NovelToon NovelToon
The CEO'S Speed Limit

The CEO'S Speed Limit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Setelah urusan rambut selesai, Alvarez akhirnya berganti pakaian. Kali ini dia sudah tampil sangat rapi dan berwibawa menggunakan setelan jas kerja hitam formal tanpa dasi dengan kemeja putih di dalamnya. Dia bersiap untuk berangkat ke kantor memimpin perusahaannya kembali.

Alvarez melangkah keluar dari kamar utama sembari menggandeng erat tangan kiri Raelyn dengan protektif, menuntun langkah kaki istrinya agar berjalan perlahan menuruni anak tangga menuju ruang makan lantai bawah.

Di meja makan, kedua orang tua Alvarez ternyata sudah duduk manis menikmati sarapan pagi mereka. Aroma nasi goreng dan kopi hangat langsung menyambut penciuman mereka berdua.

"Pagi, Mah... Pah..." sapa Raelyn ramah begitu mereka sampai di ruang makan. Dia mendudukkan diri di kursi bar yang dibantu ditarik oleh Alvarez.

"Pagi sayang! Aduh, anak Mama yang cantik sudah bangun. Gimana kakinya? Udah bisa dibuat jalan?" tanya mama Alvarez dengan nada penuh perhatian yang heboh, melirik ke arah kaki Raelyn.

"Udah kok, Mah. Udah jauh lebih mendingan dibanding kemarin. Udah gak terlalu perih," jawab Raelyn dengan senyum manisnya yang tulus.

Sang mama mengangguk lega, lalu pandangannya beralih menatap penampilan anak tunggalnya yang berdiri di samping Raelyn. Melihat Alvarez yang sudah rapi dengan jas kerjanya, kening sang mama langsung berkerut dalam, memancarkan raut wajah tidak suka.

"Al, kamu mau ke kantor?" tanya mamanya dengan nada menyelidik yang ketus.

"Iya, Mah," jawab Alvarez singkat dan padat seperti biasa.

"Istri kamu lagi sakit begini, kaki sama tangannya melepuh, malah mau kamu tinggal sendirian ke kantor?! Di mana sih pikiran kamu sebagai suami, Alvarez?!" omel mamanya langsung menembakkan peluru teguran tanpa ampun pada sang CEO muda.

Alvarez tetap memasang wajah datarnya, meskipun dalam hatinya dia tahu perdebatan ini tidak akan mudah dimenangkan.

"Di kantor lagi banyak kerjaan penting yang harus aku urus sendiri, Mah. Ada beberapa dokumen saham yang harus ditandatangani hari ini," jelas Alvarez membela posisi bisnisnya.

"Penting mana istrimu sendiri sama kerjaan kantor kamu itu, hah?! Masalah dokumen dan rapat kan tinggal kamu suruh saja si Bayu sekretaris kamu itu buat beresin! Gak usah sok sibuk kamu!" semprot mamanya lagi, tidak mau menerima alasan logis apapun yang berbau bisnis.

Papa Alvarez yang sejak tadi diam menikmati kopinya akhirnya meletakkan cangkirnya ke atas piring kecil. Dia berdehem pelan, lalu ikut menatap anak laki-lakinya dengan pandangan serius.

"Iya, Al. Apa yang dikatakan Mama kamu itu bener. Raelyn kan masih dalam masa pemulihan. Sebagai suami yang baik, harusnya kamu mendampingi dia di rumah, bukan malah keluyuran ke kantor," timpal sang papa ikut menekan posisi Alvarez.

Melihat suaminya dipojokkan habis-habisan oleh kedua mertuanya karena dirinya, Raelyn merasa agak canggung dan tidak enak hati. Dia buru-buru membuka suara untuk membela Alvarez.

"Gpp kok, Mah... Pah... Raelyn di rumah ada banyak ART yang jagain kok. Alvarez kalau mau ke kantor berangkat aja, gak apa-apa beneran," ucap Raelyn mencoba mencairkan suasana tegang.

Namun, mama Alvarez langsung menggelengkan kepala dengan tegas, menolak mentah-mentah pembelaan dari menantunya.

