Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Pertama — 16
"Anak anak, sekolah kita mendapat kan kuota untuk program beasiswa prestasi dan karakter dari dinas pendidikan." Ucap Bu Retno sambil memegang selembar pengumuman resmi.
"Beasiswa ini tidak hanya dilihat dari nilai akademik siswa, tapi juga perkembangan karakter mereka."
"Bagaimana perubahannya, bagaimana kontribusinya untuk lingkungan sekitar. Nantinya akan ada sesi wawancara dengan tim penilaian dari dinas pendidikan."
"Trus siapa saja yang bisa mendaftar bu?" Tanya Fajar dengan penasaran.
"Sekolah hanya boleh mengirim satu nama sebagai perwakilan, dan setelah rapat guru kemarin, kami sepakat merekomendasikan Bram."
Seluruh kelas serentak menoleh ke arah bangku belakang, dimana Bram duduk dengan ekspresi wajah nya yang terkejut.
"Saya bu?" Tanya nya memastikan dengan tidak percaya.
"Iya kamu." Ucap Bu Retno sambil tersenyum hangat.
"Perubahan kamu dari awal semester sampai sekarang ini luar biasa, Bram."
"Mulai dari nilai akademik kamu yang membaik, keterlibatan kamu di kegiatan sekolah."
"Dan sampai perubahan sikap yang diakui semua guru. Kami rasa kamu pantas mendapatkan kesempatan ini."
Kelas riuh dengan tepuk tangan dan sorakan dukungan, membuat wajah Bram seketika memerah karna tidak terbiasa menjadi pusat perhatian.
Karina yang duduk di sampingnya tersenyum lebar dengan matanya yang berkaca kaca menyaksikan momen mengharukan itu.
Beasiswa itu jika berhasil didapatkan akan menanggung biaya kuliah penuh di jurusan pendidikan olahraga.
Jurusan yang memang diimpikan olehnya seperti yang dia ceritakan.
...----------------...
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Tiga hari sebelum jadwal wawancara, tiba tiba sebuah pesan anonim beredar di grup WhatsApp angkatan.
Yang berisi tuduhan lama yang seharusnya sudah lama terkubur.
Seperti tuduhan bahwa Bram pernah terlibat kasus pencurian uang kas kelas, lengkap dengan foto lama dan narasi yang sengaja dipelintir untuk terdengar seburuk mungkin, seolah kasus itu belum pernah terselesaikan dan Dimas tidak pernah mengaku sebagai pelaku sebenarnya.
"Siapa sih yang nyebarin ini?" Geram Tika sambil menunjukkan pesan itu kepada Karina keesokan paginya dengan wajah marah.
"Ini kan udah kelar, Dimasnya juga udah ngaku!"
Karina membaca pesan itu dengan dada berdebar cemas, menyadari betapa berbahayanya fitnah ini jika sampai terdengar oleh tim penilai beasiswa sebelum sesi wawancara berlangsung.
Penyebaran pesan itu ternyata berasal dari akun anonim yang, setelah ditelusuri lebih lanjut oleh beberapa siswa yang penasaran, mengarah pada sepupu Dimas sendiri.
Seorang siswa dari sekolah lain yang merasa keluarganya dipermalukan setelah kasus pencurian uang kas itu tersebar luas, dan mencoba membalas dendam dengan cara memfitnah balik Bram, berharap bisa mengalihkan aib keluarga mereka.
"Gue nggak nyangka bakal ada yang senekat ini." Gumam Bram.
Wajahnya pucat pasi saat membaca pesan fitnah itu di ponselnya sendiri. "Kalo ini sampe kedengeran tim penilai sebelum wawancara..."
"Nggak akan." Potong Karina tegas, meskipun di dalam hati ia juga merasakan kekhawatiran yang sama.
"Kita bakal lurusin ini sebelum sempet nyebar lebih jauh."
...----------------...
Sore harinya sepulang sekolah, seluruh kelas XI IPA 2 berkumpul secara spontan di rumah Naura untuk membahas strategi menghadapi fitnah tersebut.
Pemandangan yang jika terjadi beberapa bulan lalu hampir mustahil dibayangkan mengingat betapa terisolasinya Bram dari lingkungan sosialnya dulu.
"Kita bikin surat pernyataan bareng aja." Usul Refan.
"Yang isinya klarifikasi lengkap soal kasus itu dan ditanda tanganin seluruh anak kelas, termasuk Dimas sendiri yang ngaku."
"Setuju." sahut Vina cepat.
“Gue juga siap kasih pernyataan langsung kalo tim penilai butuh konfirmasi. Ini bagian dari tanggung jawab gue juga karna dulunya gue yang paling galak nuduh Bram."
Dimas yang duduk agak canggung di sudut ruangan karena merasa bersalah atas ulah sepupunya, akhirnya angkat bicara.
"Gue yang bakal telepon sepupu gue, minta dia apus pesan itu dan bikin klarifikasi terbuka.”
“Ini salah gue juga yang harusnya dari awal gue lebih terbuka soal kejadian itu, biar nggak ada yang salah paham lagi."
"Thanks, semuanya." Ucap Bram dengan suaranya bergetar menahan haru. “Gue nggak nyangka bakal ada yang mau belain sejauh ini."
"Karena kamu emang pantas dibela." Jawab Naura tulus. "Kita semua udah lihat sendiri, siapa kamu yang sebenarnya."
...----------------...
Hari wawancara pun tiba, meskipun fitnah itu sempat menjadi ancaman serius.
Surat klarifikasi bersama yang ditandatangani seluruh kelas, ditambah pernyataan tegas dari Dimas dan sepupunya yang akhirnya mengakui kesalahan, berhasil meredam potensi masalah sebelum benar- benar sampai ke telinga tim penilai.
Karina menunggu di luar ruang wawancara bersama beberapa teman sekelas lainnya, jantungnya berdebar kencang seolah dialah yang sedang diwawancarai.
Setelah hampir empat puluh lima menit yang terasa seperti berjam-jam, pintu ruangan terbuka dan Bram keluar dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara lega dan gugup menunggu hasilnya.
"Gimana?" Tanya Karina dengan tidak sabaran.
"Nggak tau." Bram menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. "Mereka nanya banyak hal, soal keluarga, soal cita cita. Gue jawab sejujur jujurnya aja."
"Itu udah cukup." Kata Karina sambol tersenyum menenangkan.
...----------------...
Karina duduk di kamar kosnya sambil menatap layar tembus pandang yang muncul dengan pembaruan besar.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 12.500 / 100.000.]
[Poin sangat besar diberikan atas ujian akhir yang berhasil dilalui subjek, kemampuan menghadapi ancaman terhadap masa depannya dengan kepala tegak, didukung oleh jaringan sosial yang telah dibangun secara tulus, tanpa bergantung sepenuhnya pada intervensi langsung pengguna.]
[Catatan penting: Sistem mendeteksi bahwa subjek kini telah mencapai seluruh indikator kebahagiaan sejati yang ditetapkan sebagai syarat penyelesaian misi.]
[Estimasi waktu hingga misi dinyatakan tuntas: menunggu satu peristiwa penentu terakhir.]
Karina menatap kalimat terakhir itu dengan jantung berdebar. "Peristiwa penentu terakhir? Apa maksudnya?"
buang aja,karina mati lagi aja