah menujukkan kemampuan sihir kamu di depan siapapun."
Leoric terdiam. Dia mengamati wajah ibunya yang terlihat cemas dan bahkan takut. Ya Leoric menyadari akan hal itu.
Bocah itu tersenyum kemudan, lalu menganggukkan kepalanya dan berkata, "Baik Ibu."
"Anak pintar."
Cattleya memeluk Leoric, ia mencium pucuk kepala anaknya.
Kemapuan sihir Leoric tak boleh diketahui oleh siapapun. Sihir di dunia ini belum dia ketahui sama sekali. Akan sangat berbahaya jika Leoric ketahuan.
Cattleya mengusap wajahnya kasar. Plot dalam novel ini sudah sangat jauh berubah. Tadi dia memang merasa tenang, namun sekarang tidak lagi. Kemungkinan dirinya akan mati di tangan Kaisar masih bisa muncul dan Cattleya merasa dirinya harus jauh lebih hati-hati.
"tapi setidaknya di sini jauh dari ibu kota kekaisaran. Aku dan Leo akan aman," ucapnya dalam hati.
"Apa Ibu cunduh tida tahu talau olan itu adalah ayah? Cepeltinya Ibu takut. Padahal ayah langcun tahu kalau atu anak ayah. Nanti atu halus bicala denan Ayah coal ini."
Leoric sedikit bingung dengan ibunya yang tampaknya sangat ketakutan setiap membicarakan tentang ayahnya.
Pernah sebelumnya Leoric bertanya tentang siapa ayahnya. Cattleya akan menjawab bahwa ayahnya telah meninggal. Namun saat Lucien datang, Leoric langsung paham bahwa itu adalah ayahnya. Energi yang dimilikinya mengatakan hal itu, sebuah kesesuaian antara energi sihir miliknya dan Lucien tak mungkin salah.
Di istana kekaisaran, Lucien sudah berada di hadapan Erson dan Norman. Ternyata dia berteleportasi ke sana.
"Aku butuh makanan. Apa persiapannya sudah berjalan?"
"Sudah, Baginda. Dan saya juga sudah mengirim surat kepada Duke Winter tentang keberadaan Baginda di sana," jawab Ersonm.
Lucien nampak tak peduli dengan hal itu. Dia hanya ingin mengambil makanan dan segera kembali.
"Lalu para pelayan akan ke sana menggunakan perjalanan biasa atau Anda akan memindahkan para pelayan. Setidaknya butuh waktu 4-6 minggu untuk sampai ke kastil," tanya Erson.
"Jika Anda tidak teruru-buru, lebih baik kita menggunakan perjalanan bias," sahut Norman.
Lucien langsung menimbang apa yang baru saja dikatakan oleh Erson dan Norman.
Kebutuhan untuk kastel memang harus cepat, mengguankan perjalan biasa akan membutuhkan banyak waktu. Pelayan, dia membutuhkan pelayan untuk mengurus kastel. Tapi untuk ksatria, bukan sesuatu yang mendesak.
"Aku akan membawa beberapa pelayan lebih dulu. Sisanya gunakan perjalanan biasa," jawab Lucien pada akhirnya.
"Baik Baginda."
Erson dan Norman menjawab secara bersamaan. Mereka melihat Lucien sungguh serius dan hati-hati untuk wanita itu dan anak kecil tersebut. Maka dari itu baik Norman maupun Erson tak ingin ada kesalahan barang sedikit pun.
Bagaimanapun Lucien adalah Kaisar yang kejam. Dia tak akan mentolerir setiap kesalahan yang ada.
"Sebelum aku kembali, apa ada hal lain?"
Lucien menyempatkan membuka dokumen. Dia meninjau beberapa permasalahan yang diajukan oleh Erson.
"Tak ada yang mendesak. Ah itu saya lupa. Duke Ramos Mortain. Beliau berkali-kali datang kemari untuk berbicara dengan Baginda. Beliau juga meminta audiensi resmi. Tapi saya berkata kepada Duke bahwa Anda tengah sangat sibuk dengan pekerjaan dan tidak bisa diganggu."
"Bagus, lakukan itu. Ulur waktu selama mungkin sampai aku membawa Catty dan Leo kembali ke sini."
"Baik."
Lucien mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Kepalanya berpikir cepat tentang Cattleya dan Leoric yang akan dikenalkannya di depan seluruh kekaisaran.
Mengenai Cattleya, Lucien baru ingat tentang keluarganya.
"Norman, coba kamu cari tahu tentang keluarga Marquis Winslow. Semuanya, jangan sampai ada yang terlewat."
"Baik baginda."
TBC