"Gak bisa begitu, Raelyn sayang. Pelayan di rumah ini kan beda tugasnya sama suami. Pokoknya Mama gak mau tahu ya, Al... hari ini kamu gak boleh ke kantor. Kamu harus tinggal di rumah dan temani Raelyn sampai dia benar-benar sembuh total!" perintah sang mama mutlak dengan nada suara yang tidak menerima bantahan dari siapapun.

Alvarez terdiam sejenak, melirik ke arah Raelyn yang menatapnya dengan pandangan pasrah. Menghadapi perintah mutlak dari sang ibunda yang memegang kendali tertinggi di keluarga Danadiaksa, sang monster bisnis yang ditakuti seluruh pebisnis kota akhirnya terpaksa harus bertekuk lutut kembali.

"Iya, Mah. Alvarez tinggal di rumah hari ini," jawab Alvarez pasrah, mengalah demi kedamaian keluarga.

Mendengar jawaban pasrah dari putranya, wajah mama Alvarez langsung berubah menjadi cerah dan penuh kemenangan.

"Nah, begitu dong! Itu baru anak Mama yang berbakti namanya!" seru sang mama gembira.

Setelah sesi perdebatan kecil itu selesai, mereka berempat mulai menikmati sarapan pagi dengan tenang. Suasana di meja makan berjalan dengan cukup hangat, diisi dengan cerita-cerita santai dari sang papa mengenai perjalanannya di Bali kemarin.

Selesai makan dan merapikan piring-piring kotor, mama Alvarez tiba-tiba berdiri dari kursinya. Dia berjalan menuju tas besarnya yang diletakkan di sofa ruang tengah, lalu mengambil sebuah botol kaca berukuran sedang yang berisi cairan berwarna cokelat pekat yang tampak sangat kental.

Sang mama kembali ke meja makan, lalu menyodorkan botol kaca tersebut tepat di depan wajah Raelyn dengan senyum lebar yang penuh dengan arti tersembunyi.

"Nah, Raelyn sayang... ini Mama sengaja bawain jamu khusus dari Bali kemarin. Ini jamu kesuburan yang sangat manjur buat kamu minum, sayang. Biar rahim kamu sehat, subur, dan kalian bisa cepat-cepat kasih Mama sama Papa cucu yang lucu-lucu," ucap mama Alvarez dengan mata berbinar-binar penuh harapan.

Raelyn yang baru saja hendak meminum air putihnya langsung tersedak kecil mendengar kata 'jamu kesuburan' dan 'cucu' disebut lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Wajahnya kembali dilanda rasa salah tingkah yang luar biasa di depan mertuanya.

Raelyn menerima botol kaca berisi jamu itu dengan tangan yang sedikit kaku, memaksakan sebuah senyuman manis di wajahnya.

"I-iya... Mah. Makasih banyak ya jamunya... nanti Raelyn minum kok," jawab Raelyn sopan, berpura-pura sangat menghargai pemberian tersebut.

Namun, jauh di dalam lubuk hati dan benaknya yang paling dalam, Raelyn sudah tertawa miris sekaligus meratapi nasib sandiwara pernikahannya ini.

Aduhh, percuma juga gue minum jamu kesuburan sampai seember tiap hari, orang seumur hidup pernikahan bisnis ini gue gak pernah disentuh sama sekali sama si kulkas berjalan itu! batin Raelyn menjerit frustrasi di balik senyum palsunya.

Jangankan membuat anak untuk memberi cucu, urusan tidur satu ranjang yang baru mereka lakukan semalam saja sudah berhasil membuat sistem jantungnya hampir meledak karena salah tingkah maksimal.

Raelyn melirik ke arah Alvarez melalui sudut matanya. Namun, pria es itu lagi-lagi hanya menunjukkan ekspresi wajah yang teramat datar dan tenang tanpa beban hidup, seolah-olah obrolan mengenai cucu dan jamu kesuburan di depan mereka saat ini hanyalah angin lalu yang tidak memiliki pengaruh apapun pada grafik saham perusahaannya. Sifat cuek dan dingin Alvarez benar-benar membuat Raelyn gemas sekaligus ingin menendang kaki suaminya itu di bawah meja makan saat ini juga.

1
Muchammad Shobris
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!